Sang Surya : Bab III

BAB III : SANG PENGENDALI

Pratanala telah mengabdi pada Indra dan saban harinya selalu berjalan bersama Indra. Indra sendiri yang semula tidak suka dengan kepemilikan khodam mulai bisa menerimanya karena Pratanala enak diajak bicara meski terkadang sikap angkuhnya sebagai Mahamantri keluar. Tapi secara keseluruhan Indra tidak menyesal menerima Pratanala sebagai khodamnya.

Pratanala sendiri sudah lama terikat di Trowulan, ia buta akan dunia saat ini dan berjalan bersama Indra saban hari membuatnya terkagum-kagum akan keadaan dunia saat ini. Saat Indra memasuki kelas sebagai seorang siswa, Pratanala selalu berjalan-jalan di sekitar sekolah Indra dan mengamat-amati buku-buku pelajaran yang sarat akan tulisan namun tidak bisa ia baca. Pratanala pun sering bertanya soal itu pada Indra dan Indra pun lama-lama malas menjawabnya sehingga akhirnya menjawab, “Pergilah ke SD yang ada di seberang sekolahku dan carilah kelas yang dihuni anak-anak berusia sekitar 6 tahun. Di sana kau akan mempelajari makna dari aneka tulisan yang kau tanyakan.”

Pratanala menuruti nasihat Indra, saban hari ketika Indra bersekolah, Pratanala selalu memasuki ruang kelas 1 SD tersebut dan ikut belajar bersama anak-anak di sana walau sudah pasti tidak ada orang yang bisa melihat sosoknya jadi ia tak perlu malu. Sebulan setelah ia ‘mengenyam’pendidikan di kelas 1, ia beralih ke kelas 2, sebulan kemudian ia beralih ke kelas 3 dan sesudah itu ia ‘berhenti bersekolah’.

*******

            Adapun Affandi merasa kehadiran Suhita tidak mengganggunya sama sekali tapi terkadang ia lupa bahwa Suhita sudah ikut dengannya. Hal ini dikarenakan Suhita sangat pendiam jika tidak ditanyai. Selain itu Suhita kerap menghilang dari jangkauannya lalu secara tiba-tiba sudah kembali ke sisinya. Suatu kali Affandi bertanya pada Suhita, “Sebenarnya ke mana saja Prabu Suhita saban hari ini?”

“Perpustakaan masa kini, Affandi. Banyak sekali buku-buku menarik untuk dibaca walau kadang aku kecewa pada buku-buku itu.”

“Kenapa?” tanya Affandi.

“Kau lihat buku itu Affandi?” kata Suhita sambil menunjuk sebuah buku di etalase sebuah toko buku berjudul ‘Sejarah untuk kelas X’.

“Ya?” jawab Indra masih tidak mengerti.

Kenapa pembahasan mereka soal Majapahit hanya sampai pada Eyang Bhre Daha[1]? Kenapa diriku tidak dibahas? Padahal sudah susah payah aku mencoba menyatukan kembali Nusantara yang terpecah ini, namun sangat sulit sekali menyatukan mereka kembali dalam naungan Majapahit! Hiks!”

“Apa anda membuat suatu prasasti Prabu Suhita?”

“Aku membuat suatu prasasti di daerah yang seharusnya menjadi makam Eyang Pabu Hayam Wuruk.”

“Daerah Ngetos di Nganjuk?”

“Ya!”

“Aku rasa prasasti anda belum ditemukan Prabu Suhita atau meski sudah ditemukan belum berhasil kami terjemahkan, lagipula untuk menerjemahkan aneka prasasti peninggalan Prabu Sri Kertarajasa hingga Prabu Hayam Wuruk saja, para ahli kami membutuhkan waktu lama. Tapi sabar saja, suatu saat prasasti anda akan ditemukan atau diterjemahkan. Setelah itu seluruh Nusantara akan tahu mengenai kehebatan Prabu Suhita.”

Suhita tersenyum simpul. Penjelasan Affandi mampu menenangkan kegalauannya. Dalam hati ia kagum pada anak ini yang meski masih muda namun berpengetahuan luas.”

Tiba-tiba Affandi mengagetkannya dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana Prabu bisa membaca buku sementara Prabu adalah makhluk di dimensi yang berbeda?”

“Dengan cara ini,” jawab Suhita yang sekonyong-konyong pudar dari hadapan Affandi dan berubah menjadi kepulan asap tebal dan merasuk ke buku yang sedang dibawa Affandi. Tak sampai semenit ia sudah keluar dan berkata, “Catatanmu singkat sekali, Affandi.”

“Yah, aku memang tidak suka mencatat, aku lebih suka mengingatnya dalam otakku. Hei, aku penasaran kenapa anda begitu menyukai buku?”

“Guruku selalu mengajarkan padaku untuk mencintai pengetahuan lebih dari apapun. Karena itu aku selalu berkeliling ke seluruh wilayah Majapahit guna mencari lebih banyak pengalaman dan dengan itu aku dapat membuat Majapahit yang lebih baik. Tapi ternyata itu saja tidak cukup. Aku tidak cukup kuat untuk memimpin Majapahit agar tetap utuh. Dan akhirnya banyak wilayah kami yang lepas dari Majapahit.”

“Anda bisa membaca bahasa kami?”

“Tentu saja! Aku banyak belajar dari Para Pengendali yang hidup sebagai pegawai dinas purbakala Trowulan!”

********

            Ujian tengah semester baru saja berlalu, para siswa dipulangkan pagi karena para guru hendak mengadakan rapat evaluasi hasil UTS dan kurikulum. Karena pulang pagi hari itu Indra tidak langsung pulang melainkan berjalan-jalan ke taman dekat sekolahnya. Taman itu amat rimbun dengan aneka pepohonan. Indra berjalan tidak tentu arah dan di sana ada seorang gadis seusianya dan tampaknya juga siswi SMP duduk di bangku taman yang diteduhi pohon mahoni. Ia mendekati gadis itu dan mengucap salam, “Permisi, bolehkah saya duduk di sini?”

“Silakan,” kata gadis itu sembari menggeser posisi duduknya.

Indra pun duduk di bangku itu, di samping seorang gadis yang belum pernah ia kenal. Tapi Indra tidak punya pikiran apapun terhadap gadis itu. Ia hanya bersikap biasa.

“Kamu Indra Jumantra kan?” tanya gadis itu.

“Lo kamu kok tahu namaku?” tanya Indra bingung.

“Kita kan satu sekolah, namaku Wulan, Wulan Nagari. Kita satu sekolah lho, hanya saja beda kelas. Aku kelas VII-B kamu kelas apa?”

“Aku kelas VII-A, wah aku tidak sadar kalau kita satu sekolah. Eh, sedang apa kamu di sini?”

“Aku? Aku di sini menunggu temanku.”

“Teman?”

“Iya, teman. Namun bukan teman yang bisa dilihat sembarang orang Indra.”

“Teman khayalan?”

“Hahahaha, bukan,” jawab Wulan sambil tertawa terbahak-bahak.

“Itu dia sudah datang,” kata Wulan sambil menunjuk ke arah kirinya.

Indra memicingkan matanya dan ia melihat sesosok wanita dengan kecantikan bak bidadari, berpakaian kemben merah serta diselubungi selendang merah menunggang seekor kuda coklat datang mendekati Wulan.

“Pambayun, dari mana saja kau?” tanya Wulan pada wanita itu.

“Ini khodammu ya?” tanya Indra.

“Hei, kau bisa melihatnya juga? Apakah kau juga Kaum Pengendali?”

“Err, mungkin. Tapi jujur saja aku tidak punya khodam bawaan[2]. Pambayun sudah ikut denganmu sejak kamu lahir bukan?”

“Wow, kamu tahu hal itu bahkan sebelum aku memberitahumu? Kau memang luar biasa Indra. Apa kau juga punya khodam? Kalau kau punya perlihatkan pada kami!” bujuk Wulan dengan mata berbinar-binar.

Indra baru saja akan memanggil Pratanala sebelum Pratanala berbicara dalam kepalanya, “Tuan, jangan gegabah. Pambayun adalah khodam wanita yang amat kuat namun licik. Apabila anak ini mampu menundukkan Pambayun ada kemungkinan ada lagi khodam miliknya selain Pambayun. Aku sarankan Tuan tidak memanggilku sebelum kita tahu anak ini lawan atau kawan kita!”

“Kenapa kau begitu curiga Pratanala?”

“Aku merasakan aura tidak enak dari Pambayun.”

“Hanya merasakan?”

“Tuan, percayalah padaku! Sangat beresiko jika mereka tahu siapa abdi Tuan ini.”

“Baiklah,” jawab Indra kesal.

Indra menatap wajah Wulan yang polos lalu berkata, “Err, nampaknya khodamku tidak mau dipanggil, ia sedang tidak mood.”

“Oh, tak apa Indra, aku maklum akan hal itu. Pambayun terkadang juga begitu. Ayo Pambayun, kita pulang! Indra, aku pulang dulu ya? Sampai jumpa besok!”

Indra pun balas menjawab dengan senyum dan lambaian tangan, tak lebih dari itu dan tanpa sepatah kata pun. Kata-kata Pratanala benar-benar mengusik dirinya. Setelah Wulan pergi menjauh, Indra segera menuju bagian tengah taman di mana terdapat air mancur di situ. Ia berniat menghabiskan waktu di situ sampai Lohor tiba.

********

            Sementara Wulan yang berjalan menjauh dari taman itu tiba-tiba berbalik ke taman tersebut dan mencari area yang sepi dan terlindung oleh pepohonan lebat. Di sana ia mengeluarkan sebuah cermin rias lalu mengucapkan mantra-mantra pada cermin tersebut dan diakhiri dengan kalimat, “Kaca Benggala, biarkan aku melakukan kontak dengan Guruku!”

Tiba-tiba dari dalam cermin tersebut muncullah wajah seorang pria berusia 40 tahunan dalam balutan jas berwarna krem dan dia berbicara pada Wulan dengan suara berat dan berwibawa, “Ada apa anakku Wulan?”

“Aku menemukan seseorang yang mungkin saja adalah Sang Pengendali Kalingga!” jawab Wulan berbisik namun dengan nada bersemangat sekali.

“Dari mana kau tahu bahwa ia adalah Sang Pengendali Kalingga?” tanya pria itu lagi.

“Auranya berwarna pelangi dan terasa dari jarak 20 depa. Ia mampu melihat masa lalu dan asal-usul serta hubungan antara khodam dengan majikannya. Bukankah itu ciri-ciri seorang Pengendali Kalingga?”

“Siapa saja yang mengabdi padanya?”

“Aku tidak tahu, ia tidak bersedia menunjukkannya.”

“Awasi terus dia, Wulan. Kau tahu bukan bahwa ia harus dilenyapkan?”

“Baik, Guru!” jawab Wulan Nagari penuh hormat dan kepatuhan .

Tak lama cermin rias itu hanya menampakkan wajah seorang Wulan Nagari. Wajah pria itu sudah tida tampak di sana.

********

            Sementara Indra yang sedang duduk-duduk merenung di tengah taman tersebut tiba-tiba didatangi seorang pria berpakaian kemeja biru polos dengan paduan celana jeans hitam. Indra terkejut melihat sosok laki-laki di sampingnya. Indra tahu bahwa orang itu bukanlah manusia, namun yang mengejutkan Indra, laki-laki itu mengajaknya bersalaman sembari memperkenalkan diri, “Perkenalkan, namaku Pramudya[3] Parasdya[4], aku adalah seorang senopati dari suatu kerajaan bernama Nagari Dwipa.”

Indra menyambut uluran tangan laki-laki itu dengan ragu-ragu namun akhirnya Indra menyebutkan juga namanya, “Indra Jumantra.”

“Indra Jumantra, saya datang kemari karena hendak mengikuti anda sebagai pengawal anda, dengan kata lain khodam anda. Sembari mempersiapkan anda menjadi Pengendali Kalingga yang akan melindungi Kalpataru dari marabahaya yang akan menerjang,” kata pria asing yang mengaku bernama Pramudya Parasdya itu.

Indra terheran-heran, selama ini sudah banyak makhluk lelembut yang datang menghampirinya dan kebanyakan berniat mencelakakannya kecuali para khodam situs Trowulan serta Ki Wibisana dan Nyai Branyak namun kali ini datang makhluk sebangsa lelembut lagi yang entah berasal dari mana hendak mengabdi kepadanya dan mempersiapkannya menjadi … ‘Pengendali Kalingga’? Kosakata itu masih asing di telinga dan otaknya. Lagipula ia sedikit curiga pada sosok lelembut ini, sehingga Indra pun memanggil khodam miliknya, “Pratanala, hadapi orang ini!”

Maka muncullah dari dalam diri Indra, sesosok khodam berwujud sesosok pria tampan bersenjatakan tombak ala kerajaan Mataram kuno, berpakaian laiknya seorang patih pada film-film kolosal dengan lambang ‘Surya Majapahit’melekat pada bagian dadanya. Ia adalah Pratanala. Pratanala segera menerjang Pramudya dengan cepat namun Pramudya rupanya cukup sigap, ia segera melenting ke udara dan mengatupkan kedua belah tangannya serta membaca mantra yang ternyata memanggil senjatanya berupa sebuah gada yang amat besar. Indra mengenali gada itu mirip dengan gada ‘Rujak Pala’milik Bima dalam kisah-kisah pewayangan yang sering ia tonton.

Tombak Prabancana milik Pratanala pun beradu tanding dengan gada raksasa milik Pramudya. Kedua makhluk khodam itu saling bertarung dengan sengit. Beberapa kali Pratanala berhasil menembus pertahanan Pramudya namun setiap kali tombaknya hendak menghujam ke tubuh lawannya, Pramudya dengan gesit selalu berhasil mengelak kemudian melenting ke arah yang berlawanan dan membalas serangan Pratanala. Tapi bukan Pratanala namanya kalau gampang menyerah, sebagai salah satu dari 4 Mahamantri Majapahit pasca kematian Gajah Mada, ia pastinya memiliki ilmu kanuragan yang amat tinggi. Namun diam-diam ia kagum pada lawannya. Dalam hatinya ia yakin bahwa Pramudya pastilah bukan orang sembarangan di kehidupannya yang lalu.

Sementara itu Pramudya meski berhasil menghindar berkali-kali dari serangan Pratanala, cukup merasa kewalahan juga menghadapi serangan Pratanala yang bertubi-tubi. Dilihat dari segi kecepatan, Pratanala pastilah lebih unggul karena ia bersenjatakan gada yang cukup berat sementara lawannya adalah tombak yang mirip ular, bergerak secara trengginas [5] namun mematikan.

Namun Pramudya tiba-tiba duduk bersila di udara, dikatupkannya kedua belah telapak tangannya dan kembali ia membaca mantra. Mantra yang ia baca ini memanggil ajian Lembu Sekilan[6] dari dalam tubuhnya. Pratanala segera berhenti menyerang, ia berdiri 15 langkah dari lawannya dan berseru, “Hai, kau kira kau bisa mengalahkan diriku dengan ajian Lembu Sekilan? Ketahuilah, aku sudah mempelajari ajian itu semenjak diriku masih anak kemarin sore di Chakra Bhirawa.”

Pratanala kemudian turut mengatupkan kedua belah telapak tangannya, ia mengucapkan berbaris-baris mantra-mantra, memanggil ajian andalannya … ajian Segara Geni. Ajian itu menciptakan lautan api yang sayangnya benar-benar kasat mata sehingga orang-orang biasa pun dapat melihatnya. Pramudya berkelit dari serangan api yang hendak membelitnya berkali-kali namun akhirnya ia terkurung juga dalam dinding api yang tidak bisa ia tembus bahkan dengan gadanya sekalipun, akhirnya ia berteriak, “Woi Pratanala! Kamu mau membakarku ya?” kemudian ia memalingkan mukanya pada Indra (meski percuma saja karena seluruh tubuhnya diselimuti api), “Paduka Indra, percayalah saya tidak bermaksud jahat. Kalau Paduka tidak percaya, tanya saja pada Ki Wibisana!”

Mendengar nama khodam yang sudah ia anggap sebagai kakeknya itu, Indra pun berseru, “Pratanala, hentikan!”

Pratanala pun menyudahi aji Segara Geni dan Pramudya pun turun ke bumi sambil cengar-cengir nakal.

“Sekarang ayo pulang kembali ke rumahku, Pratanala dan kau … Pramudya!” perintah Indra sebal. Maka ikutlah kedua makhluk astral tadi berjalan di belakang Indra. Tanpa mereka sadari dari balik kerimbunan dahan taman tersebut ada 2 pasang mata yang mengawasi pertarungan mereka. Pemilik kedua pasang mata itu tak lain dan tak bukan adalah Pambayun dan Wulan Nagari. Pramudya merasakan kehadiran kedua orang itu, namun ia tidak mau ribut dengan Indra yang kelihatannya sudah sebal atas pertarungan yang tidak perlu tadi akhirnya memutuskan untuk mendiamkannya saja dan beranjak mengikuti Pratanala dan Indra.

********

            Di zaman apapun, semenjak kita bebas dari penjajahan Belanda hingga tahun di mana Indra hidup saat ini namanya sekolah tetap saja hal wajib. Namun jika di tahun 2010 program wajib belajar masihlah 9 tahun, di zaman ini program wajib belajar diharuskan 13 tahun, yakni 12 tahun SD, SMP, dan SMU (atau SMK) ditambah 1 tahun Diploma-1. Indra tidak suka angka 13 itu, angka sial katanya. Namun saat ini ia tidak mau mengutuki angka sial wajib belajar itu karena guru Bahasa Inggrisnya, Bapak Andi memberinya 25 soal uraian Bahasa Inggris yang membuatnya kelabakan.

Indra mengamati soal demi soal di I-Padnya yang membuat ia semakin garuk-garuk kepala. Saat ini pukul 15.00 dan soal ini harus sudah dikumpulkan pukul 18.00. Gara-gara ia curiga berat pada Pramudya sehingga ia harus memanggil Pratanala dan bertarung dengannya, ia harus merelakan 2 jam waktunya untuk meladeni Pramudya. Dan sekarang kedua makhluk astral itu hanya bisa memandangi Indra dengan pandangan heran dan seperti orang bodoh. Indra sebenarnya mampu saja mengerjakan ke-25 soal ini, namun karena otaknya bukan otak yang diprogram untuk menguasai Bahasa Inggris, butuh waktu minimal 4 jam baginya untuk mengerjakan soal semacam ini.

Indra berkata pada Pratanala, “Pratanala, jangan diam saja! Bantu aku!”

Pratanala pun bangkit dan berkata, “Seumur hidupku di dunia ini aku tidak pernah melihat bahasa semacam itu, Indra! Aku tidak bisa membantumu. Lagipula apa yang terjadi pada dunia ini? Kenapa huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta tidak dipakai lagi?”

Pramudya hanya tersenyum geli, meski sama-sama makhluk astral namun Pramudya memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada Pratanala. Ia paham bahwa bahasa bernama Bahasa Inggris itu sudah menjadi bahasa internasional yang dipakai di seluruh belahan dunia. Tidak ada bahasa lain yang sanggup menggeser pamor bahasa ini sebagai bahasa yang dipakai sebagain besar manusia di belahan dunia ini. Sementara ia sadar Pratanala sudah ribuan tahun hidup tanpa menyadari adanya perubahan zaman karena jiwanya tersegel di Trowulan. Maka Pramudya pun bangkit dan berkata, “Perlu bantuan dengan masalah is-am-are itu Indra?

Indra menoleh pada Pramudya, “Bisakah kau?”

Pramudya pun menjawab, “Di Nagari Dwipa kami pun mempelajari hal itu.”

Maka Indra pun menyodorkan I-Padnya pada Pramudya dan menunjukkaan pada senopati itu 25 soal mengenai Simpe Past Tense[7]. Pramudya dengan cepat menuliskan 25 jawaban di I-Pad milik Indra dan mengirimkannya ke e-mail sekolah Indra. Indra dibuat terheran-heran oleh kecepatan Pramudya dalam mengerjakan soal-soal Bahasa Inggris yang dirasanya sulit itu dengan cepat.

“Bagaimana kau melakukannya?”tanya Indra.

“Sudah kubilang di Nagari Dwipa kami pun mempelajari bahasa ini, aku kan tidak bodoh seperti pengawalmu itu,” jawab Pramudya sambil tersenyum-senyum.

“Hei, apa maksudmu?!!” hardik Pratanala sebal.

“Akuilah Pratanala, kau sudah ketinggalan zaman, pikiranmu sudah kaku dan otakmu sudah berkarat sama berkaratnya dengan kendi besi yang mengikatmu di Trowulan itu. Hahahahaha!!!!” goda Pramudya pada Pratanala.

Wajah Pratanala pun merah padam. Seumur hidupnya ia dihormati sebagai Mahamantri Agung pelaksana tugas Mahapatih Majapahit, pengganti Gajah Mada, hal itu membuatnya menjadi sedikit gila hormat. Dan sekarang ada orang asing entah dari negara mana berani-beraninya menghina dirinya bodoh di hadapan tuan mudanya. Tahap kemarahannya sudah mencapai puncak. Dengan segera ia mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya ke arah Pramudya. Pramudya dengan enteng menampik serangan Pratanala sambil tertawa-tawa. Namun di saat Pratanala hendak melancarkan serangan kembali, Indra melancarkan ajian Tebah Mergana ke dua makhluk astral itu dan membuat mereka terlempar keluar dari kamar Indra di lantai 2 menuju teras rumah Indra di lantai 1.

Meski jatuh dari ketinggian seperti itu, mereka tidak merasakan sakit karena hal itu, namun pukulan ajian Tebah Mergana-lah yang membuat mereka kesakitan. Indra pun keluar dari kamarnya dan melongok ke bawah kemudian berkata pada mereka melalui telepati, “Bertengkar seperti itu lagi maka akan kulemparkan kalian berdua ke Laut Selatan!” dan sesudah berkata demikian masuklah lagi ia ke kamarnya.

Pratanala dan Pramudya hanya bisa berpandang-pandangan mata. Pramudya pun mendekati Pratanala dan mengulurkan tangan sembari mohon maaf, “Maaf aku sudah mengataimu bodoh.”

“Tak apa, aku juga salah sudah menyerangmu atas sesuatu yang sebenarnya remeh. Akulah yang seharusnya merasa malu karena diriku memang bodoh sementara dirimu amat pandai. Aku terlalu terpaku pada ingatanku semasa diriku menjadi Mahamantri Agung Majapahit dahulu sehingga lupa bahwa sekarang diriku mengabdi pada Indra Jumantra dan aku tidak bersikap yang semestinya di hadapannya,”

“Tapi aku sampai lupa, bahwa ia adalah Pengendali Kalingga. Untuk bisa mengendalikan Kalingga maka ia pastinya amat kuat. Aku meremehkannya dan kini inilah nasibku, dilempar dari ruangan kehormatan dengan pantat sampai lebih dahulu ke tanah. Hahahahahahahaha” Pramudya tertawa tergelak-gelak.

“Kau ini suka bercanda yah?” tanya Pratanala sembari tersenyum.

“Ya, begitulah. Pekerjaanku di Nagari Dwipa sangat melelahkan sehingga aku mengatasinya dengan aneka guyonan dan lelucon. Hahahahahaha!”

“Sebaiknya kita duduk di atas atap saja, sampai Indra selesai dengan PRnya,” ajak Pratanala.

“Ide bagus, tapi akan lebih seru kalau kita melihat pemandangannya dari ketinggian yang lebih tinggi.”

“Maksudmu?”

“Kita terbang setinggi-tingginya namun tetap pada satu garis lurus dengan rumah ini, sehingga kita bisa melihat kota ini dengan lebih leluasa namun dapat segera menolong Indra kalau-kalau ia butuh bantuan.”

“Tidak buruk, mari kita coba.”

Kedua khodam tersebut terbang dalam garis lurus yang tepat berada di atas rumah Indra. Mereka terbang sampai ketinggian kira-kira 500 meter dari permukaan tanah dan di sana Pratanala memandang dengan kagum pemandangan kota Salatiga di saat menjelang senja.

Mereka terus memandang kemegahan kota masa kini itu nyaris tanpa kedip hingga akhirnya malam hari pun tiba. Jalan-jalan protokol mulai dihiasi oleh lampu-lampu berwarna keemasan. Mobil-mobil tak beroda melayang dengan anggun pada melintasi jalur yang sudah ditetapkan bagi mereka. Di sisi barat terlihat sebuah pesawat jumbo jet mendarat di bandara Diponegoro, Salatiga[8].

“Peradaban yang sungguh berbeda dibandingkan masaku,” ungkap Pratanala sembari melanjutkan, “Di masaku hanya ada kereta kuda ataupun kereta yang ditarik lembu dan gajah. Namun kini aku melihat kereta-kereta yang melayang di udara. Serta kereta besar berbentuk seperti burung tadi sungguh luar biasa gagah dan perkasa.”

“Manusia menamakan kereta yang melayang pada jalanan-jalanan itu sebagai mobil sementara kereta yang lebih kecil dan tak beratap itu disebut sepeda motor. Dahulu sekali kendaraan ini memiliki roda layaknya kereta pada zamanmu namun kini tidak lagi. Manusia sudah menemukan teknologi untuk melawan gravitasi. Adapun burung besi yang kau lihat tadi disebut pesawat terbang,” kata Pramudya menjelaskan

“Ah, andaikan pada masaku benda-benda ini sudah ada maka akan makmur dan sejahteralah rakyat Majapahit.”

“Kamu yakin?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Karena dengan adanya benda-benda ini, manusia masa kini dipaksa bekerja 18 jam per hari. Mereka hampir tidak ada waktu untuk bersenang-senang, bila kau hidup di masa ini Pratanala, tidak akan ada namanya hiburan di Keputren[9].”

“Waduh, mati saja aku kalau begitu,” keluh Pratanala.

“Kau kan memang sudah mati, hahahahaha!!” tawa Pramudya tergelak-gelak.

“Hahahahaha,” kali ini Pratanala pun tertawa.

Sementara Indra melihat kedua khodamnya akur melalui mata batinnya diam-diam tersenyum sembari terus mengerjakan PRnya. Namun ibunya kemudian memanggilnya, “Indraaa,ayo turun, makan malam sudah siap!”

“Iya, Bu!” jawab Indra sembari mengeset I-padnya pada kondisi ‘hibernate’ lalu turun ke bawah.

Pratanala dan Pramudya pun akhirnya memutuskan kembali ke raga Indra saat itu pula dan beristirahat dalam tubuh remaja itu. Seusai makan malam Indra melanjutkan PRnya sampai pukul 9.00 WIB lalu ia tidur.

********

“Apakah Para Pengendali sudah menyadari akan hal itu?” terdengar suara berat di suatu ruang President Suite suatu hotel mewah di daerah Bandung.

“Tentang bangkitnya Wangsa Kuru? Aku rasa belum. Aku hanya bisa menemukan satu orang Pengendali yang tak lain adalah cucu dari kawanku sendiri,” jawab seorang pria yang tak lain adalah Priyono.

“Dokter Priyono, kami penasaran bisakah kau membuat suatu pendeteksi aura Para Pengendali sehingga kita bisa mengumpulkan mereka dengan cepat?” timpal seorang pria pendek dan gemuk berambut klimis yang duduk berseberangan dengan Priyono.

“Aku bukan mekanik Tuan Sujiwo. Mana mungkin aku membuat benda macam itu?” jawab Priyono.

“Lagipula….,” lanjut Priyono sambil menghela nafas, “akan sangat sulit mendeteksi mereka dengan pendeteksi aura sekalipun karena Para Pengendali yang sudah sadar akan kekuatan mereka dapat menghilangkan jejak mereka dan membuat mereka tidak terdeteksi oleh kita.”

“Sungguh merepotkan,” umpat Sujiwo.

“Tuan-tuan, mohon tenang dahulu. Kita memang tidak bisa mendeteksi mereka semua dengan pendeteksi aura modern yang selama ini kita rancang. Terlebih kita tidak atau tepatnya belum menemukan mekanik yang sanggup mengimplementasikan rancangan kita ini. Para agen kita sudah menjelajah seluruh bengkel mekanik pribadi dari Banda Aceh hingga Mataram namun tidak menemukan satu pun mekanik yang kompeten dan sanggup membuat alat ini. Karena itu Tuan-Tuan ….,” pria itu menghentikan pembicaraannya sebelum akhirnya melanjutkan kembali, “Aku memutuskan untuk mencari mereka dengan cara kuno.”

“Memakai Para Maestro dan Supranaturalis? Apa yang Tuan Pandiangan maksud adalah hal itu?” tanya Sujiwo dengan mata membelalak tidak percaya.

“Ya!” jawab pria itu.

“Mereka tidak dapat dipercaya, Tuan. Bagaimana kita bisa mempercayai badut-badut sok bikin atraksi itu?” seru Sujiwo lantang.

“Tuan Sujiwo, ada beberapa dari antara mereka yang memang benar-benar kompeten di bidang ini. Aku rasa aku bisa menyumbangkan satu nama,” kata Priyono.

“Dan siapa dia?” tanya Pandiangan masih dengan ekspresi datar yang sejak awal pertemuan sudah ia pertahankan.

“Rahman Alamsyah alias …..,” kata-kata Priyono tertahan.

“Empu Sangara,” timpal Pandiangan.

“Ada lagi yang punya usul lain?” tanya Priyono pada anggota pertemuan lainnya yakni seorang pria paruh baya berkacamata bulat dengan wajah pucat dan ceking serta seorang eksekutif muda berkacamata persegi dengan wajah bulat dan tubuh atletis dan rambutnya berminyak karena gel rambut.

“Aku rasa kita patut pula perhitungkan bahwa ia juga termasuk Sang Pengendali,” kata pria pucat dan ceking itu sambil mendorong sebuah map penuh dengan berkas ke arah Pandiangan.

Pandiangan membuka berkas itu dan ekspresinya langsung berubah seketika menjadi pucat pasi. Ia lalu menutup file itu dan berkata, “Tidak, ia bukan Sang Pengendali. Ia adalah Ksatria Alengka.”

********


[1] Hayam Wuruk

[2] Khodam bawaan = qorin à khodam yang ikut manusia sejak ia dilahirkan

[3] Pramudya = bijaksana

[4] Parasdya = niat

[5] Trengginas = lincah

[6] Lembu Sekilan = ajian yang konon digunakan para prajurit Majapahit untuk membuat medan energi di sekeliling tubuh sehingga serangan musuh akan selalu meleset

[7] Bentuk structure yang menyatakan lampau, ditandai dengan S+V2

[8] Rekaan penulis akan sebuah bandara di kota Salatiga di masa mendatang

[9] Bagian dari istana yang merupakan tempat bagi para selir dan gadis-gadis cantik untuk menghibur raja dan pejabat istana

Posted on July 4, 2011, in Sang Surya and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: