Sang Anarawata Saksana

Sang Anarawata Saksana

 (Cerita ini saya sertakan juga di Fantasy Fiesta 2011 yang diadakan kastilfantasi.com)

    Seorang laki-laki berusia 20 tahun berdiri di pintu gerbang sebuah mall di Bandung, lelaki itu bernama Atyasa Denaya. Ya, ia adalah satpam alias petugas keamanan di mall tersebut. Tugasnya… anda tahu sendiri, menangkap pencuri, mengamankan mall dari orang-orang yang mengganggu ketertiban, dan sebagainya demi menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung dan pedagang di mall tersebut.

Sudah setahun ia menjalani profesi ini setelah setahun sebelumnya ia lulus dari kuliahnya di D-1 perhotelan sebuah lembaga pendidikan di Bandung ini. Ia bukanlah siswa yang terbaik dan juga tidak bisa memenuhi beberapa kompetensi yang seharusnya ia miliki sebagai seorang alumnus D-1 perhotelan sehingga sulit baginya memperoleh pekerjaan sebagai orang kantoran. Akhirnya bermodal kekuatan fisik dan kepandaiannya bela diri yang telah ia pelajari semenjak SD maka ia dapat masuk menjadi staff keamanan sebuah perusahaan pengembang properti di Bandung dan kemudian ditugaskan menjaga pintu masuk mall ini yang notabene juga merupakan salah satu bidang usaha perusahaan tersebut.

“Hei, Denaya bengong saja dirimu!” tegur seorang rekannya sesama satpam.

“Imam, Kau ini membuat aku kaget saja!” jawab Denaya kesal.

“Daripada bengong, mending kamu hisap rokok ini deh,” kata Imam sambil menyodorkan sebungkus rokok dan sebuah pemantik.

“Maaf aku tidak merokok,” jawabnya.

“Kau ini aneh Denaya, bagaimana kau bisa menghilangkan stress jika tidak merokok?” kata Imam sembari menyalakan rokoknya.

“Aku punya caraku sendiri, Imam Tidak harus merokok untuk menghilangkan pikiran penat yang menghinggapi kepalaku.”

“Oh, ya sudah deh. Kamu sekarang piket kan? Aku mau makan siang dulu, kamu titip dibelikan apa?”

“Nasi rames saja ya, Im.”

“Oke, 10 menit lagi aku kembali dengan membawa sebungkus nasi rames untuk temanku, Tuan Denaya.”

“Hush, aneh-aneh saja perkataanmu ini. Sudah sana!” hardik Denaya sembari mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Imam segera bergegas pergi sebelum waktu istirahatnya habis.

Segera sesudah rekannya itu pergi, Denaya kembali fokus mengamati sesuatu, sesuatu di antara hilir mudiknya pengunjung mall. Dari balik mejanya ia melihat sosok-sosok bukan manusia yang hadir. Jumlahnya 3 makhluk, berpakaian layaknya prajurit kerajaan zaman kuno dan Denaya tahu mau apa makhluk-makhluk itu di sini.

Mall dan perusahaan properti ini dimiliki oleh seseorang bernama Pramudya Kosasih. Tuan Pramudya ini sangat baik pada seluruh pegawainya dan para pegawainya pun amat menyayangi boss mereka ini. Namun layaknya para pebisnis Indonesia yang masih sarat akan perang klenik, makhluk-makhluk yang hadir di depan mall inipun adalah hasil daripada serangan rival bisnis Pramudya Kosasih.

“Anggana Raras, dan Anggana Prakarta keluarlah!” seru Denaya dalam hati.

Maka muncullah dua sosok makhluk, sepasang muda-mudi yang wajahnya bak pinang dibelah dua di samping kanan dan kiri Denaya. Kedua makhluk itu adalah perwujudan pribadi Denaya dan mendampingi Denaya semenjak ia masih belum bisa bicara. Mereka adalah makhluk yang disebut khodam, shiki, atau roh penjaga. Kedua khodam itu segera memahami mengapa Denaya memanggil mereka. Dengan sigap kedua mekhluk itu menarik pedang mereka dari sarungnya dan menerjang ketiga makhluk bukan manusia di depan mall tersebut.

Raras dan Prakarta menyabetkan pedang mereka ke kepala salah satu makhluk itu dan makhluk itu pun musnah menjadi serpihan-serpihan kecil. Kedua rekannya pun balas menyerang, salah satunya bersenjatakan gada dan satunya lagi bersenjatakan tombak. Namun Raras dan Prakarta dengan gesit berkelit dari serangan tadi dan malah melakukan serangan balasan yang memotong tubuh kedua makhluk tadi menjadi 2. Sesudah melakukan hal itu Raras dan Prakarta juga turut menghilang, kembali ke dalam raga Denaya. Kejadian tadi berlangsung tak lebih dari 20 menit dan tidak lama sesudah itu Imam kembali membawakan Denaya nasi rames dan Denaya pun makan siang dengan lahap.

Pramudya Kosasih sendiri dikaruniai bakat melihat sesuatu yang tak kasat mata sejak lahir, ia sudah melihat hantu, jin, arwah, dan aneka makhluk halus lainnya. Karena memiliki bakat seperti itulah maka ia sudah sadar akan keberadaan tiga makhluk astral yang merupakan kiriman dari rival bisnisnya dan hendak menyakitinya. Ia sebenarnya sudah mempersiapkan diri menghadapi mereka dengan kekuatan yang ia miliki, namun alangkah terkejutnya ia melihat ada 2 sosok astral lainnya menghadapi mereka dan menghabisi para khodam yang hendak menyakitinya itu.

“Siapa kiranya pemilik kedua khodam itu?” tanya Pramudya dalam hati namun ia memutuskan tidak menghiraukan dahulu masalah ini karena setengah jam lagi ia harus rapat dengan bagian pemasaran.

Sementara Atyasa Denaya masih dengan sigap mengawasi keamanan mall tersebut hingga jam kerjanya berakhir pada pukul 18.00. Sesudah tugasnya selesai ia langsung menaiki motor butut yang ia beli dari dealer motor bekas dan masih belum lunas itu kembali ke rumah kostnya.

Di sisi lain di sebuah rumah megah di pusat kota Bandung tampaklah seorang pria paruh baya sedang uring-uringan melihat paranormal yang ia sewa untuk membunuh Pramudya Kosasih itu gagal melaksanakan tugasnya. Dengan garang ia berkata pada paranormal tersebut, “Kalau anda masih tidak bisa membunuh Pramudya Kosasih sampai akhir minggu ini maka aku akan cari orang lain untuk membunuhnya!!”

Paranormal yang sudah tua itu hanya bisa menunduk malu. Selama ini tidak ada orang yang bisa mengalahkan serangan gaib dari dirinya, Langer Pragalba. Maka ia mohon diri dahulu dari hadapan kliennya dan pulang menuju rumahnya. Di sana ia bermeditasi, berkonsentrasi dengan segenap indranya dan konsentrasinya dipusatkan pada satu tujuan mencari orang yang bisa mematahkan serangannya tadi.

Lama dan lama Pragalba berkonsentrasi mencari keberadaan orang yang sudah menbuatnya malu tadi. Ia mencari lagi dan … ia mendapatkannya. Ia melihat seorang pemuda yang bekerja sebagai petugas keamanan di mall tersebut memiliki dua khodam kembar sakti yang mengalahkan tiga khodam yang ia kirim tadi. “Ini dia orangnya, besok pagi aku akan buat perhitungan dengannya.”

Sementara itu Denaya langsung tidur dengan lelap di kamar kostnya yang kecil dan cenderung kumuh, di sebuah daerah di belakang mall tempat ia bekerja. Begitu jarum jam menunjukkan pukul 03.00 maka bangunlah dia dan langsung menyambar handuk, mandi, kemudian membantu induk semangnya membersihkan halaman rumah.

Induk semangnya amat menyukai Denaya, karena ia rajin, ramah, dan juga ringan tangan. Karena itu tidak heran jika induk semangnya sering memberikan gratis sewa bahkan pernah selama 3 bulan khusus untuk Denaya. Denaya sendiri sebenarnya tidak mengharapkan balasan semacam itu, ia cuma kasihan melihat setiap hari induk semangnya harus membersihkan halaman rumahnya yang cukup rimbun sendirian di usianya yang sudah hampir menginjak 70 tahun.

Pagi itu induk semangnya kedatangan seorang tamu, seorang pria paruh baya, kurus dan tinggi dengan muka cekung. Pria itu memakai pakaian hitam-hitam, kemejanya hitam dipadukan dengan celana panjang hitam. Pria itu tak lain adalah Langer Pragalba. Induk semang rumah kost itu kemudian memanggil Denaya ke ruang tamu, “Naya, ada tamu untukmu, ibu hendak ke belakang dahulu menyiapkan suguhan.”

“Oh, iya, terima kasih, Bu.”

Denaya segera menghampiri orang tersebut dan memberi salam lalu duduk di sofa dan mulai bicara, “Maaf, ada keperluan apa ya Bapak kemari?”

Orang itu mengatupkan kedua telapak tangannya di depan bibirnya sembari menjawab, “Dik Denaya ini bukan orang biasa bukan? Adik dapat melihat segala makhluk tak kasat mata yang ada di dunia ini bukan?”

Denaya terkejut mendengar kata-kata orang itu, seumur hidupnya baru kali ini ia mendengar seseorang mengetahui rahasianya sebagai anak indigo. Namun orang itu kemudian melanjutkan, “Dan saya juga tahu bahwa anda mengacaukan pekerjaan saya kemarin dengan menghancurkan tiga khodam yang saya kirim untuk membunuh Pramudya Kosasih!” sambil mengepalkan telapak tangan kirinya dan menimbulkan suara gemeretak.

Jantung Denaya nyaris copot mendengar fakta bahwa orang ini adalah orang yang hendak mencelakakan majikannya. Dalam hatinya ada rasa yang campur aduk antara marah, gamang, takut, dan prihatin. Pragalba langsung melanjutkan, “Malam ini, di Padang Jedeng di kaki Gunung Tangkubanprahu, aku akan menunggumu di sana dan kita tuntaskan masalah kita. Sekarang, saya permisi dahulu.”

Pragalba segera keluar dari ruangan itu lalu berpamitan pada Ibu Atik pemilik rumah kost tersebut yang kebingungan karena tamunya cepat-cepat pulang. Kemudian ia menaiki motornya kemudian memacu motornya entah ke mana. Denaya sendiri masih termangu atas kejadian tadi. Ia benar-benar tidak percaya apa yang telah ia lakukan kemarin harus membuatnya berurusan dengan orang yang bukan orang sembarangan.

Sumpah setia seseorang yang melekat terus, seakan menjadi bukti bahwa adanya ikatan takdir yang tak bisa diputuskan dari dunia ini. Itulah yang sebenarnya terjadi pada Pramudya dan Denaya. Ia dan Pramudya terikat perjanjian gaib sebagai pelindung Pramudya semenjak masa leluhur mereka dahulu. Denaya merasa ia sangat berkewajiban menolong Pramudya Kosasih dari segala ancaman makhluk astral ini. Sungguh ia benar-benar tidak tahu mengapa ia harus melakukan hal itu, namun ia benar-benar merasa bahwa ia harus melakukannya.

Malam itu Denaya menaiki motornya ke arah Gunung Tangkubanprahu, ia bertanya pada penduduk sekitar lereng gunung mengenai Padang Jedeng tapi tiada satu orangpun yang mengetahui di mana padang itu berada. Karena tidak jua menemukan letak padang itu, ia memanggil Anggana Raras, menanyakan di mana letak padang itu. Raras kemudian terbang menjauh sembari berkata, “Ikuti aku Denaya!”

Sepeda motor Denaya menembus gelap malam yang pekat menuju daerah jalan setapak tidak beraspal. Di sana amat gelap dan tidak mungkin dilalui oleh motor, maka Denaya memutuskan turun dari motornya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ia berjalan mengikuti Raras yang akhirnya berhenti di suatu padang rumput di tengah hutan.

“Aku kira kau sudah dimangsa dhemit, Denaya. Sudah lama aku menunggumu di sini!” seru Pragalba dari kejauhan.

“Maaf aku sudah membuat Eyang menunggu,” jawab Denaya sopan.

“Ha, kau masih punya tata krama anak muda,”jawab Pragalba sambil tersenyum sinis.

“Ada apa Eyang memanggilku kemari?”

“Ada apa? Tentu saja untuk menghabisimu anak muda. Anak muda sok tahu yang telah turut campur dengan urusanku membunuh Pramudya. Gara-gara dirimu aku menjadi malu besar di hadapan klienku yang menginginkan kematian Pramudya! Dan semua itu gara-gara kau dan dua khodam kembar sialanmu!!! Sekarang, bangkitlah Danyangan Panenggak Ridhu!!!!”

Seketika muncullah sekumpulan jin-jin berukuran raksasa yang jumlahnya ribuan berdiri di belakang Pragalba. Begitu Pragalba memberi isyarat menyerang majulah mereka semua menuju ke arah Denaya dengan senjata teracung. Denaya hanya berdiri dengan tenang, lalu berujar dalam hati, “Anggana Raras, Anggana Prakarta, Eyang Rintang, Kyai Umet, dan Gurdaka keluarlah dan beri mereka pelajaran!”

Seketika itu muncullah kedua khodam kembar, dua orang khodam kakek tua berpakaian seperti pejabat istana, dan seorang khodam pria botak bertubuh kekar layaknya raksasa. Mereka langsung membabat habis barisan terdepan dari Danyangan Panenggak Ridhu itu dengan mudah.

Sementara para khodamnya bertarung dengan khodam Denaya, Pragalba langsung menyerang Denaya dan melancarkan pukulan-pukulan mematikan ke arah Denaya, namun Denaya selalu dapat berkelit. Ia bergerak dengan lincah sembari menangkis setiap serangan Pragalba dengan tangan dan kakinya.

Sesaat kemudian Pragalba berhenti menarik nafas, Denaya melihat hal tersebut dan segera memasang kuda-kuda, lalu menyerang Pragalba dengan suatu kepalan tangan yang penuh dengan energi tenaga dalam. Pragalba dengan enteng merapal mantra perisai energi yang menyelubungi tubuhnya, namun perisai itu ternyata tidak berguna dan langsung pecah ketika menerima pukulan dari Denaya. Pragalba kemudian berkelit ke belakang, mencoba mengambil jarak dari Denaya, namun kaki kiri Denaya sudah menghantam pipi kanannya secara telak dan ….. menghempaskan kakek tua itu ke arah semak belukar yang penuh duri tajam. Pragalba segera bangkit merapal mantra aji-ajian yang tidak dipahami Denaya, tapi Denaya tidak peduli, ia segera mengarahkan pukulannya ke arah Pragalba namun … pukulannya meleset.

Denaya heran kenapa pukulannya bisa meleset padahal dia sudah jelas-jelas mengarahkan pukulannya tepat ke wajah Pragalba. Ia bersalto di udara mengarahkan tendangannya lagi ke Pragalba sambil terus berpikir mengenai keanehan tersebut, dan … terjadi lagi hal yang sama, seolah ada sesuatu yang kenyal melindungi tubuh Pragalba dari pukulan. Pragalba kemudian melayangkan pukulannya yang sarat tenaga dalam ke arah perut Denaya dan Denaya pun terlontar ke udara sebelum akhirnya terhempas kembali ke tanah dengan keras.

“Lembu Sekilan!!”seru Denaya terkejut setelah susah payah mencoba bangkit.

“Oooo, kau tahu juga soal itu anak muda?” sahut Pragalba mengejek.

“Jangan kira aku anak kemarin sore, Eyang! Begini-begini aku juga tahu soal ilmu itu. Tapi tampaknya kau sudah bangga akan kemampuanmu mengasai ilmu kacangan itu yah?” ujar Denaya balas mengejek.

“Ilmu kacangan????!!!” seru Pragalba dengan wajah memerah menahan amarah, “Jangan sombong kau!!! Coba saja kau serang aku ratusan kali sekalipun, tidak akan bisa kau mengalahkan aku!!!”

“Oh ya? Taruhan aku akan mengalahkan Eyang dalam waktu kurang dari 30 menit,” jawab Denaya sambil tersenyum penuh arti. Ia kemudian mengatupkan kedua belah telapak tangannya di depan dada, lalu memusatkan segala perhatiannya dan mengucapkan bait-bait mantra.

Pragalba menarik sebilah keris dari balik saku jubahnya lalu berseru, “Keris Sang Guruh ini akan mencabut nyawamu, Nak!”

Pragalba berlari ke arah Denaya yang masih tetap berdiri dengan tenang sambil memejamkan mata. Ia lalu menusukkan keris itu ke arah jantung Denaya namun tiba-tiba Denaya membuka matanya sambil berseru, “Pancasona!!!”

Dari tangan Denaya muncullah sinar merah, kuning, hijau, biru, dan hitam yang mendorong Pragalba sejauh 3 meter dari tempatnya semula. Pragalba mencoba bertahan mati-matian menahan serangan itu namun dinding pertahanannya rusak dan sinar itu memberikan pukulan yang amat kuat yang membuatnya serasa ditabrak oleh dua buah truk secara bersamaan. Ia jatuh tersungkur dan darah segar mengalir dari dalam mulutnya. Denaya kemudian berjalan menghampirinya.

Dukun itu menyerah kalah di hadapan Denaya, dengan mulut masih mengeluarkan darah, ia bersujud memohon ampun pada Denaya, “Maafkan aku anak muda. Aku berjanji tidak akan mengganggu ketentraman keluarga Pramudya Kosasih lagi. Tapi tolong jangan bunuh aku.”

“Aku tidak akan membunuh Eyang. Bukan hakku mencabut nyawa yang Eyang miliki dan sudah sepantasnya pula Eyang tidak mencabut nyawa orang lain yang bukan milik Eyang.”

Dukun itu mengernyit keheranan, tidak biasanya ada orang mau memaafkannya semudah itu namun ia kemudian paham akan jalan pikiran pemuda ini serta siapa sebenarnya dia, Pragalba lalu merogoh saku bajunya,”Aku akan memberikanmu ini anak muda,” kata Si Dukun Tua itu sembari mendekati Denaya dan memberinya sebuah cincin batu berwarna jingga mengkilat. “Apa ini?”tanya Denaya?

“Cincin Amogasidi, sudah seharusnya ia menjadi milikmu Sang Anarawata Saksana.”

“Eyang tahu soal iu?”

“Tentu saja, seluruh kalangan supranaturalis setelah ini akan tahu mengenai dirimu. Jika dirimu sudah bangkit maka kau akan mengawal seorang ratu adil bagi negeri ini. Karena itu bawalah cincin itu.”

“Eyang tidak menyesal memberikannya padaku?”

“Itu adalalah milikmu di kehidupan yang lampau, anak muda. Sekarang bukankah sudah saatnya kau mengabdi kembali pada rajamu, Denaya? Bukan…. Anarawata Saksana?”

“Bagaimana pertanggung jawaban Eyang pada klien Eyang yang ingin Eyang membunuh Tuan Pramudya?”

“Aku akan katakan padanya bahwa aku tidak sanggup membunuh Pramudya dan akan merekomendasikan paranormal lain. Tapi jika menyadari keberadaanmu sekarang maka tidak akan ada satupun paranormal negeri ini yang akan bersedia membunuh Pramudya.”

Denaya melempar senyum pada dukun tua itu dan Pragalba juga membalas senyumnya. Ia kemudian berjalan menjauh dari lapangan itu. Kemudian ia dengan perlahan-lahan berjalan menjauh, menuju arah rumah kostnya. Peristiwa hari itu membuatnya makin mengetahui tujuan hidupnya. Dalam perjalanannya kembali ke rumah ia berjanji dalam hati, “Tuan Pramudya, trah Kanjeng Prabu Parikesit, mulai sekarang aku akan melindungi anda dan anak keturunan anda sampai ada anak keturunan anda yang mampu menjadi Ratu baru di negeri ini.”

“Aku sudah menyadari bahwa Anarawata Saksana akan bangkit menjaga aku dan anak-cucuku dari marabahaya musuh-musuhku, sekali ia bangkit maka tiada satupun musuh yang perlu aku takuti karena ia adalah penguasa segala mantra dan ilmu kanuragan, penakluk segala makhluk baik astral maupun nyata. Dan dengan kemauannya sendiri mengabdikan seluruh hidupnya untuk melindungi trah keturunan Parikesit,” sahut seseorang dari balik rerimbunan pohon.

Denaya terkejut akan suara itu lalu menoleh ke arah suara itu berasal dan mendapati Pramudya sudah berada di sana. Ia berdiri tenang dalam balutan jas satin biru tua, kemeja putih, dan dasi merah. Tampil layaknya seorang pejabat dengan wibawa jauh di atas rata-rata pejabat. Ada suatu wibawa kuat terpancar dari dalam dirinya, wibawa yang hanya dimiliki seorang raja agung. Denaya segera berlutut di hadapan Pramudya tanpa bisa berkata apa-apa, lalu Pramudya menghampiri Denaya dan berkata, “Aku terima sumpahmu Denaya, jadilah Anarawata Saksana bagiku dan keluargaku. Dan mengabdilah pada kami hingga tiba waktumu untuk beristirahat dari segala kewajibanmu dan muncul Anarawata Saksana berikutnya.”

“Hamba siap melaksanakan titah, Tuanku!”

“Maka ini titah pertamaku, ayo kita kembali ke Bandung, masih banyak hal yang harus kita lakukan.”

Pramudya merangkul Denaya dan bersama-sama mereka turun menuju kaki Gunung Tangkubanprahu, lalu kembali ke Bandung di mana sejak saat itu Pramudya memberikan kepercayaan pada Denaya untuk menjadi kepala pengawalnya.

Tahun-tahun berlalu dan tak terasa ini sudah tahun 2105. Suasana Indonesia sudah berubah, mobil-mobil tak lagi berjalan menggunakan roda melainkan sudah menggunakan alat anti gravitasi sehingga mobil-mobil melayang di udara. Di zaman ini tiada lagi yang namanya asap kendaraan, karena seluruh bahan bakar kendaraan adalah hidrogen. Di zaman ini, di bundaran HI Jakarta tampaklah sesosok pria berusia 30 tahunan berpidato dengan suara membahana. Ia berpidato dengan bersemangat mengenai perubahan-perubahan apa yang harus dilakukan untuk membuat perubahan di negeri ini. Pria itu bernama Sena Kosasih, cicit dari putra pertama Pramudya Kosasih, yang saat ini menjadi politikus kawakan di negeri ini.

Sesudah ia selesai dengan pidatonya itu, kembalilah ia ke belakang tribun di mana para ajudannya yang berjumlah 20 orang sudah mempersiapkan diri dengan senjata lengkap untuk mengawalnya kembali ke Senayan. Di sana seorang ajudannya berkata, “Saya sudah menyewa beberapa pengawal pribadi untuk mengawal Bapak kembali ke Senayan”

“Aku tidak perlu semua itu, cukuplah aku, sopir dan dan sekretarisku saja yang mengawalku,” katanya sembari bergegas menuju mobilnya meninggalkan ajudan tadi dengan terbengong-bengong dan penuh rasa khawatir akan keselamatan Sena. Di dalam sana ada seseorang, seorang pria berusia 30 tahunan akhir yang sibuk mencatat agenda kegiatan Sena selama seharian ini di sebuah PC tablet, namun tiba-tiba ia meletakkan PC tabletnya, melepas kacamata bacanya dan kemudian berbicara pada Sena, “Mengapa engkau tidak ijinkan mereka mengawalmu?”

“Aku tidak membutuhkan pengawalan seperti itu, Paman. Seorang pemimpin harusnya adalah pelindung bagi rakyatnya bukan sesuatu yang dilindungi rakyatnya,” jawab Sena datar.

“Bagaimana jika ada orang yang mengincar nyawamu?” tanya pria itu lagi.

Sena tersenyum simpul dan memandang tajam pada pria itu sembari berkata, “Maka pada saat itu aku mengandalkanmu Paman Denaya, Anarawata Saksana para trah
Parikesit untuk melindungku dari segala marabahaya.”

Pria itu tersenyum dan kemudian menjawab, “Ada baiknya Adinda Sena ini mulai belajar mengandalkan orang lain. Kalau-kalau sewaktu-waktu saya mati terbunuh bagaimana coba? Hahahahaha!!”

Tawa Sena pun pecah dan kedua orang itu pun tertawa bersama, sementara mobil itu bergerak menuju kantor Sena di Gedung DPR di Senayan.

Tamat

Keterangan :

  1. Anarawata Saksana = Penjaga yang senantiasa menjaga
  2. Khodam = Jin dengan kemampuan khusus yang biasanya digunakan untuk mengisi daya pada suatu benda pusaka atau mengawal seseorang
  3. Anak Indigo = Anak yang lahir dengan kemampuan khusus
  4. Jedeng =Kematian
  5. Khodam =Makhluk halus
  6. Parikesit = adalah putra dari Abimanyu, cucu Arjuna. Kelak akan menjadi Raja Astina. Angling Dharma dipercaya merupakan salah satu keturunannya
  7. Ratu = Raja dalam bahasa Jawa

Cerita ini merupakan alternative story dari Novel Sang Surya yang juga saya karang😀

Posted on June 24, 2011, in Cerpen Amatir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: