Bangkai Kegelapan

Dikutip dari : Harian Suara Karya

Sabtu, 09 Februari 2008

BANGKAI KEGELAPAN

Cerpen: Restoe Prawironegoro Ibrahim

Bagaimana pun hidup harus dipandang lebih ke depan. Ini berarti hidup harus dimulai lagi. Berjalan di atas bayangan masa silam yang mengharubirukan, tidak boleh dibiarkan berlanjut sampai terbawa ajal. Tidak! Ia musti dikubur. Dan, kuburan itu musti dibikin secara baik agar bangkai yang tertanam di dalamnya tidak mampu menyemprotkan bau. Begitu keputusan Fil. Janda lusuh yang baru saja terpancar sinar keinginan hidup lebih baik dari wajahnya. Matanya.

Setelah setahun ditinggal mampus suaminya, Fil memang berubah drastis gaya hidupnya. Ia tidak saja terasing dari lingkungannya, melainkan dengan berani mengasingkan diri, juga dari semua kerabatnya dan lingkungan keluarganya. Fil menghabiskan sehari-harinya di sebuah kamar — di rumah mertuanya — yang pengap. Ia menciptakan penjara bagi dirinya sendiri.

Kalau waktu makan datang, setiap pengantar makanan itu hanya sampai pada lubang pintu kamar yang sengaja dibuat Fil. Begitu tangan pengantar makanan menjalar, Fil segera mengambilnya dengan cara merapatkan badan ke samping pintu. Sulit memang untuk melihat bagaimana sesungguhnya Fil. Apakah masih montok? Cantik? Lincah? Ataukah sudah ..ah! Lalu, bagaimana pula kalau berak? Mudah. Tahinya selalu dibungkus koran. Ia cebok persis orang bule. Tahinya dibuang lewat jendela kamarnya yang juga diberi lubang.

Telah berkali-kali mertua Fil memohon kepadanya agar keluar dari kamarnya. Buat apa menyiksa diri. Tapi ia tak peduli. Bahkan, ketika orang tuanya meminta hal serupa, juga tak ditanggapinya. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Pernah terjadi ketegangan yang luar biasa. Waktu itu, mertua dan orang tua Fil mengancam akan bunuh diri bersama kalau Fil masih saja mengurung diri. Namun, apa kata Fil? “Kalian mau bunuh diri kek, mau telanjang bulat kek, mau menangis sampai keluar air mata darah kek, mau membom rumah ini kek, saya tidak akan beranjak dari kamar ini.”

Mertua dan orang tua Fil malah jadi frustasi. Akhirnya mereka hanya mampu melawan ulah Fil dengan cara mendiamkan Fil, kendati pada dasarnya mereka gelisah sungguh. “Kita harus menguji kekuatan kita,” tegas orang tua Fil yang disetujui sang mertua.

* * *

Ini adalah sore yang bersih. Tak seperti biasa. Fil mengatur kamarnya. Foto-foto perkawinannya dibersihkan dan dipajang di dinding dengan amat teratur. Ia pasang seperti putih pada ranjang tidurnya. Ia atur meja belajar. Ia atur segala tetek-bengek yang dianggapnya membuat sumpek. Ia menjadi begitu feminin.

Setelah selesai, ia melangkah ke depan cermin. Ia pandangi wajah dan seluruh tubuh. Ia bergaya mirip peragawati. Ia sendiri sebetulnya merasa aneh. Mungkin, sekarang ia betul-betul sudah tidak lagi waras. Mungkin. Tapi, kemudian keanehan itu segera dilenyapkan. “Saya tidak gila. Dan, tidak ada yang gila di dunia ini,” katanya di depan cermin. Lalu, ia tersenyum. Manis.

Fil duduk di kursi jendela kamar rumahnya yang tidak seberapa besar itu. Lewat lubang jendela yang dibuatnya itu, ia pandangi sebuah ranting patah yang bergelayutan. Ia biarkan wajahnya diterobos matahari sore.

Malam perkawinan itu kembali muncul. Fil bahagia. Semua orang yang hadir juga bahagia. Fil merasa harapan yang tadinya tak menentu, kembali menjadi utuh. Betapa tidak? Tiga hari menjelang perkawinan, Paimin — calon suaminya — datang. Menurut pengakuan Paimin, ia dibebaskan dari segala tuduhan merampok dan membunuh. “Tuhan memang selalu melindungi orang yang tidak bersalah. Tuhan telah membuka mata dari jaksa penuntut dan pembela, juga hakim,” tutur Paimin mantap di tengah peluk tangis Fil menyambut kedatangannya.

Paimin ditangkap pihak berwajib karena tuduhan membunuh haji Sukron dalam suatu perampokan tengah malam di rumah juragan penggilingan padi itu. Entah perasaan apa yang tertanam di hati perampok itu, tiba-tiba para tetangga melihat ada bercak darah yang menempel di pintu dan jendela rumah Paimin.

Tentu saja para tetangga jadi ribut. Panik. Apalagi tetangga yang suka usil, tanpa membuang waktu segera menggedor rumah Paimin. Seperti kena setan kesiangan para tetangga lainnya menyerbu masuk. Paimin yang terjaga dari tidurnya itu jadi kalang kabut. Ia coba menanyakan kesalahannya, tapi tampaknya para tetangga tidak lagi peduli. Mereka, terus menyeret Paimin ke pos Hansip. Bukan itu saja, ketika Paimin digiring, tangan-tangan usil pun tak bisa dihindari. Wajah Paimin babak-belur. Dan, sampai hati mereka membugili mangsanya itu.

Paimin ditangkap. Kasusnya diperiksa oleh polisi. Baru belakangan diketahui bahwa Paimin tidak bersalah. Koran-koran laris keras.

Paimin memang nganggur, kendati sebulan lagi ia akan naik pelaminan bersama Fil. Bermula ia diajak Tomang, teman dekatnya, main judi. Tanpa banyak cukup Paimin menerima tawaran itu. Pada pikirannya, kalau menang, lumayan bisa tambah modal kawin. Lalu, mereka main judi.

Iming-imingnya benar. Tomang kalah. Bahkan seluruh barang yang dipakai Tomang ludes. Berpindah tangan ke Paimin. Dengan bangga Paimin pulang bawa kemenangan. Hatinya sumringah, sebab harapannya terkabul, diajaknya Fil nonton film di bioskop. Dengan uang itu, ia bisa honeymoon.

Rupanya kekalahan Tomang berbuntut. Hari berikutnya Tomang kembali menantang Paimin. Tapi, tantangan itu ditolak dengan wajah penuh penyesalan. Ia bilang kepada Tomang bahwa Fil tidak mau punya suami pemain judi. Fil mengancam putus kalau Paimin terus bermain judi. Tomang jadi berang. Tanpa banyak cakap Tomang meleset pergi. Melihat tingkah Tomang, Paimin tak ambil pusing. Ia sudah biasa melihat Tomang semacam itu.

Tomang dendam, lalu pasang aksi. “Aku harus melakukan sesuatu!” Begitu keputusan Tomang. Geram.

Malam itu bulan tak ada. Langit merah. Angin mendayu-dayu. Tomang beraksi. Ia rampok rumah haji Sukron. Nasib sial menimpa Tomang. Belum sempat ia bongkar almari, haji Sukron memergokinya. Ia panik, dan haji Sukron bagai kena sirep. Sekali melompat — entah sadar atau tidak — Tomang segera menghujamkan pisaunya ke tubuh haji Sukron. Lalu haji Sukron mampus setelah sedikit mengerang dan berkolojotan.

Tomang tak menyia-nyiakan kesempatan sebelum seisi rumah itu bangun. Ia melesat pergi. Ia langsung menuju rumah Paimin. Begitu sampai, ia segera menyelipkan pisau yang berlumur darah itu ke atas daun pintu rumah Paimin, kemudian memberi bercak-bercak darah di pintu dan jendela, ke dinding-dinding. Mengerikan!

Begitulah. Dan, seluruh peristiwa itu diketahui Paimin justru pada saat ia melangkah ke luar pintu muka bangunan penjara, ketika ia dinyatakan bebas. Ia beli koran. Bagian terakhir berita koran itu menyebutkan, Tomang datang sendiri ke kantor polisi dan mengakui kesalahan segala perbuatannya. Tomang tak betah dibayang-bayangi dosa. Yang membuat Paimin trenyuh adalah ketika membaca bagian paling akhir berita koran itu. “Paimin, maafkan aku. Kalau kau mau balas dendam, aku takkan melawan,” ucap Tomang dalam tulisan itu.

Bola mata Paimin berkaca-kaca. Perkawinan berlangsung meriah. Paimin dan Fil bahagia. Juga semua orang. Tak ada tanda yang dapat ditangkap bahwa akan ada peristiwa yang mengerikan. Seusai malam perkawinan. Di tengah gulita. Di tengah kenyenyakan tidur pengantin baru itu, telah terjadi suatu peristiwa berdarah, Paimin, suami Fil, mampus.

Adzan shubuh bergema. Seperti biasa Fil terbangun dari tidurnya. Tapi, begitu ia menengok ke samping, mau memeluk sang suami, bukan kepalang kagetnya, suami Fil tergeletak. Ususnya berhamburan. Fil menjerit sekuat tenaga. Juga alam. Histeris.

Sebelum tidur, memang ada percakapan yang mengasyikkan sepasang pengantin baru itu.

“Kamu bahagia?” tanya Fil lembut. Paimin mengangguk cepat. “Saya heran, kok yang datang banyak,” ucap Fil lagi. Dan, Paimin hanya mengangkat bahu. “Padahal kita akan hanya mengundang seratus orang.” Lagi, Paimin mengangguk. “Kok bisa lebih?” tanya Fil.

“Saya hitung ada tiga ratus orang,” tukas Paimin.

“Gila! Apa mereka kebagian makanan?”

“Mudah-mudahan.”

“Apa mungkin?”

“Namanya saja mudah-mudahan.”

Fil tidak berkata lagi, kecuali menghela napas panjang. Paimin bangkit dari ranjang, lalu berjalan ke dapur. Fil tak peduli. Dengan sigap Fil membuka kado-kado yang menumpuk di ranjangnya.

Sebuah kado berisi pakaian bayi. Fil asyik memandanginya. Ia kaget ketika ditegur sekonyong-konyong suaminya yang sudah berada di mulut pintu kamar. “Kamu mau minta perempuan atau laki-laki?” Fil hanya tersenyum saja. Lalu, Paimin duduk di ranjang, berhadapan dengan Fil. Lalu, ikut membukakan kado. Suami Fil agak tersipu ketika ia temukan benda yang tak asing dalam kado itu.

“Ada yang aneh?” tanya Fil main-main. Suami Fil mengangguk. “Boleh lihat?” sambung Fil. Tanpa banyak cakap Paimin segera menyodorkan bungkusan kado itu. Begitu dibuka, Fil terperanjat. Namun, hal itu hanya sejenak. Wajahnya berubah malu. Lalu, mereka tak sanggup menahan geli. Dan, tawa mereka berakhir dengan pelukan Paimin.

“Nggak capek?” tanya Fil lirih.

“Nggak,” balas suami Fil semangat. Lalu, mereka tertawa lagi, dan sekejap tawa mereka berhenti. Malam hanya tinggal lampu-lampu yang berkelap-kelip dan bulan-bintang yang bergelayutan. Malam hanya tinggal desir angin. Malam hanya tinggal desah napas. Malam hanya tinggal.

Begitulah!

Fil menjerit sekuat tenaga. Histeris. Seisi rumah bangun. Kelabakan. Menyerbu kamar pengantin baru itu. Dan, seisi rumah itu menjerit histeris.

* * *

Di kursi itu. Di sudut jendela itu. Di sore itu. Fil menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia merasa seluruh tubuhnya bergetar. Keringatnya menyembul dari pori-pori kulitnya. Jantungnya berdegup kencang. Aliran darahnya ngilu, liar, saling tumpang tindih. Fil menjadi lemas. Ia tidak kuasa menemukan jawaban siapa sebenarnya pembunuh suaminya, Tomang, atau teman-teman Tomang? Seperti dugaan koran. Tidak mungkin. Tomang telah menulis pernyataan secara terbuka di koran, dan semua orang pasti baca. Lalu siapa? Petrus? Tidak mungkin, Paimin bukan penjahat. Paimin tidak pantas untuk di petrus!

Fil coba bangkit dengan sisa tenaga dan sisa pertanyaannya, tapi ia tak sanggup. Setahun sudah peristiwa itu, sampai sekarang tak diketahui ujung pangkalnya. Koran-koran tak lagi memberitakannya. Fil pun putus asa. Dengan suara terpatah-patah, ia bicara sendirian. “Kalau memang Engkau ingin mengakhiri sejarah akhirilah.”

Dalam keputusannya itu, ada suara yang jatuh di luar. Fil mengintip dari lubang jendela. Ranting patah yang bergelayutan itu. Mencium bumi kendati angin tidak ada. Dan begitu Fil memejamkan mata, matahari sore hilang. Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib. Lagi, entah sadar atau tidak, Fil berucap, “Ampunilah saya, Tuhan.” Fil lalu berdiri. Dan, ia baru sadar kalau sanggup berdiri.

“Ya, hidup harus dimulai lagi. Cukup lama saya menghirup bangkai kegelapan, untuk menyingkap alam sebenarnya pembunuh suami saya. O, saya sia-sia. Dan, sekarang saya tak ingin sia-sia. Saya harus seperti koran. Perlu diingat pada saat tertentu saja.” Begitu kata hati Fil. Lalu, ia membuka jendela. Lalu, ia berjalan ke sumur. Lalu, ia mengambil wudhu. Lalu, ia sembahyang. Lalu, ia tidur dengan tenang, seisi rumah seperti orang gila ketika melihat perubahan Fil.

***

Posted on June 22, 2011, in Cerpen dari Surat Kabar and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: