Sang Surya : Bab II

BAB II : RANTAI TAKDIR

Di Nusantara ini para paranormal dan insan supranaturalis masih ada dan bertahan di antara gempuran zaman teknologi yang semakin canggih. Kalau boleh dibilang, sebenarnya kita ini penjaga tradisi yang sama hebatnya dengan Jepang, namun entah kenapa insan pers nasional maupun internasional lebih sering memuji-muji Jepang sebagai negara yang kukuh menjaga tradisi mereka. Barangkali hal ini karena mereka menjunjung tradisi mereka mulai dari sang Kaisar, Perdana Menteri, para pejabat, hingga masyarakat kelas bawah. Sementara kita? Para petinggi negeri ini hanya tertarik pada kelestarian budaya jika hal itu membuat mereka diliput dan mendongkrak popularitas mereka sehingga mereka dapat melanggengkan jabatan mereka, sementara para penjaga tradisi yang sebenarnya hidup sengsara di tengah kepungan utang dan tuntutan akan kebutuhan hidup yang makin lama makin berat.

Adapun meski hampir semua telinga manusia di Nusantara ini pernah mendengar yang namanya khodam, hanya sedikit orang yang tahu bagaimana cara menggunakan serta mengendalikan mereka. Orang-orang semacam ini disebut Sang Pengendali. Di antara para pengendali, ada sebagian kecil orang yang mampu memanggil para Kalingga untuk membantu mereka. Kaum ini disebut Pengendali Kalingga.

Adalah seorang anak laki-laki tak berayah di sebuah kota bernama Salatiga. Ia bernama Affandi. Affandi, nama yang mirip dengan penulis abstrak kenamaan Indonesia, “Affandi”. Ya memang almarhum ayahnya adalah seorang pelukis yang sangat mengagumi “Affandi Sang Pelukis”, karena itu ia namai anak tunggalnya dengan nama Affandi. Affandi kecil, seorang anak berusia 14 tahun, entah dari mana seolah merupakan titisan “Affandi Sang Pelukis”. Entah di manapun juga ia selalu menorehkan lukisan abstrak yang hanya sedikit orang tahu. Namun tiap torehan lukisannya selalu memiliki makna. Pernah suatu ketika ibunya hendak membuang kain-kain perca sisa jahitannya namun oleh Affandi dimintanya semua kain perca itu dan dibuatlah potongan-potongan kain perca itu menjadi sebuah lukisan kain berkisah tentang pengemis yang meminta-minta. Lain waktu, ia pernah menggambar sebuah lukisan epik Kresna melawan Arjuna di halaman belakang rumahnya yang membuat orang-orang sekitar terperangah melihat kegesitan tangan anak itu.

Affandi bersekolah di kelas IX SMPN 1 Salatiga, di sana ia berteman dengan seorang anak bernama Indra Jumantra[1]. Indra Jumantra adalah seorang anak yang super pendiam, ia tidak banyak bicara kecuali pada Affandi. Alasan mengapa ia hanya dekat dengan Affandi karena hanya Affandilah yang mengerti beban dan perasaan yang ia tanggung.

 

Indra Jumantra

Pada tahun 2026, tepatnya tanggal 14 Januari, lahirlah sesosok orok bayi bernama Indra Jumantra di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Salatiga. Di sana hadir seorang pria yang merasa seperti menjadi orang terbahagia di dunia ini, ia adalah ayah dari Indra Jumantra yang bernama Sutarto Kaharsa, seorang guru PNS di SMAN 02 Salatiga. Pada saat kelahiran Indra, begitu tahu anaknya mengeluarkan suara tangisnya untuk pertama kali ia langsung bersujud syukur pada Sang Pencipta atas anugerah kedua yang ia terima. Anak sulungnya Ristra Saraswati hanya melihat dengan tatapan keheranan atas perilaku ayahnya itu, namun haruslah dimaklumi, ia masihlah anak kecil.

Sang ayah melihat bahwa pintu ruang operasi sudah terbuka, seorang perawat dan seorang dokter keluar dari ruang tersebut. Di tangan perawat tersebut terdapatlah sesosok anak lelaki, tangisannya keras membahana seluruh di lorong rumah sakit itu. Perawat tersebut menyerahkan si bayi ke dekapan sang ayah dan berkata, “Selamat Bapak, anaknya laki-laki dan sehat.”

Sang dokter tak mau ketinggalan, ia mengukurkan tangannya untuk berjabat tangan dan segera disambut oleh sang ayah, ia juga berkata, “Selamat atas kelahiran anak Bapak.”

Kelahiran seorang bayi memang membawa kebahagiaan bagi banyak orang, terutama kedua orangtuanya. Mereka dianggap sebagai karunia dari Yang Maha Kuasa. Namun dari sekian banyak bayi yang lahir, ada satu-dua bayi yang ditakdirkan memanggul takdir yang besar. Indra Jumantra, anak dari Sutarto Kaharsa adalah salah satunya. Pada tangan kanannya terdapat tanda lahir, sebuah tanda lahir berbentuk seperti matahari. Orang yang akrab dengan dunia sejarah Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia akan segera mengenali tanda itu sebagai… “Surya Majapahit[2]

Indra Jumantra tumbuh menjadi anak lelaki yang sehat namun memiliki kemampuan di luar nalar orang normal. Ia bisa melihat dua alam, alam nyata dan alam gaib (astral). Terkadang itu membuatnya sulit membedakan mana yang nyata maupun tidak. Karena kedua orangtuanya tidak memiliki kemampuan semacam itu maka mereka sering memarahinya sebab mereka menyangkanya berkhayal yang tidak-tidak. Bahkan Sutarto Kaharsa pernah menampar Indra Jumantra yang saat itu berusia 8 tahun karena berbicara dengan para makhluk penghuni rumahnya. Ia memarahi Indra habis-habisan, “Sekali lagi Bapak melihat kamu bicara dengan teman-teman khayalanmu maka Bapak masukkan kamu ke Rumah Sakit Jiwa!”

Begitulah, sejak saat itu Indra Jumantra selalu menghindari berbicara dengan para makhluk gaib di manapun mereka berada. Jalan pikiran nalar dan logika Sutarto Kaharsa, ayahnya tidak bisa dibantah lagi. Ayahnya bukan orang yang bisa ia ajak bicara soal ini, karena itu Indra Jumantra lebih senang menyendiri. Di saat menyendiri ia mulai belajar banyak mengenai makhluk-makhluk ini. Jika para penghuni gaib di rumahnya sangat bersahabat dengannya maka semakin sering ia bepergian ke tempat-tempat lain, ia menemukan bahwa banyak pula makhluk gaib yang tidak suka akan dirinya dan berusaha mencelakakannya. Jika sudah begitu maka ia harus beradu tanding dengan para makhluk tadi. Ia selalu menang namun hal itu membuat seluruh tubuhnya terasa sakit dan terkadang membuatnya menderita demam tinggi.

Jika sedang demam dan tergolek lemah maka para penghuni rumahnya yang terdiri dari seorang kakek tua bernama Ki Wibisana dan seorang nenek bernama Nyai Branyak akan datang menghiburnya dan mengajarinya berbagai hal mengenai cara-cara melawan makhluk-makhluk jahat semacam itu. Selama mereka memberikan wejangan semacam itu biasanya Indra tetap tutup mulut. Ki Wibisana dan Nyai Branyak paham alasan mengapa anak itu menutup mulutnya rapat-rapat karena tidak ingin dimarahi oleh ayahnya karena itu sesudah mereka memberikan wejangan biasanya mereka akan segera pergi meninggalkan kamar Indra. Indra sendiri termasuk anak yang cerdas. Segala wejangan dari dua khodam penghuni rumahnya itu selalu ia ingat baik-baik.

Suatu ketika berkatalah Nyai Branyak pada Ki Wibisana, “Ki Wibisana, aku melihat bahwa anak itu tumbuh semakin besar dan kuat. Dia bisa melihat kita, aku yakin ia adalah kaum penerawang. Hanya saja auranya lebih kuat daripada kaum penerawang yang aku temui selama ini. Menurutmu kelak akan menjadi apa anak itu Ki Wibisana?”

Ki Wibisana pun menjawab, “Aku juga tidak tahu Nyai, tapi aku melihat semakin hari cakra anak itu semakin terbuka lebar. Ia bukan sekedar kaum penerawang Nyai, aku curiga ia termasuk …”

“Sang pengendali?”sahut Nyai Branjang cepat.

“Betul sekali Nyai!”sahut Ki Wibisana sambil mengacungkan jempol.

“Heh! Untuk apa kau acungkan ibu jarimu segala Ki?”

“Kan sedang populer di dunia manusia?”

“Ki Wibisana, kita ini khodam!”

“Ah Nyai, aku rasa sekali-kali kau perlu jalan-jalan ke mall di depan sana dan melihat gaya hidup manusia yang rasaku semakin menarik saja. Khodam atau bukan, rumah ini adalah tempat tinggal kita. Kita turut menjaga rumah ini maka tidak salah kan kalau kita sesekali meninggalkan rumah ini untuk sekedar berjalan-jalan Nyai?”

Nyai Branyak hanya tersenyum mendengar kata-kata suaminya. Memang benar mereka sudah menjaga bangunan dan tanah ini selama 900 tahun. Dan selama 300 tahun terakhir Nyai Branyak memang tidak pernah meninggalkan tanah ini, namun Ki Wibisana yang berjiwa selalu ingin tahu telah berkali-kali melanglang buana sebelum akhirnya kembali lagi ke tempat ini.

Nyai Branyak kemudian menyahut, “Ayo suamiku, mari kita melihat-lihat dunia sekali lagi.”

Maka kedua pasangan suami istri dari alam gaib itupun pergi meninggalkan tempat tinggal mereka sekali lagi. Namun sebelum pergi mereka pergi ke sekolah di mana Indra bersekolah. Nyai Branyak memanggil-manggil Indra supaya menuju ke halaman belakang sekolah yang terkesan sepi dan angker.

Indra pun beranjak ke tempat itu, menanggapi panggilan Nyai Branjang. Adapun ada seorang anak lelaki bernama Affandi yang melihat kejadian itu. Ia heran dan bergumam dalam hati, “Bukankah kebun belakang sekolah adalah tempat yang angker? Kenapa Indra nekat ke sana?”

Affandi, adalah seorang kaum penerawang, kaum yang juga sering disebut para ahli sebagai anak-anak indigo, yang mampu baik alam nyata dan alam gaib atau alam astral. Melihat temannya mungkin bisa celaka jika nekat menuju ke sana, maka Affandi pun bangkit dari bangku taman sekolah dan menyusul Indra ke halaman belakang sekolah mereka.

Di halaman belakang ia melihat Indra sedang bercengkerama dengan pasangan kakek dan nenek yang jelas-jelas ia tahu, bukan manusia. Maka dengan segera ia menghardik Ki Wibisana dan Nyai Branyak, “Hei! Apa yang akan kalian lakukan pada temanku, dhemit[3] sialan?”

Nyai Branyak dan Ki Wibisana amat terkejut mengetahui Affandi dapat melihat mereka. Segera saja Ki Wibisana menyahut, “Kaum penerawang lagi? Kupikir tidak ada orang lain yang bisa melihat kita di sini.”

Indra dengan segera berkata pada temannya itu, “Tenang saja, aku mengenal mereka dan mereka tidak berniat jahat padaku. Mereka adalah khodam yang mendiami rumahku.”

Affandi pun akhirnya tenang dan Indra pun kembali menemui pasangan suami-istri itu sembari berkata, “Apa yang hendak Ki Wibisana dan Nyai Branyak katakan padaku?”

“Le[4], kami hendak pergi melanglang buana sekali lagi. Kami sendiri tidak tahu kapan kami akan kembali, jadi karena itu Le, kami titip rumah kami padamu. Dan untuk membantumu menjaga rumah kami dan juga rumahmu, aku akan mewariskanmua ini!” kata Ki Wibisana sembari meletakkan telapak tangannya di dada Indra.

Indra merasakan adanya energi yang amat kuat mengalir ke dalam tubuhnya sehingga ia pun bertanya, “Apa ini Ki?”

“Aji Tebah Margana[5], ajian yang cukup kuat untuk melindungimu dari serangan dhemit dan jin yang berniat jahat padamu dan keluargamu. Sekarang, kami permisi dahulu,” kata Ki Wibisana.

Maka pasangan suami istri itu perlahan menghilang dan Indra hanya memandang tempat di mana mereka tadi berdiri sambil tersenyum dan berkata, “Selamat jalan, kakek dan nenekku.”

Affandi hanya bisa berdiri keheranan melihat peristiwa tadi. Selama ini ia hanya mengenal yang namanya jin atau khodam yang mendekati manusia pastilah berniat jahat, tetapi yang ia lihat barusan amatlah berbeda dari fakta yang ia lihat selama ini. Pasangan suami-istri jin itu seperti kakek dan nenek bagi Indra. Affandi tidak bisa berkata apa-apa sebelum Indra menepuk bahunya dan berkata, “Ayo Indra, kita kembali ke kelas.”

 

Affandi Kadarisman

Seperti sudah diceritakan sebelumnya bahwa ia lahir di Salatiga, tepatnya pada 20 Mei 2026. Ia lebih muda daripada Indra namun lebih bisa bersikap dewasa daripada anak-anak seusianya. Ayahnya yang pelukis meninggal akibat penyakit kanker usus saat ia berusia 2 tahun. Ibunya menjanda muda, dan kemudian hidup sebagai operator mesin percetakan di sebuah perusahaan percetakan besar di Salatiga. Ia dalam hati masih mengutuki kematian ayahnya, ia merasa diperlakukan tidak adil. Di saat anak-anak lain bermain dengan riang-gembira dengan ayah mereka ia tidak pernah merasakan hal seperti itu. Ia selalu sirik memandangi anak-anak yang masih bisa bersikap kekanak-kanakan sementara dia sendiri harus hidup prihatin dan turut membantu ibunya dengan menitipkan kue buatan ibunya di kantin sekolahnya semenjak kelas 1 SD.

Hari demi hari ia menjalani hidup yang sudah dinilainya menyebalkan ini dengan mengempet-ngempet[6] perasaan sebalnya ini. Tanpa disadarinya dalam dirinya mulai muncul kemampuan luar biasa. Ini dimulai ketika di suatu hari Minggu saat dirinya sudah di kelas 4 SD sedang bersantai-santai, sementara ibunya sedang ada urusan di rumah pamannya. Seperti biasa ia duduk bermalas-malasan sambil menonton acara TV kesukaannya, kartun, yang meskipun tidak nyata dan tidak masuk di akal, mampu mengubah pola pikirnya sesaat bagaimana dunia ini masih menyimpan kenikmatan untuk ditinggali.

Setelah puas menonton acara TV kesukaannya, dipandangnya jam dinding rumahnya, masih menunjukkan pukul 10.00, masih pagi pikirnya. Maka diambilnyalah sepedanya dan memacunya ke lapangan kosong dekat rumahnya, pikirnya ia akan menghabiskan waktu  hingga sore di lapangan tersebut, bermain bola bersama teman-temannya. Namun baru saja hendak mencapai lapangan ia melihat sesuatu yang ganjil. Di kanan-kiri jalan yang ia lalui tampaklah makhluk-makhluk ganjil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ada seorang nenek yang berjalan dengan menenteng kepalanya, ada beberapa anak kecil berkepala gundul, berkulit putih pucat, dan hanya mengenakan celana dalam berlarian di jalan seolah tidak takut akan tertabrak mobil, ada pula seorang pria baruh baya, bercambang[7] hitam lebat, serta berpakaian layaknya warok namun kepalanya hanya separuh, separuh kepalanya lagi rusak seolah habis dihantam sesuatu.

Affandi bergidik melihat pemandangan itu, ia pun makin mempercepat kayuhannya. Namun dengan segera ia sadar, bukannya semakin mendekati lapangan kosong tempat ia berniat bermain bola, ia malah tiba di suatu tempat yang berupa hutan lebat dengan pohon-pohon yang daunnya berwarna merah. Sinar matahari di tempat ini juga berbeda, tidak secerah sinar matahari seperti biasanya melainkan cenderung suram dan berwarna magenta, sehingga lingkungan sekitar ia berdiri juga tampak berwarna magenta.

Affandi pun mulai panik dan berseru-seru, “Tolong! Tolong! Apa ada orang di sini?”

Teriakannya hanya meggema di tempat itu namun teriakannya ternyata mengundang sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Beberapa saat setelah teriakannya menyebar ke seantero hutan itu, muncullah dari balik rerimbunan hutan yang gelap, makhluk-makhluk berwujud ganjil seperti yang ia temui di perjalanan tadi dengan jumlah yang lebih banyak lagi. Di antara mereka ada beberapa makhluk yang sudah sering ia lihat ketika melewati tempat-tempat angker semacam genderuwo, kuntilanak, camlangkrik[8], dan banaspati[9].

Para makhluk gaib itu bergerak secara perlahan-lahan mendekati Affandi, dengan satu niat, memakan tubuh anak itu. Affandi sendiri saking takutnya tidak dapat bergerak barang satu senti pun. Kakinya gemetaran dan tanpa sadar, ia pipis di celana. Sesosok kuntilanak dengan suara tawa khasnya yang mengerikan mendekati Affandi lebih dahulu dan dengan tangannya yang kotor serta berhias kuku-kuku panjang membelai pipi anak itu sembari berkata, “Jangan takut, anak manis. Kami akan membunuhmu secepat mungkin sehingga kau tidak akan terlalu menderita. Hihihihihiiiii!!!”

Jantung Affandi makin berdebar tidak karuan. Perlahan-lahan kakinya mulai tidak mampu lagi menopang tubuhnya sehingga ia jatuh tersungkur. Hatinya sudah amat takut dan pasrah, otaknya sudah bingung dan kalut sehingga ia tak bisa mengingat barang sebait doa pun. Namun di penghujung keputusasaannya itu, tiba-tiba muncullah dua sosok pria. Kedua pria itu tampaknya adalah saudara kembar karena wajah mereka bagaikan pinang dibelah dua.

Kedua pria itu tampaknya memiliki ilmu kanuragan yang amat tinggi, dilihat dari gerakan-gerakan silat mereka yang memukau dan mematikan. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk membunuh sebagian besar dari makhluk gaib itu dan membuat sebagian kecil yang selamat berlarian kembali ke hutan sambil mengeluarkan teriakan yang memilukan. Seusai ‘pembantaian’ itu kedua pria itu mendekati Affandi dan salah satunya berkata, “Kau tidak apa-apa Affandi?”

Affandi amat terkejut dengan perkataan orang itu dan segera menjawab, “Bagaimana kau tahu namaku?”

Kembarannya pun menyahut, “Kami tahu namamu karena kami dan engkau ditakdirkan untuk bersama. Kami adalah khodam penjagamu. Diwariskan oleh kakekmu pada ayahmu, namun karena ayahmu meninggal sebelum sempat mewariskan kami padamu maka butuh waktu lama bagi kami untuk menyesuaikan diri dengan dirimu.”

Affandi mengernyitkan dahi, “Aku semakin tidak mengerti.”

Pria pertama yang berbicara padanya tadi pun berkata, “Kau tidak perlu tahu semuanya untuk saat ini, namun jika kau dalam bahaya lagi, panggillah kami berdua dan kami akan siap membantumu.”

Affandi pun kembali berdiri dan kedua orang tersebut meletakkan tangan mereka di atas pundak Affandi, dalam sekejap mereka sudah kembali ke rumah Affandi di mana para tetangga sudah berkumpul. Kedua khodam itu pun akhirnya undur diri, “Affandi, kami undur diri dahulu.”

“Tunggu dulu, aku belum tahu siapa nama kalian!”sergah Affandi.

“Namaku adalah Ananta dan ini adalah adikku Amreta,”jawab orang yang pertama kali menghampirinya tadi dan setelah mengatakan hal tersebut kedua pria tadi menghilang seolah tersapu angin.

Affandi hanya bisa memandang takjub pada sosok kedua pria tadi. Kemudian ia berpaling pada rumahnya yang penuh dengan para tetangga dan kerabatnya. Timbullah kekhawatiran dalam dirinya. “Apa terjadi sesuatu pada ibuku?” gumamnya dalam hati.

Dengan bergegas ia menuju rumahnya dan memberi salam, “Assalamualaikum!”

Para tetangga dan kerabat-kerabatnya yang berkumpul di rumah itu segera memalingkan wajah mereka pada anak itu sambil menjawab, “Wallaikumsalam.”

Dari kerumunan itu tiba-tiba keluarlah ibunya dan langsung memeluknya dengan dekapan yang erat seolah ia telah pergi begitu lama. Maka bertanyalah Affandi pada ibunya, “Ibu, ada apa?”

“Aduh, nak! Kamu ke mana saja selama 2 hari ini?”

“Apa maksud Ibu?”

“Nak, kamu tidak ingat bahwa dua hari yang lalu kamu pergi tanpa pamit?”

“Ibu, aku hanya pergi selama 3 jam.”

Mendengar jawaban anak itu, sontak para tetangga dan kerabat Affandi amat kaget. Mereka tahu dengan amat sangat bahwa Affandi adalah seorang anak yang jujur dan tidak mungkin berbohong. Seorang kakek tua dari antara mereka kemudian berdiri dan mendekati Affandi, memegang pundak anak itu dan kemudian berbicara pada seluruh hadirin di ruangan tersebut, “Bapak, Ibu sekalian saya kira Affandi baru saja kembali dari suatu peristiwa yang membuat dia shock karena itu biarlah ia beristirahat dahulu dan kalau ia sudah tenang maka bolehlah kita menanyai dia.”

Semua hadirin di situ mengangguk sepakat, dan satu persatu pamit pada Ibu Affandi dan kembali ke rumah mereka masing-masing. Hingga akhirnya tinggallah Affandi, ibunya, serta orang tua tadi. Orang tua itu kemudian mendekati Ibu Affandi dan berkata padanya, “Lastri, saya kira kau, saya dan Affandi harus bicara serius mengenai masalah ini!”

Ibu Affandi hanya mengangguk dan kemudian memanggil Affandi untuk duduk di sampingnya. Affandi pun menurut saja, ia segera duduk di samping ibunya dan kemudian orang tadi mulai bicara, “Affandi, saya Priyono, sahabat dari kakekmu dari pihak ayah. Saya kemari karena beberapa hari yang lalu karena saya ada suatu konferensi di sini namun tiba-tiba ibumu menelepon dan mengatakan bahwa kau hilang dari rumah selama 2 hari tanpa penjelasan dan jejak apapun. Karena itu saya kemari, namun ternyata perihal hilangnya dirimu selama 2 hari adalah karena kau diculik dhemit[10] rupanya.

Affandi mengernyitkan dahi dan berkata, “Kakek Priyono, saya tidak tahu atas apa yang terjadi, saya saat itu hendak bermain bola di lapangan tapi tiba-tiba saja saya sudah berada di kawasan hutan lebat yang penuh dengan makhluk-makhluk mengerikan.”

“Kau dibawa ke alam mereka, Affandi. Mereka merasakan energi yang besar mengalir pada dirimu. Dan mereka hendak memangsamu supaya mereka bisa meningkatkan kemampuan mereka. Itulah cara kerja dhemit,” kata Priyono sambil memegang dan memeriksa pergelangan tangan Affandi.

“Namun,” ia melanjutkan, “ Tampaknya Anggana Praptopati dan Anggana Pratonggopati sudah menolongmu dari cengekeraman mereka.”

“Anggana….  Siapa….? tanya Affandi makin bingung.

“Anggana Praptopati dan Anggana Pratonggopati, dua khodam kembar milik kakekmu yang sudah diwariskan secara turun temurun di kalangan keluarga kakekmu. Aku mengetahuinya, ibumu pun mengetahui perihal keberadaan mereka. Namun sejak Rudi Para, ayahmu meninggal dunia akibat kecelakaan 10 tahun yang lalu kami tidak pernah lagi melihat mereka. Namun sekarang …. mereka muncul kembali di sini!”

Maka tampaklah kedua khodam kembar Anggana Praptopati dan Anggana Pratonggopati muncul dari balik pintu depan dengan cara menembus pintu tersebut. Mereka melempar senyum pada ketiga orang tersebut dan terakhir kali bersujud di hadapan Affandi.

Affandi kemudian memandang Priyono dengan serius, “Maksud Kakek mereka adalah pelindungku?”

“Ya dan bukan satu-satunya pelindungmu. Kakekmu memiliki banyak pusaka dan khodam pelindung yang jumlahnya puluhan. Namun semenjak kematian ayahmu banyak sekali yang menghilang. Tapi aku percaya kelak kau akan dapat mengumpulkan mereka semua kembali.”

“Aku tidak mau kekuatan ini,” kata Affandi ketus.

“Aku sendiri juga tidak tahu kenapa kau dan para moyangmu memiliki kekuatan ini, Nak. Tapi kata kakekmu dahulu ini berkaitan dengan Kaum Pengendali. Ibu sendiri juga tidak tahu seperti apa mereka dan apa tujuan mereka serta apa peranmu di sana, namun satu yang Ibu tahu, jangan pernah menolak hadiah dari Yang Kuasa, Nak,” kata ibu Affandi lembut sembari memeluk anaknya.

Priyono hanya bisa bergumam dalam hati, “Anak ini sudah menguasai pengendalian khodam. Sebentar lagi kaum pengendali akan bangkit kembali dan kali ini akan melibatkan pula Sang Pengendali Kalingga. Tenanglah Sujarwo, akan kujaga cucumu ini dan akan kubimbing dia pada jalan yang benar.”

 

Pratanala

(Gapura Waringin Lawang, Trowulan Jawa Timur)

Gapura Waringin Lawang, suatu situs sejarah berbentuk gapura yang diperkirakan menuju suatu komplek di wilayah Majapahit Kuno. Para wisatawan datang silih berganti, ada yang mengagumi keindahan dan kemegahannya, ada yang mengutuki tempat ini karena memaksa mereka mengunjunginya, ada yang membawa sesajen untuk penghuni tempat tersebut, bahkan ada pula yang datang untuk merusak situs bersejarah itu meski para petugas Balai Purbakala yang bertugas cukup tanggap dan selalu berhasil menggagalkan aksi semacam itu.

Di Gapura tersebut berkumpul banyak sekali khodam, mereka adalah sukma para prajurit Majapahit di masa lalu yang terikat pada tempat itu segera sesudah Brawijaya V, raja terakhir Majapahit meninggalkan Majapahit dan memulai masa pelariannya. Namun ada juga dari antara mereka yang berasal dari masa yang lebih lampau seperti pada masa Wikramawardhana, Bhre Wirabhumi (Hayam Wuruk), dan Tribhuwanatunggadewi. Di antara para khodam tersebut ada suatu sosok khodam yang paling terlihat berbeda dari antara khodam lainnya, ia adalah Pratanala Kadgada, seorang prajurit dan panglima perang Majapahit di masa Hayam Wuruk selepas mangkatnya Mahapatih Gajahmada. Ia adalah salah satu dari Mahamantri Agung yang diangkat Paduka Hayam Wuruk untuk melaksanakan tugas sebagai Mahapatih bersama tiga orang lainnya yang saat ini sudah muksa karena sudah melepaskan keterikatannya pada dunia.

Adapun Pratanala masih memiliki suatu ikatan pada dunia. Dahulu sebelum wafatnya Hayam Wuruk, rajanya itu membisikkan suatu kata-kata yang menjadi sumber mengapa ia terikat di tempat ini sampai saat ini, “Jadilah Kalingga dan lindungi Kalpataru. Pada masa di mana saat itu telah tiba, akan ada seorang anak berkemampuan istimewa yang kiranya kemampuan kanuragannya setara dengan Sri Kertarajasa. Mengabdilah padanya dan ketika ia sudah menyelesaikan tugasnya, temui aku dan seluruh rakyat Majapahit di Paranirwana sana. Aku akan menunggumu, Pratanala.”

Pratanala akhirnya memutuskan untuk mengikat dirinya di wilayah Trowulan ini paska kematiannya di medan pertempuran antara pasukan Majapahit dan pemberontak Kadiri pada masa Wikramawardhana memerintah. Ia menunggu dan terus menunggu namun hari ini kesabarannya habis sudah. Ia mengamuk tidak jelas sembari mondar mandiri tidak karuan dari gapura Bajang Ratu ke gapura Wringin Lawang. Ia akhirnya berteriak keras, “Sampai kapan aku harus menunggu pengendali Kalingga itu datang?!!!! Bosan aku saban hari terikat di Ibu Kota saja. Tidak adakah sesuatu yang lebih menantang selain memandangi anak-anak dan manusia-manusia dalam pakaian aneh-aneh itu yang saban hari memandangi ibu kota tanpa tahu betapa beratnya perjuangan kita mempertahankan ibu kota ini sampai saat ini?”

“Wuahahahahahaha!!” tiba-tiba terdengar suara tawa yang sangat keras dari puncak gapura Wringin Lawang.

Pratanala mendongak dan di sana ia melihat sesosok khodam seperti dirinya berdiri di dekat gapura Wringin Lawang sambil tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya. Ia adalah sesosok lelaki berusia 25 tahunan dengan pakaian seperti raja, memakai mahkota emas berukir ular dan pakaian dari kain sutra berwarna kuning berhiaskan selendang merah. Sosok khodam itu tiada berhentinya tertawa sebelum Pratanala akhirnya bertanya, “Maaf Prabu Suhita[11], apa yang menurut Paduka sangat lucu sehingga Paduka sampai tertawa sekeras itu?”

“Kelakuanmu, Paman Pratanala! Ha ha ha ha!! Paman seperti anak ayam kehilangan induknya dengan mondar-mandir ke seluruh ibukota ini. Ha ha ha ha ha!!” kata Suhita sambil masih tertawa memegangi perutnya.

“Sudah lama sekali aku menunggu Sang Pengendali Kalingga menemukanku, namun sudah lewat lebih dari 500 tahun tanpa aku tahu kapan dia akan muncul. Dan sialnya aku terjebak di ibukota ini tanpa bisa keluar dari sini! Aku rasa pikiranku sudah mulai kacau.”

“Pikiranmu tidak kacau, Paman. Jiwamu saja yang kacau, lagipula tenanglah, hari ini kita akan bebas. Salah satu prajurit kita sudah melaporkan padaku akan kedatangan rombongan siswa ke tempat ini. Dan ia menceritakan bahwa dua dari antara mereka memiliki aura yang tidak biasa. Berharap saja bahwa salah satu dari mereka adalah Sang Pengendali Kalingga,” kata Suhita menenangkan Pratanala.

Pratanala pun akhirnya mulai tenang, dan ia pun terbang ke areal Kolam Segaran untuk memperhatikan para siswa yang sedang study tour itu. Matanya kemudian menatap tajam pada Indra Jumantra. Indra merasa dirinya diamat-amati menoleh ke arah Pratanala. Dua individu ini akhirnya saling berpandangan, dalam diri Pratanala merasakan dalam dirinya bergejolak perasaan yang aneh. Perlahan namun pasti, Pratanala berlutut di hadapan Indra Jumantra. Indra mencolek bahu Affandi dan mereka berdua melihat bahwa seluruh areal itu tiba-tiba terlihat pemandangan aneh, seluruh khodam di daerah itu berlutut memberi hormat pada Indra Jumantra. Affandi pun bertanya pada Indra, “Kau kenal mereka? Kenapa mereka menyembahmu?”

“Aku tidak tahu, Ndi. Tapi lebih baik panggil khodam kembarmu.”

“Oke,” jawab Affandi lalu memanggil Praptopati dan Pratonggopati.

Saat kedua khodam tersebut keluar, muncullah Suhita dan langsung menghambur ke arah mereka berdua lalu memeluk Praptopati dan Pratonggopati, “Lama tidak berjumpa saudataku!”

“Kakang Suhita, apakah kakang baik-baik saja?” tanya mereka berdua.

Affandi pun berbicara pada kedua khodam kembarnya itu melalui percakapan mental, “Aku tidak tahu ada apa sebenarnya ini, tapi tolong kita bicarakan ini pada waktu istirahat,”

Baik Tuan!” jawab mereka berdua serempak juga melalui percakapan mental.

Affandi dan Indra pun berjalan pergi bersama teman-teman mereka ke arah situs lain. Sepeninggal Affandi dan Indra, bertanyalah Pratanala pada Praptopati dan Pratonggopati, “Apakah anak yang kalian panggil ‘Tuan’ tadi adalah Pengendali Kalingga?”

“Bukan! Ia memang punya bakat supranatural. Tapi ia bukan Sang Pengendali Kalingga, hanya Kaum Pengendali biasa,” jawab Praptopati.

Wajah Pratanala langsung menampakkan kekecewaan, namun Pratonggopati langsung menyambung, “Namun anak yang berdiri di samping tuan kami tadi kemungkinan besar adalah Sang Pengendali. Meski ia tidak punya khodam, namun ia bisa mengalahkan beraneka ragam dhemit hanya dengan pukulan telapak tangannya.”

“Anak itu …. Pengendali Kalingga? Yang benar kalian?” tanya Pratanala tidak percaya.

“Sudah, sudah Paman. Mari kita tunggu saat mereka istirahat dan kita akan berbicara pada mereka,” kata Suhita menenangkan Pratanala.

Perbincangan antara khodam kembar itu dengan Suhita dan Pratanala berlangsung cukup lama. Praptopati dan Pratonggopati menceritakan pada Suhita dan Pratanala segala seluk beluk kehidupan Indra  dan Affandi, mengenai tingkat aura Indra yang di luar batas kewajaran kaum Pengendali sampai dugaan mereka bahwa Indra adalah Sang Pengendali Kalinggga.

Sesudah tur di kawasan Gapura Wringin Lawang selesai, seluruh peserta tur dipersilahkan istirahat, banyak siswa yang menghabiskan waktunya berjalan-jalan, jajan, duduk di bawah pohon rindang, dan sebagainya. Tapi Indra dan Affandi menyelinap keluar dari rombongan mereka dan menuju ke arah taman yang teduh dan rimbun akan pepohonan. Di sana Affandi memanggil khodam-khodamnya, “Praptopati dan Pratonggopati, kemarilah!”

Maka muncullah Praptopati dan Pratonggopati diikuti dengan Suhita dan Pratanala. Di sana Pratanala langsung angkat bicara, “Siapa dari antara kalian yang merupakan Sang Pengendali Kalingga?”

Affandi langsung mengarahkan jari telunjuknya ke arah Indra. Indra hanya bisa bengong melihat reaksi sahabatnya itu.

Pratanala mendekati Indra lalu mengamat-ngamati anak itu dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Indra yang merasa risih karena diamat-amati seperti itu langsung bertanya, “Ada perlu apa Tuan dengan saya?”

“Bebaskan kami semua yang terikat di Kota Raja ini, apabila kau lakukan hal itu maka aku akan mengabdi kepadamu,”

Indra langsung melihat ke arah para khodam yang berkumpul di sana yang memandang penuh harap pada Indra. Indra pun akhirnya berkata, “Baiklah Tuan, akan kubebaskan kalian. Sekarang beri aku waktu sedikit!”

Indra kemudian menyingsingkan lengan baju seragamnya lalu berlutut menyentuh tanah yang ada di dekatnya dan mengucapkan berbait-bait mantra dalam bahasa asing yang tidak diketahui Affandi namun dikenali Pratanala sebagai bahasa Sansekerta. Tak lama kemudian Indra menyudahi pembacaan mantranya lalu berkata pada Pratanala, “Mahamantri Pratanala dan Kanjeng Prabu Suhita, kalian dan pengikut kalian sudah terbebas dari kewajiban menjaga tempat ini. Akan ke mana dan hendak apa kalian setelah ini, itu terserah kalian. Kalian sudah bebas!”

Pratanala kemudian mencoba berkonsentrasi membayangkan Gunung Semeru tempat ia dahulu dilahirkan dan dalam sekejap ia sudah berada di desa tempat ia lahir dahulu meski saat ini kondisinya sudah banyak berubah. Pratanala kemudian berkonsentrasi untuk kembali ke Trowulan dan dalam sekejap saja ia sudah kembali ke Trowulan. Pratanala dengan girang berkata pada segenap kawan-kawannya, “Anak ini benar, kita sudah bebas!!!”

“Yeaaa!!!!” sorak segenap khodam tersebut.

Pratanala kemudian berjalan menuju Indra, kemudian sujud menyembahnya, “Sekarang biarkan diri hamba ini mengabdikan diri pada Paduka Indra Jumantra. Hamba berjanji akan selalu setia pada Paduka sampai akhir hayat Paduka.”

“Panggil saja Indra, aku tidak suka dipanggil Paduka karena tiada satu titik darah pun dalam tubuhku yang merupakan titik darah seorang raja. Dan andaikan ada sekalipun, aku tidak peduli akan hal itu,” kata Indra.

Suhita kemudian berjalan menuju Affandi lalu berkata, “Bolehkah saya ini mengabdi pada Nak Affandi? Saya ingin mengabdi bersama saudara-saudara saya ini pada Nak Affandi dan membantu Nak Affandi dalam perjalanan hidup Nak Affandi nantinya.”

“Kenapa Paduka Suhita, Maharaja Kerajaan Majapahit rela mengabdikan diri pada saya yang bukan siapa-siapa ini? Dan andaikan Paduka hendak mengabdikan diri, bukankah lebih layak bagi Paduka untuk mengabdi pada Indra yang jauh lebih kuat dan masih belum memiliki khodam?”

“Tidak Nak Affandi, saya tidak layak bagi dia. Saya hanyalah seorang raja yang gagal memimpin kerajaan. Adalah lebih layak seandainya Eyang Sri Kertarajasa[12] sendiri yang mengabdi untuk Indra seandainya beliau masih ada.”

“Baiklah! Paduka Suhita, anda boleh mendampingi saya.”

“Terima kasih Nak Affandi.”

Demikianlah, sesudah hari itu Pratanala menjadi khodam pelindung bagi Indra sementara Suhita mengabdikan dirinya pada Affandi bersama kedua saudaranya yang kembar itu.

Indra dan Affandi sama sekali tidak mengetahui bahwa para khodam itu sebenarnya sudah melihat takdir yang membantang di hadapan kedua sahabat itu kelak. Dugaan mereka bahwa Indra adalah Sanga Pengendali Kalingga makin menguat meski mereka sepakat untuk merahasiakannya. Mereka melakukan itu atas saran Praptopati dan Pratonggopati supaya Indra tidak shock. Mereka sepakat akan memberitahukan hal tersebut perlahan-lahan.

Kalingga

(Nagari Dwipa-saat ini)

 

Istana itu berasitektur layaknya Piramida Bangsa Aztec dengan puncaknya adalah suatu ukiran batu berbentuk matahari yang dikelilingi oleh dua burung garuda. Istana tersebut terbuat dari batu marmer putih, mulus semulus marmer Carrara[13]. Di dalam istana tersebut berseliweran para dayang berpakaian layaknya pakaian adat gadis-gadis Aceh dan para pengawal yang bercelana hitam dan tubuhnya hanya ditutupi oleh selembar rompi bermotif sulur tanaman, mirip pakaian adat pria suku Dayak.

Di dalam istana tersebut ada sebuah pintu yang tampaknya menuju sebuah ruang tahta, di mana raja bersemayam. Namun saat ini pintu itu tertutup dan di dalamnya duduk seorang raja yang dikelilingi para menterinya. Raja itu bernama Prahasta II, ia adalah raja ke-89 dinasti Kalingga atau Atlantis ini.

Di ruang tahta itu, Sang Raja memulai pembicaraannya setelah sekian lama sekumpulan orang itu duduk dalam kebisuan, “Aku mendapatkan tanda bahwa Sang Pengendali Kalingga sudah bangkit. Kita harus mempersiapkan para ksatria terbaik kita untuk bertempur di sisinya untuk membantunya melawan kejahatan yang akan menghancurkan Pohon Kalpataru. Kosalya, bagaimana persiapan ksatria kita?”

Sosok pria berkumis dan bercambang lebat dengan kulit hitam layaknya orang India itu langsung bangkit berdiri dan berkata, “Ampun Tuanku, karena adanya masalah dalam ruang antar dimensi, maka kita baru bisa mengirimkan dua orang ksatria kita untuk membantu Sang Pengendali Kalingga.”

“Dan siapa yang kau kirim?” tanya Prahasta.

“Kami mengirimkan Pangeran Pramudya dan Ambini, Tuanku.”

“Hmmm, bagus, dan berapa orang yang kau persiapkan untuk membantu Sang Pengendali?”

“Kira-kira berjumlah 50 orang ksatria selain Pangeran Pramudya dan Ambini, 150 orang pasuka berkuda, 500 orang pasukan pemanah, dan 300 orang pasukan infantri. Kita akan segera mengirimkan mereka ketika pintu dimensi sudah siap, Tuanku.”

“Parasara, bagaimana keadaan pintu dimensi saat ini?”

“Ampun Tuanku, keadaan pintu dimensi saat ini sangat sempit dan tidak stabil. Sangat sulit dan beresiko jika kita membawa banyak orang ke dunia nyata melalui pintu dimensi itu. Jika memaksa kita akan beresiko kehilangan separuh dari pasukan yang kita kirim, adapun yang selamat sekalipun akan terkuras energinya,” jawab seorang pria gemuk paruh baya bersorban dan berjubah kuning dengan sebuah lensa yang terikat dengan rantai menggantung di salah satu matanya sementara mata lainnya tidak berkacamata.

“Kapan anakku Pramudya dan Arimbi berangkat?” tanya Prahasta lagi.

“Tadi pagi, Tuanku. Saat ini mereka sudah tiba di dunia nyata dan sudah mulai mencari Sang Pengendali Kalingga,” jawab Parasara.

“Kabarkan padaku jika mereka sudah menemui Sang Pengendali Kalingga. Sebab … negeri Alengka sudah bangkit kembali dan akan menggunakan segala cara untuk menghancurkan Kalpataru yang harusnya menjadi pemulih bumi yang kita cintai itu sehingga kelak kita bisa kembali ke sana.”

Sendhika dhawuh, Tuanku! Titah Tuanku akan kami laksanakan!” jawab seluruh menteri yang hadir di situ serempak. Lalu dengan tertib satu persatu dari mereka mulai meninggalkan ruangan hingga akhirnya hanya tersisa satu orang saja yakni seorang menteri bermahkotakan mahkota bertingkat yang terbuat dari perak dan wujudnya menyerupai Candi Prambanan. Menteri itu menghaturkan sembah sujud di hadapan Sang Raja lalu berkata, “Tuanku, izinkanlah hamba ke dunia nyata saat ini. Hamba hendak menebus kesalahan hamba di masa lalu, dan hamba kira mengabdikan diri pada Sang Pengendali Kalingga adalah satu-satunya cara agar hamba dapat menebus kesalahan hamba di masa lalu.”

“Kau masih mengingat-ngingat soal pertempuran itu? Tidakkah dengan mengabdikan diri sebagai salah satu panglima perangku kau sudah menebus segala kesalahanmu?”

“Memang benar Kalingga adalah dinasti keturunan Hastinaputra yang nyaris saja hamba hancurkan. Tapi meski Bharatayuda sudah berlalu, dan hamba telah mengabdikan diri sepenuhnya pada keturunan Pandawa, hamba merasa masih amat berdosa karena telah keras kepala tidak mau bergabung dengan pihak yang sebenarnya adalah saudara-saudara hamba. Karena itu izinkanlah hamba untuk saat ini, bertempur di pihak yang benar.”

“Baiklah kalau itu kemuanmu, Panglima Karna. Aku utus dirimu ke dunia nyata dan carilah Sang Pengendali Kalingga dan bantulah dia memahami dan menemukan kekuatannnya sebelum ksatria pilihan Alengka menemukannya.”

“Sendhika dhawuh, Tuanku!” jawab Karna memberi hormat dan kemudian langsung keluar menuju sisi barat istana.

Di sisi barat istana tersebut ada sebuah bangunan yang terdiri atas sekumpulan lingkaran berwarna emas yang terhubung satu sama lain di mana lingkaran terluar adalah lingkaran yang paling besar, di dalamnya ada lingkaran yang lebih kecil namun dengan posisi melintang, dan di lapisan berikutnya ada lingkaran baru yang lebih kecil lagi dengan posisi juga melintang terhadap lingkaran lapis kedua. Total ada 8 lapisan lingkaran dan masing-masing lingkaran dapat berputar bebas. Tempat itu bernama Pintu Bapra. Di sana tampak Parasara sedang sibuk mengoperasikan mesin tersebut dengan menekan sejumlah tomboldan tuas aneh yang jumlahnya sangat banyak dan rumit.

Karna berjalan mendekati Parasara dan berkata, “Salam Parasara!”

Parasara menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapati Panglima Karna ada di situ, “Ada apa Panglima Karna?”

“Paduka memberi izin padaku untuk turut membantu Sang Pengendali Kalingga. Bisakah kau buka gerbangnya dan mengizinkan aku lewat?”

“Aku bisa melakukannya tapi sebelum itu aku harus memberitahukan padamu bahwa ini akan tidak menyenangkan,” kata Parasara dengan mimik serius.

“Kenapa?” tanya Karna bingung.

“Tuan Pramudya dan Arimbi memang sudah tiba di dunia nyata dengan selamat, namun posisi mereka terpaut jauh. Tuan Pramudya memang mendarat di Nusantara III tapi Arimbi mendarat di suatu pedalaman sebelah timur Nusantara III tanpa tahu posisi sebenarnya dan saat ini Arimbi masih mencari jalan keluar yang belum ia temukan juga. Gerbang dimensi ini masih belum sempurna Panglima Karna, apa kau mau mencobanya?”

“Tentu saja,” jawab Karna mantap.

“Baiklah, kalau begitu silakan Panglima Karna berdiri di tengah-tengah Pintu Bapra.”

Karna menuruti perintah Parasara dan berdiri di tengah-tengah Pintu Bapra. Parasara kemudian mengaktifkan mesin itu dan muncullah sebuah lapisan berwarna kuning emas melapisi tubuh Karna lalu Karna pun menghilang dari hadapan Parasara. Parasara menengok ke arah tempat Karna tadi berdiri sembari berucap, “Semoga berhasil, Karna!”


[1] Jumantra = langit

[2] Surya Majapahit = bentuk ukiran lambang berbentuk matahari yang digunakan sebagai simbol kerajaan Majapahit

[3] Dhemit = lelembut = makhluk halus

[4] Le, kependekan dari Tole yang berarti anak lelaki kecil

[5] Secara harafiah berarti = pukulan angin

[6] Menahan-nahan

[7] berjanggut

[8] Sesosok makhluk halus yang berwujud seperti wanita namun tubuhnya bengkok seperti huruf ‘S’

[9] Sesosok makhluk halus dengan wujud raksasa dan kemunculannya selalu ditandai dengan munculnya bola api

[10] Dhemit = makhluk halus

[11] Suhita adalah raja Majapahit ke-7 setelah Hayam Wuruk dan Wikramawardhana

[12] Yang dimaksud adalah Raden Wijaya

[13] Sejenis marmer berwarna putih dengan corak abu-abu yang amat indah dari Gunung Carrara. Pada masa Rennaissance biasa dipakai sebagai bahan untuk membuat patung batu.

Posted on June 12, 2011, in Sang Surya and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: