Sang Surya : BAB I

BAB I: NUSANTARA III DAN KALPATARU

 

Tahun 2040, Indonesia saat ini sudah mengalami kemajuan yang berarti di bidang ekonomi dan industri. Korupsi masih ada, meski kali ini KPK dan Kejaksaan lebih bergigi daripada masa-masa 2009-2012 yang lalu. Tapi Indonesia masih belum kehilangan budayanya yang dulu. Aneka tempat keramat masih tetap terjaga, aneka ritual kelenik untuk mendapatkan atau melanggengkan jabatan masih ada meski tidak sesubur dahulu. Namun yang menjadi keanehan dari negeri ini adalah peristiwa tahun 2028.

(Peristiwa Tahun 2028)

Pada masa itu, kebanyakan hutan sudah dibabat habis entah di Pulau Jawa, Andalas, Borneo, Sulawesi, Papua, ataupun kepulauan Nusa Tenggara dan Maluku. Hewan-hewan endemik Indonesia sudah punah dan para ilmuwan Indonesia kemudian meregenerasikan mereka melalui teknologi kloning yang sudah disempurnakan. Pada masa inilah muncul suatu keanehan, pada tanggal 4 September 2028 timbullah gempa bumi yang amat dahsyat dengan skala 8,1 skala Richter mengguncang Laut Jawa dan kemudian membentuk Palung Laut baru yang amat dalam. Palung laut ini disebut Palung Antareja serta memiliki kedalaman 8037 m dari permukaan laut, para peneliti negeri ini menerjunkan kapal selam mata-mata TNI AL tercanggih saat itu, KSRI (Kapal Selam Republik Indonesia) “Ikan Raja[1]”, kapal selam ini berbentuk seperti kapsul selam mini zaman sekarang yang memiliki kokpit kendali mirip helikopter namun dapat menampung 6 orang kru kapal dan 3 penumpang tambahan, dan seperti layaknya kapal selam TNI ‘Pasopati’ yang dimonumenkan di area Surabaya Plaza, Surabaya, kapal ini dicat dengan warna bagian bawah berwarna hitam dan bagian atasnya berwarna hijau gelap. Kapal selam ini menyelam sampai dasar palung tersebut dan di sana mereka menemukan sesuatu yang amat mengejutkan.

Di dasar palung yang seharusnya gelap itu terdapat seberkas cahaya hijau zamrud yang bersinar remang-remang, kapten kapal KSRI “Ikan Raja”, Kapten Ahmad Dadiri, memberi perintah pada anak buahnya, “Keluarkan lengan analisator kapal ini dan ambil sampel partikel dari sumber cahaya tersebut.”

Para operator lengan analisator segera mengeluarkan lengan analisator kapal selam tersebut. Lengan analisator ini berbentuk seperti lengan robot dengan genggaman seperti capit kepiting (laiknya robot pada umumnya). Selain itu sang operator juga membuka katup tangki sampel yang berada di atas kokpit kapal selam tersebut. Operator ini sudah siap mengambil sampel partikel dari sumber cahaya  berpendari itu, namun tiba-tiba cahaya itu mengeluarkan sesuatu benda padat yang makin lama makin panjang. Mata sang kapten kapal dan awak kapalnya seakan tidak percaya, jika penglihatan mereka tidak menipu mereka, mereka berani bersumpah bahwa yang mereka lihat adalah batang yang tumbuh memanjang dan semakin memanjang. Pertumbuhan pohon ini cepat sekali, seluruh kru kapal terpesona oleh keindahan tumbuhan misterius ini. Tampak jelas bahwa cahaya berpendar tadi adalah sebuah biji tumbuhan sebesar buah kelapa berwarna kehijauan dan memancarkan cahaya hijau.

Biji misterius itu mulai melekat pada dasar palung, dan tampaklah ia mulai menancapkan akar-akarnya ke dasar palung tersebut, hal itu disertai juga dengan makin cepatnya pertumbuhan batang  pohon tersebut yang sekarang tidak hanya memanjang, namun juga melebar. Kapten Ahmad Dadiri segera sadar bahwa jika pohon ini terus tumbuh dan menutupi palung ini dengan batangnya maka ia dan seluruh awak kapalnya tidak akan selamat. Maka dengan segera ia menghardik anak buahnya, “Hei kalian!!! Jangan bengong saja, ayo kita keluar dari sini!!! Siapkan turbin kapal, setel pada kecepatan penuh!!! Cepatt!!!”

Seluruh awak pun segera melaksanakan perintah kapten mereka dengan sigap. Dalam waktu tak kurang dari 3 detik KSRI Ikan Raja sudah melaju dengan kecepatan 80 km/jam menuju permukaan air. Tujuh menit kemudian KSRI Ikan Raja sudah berada di permukaan laut, Kapten Ahmad Dadiri segera memberi sinyal pada kapal induk mereka, KRI Sultan Agung untuk mengangkat kapal selam mereka. Komandan KRI Sultan Agung, Kolonel Irfan Madaleui kemudian segera memberi perintah pada anak buahnya untuk mengendalikan lengan mekanis guna mengangkat KSRI Ikan Raja ke dok kapal.

Kolonel Irfan langsung menyambar topinya dan turun menuju dok kapal, di sana Kapten Dadiri dan anak buahnya langsung memberi hormat dan kemudian Kapten Dadiri melapor, “Lapor! Pada kedalaman 8037 meter di bawah permukaan laut, kami melihat adanya cahaya aneh berpendar kehijauan seperti zamrud. Ketika kami dekati benda yang memancarkan cahaya itu ternyata sebuah biji tumbuhan sebesar buah kelapa. Dari biji tersebut muncul akar yang melekat pada dasar palung dan juga memunculkan batang. Tanaman itu tumbuh makin besar, Pak. Laporan selesai!”

Kolonel Irfan manggut-manggut meski sebenarnya masih belum mengerti benar apa yang terjadi tapi karena melihat wajah Kapten Dadiri dan awaknya yang kacau dan menunjukkan tanda-tanda shock maka ia membiarkan para awak kapal selam itu kembali ke kabin mereka. Namun tiba-tiba ….. SRAAAKKK!!!! Seluruh awak kapal KRI Sultan Agung segera menoleh ke arah sumber suara itu dan mereka melihat bahwa di tempat di mana di bawahnya terdapat Palung Antareja itu muncullah sebuah pohon yang amat besar. Tingginya menjulang seolah mencapai langit ketujuh. Batang pohon itu memiliki bentuk layaknya pohon mahoni dengan daun mirip pohon tanjung. Pohon itu memancarkan cahaya berpendar kehijauan sementara puncak pohon itu tertutupi oleh awan dan tidak terlihat oleh mata para awak kapal KRI Sultan Agung.

“Apa-apaan itu?”seru seorang awak kapal.

“Aku juga tidak tahu!”jawab seorang awak kapal yang lain.

“Semuanya tenang!” hardik Kolonel Irfan. Mata kolonel yang berkumis tebal itu itu memelototi pohon itu. Ia memerintahkan salah dua dari anak buahnya untuk mendekati pohon itu, mengambil sampel kulit batang, dan memfotonya dari berbagai sudut. Kedua prajurit itu segera melaksanakan tugas itu dengan tangkas. Tak sampai 1 jam semua tugas yang diberikan pada mereka itu sudah selesai, dan KRI Sultan Agung pun melaju meninggalkan tempat itu menuju pangkalan mereka di Jakarta.

Kemunculan pohon ajaib itu menjadi kehebohan banyak pihak. Berbagai media massa baik nasional maupun internasional dengan segera meliput berita mengenai kemunculan pohon ajaib ini. Banyak pihak ingin menamai pohon ini, ada yang menamakannya pohon kehidupan, pohon ajaib, Yggdrasil, dan sebagainya. Namun pemerintah RI atas nasehat seorang budayawan bernama Surya Manggala memutuskan menamai pohon ajaib itu … Kalpataru.

Tiga bulan semenjak kemunculan Kalpataru, dunia kembali dikejutkan dengan menghijaunya kembali hutan-hutan di pulau-pulau Indonesia. Hutan di Andalas, Borneo, Jawa, Bali, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua secara ajaib tumbuh kembali bahkan semakin rimbun. Satwa-satwa yang semula punah secara ajaib kembali bermunculan. Namun bagi para pebisnis-pebisnis serakah  dan pejabat-pejabat yang menerima suap dalam hal perijinan pendirian pabrik dan mall yang saban harinya merusak alam guna menyediakan tempat bagi mereka untuk melempar produk-produk sampah mereka hal ini adalah musibah. Pepohonan itu tumbuh secara cepat dan mulai menutupi jalan-jalan utama. Bukan hanya itu dalam beberapa mall secara ajaib tumbuhlah pohon-pohon besar yang menghancurkan bangunan besar itu. Kantor-kantor pemerintah pun tak luput dari serbuan pohon ‘liar’yang semakin menggila.

Tapi pemerintah kita adalah kumpulan orang-orang yang cerdik dan oportunis. Dengan segera mengajukan diri dalam suatu lomba negara dengan wilayah terhijau dan kontan saja Indonesia memenangkan kompetisi ini. PBB menyediakan hadiah sebesar US$ 6 Milyar dan sebanyak US$ 5 Milyar dianggarkan untuk rakyat sementara untuk sisanya menjadi santapan nikmat bagi para petinggi-petinggi negeri ini yang perutnya sudah gendut dan hampir meledak karena saking besarnya.

Tapi Pohon Kalpataru tidak akan peduli dengan semua itu, ia seolah terus menerus menghijaukan dan merestorasi alam Nusantara ketiga ini. Pada tahun 2035, proses penghijauan itu berhenti. Pohon Kalpataru masih berdiri namun cahaya yang terpancar dari dirinya meredup, tidak secerah dahulu. Pada tahun 2040, pohon itu berhenti mengeluarkan cahaya namun tetap berdiri tegak di tengah Laut Jawa, antara Pulau Jawa dan Kalimantan.

Di masa tahun 2040 inilah Pohon Kalpataru akan menunjukkan tujuan keberadaannya di dunia ini, tak peduli akan kenaifan para pemimpin negeri ini ataupun ocehan yang terlontar dari mulut orang-orang idiot berpendidikan yang mengaku ilmuwan namun dengan jalan pikiran parsial dan sebenarnya hanya punya ilmu di mulut, bukan di otak. Mereka dengan angkuhnya mencoba menjelaskan keberadaan pohon Kalpataru dengan segala macam teori yang terkadang serasa menjadi teori omong kosong karena tidak ada satupun teori yang mereka paparkan memenuhi kriteria kemunculan sebuah pohon dari dasar laut.


[1] Ikan Raja = nama yang diberikan penduduk lokal Sulawesi untuk menyebut spesies ikan purba Coelacanth

Posted on June 12, 2011, in Sang Surya and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: