Transparency

Pengarang : tasya tazzu

Sumber :  FictionPress.com

Apa yang aku lakukan disini?

Aku berdiri di pojokan sebuah kamar yang, cukup berantakan. Kertas-kertas dengan berbagai gambar tulang-belulang berserakan dilantai, buku-buku tebal menumpuk di atas meja, laptop 12″ menampilkan layar gelap dan mendendangkan nyanyian lembut, dan baju kotor menumpuk diatas sandaran kursi. Aku melihat apa yang ada di depanku dengan takjub. Siapa orang yang bisa betah hidup di kamar sekotor ini?

“Huaaaaaaaaahm!” kata seseorang dari arah kamar mandi, mengagetkanku. Aku menatap kearahnya dan menemukan seorang pemuda berkaus putih belel dan berambut acak-acakan sedang menguap lebar. Samar aku bisa melihat janggut tipisnya yang belum dicukur. Ia menggaruk kepalanya sebelum berjalan malas menuju kasur single-size berseprai kuningnya. Ia lalu duduk disana sebelum meregangkan kedua tangannya dan berbaring. Tak lama ia lalu menarik bed cover biru bermotif garis-garisnya dan pergi menuju alam mimpinya. Aku menatapnya bingung.

“Siapa dia? Dimana ini?” tanyaku sambil berjalan menuju cermin yang, ANEHNYA, tidak memantulkan bayangan diriku. Aku berusaha menyentuh cerminnya, namun tidak bisa. Seolah cermin itu tembus pandang, atau justru AKU tembus pandang?

Sepertinya memang AKU yang tembus pandang.

Sudah seminggu lebih aku terdampar di kamar ini, tidak bisa keluar. Pernah aku mencoba keluar, namun ada suatu gaya yang menarikku dengan sangat kuat hingga aku terlempar kembali ke kamar ini dalam suatu sapuan angin yang keras. Yang kulihat ‘menyapu’ aku itu adalah sebuah sayap besar kekuningan. Berkali-kali aku berusaha keluar dan berkali-kali juga aku diterbangkan oleh sayap itu kembali ke sini. Apa sih mau si pemilik sayap? Menyebalkan.

Selama seminggu itu pula aku mengamati perilaku si pemuda tanggung yang menjadi penghuni kamar. Yang akhirnya kudapat dari dirinya adalah bahwa ia sangat hobi tidur jam 1 bangun jam 3 lalau tidur lagi setelah beribadah, tidak bisa tidur jika tidak ada cahaya, suka menyalakan komputernya yang malang selama ia tidur, sport-freak dan awal harinya dimulai dengan sit-up sepuluh set, dan bahwa ia adalah seorang mahasiswa tahun terakhir fakultas kedokteran. Hem. Itu menjelaskan buku-buku aneh tentang anatomi manusia yang dimilikinya dan kehebatannya untuk tidak muntah ketika melihat video operasi usus sambil makan mie goreng.

Pernah suatu hari teman-temannya datang untuk belajar, sedang masa ujian rupanya. Suasana di kamar yang biasanya sepi dan hanya ada suara musik dari laptop saja mendadak jadi ramai-ricuh-keras-dan berantakan. Tapi yang bersangkutan terlihat senang-senang saja melihat kamarnya ‘diubah’ menjadi kapal pecah. Kalau itu aku, pasti aku sudah melabrak teman-temanku dan mengusirnya keluar kamar.

Suara bunyi mesin bergema memenuhi kamar yang cukup besar itu. Di kasur, seorang gadis muda berambut hitam panjang dengan kepala terbebat perban sedang terbaring dengan masker oksigen menempel di wajahnya dan uap tipis hilang-timbul di permukaan plastiknya. Tangan kanan dan kirinya dipenuhi oleh berbagai tusukan infus yang berusaha menyelamatkan nyawanya; transfusi darah, cairan elektrolit, dan painkiller. Nyaris setiap 8 jam sekali seorang suster akan masuk ke dalam kamar itu dan mengambil sampel darahnya.

“Kapan kira-kira anak saya bisa sadar, dok?” seru seorang pria paruh baya bertampang galak pada seorang dokter senior yang berumur kurang lebih sama dengan dirinya. Dokter itu hanya tersenyum.

“Kami sudah melakukan yang terbaik. Tanda-tanda vitalnya pun tidak menunjukkan adanya anomali. Ini hanya tinggal masalah daya juang putri Anda untuk hidup,” katanya sambil menunduk dan berjalan pergi.

“Hoi,” kata si pemuda itu. Aku menoleh kearahnya. Ia sedang mengunyah sebuah pisang sambil menatap kearahku. Kearah dinding tepatnya, karena aku ‘kan tidak terlihat. “Kamu, cewek rambut item,” katanya lagi, mengagetkanku. Aku mengerutkan alisku bingung.

“Aku?” tanyaku. Ia mengangguk.

“Kamu belum mati. Ngapain diem disini? Balik ke badan kamu sana,” katanya sambil melempar kulit pisang ke tong sampah. “Nanti keburu nggak bisa balik loh.”

Aku belum mati? TUNGGU!

“Apa maksudnya aku belum mati? Aku udah jadi arwah gini masih dibilang belum mati. Aneh,” kataku. Ia terkekeh.

“Baru sekarang aku ngeliat arwah yang nggak lompat-lompat kegirangan waktu dikasih tau bahwa dia masih idup.”

“Tapi aku memang udah mati kok! Buktinya jadi tembus pandang gini,” belaku. Kalau dipikir, iya juga. Kenapa aku tidak merasa senang?

“Dasar kamu anak durhaka!” seru ayahku sambil mengayunkan lengannya. PLAK! Telapak tangannya yang besar itu mendarat dengan telak dan keras dipipiku. “KELUAR KAMU! JANGAN PERNAH KEMBALI!”

Aku, masih memegangi pipiku yang sangat panas, menatapnya bingung. Apa salahku sampai aku diusir dari rumah?

“DASAR KAMU AIB! KURANG PUAS APA KAMU SAMA APA YANG KAMU DAPAT, HAH? KAMU BUNUH IBUMU WAKTU IA MELAHIRKANMU, KAMU BUNUH KAKAKMU, KAMU BUNUH SATPAM KEPERCAYAANKU, SEKARANG KAMU BUNUH ISTRI BARUKU? IBU BARUMU? KELUARRRRRR!” serunya sambil menjambak rambutku dan menarik aku keluar rumah. Tanpa belas kasih ia melempar aku ke jalan raya, kebetulan rumahku terletak tepat di depan jalan raya. Limbung, aku berusaha agar tidak terjatuh ke jalan akibat daya dorong yang sangat keras itu. Namun, karena berusaha tidak terjatuh, aku jadi berjalan terhuyung-huyung ke tengah jalan, tidak melihat bahwa ada sebuah truk semen berkecepatan tinggi berpengemudi ngantuk sedang meluncur pasti kearahku.

gelap.

“Jadi, kamu ketabrak truk toh?” tanya si pemuda itu lagi, membuyarkan lamunanku. “Yayaya, bisa dimengerti. Ketabrak truk itu memang sakit dan suka bikin roh mental meski belum waktunya,” katanya sambil manggut-manggut. “Anyway, udah waktunya kamu kembali ke badan kamu. Waktunya udah ampir abis,” katanya sambil menunjuk kekepalaku. Betapa terkejutnya aku melihat ada benang keemasan mencuat keluar dari ubun-ubunku. “Kalau itu copot, kamu beneran mati.” Aku menatapnya.

“Kayaknya, aku pilih opsi yang tadi aja deh. Toh ngga ada yang nangisin aku ini kalo aku mati. Ngga ada yang peduli aku idup apa ngga. Malah yang ngelempar aku ke jalan itu orang yang selama ini aku anggap ‘ayah’.” Ia membuang nafas panjang.

“Terus, gimana nyawa ibu kamu yang harus dibarter sama kamu agar kamu bisa melihat dunia, nyawa kakak kamu yang harus rela pergi dari dunia dengan cepat demi ngasih kamu satu kesempatan lagi waktu jatuh dari pohon, satpam kesayanganmu yang udah kayak saudara sendiri yang harus pergi meninggalkan anak-istrinya demi melindungi kamu dari perampok-perampok itu, dan nyawa ibu barumu yang harus pergi tepat setelah ia tahu ia hamil demi untuk memberitahukan berita itu padamu? Mau kamu buang-buang aja gitu?”

Aku tercengang mendengar kalimatnya. “Bagaimana?” Ia tersenyum bodoh.

“Sekarang kembalilah ke tubuhmu, ya?” pintanya dengan mata memelas. “Dan kamu ngga usah tau siapa aku, nanti juga kamu tau sendiri,” katanya ketika aku berniat menanyakan namanya.

Rasa sakit menjalar dari punggung ke kakiku. Menyengat, membakar, dan…sakit. Tuhan, ini sakit sekali!

“Laira! Laira!” seru suara berat yang aku kenal. Aku membuka mataku perlahan dan menemukan ayahku berdiri menatapku panik disamping tempat tidur. Wajahnya kusam, rambutnya berminyak, dan pakaiannya kusut. Tidak seperti ayahku yang biasa. “Laira, kau dengar aku?” tanyanya lagi panik. Aku mengangguk kecil sambil menyipitkan mataku, berusaha berkompromi dengan intensitas cahaya lampu.

“Di…ma…na,” kataku. Suaraku menjadi serak dan berbicara satu kata itupun sulit sekali.

“Tidak usah peduli ini dimana, yang penting kau sudah sadar,” katanya sambil menggenggam tanganku, hal yang TIDAK pernah ia lakukan sejak pertama kali aku mampu mengingat.

Eh, apa mungkin dia pernah terus aku lupa?

“Kenapa kamu ngasih tau dia kalo dia masih idup? Tumbenan,” tanya seseorang pemuda berambut keemasan dan bermata hitam serta transparan. Aku tersenyum bodoh memamerkan gigiku yang rapi.

“Kenapa? Kenapa? Kenapa yaaa?” aku bertanya balik padanya sambil mengalihkan pandanganku pada layar komputer yang menunjukkan program mengedit gambar. Aku bisa merasakan pemuda itu menghampiriku dan ikut melihat layar komputer.

“Ini tidak seperti dirimu yang biasanya, Arsa. Kamu jadi, sangat baik. Makhluk seperti itu yang tersesat dikamar ini biasanya berakhir menjadi benar-benar mati karena kamu tidak memperingatinya, atau hidup dalam kesengsaraan karena kau memperingatinya. Jadi, apa gadis itu pun akan sengsara juga nantinya?” katanya lagi. “Oh, itu terlalu banyak tuh saturasinya,” komentarnya.

Aku hanya tersenyum-senyum sambil sedikit-sedikit mencuri pandang pada kelingking kananku yang sekarang dilingkari oleh seutas benang merah transparan yang bergoyang-goyang karena adanya gerakan di ujung lain yang tidak kuketahui.

“Dia pasti akan bahagia, aku yakin seyakin-yakinnya. Dan itu bukan saturasi namanya, tapi brightness.”

Ya, dia PASTI bahagia. Kan?


A/N: halo, apa kabar semuanya? haha, cerita yang aneh yang dibuat ketika sedang mengerjakan tugas.

yah, kesampingkan fakta bahwa saya bukan mahasiswa yang baik, semoga cerita bodoh ini bisa menghibur Anda semua.

Mind to review?

Regards,

tasyatazzu

Posted on June 3, 2011, in Cerita Pendek, Cerpen Amatir and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: