Rey – Prologue

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

Hembusan napas ketakutan terdengar memburu di kamar yang sempit itu. Darah segar mengalir deras membasahi lantai dan menganak sungai. Mayat tersebut telah hampir setengah kaku. Gunting panjang tertancap tepat di atas perutnya. Sementara matanya membelalak lebar menahan sakit saat ajal menjemputnya. Rey memperhatikan mayat tersebut dengan wajah ketakutan. Bibirnya bergetar dan wajahnya pucat sepucat mayat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

“Aku tidak membunuhnya,“ katanya dengan suara yang bergetar. Suaranya hanya ia sendiri yang mendengarnya.

“Dia yang menginginkannya,“ sambungnya lagi. Ia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati mayat yang telah terbujur kaku tak bergerak tersebut dengan tatapan yang tiba – tiba penuh amarah. Ia duduk jongkok di sebelahnya.

“Seandainya kau tidak melakukan perbuatan tersebut kepadanya!! Aku tak habis pikir kau tega merusak masa depannya. Kau benar – benar biadab!!! Ini tidak adil bagiku!!!!“ bentaknya dengan suara yang keras, lalu ia tertawa.

“Percuma aku berbicara begitu kepadamu. Toh, kau tidak akan mendengarkanku lagi karena kau sudah MATI!!“ bentaknya lagi seraya mencabut gunting panjang yang tertancap di perut mayat tersebut. Ia tidak berlama – lama membiarkan mayat tersebut tergeletak di lantai.

Dengan gerakan yang terburu – buru, ia menarik selimut tidurnya lalu mengambil selembar kasur busa tipis. Dengan cekatan ia mengangkat mayat tersebut dan membungkusnya rapi dengan menggunakan selimut dan kasur busa tersebut.

Di tengah malam yang disertai dengan suara lolongan anjing Rey membawa mayat tersebut dengan menggunakan sepeda motornya menuju ke sebuah jembatan yang di bawahnya terdapat aliran sungai yang besar. Sesampainya di sana, ia menyeret mayat tersebut menuju semak – semak yang terdapat di pinggir sungai. Di sana ia membuka bungkusan selimutnya dan membaringkan mayat tersebut ke tanah.

“Selamat tinggal,” ucapnya pelan sambil menutup kedua mata mayat tersebut yang masih membelalak lebar. Lalu ia menyeret sebuah batu besar dan mengikatkannya di tubuh mayat tersebut. Dengan sekuat tenaga ia menyeret mayat yang telah terasa lebih berat dari sebelumnya itu menuju ke pinggir sungai dan menenggelamkannya di sana.

“Selamat tinggal sayang. Jika kau bertemu dengan Tuhan di atas sana, tolong kau tanyakan kepadaNya, mengapa Dia menciptakan aku seperti ini. “

Setelah melakukan aksinya, Rey beranjak pergi dari tempat tersebut dengan perasaan yang tidak karuan. Di sisi lain ia merasa bersalah dan menyesal, namun di lain pihak ia merasa puas telah melakukan perbuatan tersebut.

Mayat tersebut tenggelam perlahan menuju ke dasar sungai. Tetapi batu yang terikat di tubuh mayat tersebut tersangkut di sebuah akar pohon hingga mayat tersebut melayang – layang di dalam air dan tidak berhasil mencapai dasar sungai. Malam semakin larut. Kepergiannya disertai dengan suara – suara lolongan anjing yang menyanyikan sebuah alunan lagu kematian yang menyayat hati.

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: