Rey – Bab XI

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

BAB XI

LEMBARAN HIDUP  YANG BARU

Di kamar Mitha termenung sambil memandangi foto Rey. Jari – jarinya menelusuri foto tersebut dengan mata berkaca – kaca. Semenjak kematian Rey yang begitu tragis, ia seperti kehilangan gairah hidup. Setiap ia ingat akan kenangan indahnya bersama Rey, setiap itu pulalah ia meneteskan air mata.

“Tidak ada gunanya kau menangisi laki – laki seperti itu,“ ucap Ibunya tiba – tiba berdiri di ambang pintu. Mitha menyeka air matanya. Ia diam tak menjawab.

“Yang lalu biarlah berlalu, Mit?” ucap Ibunya lagi seraya mendekat ke arahnya dan merangkul pundaknya hangat. Ia masih diam tak menjawab.

“Maafkan Mama Mit. Selama ini Mama selalu mentingin urusan Mama sendiri. Mama memang egois.“

Ia menatap Ibunya dengan tatapan tajam.

“Apakah Mama sadar akan kelakuan liar Mama?!“ tanyanya dengan nada emosi.

“Mama tau. Makanya sekarang Mama minta maaf. Kita mulai lagi lembaran hidup yang baru,“ ujar Ibunya dengan mata berkaca – kaca. Mitha mengalihkan pandangannya. Tak ingin melihat wajah Ibunya yang hanya akan membuat dirinya semakin terbawa emosi.

Nggak semudah itu Ma. Udahlah!! Mama keluar aja. Aku mau sendirian sekarang,“ usirnya.

“Oke. . . Tapi satu hal yang mesti kau ingat. Kau tidak akan bisa memikul beban ini sendirian.“

Ibunya beranjak keluar dari kamarnya. Namun langkahnya tertahan di ambang pintu. Ia merasa kecewa karena telah gagal meluluhkan hati Mitha untuk dapat memaafkannya. Diam – diam ia mengeluarkan amplop berwarna putih bersih dari dalam sakunya. Amplop tersebut ia pegang dengan tangan bergetar.

“Andaikan kau tau ini?“ batinnya.

Amplop tersebut ia masukkan kembali ke dalam sakunya dan berlalu dari depan pintu kamar Mitha tanpa menyadari bahwa amplop tersebut telah terjatuh ke lantai. Sekelebat Mitha melihat amplop tersebut terjatuh. Diam – diam ia mengambilnya dan membacanya.

“KANKER OTAK??”

Jelegar!!! Bagaikan petir menyambar di siang hari, dadanya terasa sesak saat mengetahui isi amplop tersebut. Saat itu juga, runtuhlah semua rasa benci dan muak yang selama ini menyelimuti hatinya terhadap Ibunya.

Sementara itu, Ibunya berjalan gontai menuruni anak tangga. Pikiran dan tatapan matanya kosong. Ia menatap miris deretan bingkai – bingkai foto yang tergantung rapi di sepanjang dinding anak tangga. Hatinya hancur sekali. Menuruni anak tangga tersebut seakan berjalan di sebuah lorong waktu yang mengingatkan dirinya akan memori – memori indah terdahulu. Ia berhenti di salah satu bingkai foto.

“Mas, kenapa kau berselingkuh? Kurang apa aku ini?“ ucapnya lirih. Jari – jemarinya menelusuri foto tersebut. Perlahan air mata mengalir dari pelupuk matanya.

“Aku rindu saat – saat kita bersama dulu?“ ucapnya terisak. Ia kembali menuruni anak tangga hingga ke bawah. Tapi langkahnya tertahan oleh suara Mitha.

“Ini amplop apa, Ma?“ tanya Mitha dengan suara bergetar. Ibunya menoleh ke arahnya dengan terkejut. Ia meraba sakunya dan ternyata amplop tersebut sudah tidak ada lagi di dalam sana.

“Apakah yang tertulis di surat ini benar, Ma?” tanya Mitha lagi dengan mata yang mulai berkaca – kaca. Ibunya mengangguk perlahan. Lalu Mitha buru – buru menghampirinya dan langsung memeluknya.

“Aku udah maafin Mama . . . aku udah maafin Mama,“ ucap Mitha terisak – isak. Air mata tumpah membasahi pundak Ibunya.

“Mitha . . . “

Maafin semua kesalahan dan sikap Mitha selama ini ke Mama.”

“Mama udah maafin.  Mama janji nggak akan buat kamu bersedih lagi. Mama akan jadi orang tua yang baik disisa umur Mama yang pendek ini.“

Mereka berdua saling berpelukan hangat. Seakan tak ingin lepas. Rasa ego yang besar yang mereka miliki selama ini seakan musnah dan hilang. Kebahagiaan yang selama ini jauh dari kehidupan akan segera di bangun kembali, walaupun telah menjadi reruntuhan puing – puing yang hancur. Semua itu akan merekat kembali menjadi satu dengan semen cinta dan kasih sayang di antara keduanya.

“Kebahagiaan berakar dalam batin dan tumbuh di atas ketentraman jiwa”

(Kurt Kauffman).

 

 

♥♥♥

“Kasus pembunuhan yang terjadi di kota Pangkalpinang propinsi Bangka – Belitung beberapa waktu yang lalu yang dilakukan oleh Andrey Wiguna alias Rey akhirnya ditutup oleh Tim Penyidik Kepolisian setelah Rey ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa karena gantung diri di Pantai Tanjung Kelayang beberapa waktu yang lalu. Pengakuan mengejutkan datang dari mulut pacar Rey, Mitha. Ia mengaku bahwa Rey membunuh Eric karena Eric telah memperkosanya. Hal ini mementahkan isu yang berkembang di masyarakat selama ini tentang adanya motif cinta segitiga. Namun, mengapa Mitha baru mengaku sekarang? Menurut wawancara kami dengan Mitha beberapa waktu yang lalu, sebelumnya ia memang tidak mengetahui apa sebenarnya penyebab Rey membunuh Eric. Ia baru mengetahuinya setelah tanpa diduga – duga Rey menghubungi ponselnya sehari sebelum ia diketahui tewas gantung diri. Pada saat itu Rey meminta maaf kepadanya sekaligus menjelaskan apa sebenarnya motifnya membunuh Eric . . . . . . . . . . ”

 

Chaca menutup jendela internet explorernya. Ia tertegun sejenak setelah membaca berita tersebut. Ia teringat akan sikapnya terhadap Mitha di pemakaman beberapa waktu yang lalu. Betapa tidak beralasannya dia menuduh Mitha yang tidak – tidak seperti itu. Betapa berdosanya ia terhadap Mitha. Dan betapa kekanak – kanakannya dirinya. Masih terbayang di pelupuk matanya bagaimana ekspresi wajah Mitha yang tak berdosa itu saat dituduh yang bukan – bukan olehnya. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ia mempunyai pikiran yang sekonyol dan sepicik itu.

Entah dari mana datangnya ide yang tak beralasan tersebut sehingga mampu membuatnya lepas kendali untuk menuduh Mitha melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan. Mengapa ia tidak mau mendengarkan penjelasan Mitha pada waktu itu. Entah setan apa yang telah berhasil menyumbat lubang telinga dan menutup mata hatinya hingga penjelasan yang keluar dari mulut Mitha hanyalah seperti sebuah omong kosong yang tidak patut untuk diperdengarkan.

“Haaaahhh . . . !!!!!“ teriaknya kesal. Ia membanting tumpukan – tumpukan buku yang berada di samping monitor komputernya hingga buku – buku tersebut jatuh berserakan di lantai. Ia menyesal dan sangat terpukul sekali. Apalagi setelah ia tahu bahwa Eric telah memperkosa Mitha.

“Eric . . . kau sungguh manusia yang tak bermoral!!“ ucapnya emosi. Seketika ia teringat akan ucapan Mitha yang mengatakan bahwa Eric melihatnya dengan tatapan penuh nafsu saat di café waktu itu, “Ya . . . Mitha benar . . . Mitha benar. Aku memang jahat.”

Malam itu juga Chaca langsung mengemasi pakaiannya dan menelpon agen perjalanan untuk reservasi tiket pesawat. Yang ada di pikirannya malam itu cuma satu. Ia ingin secepatnya pulang ke Pulau Bangka dan segera menemui Mitha untuk meminta maaf.

 

 

♥♥♥

 

“Sekarang semuanya telah terbukti. Aku tidak bersalah. Justru Ericlah yang bersalah.”

“Aku sudah tau semuanya, ‘Tha. Aku membaca beritanya dari internet. Aku minta maaf karena telah menuduhmu yang tidak – tidak waktu itu. Aku menyesal . . “ ucap Chaca dengan wajah yang sangat bersalah.

“Sudahlah ‘Ca, aku sudah memaafkanmu.”

Chaca menarik napas lega.

“Aku juga turut sedih atas apa yang telah menimpamu. Tak kusangka Eric bisa berbuat hal yang tidak beradab seperti itu kepadamu. Dia memang tidak bermoral!! BAJINGAN!!!” geram Chaca.

Suasana hening sejenak. Mitha menyandarkan dirinya pada sebuah bangku taman. Sementara Chaca tak tahu apa yang harus dibicarakannya selanjutnya. Ia merasa gugup dan kehilangan kata – kata di hadapan orang yang telah ia tuduh seenaknya dan kini orang tersebut telah memaafkannya dengan tulus.

“Sebenarnya berita yang kau baca dari internet itu tidak semuanya benar,” ucap Mitha tiba – tiba membuyarkan lamunan Chaca.

“He-eh . . .  Maksudmu?” tanyanya mendekat ke Mitha dan duduk di sebelahnya. Raut wajahnya menunjukkan gurat – gurat keingintahuan.

“Aku ingin kau mengetahui satu hal yang mungkin akan membuatmu syok. Sama seperti aku saat Rey mengucapkannya di hadapanku,” ujar Mitha makin membuat Chaca ingin tahu.

“Hal apa, ‘Tha?”

Mitha menghela napas yang panjang sebelum melontarkan jawaban tersebut.

“Rey dan Eric adalah pasangan gay. Ya . . . mereka gay,” jawab Mitha dengan mata berkaca – kaca. Chaca terkejut bukan kepalang mendengar Mitha berkata seperti itu.

“Ga . . gay maksudmu?”

“Benar ‘Ca. Aku benar – benar tidak menyangka kalau Rey adalah seorang Gay. Dia sendiri yang mengaku padaku waktu aku bertemu dengannya di pantai.”

“Bertemu di pantai?” tanya Chaca heran.

“Aku berbohong di media. Sebenarnya Rey tidak menelponku, tapi akulah yang bertemu dengannya di pantai secara tidak sengaja. Pada saat itu aku meminta dia menjelaskan semuanya.”

“jadi . . . ?”

“Ya . . . aku menemukan Rey dan salahku tidak menelpon Polisi waktu itu. Aku hanya ingin dia bersikap gentleman, seperti sikap yang dia tunjukkan selama ini padaku,” ucap Mitha membela diri.

Chaca mendengarkannya dengan serius walaupun di wajahnya masih tampak gurat – gurat keterkejutan yang teramat sangat.

“Selain gay, Eric juga seorang gigolo. Mungkin! Karena Rey bilang, Eric pernah kencan dengan Mamaku.”

Chaca tak bisa berkata apa – apa setelah mendengar ucapan Mitha tersebut. Ia hanya bisa terkejut dan seakan tak percaya bahwa Eric adalah seseorang yang bisa berbuat hal – hal yang amoral seperti itu. Ia juga tak habis pikir, kenapa Eric bisa mencintainya seperti layaknya seorang pria mencintai seorang wanita pada umumnya.

“Aku tidak mengerti ‘Tha. Kalau Eric gay, kenapa dia mau berhubungan denganku?” tanya Chaca heran.

“Mungkin Eric cowok straight,” jawab Mitha cepat.

Straight????

“Ya, cowok yang suka wanita tapi juga suka dengan pria. Tapi celakanya, cintanya yang terbesar hanya untuk Rey, tidak untukmu. Dia menjalin hubungan denganmu mungkin hanya untuk sekedar having fun semata. Maaf aku berbicara seperti itu.”

“Sekarang aku mengerti, kenapa saat itu dia menyobek – nyobek foto – foto kebersamaannya dengan Rey dan tak henti – hentinya berbicara tentang Rey tiap ada kesempatan. Lantas hubunganmu dengan Rey?”

“Rey menjalin hubungan denganku karena dia ingin berubah. Dia ingin sekali berubah menjadi laki – laki normal. Dia ingin bisa mencintai seorang wanita dengan sepenuh hatinya. Tapi kenyataannya, dia tetap tak bisa,” ucap Mitha menerawang. Matanya mulai berkaca – kaca. Chaca mengelus pundaknya hangat.

“Hal itulah yang membuat Eric sakit hati. Dia merasa dicampakkan oleh Rey. Dia cemburu. Sejak saat itu dia mulai melancarkan berbagai cara untuk membalas sakit hatinya kepada Rey, salah satunya dengan memperkosaku.”

“Walaupun dia gay, di mataku, Rey tetaplah seorang laki – laki sejati. Aku membencinya tapi aku juga mencintainya. Dia akan tetap selalu ada di dalam hatiku, walaupun sekarang dia telah pergi jauh untuk selama – lamanya,” lanjut Mitha dengan air mata yang tak dapat dibendung lagi. Spontan Chaca memeluknya dengan hangat. Seketika air mata tumpah membanjiri pipinya yang putih mulus.

“Sudah ‘Tha. Kamu nggak sendirian. Bukankah aku juga mengalami hal yang sama denganmu? Kita berdua sama – sama ditipu. Aku juga tidak menyangka kalau Eric adalah seorang gay. Karena saat aku menjalin hubungan dengannya, dia tidak pernah menunjukkan tindakan – tindakan yang mencurigakan. Aku memang tau dia berteman dengan Rey. Dia bilang Rey adalah sahabatnya. Namun, aku benar – benar tidak menyangka kalau hubungan mereka ternyata lebih dari itu,” ucap Chaca panjang lebar.

Mitha melepaskan pelukan Chaca.

“Aku ingin memulai lembaran hidup yang baru, ‘Ca? Aku ingin melupakan semuanya,” ucapnya dengan suara serak. Chaca menatap wajahnya dan menghapus air matanya.

“Akupun begitu, ‘Tha. Tak enak rasanya hidup dengan bayang – bayang masa lalu. Anggap saja semua peristiwa ini adalah pelajaran yang berharga untuk kita. Sekarang . . . . kita berteman ‘kan?” ucap Chaca menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Mitha. Mitha menyambutnya dengan mengaitkan jari kelingkingnya.

“Bukan berteman, tapi bersahabat . . . “

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dua tahun kemudian . . . . . . .

“Ayo naik ke atas!!” teriak Mitha dari atas kepada seorang cowok kurus berkacamata dan mempunyai lesung pipit di pipi kirinya itu.

Nggak ah! Di bawah aja!!” teriaknya.

“Ayo Rey!!” teriak Mitha lagi sambil meraih tangan Rey dan menariknya ke atas.

Tu liat? Indahkan pemandangannya?”

Rey mengangguk pelan. Ia tersenyum sambil menghirup udaranya dalam – dalam. Ia merentangkan kedua tangannya di ujung batu besar tersebut. Baju kemejanya melayang – layang seperti terbang. Mitha tertegun melihat pemandangan itu. Tanpa sadar airmata menetes dan mengalir di pipinya. Rey melihatnya dengan heran.

“Ada apa Mit?” tanyanya dengan nada heran. Mitha menyeka air matanya dan langsung memeluk tubuh Rey. Rey mengusap rambut panjangnya dengan lembut. Perlahan Mitha melepaskan pelukannya.

“Gaya kamu tadi mengingatkan aku pada seseorang,” ucapnya lirih. Rey mengernyitkan dahinya.

“Siapa?”

“Orang yang paling kucintai.”

“Siapa dia Mit?” tanya Rey lagi dengan raut wajah yang sedikit cemburu.

“Namanya Rey,” jawabnya singkat. Rey makin tidak mengerti.

“Kamu lucu ya Mit. Itu aku ‘kan?”  tanyanya tertawa kecil.

Mitha berjalan perlahan menuju pohon beringin besar yang tumbuh di atas celah batu granit besar tersebut.

“Dulu aku punya pacar. Namanya Rey.”

“Oh . . . aku sekarang tau, kamu terima aku jadi cowok kamu karena namaku sama dengan mantan kamu yang dulu,” komentar Rey dengan nada malas. Mitha mengelus pipinya pelan.

“Kau cemburu?” tanya Mitha tersenyum manis.

“Aku nggak cemburu, siapa lagi yang cemburu?” bantahnya dengan salah tingkah.

“Kamu nggak perlu cemburu lagi sama orang yang telah meninggal,” ucap Mitha mengejutkan Rey.

“Maksudmu?”

“Ya, Rey telah meninggal. Dia bunuh diri. Tepatnya di sini, di pohon beringin itu,” jawab Mitha seraya menunjuk pohon beringin besar nan rimbun yang tidak diketahui berapa usianya itu. Wusshh . . . . !!!! seketika hembusan angin menjadi kencang menerbangkan dedaunan kering yang berserakan di bawahnya. Tiba – tiba tubuh Rey menjadi dingin. Bulu kuduknya berdiri. Ia merapatkan kedua tangannya di dada.

“Andrey Wiguna, anak dari pengusaha Hady Wiguna, menjadi buronan setelah membunuh temannya sendiri, Eric. Kemudian dia membunuh istri muda Ayahnya dan terakhir dia mengakhiri hidupnya di sini,” kenang Mitha. Dahan pohon beringin tersebut mulai bergerak – gerak ditiup angin. Bunyinya gemerisik seakan memberi pertanda bahwa Rey hadir di tengah – tengah mereka berdua.

“Tragis sekali nasibnya.”

“Kau tau mengapa dia membunuh temannya?”  tanya Mitha. Rey menggelelng.

“Dia membunuh temannya karena temannya tersebut telah memperkosa aku.”

Rey terkejut mendengarnya. Satu hal penting yang tidak diketahui olehnya selama ini akhirnya terungkap dari bibir Mitha sendiri.

“Apa? Perkosaan?” katanya terkejut.

“Ya, aku ingin jujur kepadamu Rey. Dan kuharap kau bisa mengerti. Kalaupun kau ingin meninggalkanku sekarang, aku siap menerimanya,” ucapnya dengan mata berkaca – kaca. Rey memegang kedua tangannya. Lalu ia meminta Mitha melanjutkan cerita.

“Eric memperkosaku karena dia cemburu kepada Rey.”

Rey mengernyitkan dahinya.

“Cemburu?”

“Ya, karena Rey adalah seorang Gay. Sebelum dia menjalani hubungan denganku, dia sudah lebih dulu berhubungan dengan Eric. Perilaku mereka menyimpang. Rey memacariku hanya untuk menjadikanku alat agar dia berubah menjadi laki – laki normal. Aku tidak tau kalau Rey membohongiku. Dia bilang cinta padahal hatinya bilang tidak. Dia terima ciuman dariku padahal dia sendiri tidak menikmatinya,” tuturnya dengan berderai air mata. Rey memeluknya.

“Sudahlah Mit. Yang lalu biarlah berlalu. Aku bisa menerimamu apa adanya walaupun dulu kau pernah dilecehkan,” kata Rey menenangkan sambil mengusap punggungnya pelan.

“Terima kasih Rey,” ucap Mitha dengan suara yang serak.

“Aku bisa menggantikan sosok Andrey yang pernah kau cintai dulu. Tentunya aku bukan GAY seperti dia. Aku REY!!! Pria sejati yang akan mencintaimu dengan sepenuh hati,” katanya membanggakan diri. Mitha mencubit gemas perutnya. Lalu ia memeluk tubuh Rey semakin erat. Bibirnya tersenyum bahagia.

 

♥♥♥

 

 

 

 

“Walaupun kau telah tiada, kau tetap akan selalu ada di dalam hatiku, Rey? Aku tidak bisa membencimu walaupun telah kucoba berulangkali. Kini aku memulai lembaran kisah hidup yang baru. Semua telah banyak berubah Rey. Mama telah bercerai dengan Papa. Walaupun Mama bahagia telah lepas dari penderitaan batin selama beberapa tahun ini  namun penderitaan lain yang tak kalah hebatnya datang mendera. Mama terkena kanker otak, Rey. Sesuatu hal yang tidak pernah kusangka dan tidak pernah kuduga sebelumnya. Keadaan Mama semakin ringkih, tidak seperti yang dulu. Aku kasihan melihatnya. Aku selalu berdoa semoga datang keajaiban untuk Mama agar bisa sembuh. Walaupun kita semua tahu, bahwa hanya sedikit saja orang yang menderita kanker otak bisa sembuh secara total. Tapi aku tetap yakin, suatu saat keajaiban itu akan datang menghampiri Mama.

 Kau lihat!! sekarang aku juga punya pacar. Namanya REY. Sama saat aku memanggilmu dulu. Oya, kalung liontin pemberianmu masih kusimpan baik – baik, begitupun dengan jaketmu. Kau dulu pernah berkata “Jika kau rindu aku, pakai saja jaketnya. Aku akan hadir di dekatmu.” Aku selalu ingat akan kata – kata itu.

Rey,  Aku tetap mencintaimu walaupun pada kenyataannya kau tidak mencintai aku. Ya . . . karena kau Gay. Tapi bagiku, kau tetap seorang laki – laki sejati. Anggap saja dulu aku mencintaimu hanya sebagai seorang sahabat, bukan sebagai seorang kekasih.”

 

¿¿¿¿

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: