Rey – Bab X

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

 

BAB X

AKHIR DARI KEHIDUPAN

Pantai Tanjung Kelayang, SungaiLiat.

“Hai anak muda! Kenapa kau berdiri terpaku di situ?” teriak seorang Pak tua yang sedang membereskan jaring – jaring penangkap ikannya. Rey sedikit tersentak mendengar teriakan tersebut. Dengan langkah gontai ia berjalan menghampiri Pak tua yang tampaknya seorang nelayan.

“Sedang memandangi awan, Pak,” jawabnya malas. Pak tua tersebut tersenyum.

“Untuk apa kau melakukan pekerjaan sia – sia seperti itu?”

Rey menarik napas panjang.

“Aku hanya berpikir, mengapa aku tidak diciptakan menjadi awan saja. Bisa berguna bagi orang banyak dengan menurukan hujan dan tentunya tidak mempunyai banyak masalah seperti manusia,” tuturnya dengan mendongakkan kepala ke atas melihat deretan awan yang berwarna putih bersih, bergumpal seperti kapas dengan latar langit biru yang indah. Pak tua menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia menatap Rey dengan penuh tanya.

“Tapi kau perlu tau satu hal anak muda. Tidak selamanya awan membawa kegunaan bagi orang banyak. Dia juga bisa membuat bencana. Kalau hujannya terlalu deras? Bisa jadi banjir bukan?”

“Ya, tapi setidaknya dia tidak perlu dihukum karena telah melakukan kesalahan tersebut.”

Pak tua terdiam mendengar Rey berbicara seperti itu. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Rey duduk di pinggir perahu Pak tua tersebut sambil melemparkan pandangannya ke laut lepas. Melihat ombak riak – riak gelombang air laut yang biru berkilau – kilauan diterpa cahaya matahari yang terik.

“Apa arti kehidupan menurut Bapak?” tanya Rey tiba – tba. Pak tua kembali menghentikan pekerjaannya.

“Bagi Bapak yang hanya seorang nelayan, taat beribadah kepadaNya adalah hal yang utama. Karena kehidupan yang kita jalani adalah berasal dariNya. Dengan begitu limpahan rejeki dan keselamatan akan menyertai diri kita,” jawab Pak tua dengan penuh wibawa.

“Apa itu membuat Bapak bahagia?” tanya Rey lagi. Pak tua tersenyum simpul.

“Tentu saja.”

“Walaupun disaat Bapak mendapatkan masalah yang hebat?”

“Hidup tanpa masalah bukan hidup namanya.”

“Berarti lebih baik mati saja,” sela Rey hingga membuat Pak tua tersentak kaget. Ia menepuk pundak Rey.

“Kau masih muda anak muda, tidak usahlah kau memikirkan masalah yang berat. Bukankah masa muda adalah masa yang menyenangkan?”

Rey tersenyum kecut. Sekelebat ia melihat bayangan Mitha yang manis dengan rambut panjang hitam tergerai.

“Masalah itu datang tidak memandang usia, Pak,” ujar Rey memainkan seutas tali nilon panjang yang berada di dekatnya.

“Terkadang masalah datang karena manusia itu sendiri yang membuatnya,” ucap Pak tua melanjutkan kembali pekerjaannya. Jaring – jaring yang ia bereskan tampak telah siap untuk dibawanya melaut.

“Kalau masalah itu datangnya dari Tuhan dan hanya Dia yang bisa merubahnya?”

“Kau tinggal berusaha dan berserah diri kepadaNya, niscaya Dia akan merubahnya.”

Rey beranjak bangun dari duduknya. Pandangannya lurus ke depan melihat batu granit besar yang terdapat di ujung pesisir pantai.

“Pak, boleh aku minta tali ini?” pinta Rey seraya menunjukkan seutas tali nilon panjang  ke hadapan Pak tua yang tengah sibuk memeriksa kelengkapan melautnya.

“Oh boleh, silahkan.”

“Terima kasih Pak.”

Rey lalu berjalan menuju ke batu besar tersebut dengan langkah yang pasti. Pak tua heran melihat tingkah laku Rey yang aneh. Sekilas ia melihat Rey berjalan menjinjit. Pak tua mengusap – ngusap kedua matanya berkali – kali untuk memperjelas penglihatannya.

“Akhh!! Mataku memang sudah tua, tidak bisa diajak kompromi,” gumam Pak tua sambil menyeret perahunya masuk ke laut.

Rey terus berjalan menuju batu besar tersebut. Pikirannya kacau, tatapan matanya kosong. Suara – suara hatinya berkecamuk di dalam dada. Suara – suara tersebut tampak nyata terdengar di telinganya.

Diperjalanan, tiba – tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Eric. Ia berdiri di bawah pohon cemara sambil melambaikan tangannya dengan wajah yang pucat dan gunting tertancap di perutnya. Ia tertawa mengerikan ke arah Rey. Rey tekejut setengah mati. Seketika bulu kuduknya berdiri. Jantungnya berdetak dengan keras. Cepat – cepat ia mengalihkan pandangannya dan memejamkan kedua matanya.

Agak lama ia memejamkan mata hingga akhirnya dengan segenap keberanian ia memberanikan diri membuka matanya kembali. Bayangan Eric telah lenyap dari pandangannya. Ia meneruskan kembali perjalanannya dengan langkah yang di percepat. Namun tiba – tiba langkahnya terhenti. Di depannya, Melinda berdiri kaku dengan kepala tertunduk dan rambut panjang menutupi wajahnya. Pisau cutter tertancap di perutnya dengan darah yang mengalir keluar. Rey berteriak histeris melihat Melinda yang sudah mati itu tiba – tiba berdiri di depannya. Ia berlari sekuat tenaga menghindar hingga akhirnya ia sampai di atas batu besar tersebut.

Dengan tergesa – gesa ia menaikinya. Sesampainya di atas, ia kembali melihat bayangan Eric di bawah. Namun kali ini ia tidak sendiri. Ia berdiri berdampingan dengan Melinda. Keduanya tertawa mengerikan ke arahnya. Rey berteriak ketakutan. Seketika wajahnya pucat pasi. Keringat dingin mengalir deras di tubuhnya.

“Pergi!! Pergi!!” teriaknya keras. Bagaikan asap yang tertiup angin, bayangan Eric dan Melinda menghilang seketika bagaikan di telan bumi. Rey menghela napas yang sangat panjang. Ia berusaha menenangkan diri.

Di depannya berdiri tegak pohon beringin besar dengan daun – daunnya yang rimbun. Akarnya menghujam dengan kuat di atas celah batu besar tersebut. Sementara sisanya bergelantungan bagaikan tali – tali yang diikatkan di dahan – dahan pohon. Rey berdiri terpaku. Ia teringat akan kenangannya bersama Mitha.

“Kerikil – kerikil tajam itu akhirnya sampai juga,” batinnya. Angin pantai berhembus sepoi – sepoi membawa daun – daun kering berterbangan ke sana – kemari. Rey berjalan perlahan mendekati pohon beringin tersebut dengan seutas tali nilon panjang di genggamannya. Ia melangkah dengan pasti. Tidak ada lagi keraguan dalam hatinya untuk melakukan perbuatan itu. Ia bosan dengan kehidupan yang dijalaninya. Ia takut akan kesalahan – kesalahan yang telah ia perbuat. Ia ingin melarikan diri dari dunia fana ini untuk selama – lamanya.

Sesampainya di bawah pohon beringin tersebut, ia memanjat batangnya hingga sampai pada salah satu dahan yang agak tinggi dari tanah. Ia mengikatkan tali nilon di dahan tersebut dengan erat. Setelah itu, ia membentuk bulatan kecil yang pas dengan ukuran kepalanya di ujung tali yang tergantung tersebut.

Ia memejamkan matanya. Perlahan bulatan tali itu ia kalungkan ke lehernya. Air mata meleleh tiada henti di pipinya. Sesaat ia mengingat semua kenangannya bersama Mitha di pantai itu, senyumannya, kalung lontin dan pelukan hangat. Semua kejadian yang ia perbuat kepada Eric dan Melinda, Ayahnya yang sekarang terbaring tak berdaya, Ibunya yag masih tetap di rumah sakit jiwa hingga hukuman penjara atau bahkan hukuman mati telah menantinya. Ia ingin mengakhiri semuanya.

“Selamat tinggal dunia.”

Taaaassss . . . !!!! Ia melompat turun dari batang tersebut. Seketika talinya menegang dengan kuat dan menggantungnya dengan sempurna. Rey tewas gantung diri. Kematiannya yang tragis diiringi dengan suara deburan ombak dan riuhnya suara nyanyian burung – burung camar.

Hari beranjak petang. Dari kejauhan terlihat Pak tua dengan perahunya berjalan terombang – ambing oleh air laut yang berkilauan bagaikan emas dengan latar belakang sunset yang indah mendekati tepian pantai. Ia bersiul – siul kecil sambil mengedarkan bola matanya ke sekeliling pantai. Ia mengagumi ciptaan yang Maha Kuasa.

Matanya tiba – tiba berhenti mengedar. Penglihatannya terpaku pada sebuah pohon beringin besar yang tumbuh di atas sebuah batu. Di salah satu dahannya terlihat seseorang tengah berdiri seperti tergantung. Pak tua mengucek – ngucek kedua matanya.

“Akh!! Lagi – lagi mataku tak bisa diajak kompromi. Orang itu jelas – jelas berdiri, tapi kenapa penglihatanku dia seperti tergantung?” Pak tua menyandarkan perahunya di sebuah batu karang. Ia ingin beranjak pulang, namun hatinya dilingkupi rasa penasaran tentang penglihatannya.

“Tapi rasanya dia benar – benar tergantung.”

Deg! Seketika ia teringat akan perbincangannya dengan seorang anak muda dan anak muda tersebut sempat meminta seutas tali kepadanya.

“Jangan – jangan?”

Segera saja Pak tua berlari menuju ke batu besar tersebut. Sesampainya di sana, alangkah terkejutnya ia melihat Rey telah tergantung dengan mata terbelalak dan lidah menjulur keluar.

 

♥♥♥

Mitha berlarian di koridor Rumah Sakit Bakti Timah menuju ke kamar mayat. Wajahnya menunjukkan gurat – gurat kesedihan. Seorang Polisi menelponnya tadi malam dan mengabarkan bahwa Rey telah diketemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Kematiannya begitu tragis. Ia gantung diri. Hal tersebut membuat Mitha syok dan sempat beberapa kali pingsan hingga Ibunya terpaksa memanggil dokter ke rumah untuk mengecek keadaannya.

Mitha berdiri terpaku di ambang pintu kamar mayat Rumah Sakit Bakti Timah. Air mata tak henti – hentinya mengalir. Dadanya begitu sesak. Ia tak bisa menahan perasaan sedih yang begitu mendalam. Sekilas kenangan – kenangannya yang telah lalu bersama Rey tiba – tiba saja melintas di depan matanya.

Perlahan ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Di sana terlihat beberapa orang Polisi dan Dokter tengah memeriksa mayat Rey yang telah terbujur kaku. Semua mata menghujam dengan rasa iba ketika Mitha perlahan melangkahkan kakinya mendekati mayat Rey yang terbujur kaku.

“Rey!!!”  teriaknya tiba – tiba ketika melihat kondisi mayat Rey yang begitu mengenaskan.

“Kenapa Rey kau bisa bertindak bodoh seperti ini?” ucapnya lirih dengan berurai air mata. Mitha terduduk lemas di lantai. Ia terus menangisi kepergian Rey.

Bayangan memori indah bersama Rey terus melintas di pelupuk matanya bagaikan sebuah slide show. Ia menyesali perbuatannya yang tidak melaporkan Rey ke Polisi saat ia menemukannya di pantai waktu itu. Semua itu ia lakukan semata – mata hanya demi rasa sayang dan cintanya yang besar terhadap Rey. Ia ingin agar Rey bersikap gentleman, berani mengakui kesalahannya kepada Polisi dan mau menyerahkan diri.

Tapi itu semua justru berdampak semakin parah. Dosa besar yang ia perbuat kepada Eric berulang ke istri muda Ayahnya. Melinda ditemukan tewas mengenaskan bersimbah darah di rumahnya sendiri.  Dugaan kuat mengarah kepada Rey setelah Ayahnya sendiri yang memberitahu lewat anggukan kepala saat Polisi menunjukkan foto Rey ke hadapannya. Harta warisan menjadi pemicu utama. Hal tersebut dibenarkan oleh Pak Gunawan, pengacara keluarga Hady Wiguna.

Ia keluar dari kamar mayat tersebut dan mencoba menenangkan diri. Dilihatnya langit putih dan bersih pada pagi itu. Tampak segerombolan awan mulai bergerak perlahan – lahan tertiup angin.

“Dari dulu kau selalu menginginkan agar kau menjadi awan,” gumamnya pelan. Terlihat bayang – bayang wajah Rey di atas sana.

“Kini tiada masalah lagi yang bakal menghampirimu Rey. Masalahmu kini hanya kepada Tuhan. Kau harus mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu di atas sana.”

 

♥♥♥

Waktu terasa semakin berlalu

Tinggalkan cerita tentang kita

Akan tiada lagi kini tawamu

Tuk hapuskan semua sepi di hati

Ada cerita tentang aku dan dia

Dan  kita bersama saat dulu kala

Ada cerita tentang masa yang indah

Saat kita berduka saat kita tertawa

Teringat disaat kita tertawa bersama

Ceritakan semua tentang kita

Ada cerita tentang aku dan dia

Dan kita bersama saat dulu kala

Ada cerita tentang masa yang indah

Saat kita berduka saat kita tertawa

( Semua Tentang Kita, by. Peterpan )

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: