Rey – Bab VIII

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

 

 

BAB VIII

JANGAN CINTAI AKU

Daun – daun pohon kamboja masih menyimpan titik air hujan sisa semalam. Bau tanah yang khas tersiram hujan masih tercium samar – samar. Rumput – rumput jepang yang menghiasi gundukan tanah makam tampak segar hijau berdiri, menambah keasrian deretan – deretan makam yang berjajar rapi dengan bentuk batu nisan seragam berukir identitas si penghuni liang.

Mitha berjalan perlahan melewati rumah – rumah masa depan tersebut. Sesekali ia berhenti di salah satu makam karena tertarik membaca identitas yang terpatri di batu nisan. Melihat tanggal lahir dan tanggal kematian di pemilik liang membuatnya tertegun sejenak. Betapa manusia tidak bisa menghindar dari yang namanya takdir kematian. Bila Tuhan menghendaki kita mati hari ini – ya mati. Tidak ada kompromi. Tidak ada basa – basi. Siap atau tidak siap kita harus menerimanya. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Semua itu sudah jelas adanya.

Disalah satu sudut makam, tampak seorang wanita berkerudung selendang hitam menangis tersedu – sedu di samping makam yang masih baru. Makam yang masih berupa gundukan tanah lengkap dengan nisan kayu tertancap itu tampak sedikit longsor tanahnya diterpa hujan deras tadi malam. Gundukan tanah merah tersebut meluber ke samping kiri dan kanan makam hingga hampir membuat gundukan tersebut rata dengan tanah. Nisan kayu yang tertancap pun tidak menancap dengan sempurna. Disenggol sedikit saja nisan tersebut jatuh ke tanah.

Mitha mendekati wanita tersebut dengan hati – hati. Ia menepuk pundaknya dengan lembut.

“Chaca,” sapanya pelan.

Chaca menoleh dengan mata berkaca – kaca, lalu spontan ia memeluk Mitha dan menangis sejadi – jadinya. Mitha mengerti perasaan Chaca yang sedih. Ia mengusap punggungnya mencoba menenangkan.

“Sudahlah ‘Ca. kamu nggak usah sedih lagi ya? Yang lalu biarlah berlalu.”

Chaca melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya.

“Aku tidak bisa . . . tidak bisa, ‘Tha.”

“Apakah kau melihat jenazah Eric waktu di rumah sakit?”

“Aku tidak melihatnya ‘Tha. Aku menyesal tidak bisa melihat dia untuk yang terakhir kalinya. Waktu itu aku sedang berada di Bali. Aku tau Eric telah tewas mengenaskan setelah aku berkunjung ke rumah Pamannya dan dia bilang Eric telah . . . “

Chaca tidak meneruskan perkataannya karena tidak kuasa membendung air matanya yang mulai mengalir lagi membasahi pipinya. Mitha turut iba melihatnya. Berulangkali ia memaki Rey di dalam hati.

“Apakah kau tau apa sebenarnya masalah yang terjadi di antara mereka berdua?”

Chaca menggeleng.  Ia mencoba mengingat kejadian di kafe pada waktu itu.

“Aku tidak tau. Tampaknya mereka sudah mempunyai masalah sebelum kejadian baku hantam di kafe waktu itu. Kau ingat sikap mereka berdua yang aneh ‘kan?”

Mitha jongkok lalu membenarkan nisan Eric yang miring.

“Ya . . . aku juga berpikiran seperti itu. Berarti Rey mengarang – ngarang alasan pada waktu itu.”

“Apa ‘Tha?” tanya Chaca antusias. Mitha menatapnya sambil menimbang – nimbang jawaban yang akan dilontarkannya. Ia tahan dirinya untuk tidak mengucapkan perkataan tersebut. Takut Chaca cemburu. Tapi setelah dipikir – pikir, tidak apa – apa kalau ia mengucapkannya. Toh, Eric telah meninggal. Jadi tidak ada masalah.

“Rey bilang dia memukul Eric karena . . . Eric memandangiku terlalu lekat dan agak bernafsu. Maaf ‘Ca, aku tidak ada . . . “

“Apa!!!” sela Chaca dengan nada tinggi. Mitha terperanjat kaget tak menyangka kalau Chaca cemburu. Benar dugaannya tadi.

“Jadi cewek itu kamu ‘Tha!?

“Maksudmu?” tanya Mitha tak mengerti.

“Sebelum Eric tewas terbunuh, dia memutuskanku begitu saja. Memang, dia tidak mengaku pas aku tuduh dia punya cewek lain. Tapi aku tau, dia memutuskanku karena dia punya cewek lain. Cewek itu kamu ‘kan?!” tuduh Chaca sembarangan.

“Aku nggak ngerti apa maksud kamu? Aku nggak ada hubungan apa – apa dengan Eric?”

“Alah!!! Sudahlah ‘Tha!!. Sekarang aku yakin, Eric menyobek – nyobek foto kebersamaannya dengan Rey waktu itu karena dia kesal ternyata Rey yang mendapatkanmu. Lagipula, aku heran dengan sikap Eric yang terus bercerita tentang kalian berdua,” tuduh Chaca lagi.

“Menyobek – nyobek foto maksudmu?” ucap Mitha semakin tak mengerti. Chaca melotot dan berjalan mengitari Mitha.

“Aku telah mendapatkan kesimpulannya. Rey membunuh Eric karena memperebutkanmu. Ya . . . memperebutkanmu!! Dengan tewasnya Eric, Rey tidak mempunyai saingan lagi. Dasar JALANG!!!”

Tak tahan mendengar ocehan Chaca yang terus memojokkan dirinya, spontan ia menampar Chaca dengan keras.

“Cukup ‘Ca!!! aku bukan seperti yang kau tuduhkan!!!” bentak Mitha keras. Chaca menatap tajam Mitha sambil memegangi pipi kirinya yang perih karena tamparan kerasnya.

“Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku hanya sekali bertemu dengan Eric. Itupun waktu kita berada di kafe. Selebihnya tidak! Rey pun tidak pernah bercerita tentang Eric kepadaku,” lanjut Mitha menjelaskan.

Chaca mendengarkannya dengan senyuman tak percaya.

“Kau dengar ‘Ca!! Sekali lagi aku jelaskan, Rey memukul Eric karena dia memandangiku terlalu lekat. That’s it!! Hanya itu!! Aku juga tidak menyadarinya waktu itu. Jangan juga salahkan aku kalau Eric menaruh perhatian kepadaku. Kalaupun dia suka aku, toh aku juga tidak peduli. Cintaku hanya untuk Rey,” tegas Mitha.

“Omong kosong!!!” sembur Chaca.

“Kau tidak bisa seenaknya menuduhku mempunyai hubungan dengan Eric hanya lantaran aku bilang Eric memandangiku terlalu lekat. Terlalu kekanak – kanakan pikiranmu!” lanjut Mitha lagi dengan mata berkaca – kaca. Chaca tetap tidak terpengaruh dengan penjelasan Mitha. Ia yakin pada pendiriannya bahwa Mitha adalah selingkuhannya Eric.

“Hanya Rey yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi!!!”

Chaca memandang Mitha dengan tatapan yang menantang.

“Kita lihat saja siapa yang benar nanti? Kuncinya ada di Rey. Kita tunggu saja sampai dia diketemukan.”

“Aku nggak peduli ‘Tha!! Besok aku akan berangkat ke Bali. Aku ingin melupakan semua kenangan burukku di pulau ini. Selamat tinggal.”

Chaca berbalik arah lalu melangkah pergi meninggalkan areal pemakaman sampai bayangannya tidak terlihat lagi. Mitha terduduk di samping makam dengan menangis. Ia sedih karena telah dituduh yang bukan – bukan oleh Chaca.

“Aku tidak seperti itu!!!” teriaknya keras. Ia merasa Tuhan tidak adil kepadanya. Apa yang selama ini menimpanya tidak sebanding dengan apa yang dialami oleh Chaca. Ia tidak rela Chaca pergi dengan masih menyimpan kesalahpahaman terhadapnya. Ia ingin membuktikan apa yang dituduhkannya itu salah.

Mitha beranjak pergi meninggalkan makam Eric dengan diringi bunga – bunga kamboja yang jatuh berguguran ditiup angin.

 

♥♥♥

 

Pantai Tanjung Kelayang, Sungailiat.

 

Gulungan ombak tampak saling berlomba untuk dapat sampai ketepian. Buihnya yang putih, membusa di tepi pantai. Angin berhembus dengan kencang menyibakkan rambut Mitha yang panjang tergerai, terlihat melayang – layang bagaikan sehelai kain selendang. Ia berjalan pelan menyusuri pantai. Kakinya bertelanjang menerjang air pantai yang hangat hingga membasahi betisnya yang putih mulus.

Tiap berjalan di pantai itu, ia selalu teringat akan kenangannya bersama Rey. Berlari – larian, saling mencipratkan air hingga di tempat itulah Rey memberikannya seuntai kalung liontin. Ia memegang kalung liontin yang tergantung di leher jenjangnya. Engselnya di bukanya perlahan. Dari dalam sana tersimpan foto Rey dan dirinya. Perasaan marah, sedih dan kecewa selalu datang setiap kali ia memandang foto Rey. Tapi di balik semua perasaan itu, masih terselip rasa sayang dan cinta yang mendalam terhadapnya. Ia tidak dapat melupakannya walaupun telah dicobanya berulangkali. Bagaimanapun juga, Rey adalah sosok yang pernah singgah mengisi hatinya. Ia adalah idola baginya yang dulu tidak mungkin didapatkan cintanya karena kebekuan hati yang dimilikinya.

Bola mata Mitha mengedar ke seluruh penjuru pantai, mencoba mencari – cari serpihan – serpihan memori indah yang dulu pernah terjadi di setiap sudut pantai. Pasir putih, air laut yang biru, pohon – pohon cemara dan batu – batu granit besar yang menjulang tinggi menjadi saksi bisu kenangan indahnya bersama Rey.

Tiba – tiba matanya berhenti mengedar. Seketika pandangannya tertuju kepada sebuah batu granit besar yang terdapat di ujung pesisir pantai. Ia tidak sabar untuk dapat sampai ke sana dan menaiki batu besar yang menjulang tinggi tersebut untuk melihat pemandangan yang indah dari atas sana. Kenangan terindah yang pernah ia alami di pantai itu terjadi di atas batu granit besar tersebut. Di atas sana, Rey memberikan seuntai kalung liontin sambil berkata bahwa ia adalah cinta pertamanya. Sungguh kenangan yang sangat romantis.

Sementara itu dari kejauhan tampak seorang laki – laki sedang merayap dengan cepat di sisi batu granit besar tersebut hingga dalam sekejap mata ia sudah sampai di atas batu tersebut. Ia merentangkan kedua tangannya seperti hendak menantang dunia. Angin yang menerpa bajunya membuatnya tampak melayang – layang seperti terbang.

Mitha memfokuskan penglihatannya, siapa sebenarnya laki – laki itu. Ia penasaran. lantas ia percepat langkahnya hingga akhirnya sampai di batu besar tersebut. Ia menaikinya dengan hati – hati dan sesampainya di atas ia bersembunyi dibalik batang pohon beringin yang besar yang tumbuh di atas batu granit tersebut. Ia terus memperhatikan lelaki itu. Dari fisiknya yang tinggi kekar ia tahu bahwa lelaki itu adalah Rey. Ia tidak menyangka akan bertemu dengannya di tempat itu setelah hampir satu bulan lamanya ia menghilang dan sampai saat ini Polisi belum berhasil menemukannya. Perlahan ia mendekatinya. Ia sadar bahwa yang didekatinya sekarang bukan Rey yang dulu, tapi Rey seorang pembunuh.

“Rey,“ sapa Mitha. Rey terkejut mendengar suara Mitha. Lekas – lekas ia menoleh ke belakang.

“Mitha?“ katanya terkejut. Matanya berkeliling melihat ke segala penjuru arah dan menatap Mitha dengan curiga. Ia panik.

“Aku sendirian. Tak ada polisi yang mengikutiku,“ ujarnya. Rey menghela napas lega.

“Sudah saatnya kau menjelaskan semuanya sekarang. Aku tidak ingin Chaca menuduhku yang bukan – bukan bahwa aku mempunyai hubungan dengan Eric. Apa sebenarnya masalahmu dengan Eric, Rey?“ tanya Mitha dengan nada sinis. Rey membuang pandangannya ke laut lepas. Ia menyulut sebatang rokok dan seketika asapnya mengepul memenuhi udara.

“Aku takut kau sakit hati bila aku jelaskan semuanya,“ jawabnya dingin.

“Aku tidak akan sakit hati. Toh, semua itu nggak ada hubungannya sana sekali denganku,“ ujar Mitha santai. Rey tertawa menyeringai.

“Ini semua berhubungan dengan aku, kamu dan bahkan Mamamu.“

Mitha tidak mengerti arah pembicaraannya.

“Sekarang kau bilang. Kenapa kau melakukan semua ini,“ tanyanya lagi. Rey membuang puntung rokoknya dan menginjaknya hingga hancur.

“Kau tau siapa yang memperkosamu?“ tanyanya dengan tatapan yang menghujam. Mitha menggeleng.

“Eric,“ jawabnya singkat. Deg! Mitha terkejut bukan kepalang.

Nggak . . . nggak mungkin. Ini rekayasamu ‘kan Rey untuk membenarkan pendapatmu tentang Eric waktu itu, saat kita di kafé bersamanya?“ bantah Mitha. Rey tertawa kecil.

“Terserah kau mau percaya atau tidak. Namun yang jelas, dia sendiri yang bilang. Bahkan, dia mengaku pernah tidur dengan Mamamu.“

Sekelebat ia teringat akan tingkah aneh Ibunya saat melihat foto Eric di televisi. Mitha menarik napas yang panjang. Ia mulai percaya dengan perkataan Rey.

“Kalau itu masalahnya, kenapa harus diselesaikan dengan cara seperti itu Rey?“ ucap Mitha dengan mata berkaca – kaca. Emosi Rey meledak dan spontan ia mencengkram pundak Mitha dengan keras.

“Eric telah merusak masa depanmu ‘Tha?!!! Apa kau tidak sadar itu!!!! Dia itu biadab!! biadab!!!!“ teriaknya keras. Mitha terperangah dibuatnya. Perlahan air mata mulai jatuh membasahi pipinya.

“Tapi itu bukan alasan Rey?“ ujarnya terisak. Rey melepaskan cengkramannya dan menumpahkan kekesalannya ke laut lepas.

“AHHKKK . . . !!!!!“. Suaranya menggema ke segala penjuru pantai. Burung – burung berterbangan dari puncak – puncak pohon.

“Kau menyakitiku dengan melakukan itu? Apa kau pikir masalah selesai setelah kau membunuhnya. Kau jadi buronan Rey.“

Rey kembali menatap Mitha dengan tatapan menghujam.

“Apa kau masih mencintaiku setelah apa yang kulakukan ini?“ tanyanya hingga membuat Mitha terdiam. Ia tertunduk dan tak tahu harus menjawab apa. Jauh di lubuk hatinya sebenarnya ia masih mencintainya.

“Aku tidak dapat membencimu Rey. Aku masih mencintaimu walaupun pada kenyataannya . . .“

“Kenyataan bahwa aku ini adalah seorang pembunuh?“ sela Rey.

“Lebih baik kau tidak usah mencintaiku lagi. Karena aku tidak pantas untuk kau cintai,“ katanya memeluk Mitha dengan erat. Mitha menangis di pelukannya.

“Sudah saatnya kau tau yang sebenarnya.“

“Apalagi yang harus kutahu Rey?“

“Eric memperkosamu karena ia cemburu.“

“Cemburu ? Maksudnya?“

“Ya, semua kejadian yang menimpamu adalah gara – gara aku. Seandainya aku tidak pernah masuk dalam kehidupanmu.”

Mitha mengernyitkan dahinya tak mengerti.

“Berbagai macam cara – cara busuk dan konyol telah dia lakukan untuk menghancurkanku. Mulai dari video mesum kami berdua sampai memperkosamu.“

“Kau menjadi alasanku untuk berubah. Tapi benar apa yang diucapkan Eric. Aku tidak akan pernah berubah sesuai dengan kehendak Tuhan. Memang seharusnya aku bisa menerima diriku apa adanya.“

Mitha merasakan Rey semakin meracau, berkata – kata yang tidak dimengerti olehnya. Cemburu, video mesum, apa maksudnya ini?

“Aku mau bilang . . . jangan cintai aku lagi. Karena aku adalah seorang . . .”

Byarrrrrr!!! Air bathtub tumpah membasahi lantai. Mitha tersentak bangun dari rendamannya. Airnya memercik ke segala arah. Ia syok bila mengingat pengakuan Rey kemarin tentang dirinya. Ia menyesali diri mengapa sampai bisa begitu mencintainya dengan sepenuh hati, padahal Rey hanya ingin mempermainkannya. Di dalam hatinya tidak pernah terselip sedikit pun rasa cinta. Hanya rasa terpaksa yang terdapat dalam hatinya untuk mencintainya. Mitha menumpahkan semua emosinya. Air shower begitu deras membanjiri tubuhnya. Ia menangis sejadi – jadinya.

“Mengapa kau menerima ciumanku Rey? Apa artinya rasa cinta palsu yang kau berikan kepadaku sementara kau sendiri tidak mencintaiku,“ teriaknya keras.

“Aku jijik denganmu, Rey!!!“ teriakannya beradu dengan derasnya deru suara air yang mengalir dari shower.

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: