Rey – Bab VII

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

 

BAB VII

PEMBALASAN DENDAM

Chaca berjalan hilir mudik di depan teras rumah Eric. Wajahnya menunjukkan gurat – gurat keraguan. Ia ragu untuk mengetok pintu dan memanggil nama Eric. Ia ragu untuk bertemu dan meminta maaf kepadanya atas pertengkaran kecil yang terjadi beberapa hari yang lalu.

Namun sebenarnya, hati kecilnya bertanya – tanya, “Untuk apa kau yang meminta maaf, toh eric yang memulai pertengkaran, ‘kan?”. Tapi Chaca mengalahkan egonya, ia mengabaikan hati nuraninya. Ia hanya ingin berniat baik, yaitu ingin mempertahankan hubungannya dengan Eric.

Susah payah ia mengikis keraguan yang ada di dalam hatinya, hingga ia memberanikan diri untuk mengetok pintu tersebut.

“Eric . . .!!!” panggilnya pelan. Satu panggilan pelan penuh irama kehati – hatian tidak mendapatkan sahutan dari Eric. Chaca lalu memanggilnya untuk yang kedua kalinya. Kali ini dengan irama penuh kepastian. Namun tetap tidak mendapatkan sahutan dari Eric. Ia mulai berpikir, “Jangan – jangan Eric nggak ada di rumah.”

Ia berbalik dan memutuskan untuk pulang saja. Tapi langkahnya tertahan ketika ia secara tiba – tiba mendengar suara teriakan seorang laki – laki dari dalam rumah. teriakan tersebut keras terdengar dengan suara yang khas, kering dan renyah.

“Eric ada di dalam.”

Chaca berpaling ke pintu dan memutar gagang pintu tersebut ke bawah. Ternyata tidak terkunci. Ia percepat langkahnya memasuki rumah dan mencari sumber suara tersebut. Ia tahu Eric ada di dalam kamarnya. Ia membuka pintunya perlahan. Pintu terbuka lebar dan ia disambut dengan hamburan – hamburan kertas foto yang tersobek – sobek tak karuan di lantai.

Chaca tertahan di ambang pintu. Ia terheran – heran, tekejut dan spontan berurai air mata karena telah mengira foto – foto yang disobek – sobekkan oleh Eric adalah foto – foto kebersamaan ia dengan dirinya. Namun, seketika air matanya berhenti mengalir. Di antara hamburan foto – foto tersebut terdapat wajah Rey. Dipungutnya potongan kertas tersebut.

“Ini . . . Rey . . .!!!”

Lalu dengan penasaran dipungutnya lagi potongan kertas yang lain. Masih juga terdapat wajah Rey. Begitupun ketika ia memungut potongan kertas berikutnya, berikutnya dan berikutnya. Bergantian potongan wajah Rey, Eric, Rey, Eric . . . dan seterusnya.

“Apa maksudnya ini?”

Ia melemparkan pandangannya ke Eric yang duduk diam membisu sambil terus menyobeki foto – foto kebersamaannya dengan Rey menjadi potongan – potongan kecil dan menghamburkannya ke udara. Chaca terus saja bertanya – tanya di dalam hati, “Apa – apaan Eric?”. Dalam kedinginan dan kekalutan hatinya, Eric berkata dengan suara pelan penuh kemisteriusan.

Maafin aku, ‘Ca.”

Chaca tersenyum lebar mengira Eric telah menyadari kesalahannya.

“Aku udah maafin kamu kok dari kemarin – kemarin.”

Eric menoleh dengan tatapan kosong. Tatapan yang menyiratkan bukan itu maksudnya.

“Sekali lagi, maafin aku.” Eric tertunduk.

“Iya, udah aku maafin.” Eric menggeleng.

“Bukan . . . bukan itu maksudnya . . . “

“He – eh.” Mitha mengernyitkan dahinya tak mengerti.

“Maksud kamu apa sih?”

Eric berdiri lalu memegang kedua pundak Chaca.

“Kita putus!”

Chaca terdiam. Perlahan air matanya mulai turun. Deras. Deras sekali.

“Apa katamu ‘Ric? Kita putus?” tanyanya tak percaya.

Eric mengangguk. Ia melepaskan tangannya di kedua pundaknya.

“Ini yang terbaik. Kita sudah tidak cocok lagi.”

“Tidak cocok? Cuma itukah masalahnya ‘Ric?”

“Ya . . . lebih baik kau tinggalkan aku!!”

“Apakah ada cewek lain?!” tanya Chaca sinis.

Eric menggeleng. Chaca menghela napas. Alasan yang dilontarkan Eric terlalu klise. Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin ia meminta putus, padahal pertengkaran yang terjadi beberapa waktu yang lalu hanyalah soal sepele, Telat.

Lagipula, apa hubungannya dengan aksinya menyobek – nyobek foto kebersamaannya dengan Rey? Bukankah Rey adalah sahabat sejatinya? Chaca menyeka air matanya mencoba untuk bersikap tenang. Meskipun di dalam hatinya tercabik – cabik oleh perkataan Eric yang benar – benar menyakitkan hatinya, tajam bagaikan pisau.

“Kau tidak bisa seenaknya melupakan momen – momen indah yang kita lakukan setiap malam ‘Ric!”

Eric melirik tajam.

Making love maksudmu?!”

“Ya . . . “

“Kau mau bilang kau hamil?!” ucap Eric dengan suara meninggi. Chaca mengangguk takut karena sebenarnya ia berbohong. Sementara Eric tertawa lebar – lebar melihatnya.

“Ingat!! Aku selalu memakai kondom!!” ucapnya kasar. Chaca kembali berurai air mata.

“Aku . . . aku sudah tidak datang bulan selama . . . ,“ Eric langsung menyela.

Alah . . . Itu akal – akalanmu agar aku tidak memutuskanmu ‘kan?”

“Tapi kau suka ‘kan ‘Ric dengan apa telah yang kita lakukan. Kalau kau tidak suka, kenapa kau memasukkan penismu!!! Bagaimanapun juga, kau harus bertanggungjawab. Aku tidak perawan lagi!!”

“Apa yang harus kupertanggungjawabkan? Toh, kau tidak hamil ‘kan?” ucap Eric santai.

“Kau kejam . . . kejam ‘Ric.”

Chaca menghambur keluar dari kamar tersebut dengan beruarai air mata. Sejuta tanya bersemayam di dalam otaknya. Rey dan kata ‘putus’ dari Eric. Apa hubungannya? Ia benar – benar tidak habis pikir. Entah masalah apa yang telah terjadi di antara mereka berdua. Tentu bukan masalah yang terjadi di kafe waktu itu. “Bukankah Eric bilang dia telah menyelesaikannya? Apakah Eric berbohong?” Entahlah. Namun yang pasti, sikap Eric berubah menjadi aneh sejak pertemuan di kafe waktu itu dan ia tidak henti – hentinya bercerita tentang Rey dan pacarnya kepadanya setiap ada kesempatan berdua.

Yang membuat hati Chaca benar – benar hancur dan sakit hati adalah Eric lepas tanggungjawab begitu saja. Memang ia tidak hamil, tapi bagaimanapun juga Eric telah merenggut kehormatannya dengan rayuan dan sejuta mimpi – mimpi manis yang terlontar dari bibirnya yang ternyata semua itu hanyalah bualan belaka hingga ia rela memberikan mahkota berharganya kepada Eric.

Sementara itu, Eric tertawa puas setelah berhasil memutuskan Chaca. Sekarang di dalam otaknya, berseliweran rencana – rencana busuk untuk menghancurkan Rey.

 

♥♥♥

 

Selindung Baru.

11 p.m.

 

Malam itu hujan turun dengan derasnya disertai dengan kilatan petir yang menggelegar keras. Rey melajukan motornya dengan kencang menuju ke kos. Pakaiannya terlihat basah. Sesampainya di sana ia terkejut setengah mati melihat pintu kosnya telah terbuka lebar. Dari dalam terlihatlah bayang – bayang seorang laki – laki sedang mondar – mandir di ruangan tengah. Rey tahu betul siapa laki – laki yang sedang berada di dalam kosnya tersebut. Tapi ia tidak habis pikir dengan cara apa ia bisa membuka pintu, sementara ia yakin pintu kos telah terkunci dengan rapat sebelum ia pergi. Rey melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.

“Mau apa lagi kau ke sini?“ tanya Rey dingin. Eric tersenyum menyambut kedatangan Rey.

“Hai Rey, apa kabar?“

Rey berusaha untuk menahan emosi.

“Aku tanya sekali lagi, untuk apa kau ke sini?!“

Eric berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Oya, sorry aku telah lancang masuk ke kos tanpa seijinmu Rey. Karena aku punya ini,“ kata Eric seraya menunjukkan kunci duplikat di tangannya. Rey terkejut. Ia tidak menyangka kalau Eric menduplikasi kunci kosnya. Tanpa sepengetahuannya, mungkin saja Eric telah berulangkali masuk ke kosnya dengan leluasa. Hanya kali ini saja yang ketahuan.

“Apa ini bagian dari rencana konyolmu?“ tanya Rey tenang. Eric menyeringai.

“Lebih dari yang kau bayangkan Rey. Aku ingin kau tau sesuatu yang lebih hebat dari perkiraanmu.“

Petir terus menyambar – nyambar. Suaranya yang keras benar – benar menakutkan. Eric duduk dengan santai di kursi, sementara Rey berdiri membisu menanti apa yang akan diberitahukan olehnya.

“Aku tau apa yang kau lakukan. Tapi aku tidak yakin. Mudah – mudahan kau tidak melakukan hal yang serendah dan sebiadab itu.”

Eric menarik napas panjang. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan mulai berbicara sambil mengitari Rey.

“Kau tau? Hidup itu indah bila kau bisa menikmatinya. Kau punya Mitha tapi tak tau cara menikmatinya!!”

“Jadi kau yang melakukannya!!?“ ucap Rey dengan mata melotot.

“Beberapa malam yang lalu aku bercinta dengan Ibunya dan kemarin malamnya aku menikmati tubuh anaknya,“ kata Eric dengan santai. Seketika amarah Rey meledak. Ia mendorong Eric dengan keras ke dinding. Kepalan tangan siap menghujam wajahnya.

“Kurang ajar!! Kau benar – benar biadab!!“

Braakkk . . .!!! Bogem mentah mendarat di wajah Eric. Ia jatuh ke lantai dengan mulut berdarah. Tapi ia masih dapat berdiri dengan terhuyung – huyung. Di atas meja tergeletak sebuah gunting. Gunting tersebut berkilat – kilat terkena cahaya lampu yang terang. Eric tersenyum senang melihatnya. Ia mengira Rey tidak melihat gunting tersebut.

Tapi ternyata perkiraan Eric salah. Rey menyadari ada gunting di atas meja tersebut. Rey melirik ke arah Eric. Ia tahu Eric akan mengambil gunting tersebut. Ketika Eric bergerak ingin mengambil gunting tersebut Rey telah lebih dulu bergerak. Gunting panjang tersebut berhasil diambil oleh Rey. Eric terperanjat, ia kalah cepat.

“Ayo Rey, bunuh aku . . . bunuh aku . . .!!!“ teriak Eric keras diiringi dengan suara petir yang menggelegar. Rey menggenggam gunting tersebut dengan kuat. Ujungnya yang lancip berkilat telah siap ia hujamkan ke tubuhnya. Namun ia tidak melakukannya. Ia masih menahan diri agar jangan sampai melakukan perbuatan yang bodoh yang justru hanya akan merugikan dirinya sendiri.

“Kau tau Rey, aku cemburu . . .  aku cemburu melihat kau bersama Mitha. Mana kebersamaan kita yang dulu!! Tadi aku telah memutuskan Chaca, sekarang giliranmu memutuskan Mitha!!“ Rey tak bergeming sedikitpun.

“Apa kau tidak cinta lagi kepadaku, Rey?” tanya Eric berhasil melemahkan genggaman gunting di tangan Rey.

“Itu bukan alasan ‘Ric. Apa kau tidak memikirkan perasaanku saat aku melihat kau bersama Chaca? Kau tidak tau ‘kan pada saat itu aku juga cemburu. Tapi aku diam saja. Aku pacaran dengan Mitha juga atas nasehatmu. Tapi kenapa kau memberi nasehat seperti itu sementara kau sendiri tidak suka!! Aku mau berubah . . . berubah ‘Ric!!! Aku tidak akan memutuskan Mitha!!!“ teriaknya. Eric tertawa mengejek.

“Tapi kau akan tetap menjadi seperti ini. Itu takdir Rey. Kau harus menerimanya.“

“Tidak!! Kau salah!!!!“ bentak Rey.

“Kau tidak mencintainya ‘kan  Rey?!! Tidak sepantasnya Mitha mendapatkan lelaki yang TIDAK NORMAL sepertimu!!!“

Rey tidak dapat lagi menahan diri setelah mendengar kata ‘tidak normal’ meluncur dari mulut Eric. Perkataan tersebut benar – benar menjatuhkan harga dirinya. Tidak dapat ditoleransi lagi. Dengan membabibuta ia menghujamkan gunting tajam itu ke perut Eric. Darah mengucur dengan derasnya.

“Ini hadiah atas perbuatanmu terhadap Mitha!!!“ ucap Rey dengan wajah yang  beringas. Eric roboh jatuh ke lantai sambil berteriak menahan sakit.

“Arrgghhh . . .!!! Kau benar – benar melakukannya,“ ucapnya dengan napas yang hanya tinggal di tenggorokan.

“Itu maumu ‘kan ‘Ric?“

“Aku memang pantas menerima ini. Tapi kau ingat satu hal. Kau akan membusuk di penjara, argghhhh . . .!!!!“

Eric tewas mengenaskan. Darah segar mengalir dan menganak sungai di lantai. Rey terduduk lemas di lantai. Tampak guratan – guratan penyesalan di wajahnya.

Ia memandangi mayat Eric dengan tatapan mata yang kosong. Pikirannya kalut. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia ketakutan. Mayat Eric perlahan mulai membeku. Gunting tersebut masih tertancap di perutnya. Sementara matanya membelalak lebar menahan sakit saat ajal akan menjemputnya. Hujan di luar telah mereda. Udara yang lembab terasa dingin berhembus semilir. Suara petir yang menggelegar berganti dengan suara lolongan anjing yang saling bersahutan menyambut kedatangan jiwa baru yang terbang melayang menuju alam keabadian.

 

♥♥♥

Seminggu berlalu sejak peristiwa itu. Selama itu, Mitha tidak pernah lagi menjumpai Rey baik di sekolah maupun di kosnya. Ketika ia datang ke kos, kosnya tersebut terkunci dengan rapat. Tidak tampak tanda – tanda kehidupan dari dalam sana. Siang itu, Mitha pulang dengan perasaan kecewa. Handphone Rey pun tidak pernah aktif saat dihubungi. Hanya voice mail Rey saja yang terdengar menyapa. Berulangkali ia merekam pesannya agar Rey menghubunginya. Namun, Handphonenya tersebut tidak kunjung aktif.

Lagipula, mengapa Rey menghilang begitu saja secara tiba – tiba tanpa memberitahunya. “Benar – benar aneh,” pikirnya. Perasaan di dalam hatinya berkecamuk dengan hebat. Takut terjadi apa – apa dengan Rey.

Ia melangkahkan kakinya dengan malas masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga dilihatnya Ibunya sedang menonton berita dengan suara televisi yang keras sembari membuka – buka majalah. Ibunya tidak menghiraukan kedatangannya. Tampaknya karena terlalu asik membaca majalah ditambah lagi dengan suara televisi yang keras membuat langkah Mitha tidak terdengar. Tapi ia tahu bahwa yang masuk ke dalam rumah adalah Mitha. Lagipula, ego mereka berdua teramat besar hingga kebisuan yang telah berlangsung selama seminggu itu belum juga mereda. Keduanya benar – benar sibuk dengan urusan masing – masing.

Mitha menuju ke dapur untuk mengambil secangkir minuman. Udara siang yang terik membuat tenggorokannya begitu cepat mengering. Dengan santai ia membawa minumannya ke ruang keluarga. Ia duduk di kursi yang agak jauh dari televisi. Sebuah kursi sofa berwarna merah yang panjang dan empuk.

Siang itu televisi menyajikan berita – berita kriminal. Ia tidak terlalu tertarik. Perlahan ia mulai memejamkan matanya. Namun ia masih terjaga. Suara televisi yang berisik seperti nyanyian pengantar tidur baginya.

Rangkaian berita akhirnya sampai pada berita terakhir. Penyiar berita memberitakan tentang kasus pembunuhan yang terjadi di kota Pangkalpinang.

“Sesosok mayat pria ditemukan mengapung dan tersangkut di akar sebuah pohon bakau yang berada di aliran sungai jembatan Selindung. Mayat yang diduga tewas karena dibunuh ini bernama Eric Setyawan berumur 18 tahun diperkirakan telah tewas sekitar satu minggu yang lalu . . . “

Mendengar berita tersebut sontak Mitha beranjak dari tempat duduknya dan segera mendekat ke arah televisi. Wajar ia tertarik karena kota Pangkalpinang sangat jarang disorot dalam berita – berita nasional.

“Mayat yang telah membengkak dan mulai membusuk tersebut sangat sulit untuk dikenali wajahnya. Beruntung KTP yang berada di dalam dompetnya belum rusak sehingga polisi dengan sangat mudah mengidentifikasinya . . . “

Ia memperhatikan foto yang terpampang di televisi tersebut. Ia terkejut. Matanya membelalak seketika.

“Itu ‘kan Eric?“ ucapnya menutup mulutnya.

“Ada apa Mit?“ tanya ibunya heran. Ia tak menjawab.

“Eric? Nggak . . . nggak mungkin. Tapi itu Eric temannya Rey. Penyiar berita juga bilang namanya Eric.”

Otaknya mulai berputar dan berpikir menerka – nerka mencoba menghubungkan raibnya Rey dengan kematian Eric walaupun sebenarnya ia masih ragu.

“Eric tewas secara misterius, sedangkan Rey menghilang tak tahu rimbanya. Apa ini ada hubungannya?“ batinnya dalam hati. Ibunya merasa sedikit kesal karena tak digubris oleh Mitha. Akhirnya ia pun mendekat ke televisi dan melihat foto yang terpampang di televisi tersebut. Ia memperhatikannya dengan seksama. Wajah tersebut sangat familiar di ingatannya. Seketika ingatannya terlintas saat ia berada dengan seorang laki – laki muda di hotel malam itu.

“Ya Tuhan . .  ini nggak mungkin, Eric?“ katanya pelan. Mitha menoleh heran ketika mendengar Ibunya berkata seperti itu.

“Mama kenal dengan dia?“ celetuk Mitha. Ibunya menggeleng dengan salah tingkah.

“Oh . . . siapa lagi yang kenal?“

“Siapa tau aja. Mudah – mudahan aja dia bukan salah satu dari laki – laki ABG yang Mama ajak tidur,“ sindir Mitha

“Mitha!!! MULUTMU!!!“ bentak Ibunya keras

“Udahlah Ma. Aku nggak ada waktu untuk berdebat dengan Mama sekarang.“

“Mayat tersebut sekarang sedang divisum di Rumah Sakit Umum Kota Pangkalpinang untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut tentang penyebab kematiannya . . .“

Mitha menarik napas. Wajahnya terlihat syok sekali.

“Apakah ini ada hubungannya dengan Rey?“ pikirnya.

Nggak . .  aku nggak boleh berpikiran seperti itu. Nggak mungkin Rey yang melakukannya. Tapi peristiwa di kafé itu?“ pikirnya lagi.

“Tapi . . . apakah itu Eric temannya Rey? Aku yakin itu adalah Eric. Wajahnya sangat kukenal,“ pikirnya ragu.

“Lebih baik aku ke rumah sakit untuk memastikannya.“

Secepat Kilat ia beranjak keluar dan menuju Rumah Sakit Umum. Sementara itu, Ibunya masih tertegun memikirkan apakah lelaki itu adalah lelaki yang pernah bersamanya di hotel malam itu. Ia tidak yakin. Namun, ia bernama Eric dan wajahnya yang tampan tersebut sangat mudah diingat olehnya.

“Mudah – mudahan itu bukan dia,“  batinnya dalam hati. Ia berusaha untuk berpikir positif dan tidak ambil pusing.

Lima belas menit kemudian Mitha telah sampai di Rumah Sakit Umum. Ia menyusuri koridor rumah sakit dengan ditemani oleh dua orang Suster menuju kamar mayat rumah sakit. Ia ingin menuntaskan rasa keragu – raguannya dengan melihat langsung mayat tersebut. Sesampainya di dalam, perasaan horor mulai menyelingkupinya. Bulu kuduknya tiba – tiba saja berdiri melihat mayat – mayat terbaring di atas ranjang tertutupi dengan selimut berwarna putih bersih. Salah seorang Suster mengajaknya masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya terdapat beberapa lemari loker pendingin mayat. Suster tersebut membuka salah satu loker dan menarik keluar kantong mayat berwarna hitam gelap. Perlahan ia membuka resleting kantong mayat tersebut. Mitha cepat – cepat memalingkan wajahnya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang.

“Lihatlah Mbak. Apa ini temen anda?“

Ia menguatkan hatinya. Perlahan – lahan ia menoleh dan melihat mayat tersebut.

“E…Eric ?“ ucapnya dengan bibir bergetar. Tenggorokannya tercekat melihat kondisi mayat yang sudah membengkak dan hampir setengah busuk tersebut. Benar – benar sebuah pemandangan yang mengerikan untuknya. Tiba – tiba saja perutnya terasa mual disertai dengan pusing kepala.

“Apa benar dia teman anda,“ tanya Suster sambil menutup kembali resleting kantong mayat tersebut. Mitha tak menjawab dan segera berlari keluar dari kamar mayat dengan menutup mulutnya. Perutnya terasa sangat mual sekali. Ia menutup mulut mencoba menahan agar isi perutnya tidak keluar. Ia berhasil. Tapi kepalanya bertambah pusing saja.

Dari ujung koridor ia melihat dua orang anggota Kepolisian tengah berjalan menuju kamar mayat. Melihat kehadiran dua PoIisi tersebut ia langsung buru – buru beranjak pergi meninggalkan kamar mayat tersebut, namun langkahnya segera dicegah oleh salah seorang anggota Polisi tersebut.

“Mbak! Tunggu . . .  tunggu sebentar.”

Langkahnya tertahan.

“Apa Mbak ini keluarga dari jenazah yang ada di dalam?“ tanya Polisi tersebut.  Ia gugup harus menjawab apa, karena ia sendiri tidak yakin. Ia hanya sekali bertemu dengan Eric. Selebihnya tidak. Tapi wajah dan namanya benar – benar mirip dengan Eric yang ia temui di kafé waktu itu bersama Rey.

“Mbak ini ngaku kalo jenazah di dalam itu temannya,“ ucap salah seorang suster tiba – tiba. Ia buru – buru menjawab.

“Tapi saya tidak yakin.”

“Maksud Mbak?”

Mitha tidak menjawab pertanyaan tersebut dan malah balik bertanya.

“Apakah tidak ada keluarganya yang datang melihat?“

“Kami memang kesulitan menghubungi keluarga korban. Yang kami tahu, korban tinggal bersama Pamannya. Tapi Pamannya sekarang sedang berada diluar kota dan sangat sulit untuk dihubungi.”

“Bisa nggak kalo Mbak ikut kami ke kantor. Kami menemukan beberapa barang di dompetnya yang mungkin saja Mbak kenal.“ lanjut salah seorang anggota Polisi yang diketahui Mitha bernama Andy Kurniawan dari papan nama yang terjahit dibaju seragamnya.

“Baiklah Pak.“

Ia berserta dua orang anggota Polisi tersebut langsung menuju ke kantor Polisi. Sesampainya di sana, ia ditunjukkkan dengan beberapa barang.

“Ini KTPnya,“ sodor anggota Penyidik Kepolisian kepadanya. Ia  memperhatikan dengan seksama foto tersebut.

“Foto ini mirip, tapi saya masih belum yakin. Apa ada foto yang lainnya?“ ucapnya dengan nada ragu. Lalu anggota Penyidik tersebut mengambil sebuah foto bewarna ukuran wallet. Tapi foto tersebut dalam keadaan setengah rusak. Ia mengambil foto tersebut dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat foto tersebut adalah foto Eric bersama dengan Rey.

“Sayang, kondisi fotonya setengah rusak. Mungkin saja orang yang di sebelahnya itu adalah Eric. Hanya gambar temannya saja yang masih tampak bagus. Apakah Mbak kenal dengan gambar ini?“

Mitha tak dapat berkata apa – apa lagi. Ia sekarang yakin bahwa mayat itu adalah mayat Eric.

“Dia pacar saya Pak,“ ucapnya berat dengan mata yang berkaca – kaca.

“Jadi?“

“Ya, itu memang mayat Eric. Temen pacar saya.“

“Sekarang pacar Mbak ini di mana. Kami ingin meminta beberapa keterangan darinya.“

Jantungnya berdegup dengan keras. Tidak salah lagi, Rey ada hubungannya dengan kematian Eric. Dengan berat hati ia mengatakannya.

“Saya sudah tidak pernah bertemu dengannya selama seminggu ini Pak. Dia menghilang bagaikan ditelan bumi.“ Air mata mulai meleleh di pipinya. Anggota Penyidik tersebut mengerutkan dahi. Ia merasa mulai menemukan titik terang.

“Siapa nama pacar Mbak itu?“

“Rey . Lengkapnya Andrey Wiguna,“ ucapnya sambil menyeka air matanya.

“Bisa tunjukkan di mana rumahnya?“

“Dia ngekos Pak di daerah Selindung.“

“Wah, tidak jauh dari lokasi mayat ditemukan. Oke, sekarang kita ke sana.“

Mereka kemudian meluncur ke kos Rey dengan Mitha sebagai penunjuk jalan. Kali ini Polisi datang lengkap dengan satuan anjing pelacak. Sesampai di sana, pintu kos Rey yang terkunci rapat langsung didobrak dengan paksa. Tim Penyidik Kepolisian mulai memasuki kos. Mitha turut serta dari belakang. Beberapa orang wartawan media cetak lokal dan wartawan TV nasional juga ikut masuk ke dalam untuk meliput. Kehadiran Polisi dan wartawan sontak menarik perhatian warga sekitar. Mereka berkerumun di sekitar kos, tapi mereka tidak bisa mendekat ke kos karena telah dipasangi Police Line.

Noda darah yang berhamburan di lantai menyambut kedatangan para Tim Penyidik Kepolisian. Darah tersebut sudah tampak mengering. Sebuah gunting panjang berlumuran darah tergeletak di lantai. Mitha tak kuasa melihat itu semua. Ia memalingkan pandangannya dan memutuskan untuk keluar dari tempat itu. Tapi tiba – tiba saja ada seorang wartawan menghampirinya dan mewawancarainya.

“Kami dengar, Mbak ini pacar dari pemilik kos ini? Apakah itu benar?”

Mitha jadi sedikit kikuk karena diwawancarai secara tiba – tiba. Ia tidak siap.

“He-eh . . . Ya,” jawabnya gugup.

“Apakah Mbak mengetahui sebenarnya ada masalah apa antara pacar Mbak dengan si korban?”

“Maaf, saya belum bisa jawab sekarang.”

Mitha lalu menghambur keluar menghindari wartawan tersebut. Namun langkahnya segera ditahan oleh salah seorang anggota Penyidik Kepolisian.

“Bisa ikut saya untuk memberi beberapa keterangan lainnya?”

Mitha mengangguk lalu ia dibimbing masuk ke dalam mobil. Ia merasa tenang bila memberikan keterangan kepada polisi. Daripada kepada wartawan yang terkadang hanya bisa melebih – lebihkan untuk menaikkan oplah penjualan koran mereka.

“Apa sebelumnya pacar anda ini pernah cekcok dengan korban?“

“Pernah. Tapi itu soal sepele dan tampaknya sudah diselesaikan olehnya.“

“Apa masalah tersebut ada hubungannya dengan anda?“

Mitha menjawab dengan gugup.

“Re . . . Rey tidak suka kalo Eric menatap saya terlalu lekat. Pada saat itu mereka sempat berkelahi. Tapi tampaknya masalah tersebut sudah selesai dan menurut saya ini bukan masalah yang besar karena mereka berdua adalah teman dekat. Rey pun tidak pernah membahasnya, jadi saya kira sudah diselesaikannya,“ jelasnya. Anggota Penyidik tersebut mencatat poin – poin penting dari keterangan yang dilontarkan Mitha.

“Apakah ada saksi, Pak?” tanya Mitha tiba – tiba.

“Kami telah meminta keterangan dari beberapa warga. Namun sayangnya, mereka  tidak ada tahu tentang kejadian ini.”

“Walaupun tidak ada saksi mata, toh bukti – bukti yang ada sudah cukup jelas. Sekarang kuncinya ada di Rey. Kita tunggu saja sampai dia ditemukan,” lanjut Penyidik tersebut.

Merasa telah cukup dengan keterangan yang diperolehnya, anggota Penyidik Kepolisian tersebut keluar dari mobil dan meninggalkan Mitha sendirian. Di dalam mobil, Mitha tak henti – hentinya menangis. Rey yang begitu ia kagumi dan ia cintai tega berbuat sekejam itu.

“Ada apa denganmu Rey? Kenapa kau membunuh Eric? Apa salahnya terhadapmu? Bukankah kalian teman dekat?”

Mobil perlahan melaju meninggalkan pelataran kos. Ia melihat kedaaan di luar dari kaca mobil yang buram dengan tatapan kosong. Cobaan apa lagi yang harus ia terima. Kelakuan Ibunya yang liar, perkosaan yang terjadi padanya dan kini Rey – orang satu – satunya yang ia andalkan untuk menumpahkan segala kesedihan sekarang menjadi tersangka kasus pembunuhan.

“Apa lagi ini Tuhan?“

 

♥♥♥

Berita tentang kematian Eric menyebar dengan cepat dan menjadi perbincangan yang hangat di kalangan masyarakat. Spekulasi yang berkembang di masyarakat tentang penyebab mengapa Eric tewas dibunuh pun beragam. Mulai dari masalah sepele antar teman hingga isu cinta segitiga.

Foto Rey pun terpampang di koran – koran lokal sebagai orang yang paling di cari dan tersangka tunggal atas kematian Eric. SMA Negeri 3 tempat di mana Rey bersekolah tiba – tiba menjadi pusat perhatian. Tanpa banyak basa – basi lagi pihak sekolah langsung mengeluarkan Rey dengan tidak hormat. Mitha yang juga bersekolah di sana pun sudah dua hari tidak menunjukkan batang hidungnya. Semua warga SMA Negeri 3 tahu bahwa ia adalah pacar Rey. Ia hanya ingin mencoba menenangkan diri sejenak.

Pagi itu koran dengan headline berita mengenai kematian Eric tergeletak di depan teras dalam kondisi terlipat dua. Seorang anak kecil pengantar koran itu berlalu dari depan rumah mewah tersebut dengan mengendarai sepeda. Seorang wanita membuka pintu dan mengambil koran tersebut. Ia membacanya dengan santai di ruang tengah sambil menikmati secangkir teh hangat. Matanya sangat tertarik dengan tulisan headline utama koran yang dicetak besar dengan huruf kapital berwarna merah.

“ERIC DI DUGA TEWAS DI BUNUH OLEH TEMANNYA SENDIRI“

Ia mulai membacanya dengan serius. Tiba – tiba matanya berhenti membaca setelah ia melihat inset foto Rey terpampang di dalam kolom kecil di samping artikel berdampingan dengan foto jenazah Eric.

“Rey? Ini Andrey ‘kan? kok bisa . . . ?“ katanya terkejut.

Ia membaca artikel tersebut hingga tuntas.

“Ya Tuhan, kok bisa Rey berbuat seperti itu?“ gumamnya pelan. Seketika senyuman licik mengembang dari sudut bibirnya yang tipis.

“Hady Wiguna. Kau harus tau berita ini.“

Dengan langkah yang tergesa – gesa ia membawa koran tersebut ke dalam kamar. Ia membangunkan Hady yang terlelap tidur dengan kasar.

“Hey . .  bangun . . . bangun . . . !!“ goyangnya kasar. Matanya mulai terbuka perlahan. Ia marah tapi tidak dapat berucap.

“Kenapa?! Marah?!,“ sembur wanita tersebut dengan mata melotot. Hady hanya bisa balas melotot. Ia ingin berbicara, tapi mulutnya kaku karena stroke yang ia alami seminggu yang lalu.

“Pagi ini aku akan memberikanmu suatu kejutan besar. Lihat . . kau lihat ini!!“ ucapnya sambil menunjukkan koran bergambar wajah Rey. Ia terkejut melihat foto anaknya terpampang di koran tersebut. Ia membaca headline di atas foto tersebut dengan mata berkaca – kaca.

“Aha . . . !!! Tak kusangka anakmu tercinta ini bisa melakukan perbuatan seperti itu.“

Air mata mulai meleleh di pipinya. Melihat itu wanita tersebut tertawa lebar – lebar.

“Keluargamu telah bobrok. Winda jadi orang gila. KAMU!!! Hady!! terkena stroke dan sekarang Rey jadi buronan. Aku tau surat wasiatmu sekarang atas nama Rey. Tapi kau liat sendiri keadaan Rey sekarang. Jadi, orang yang pantas mengambil alih surat wasiatmu itu adalah tidak lain dan tidak bukan AKU!!“

Hady terlihat makin menggeram. Matanya membelalak penuh amarah.

“Ya sudah. Sekarang aku akan menghubungi pengacaramu untuk mengubah isi surat wasiat itu.“

Braakk!!!, pintu kamar di banting dengan keras. Hady hanya bisa menangis. Ia tidak dapat berbuat apa – apa untuk mencegah istri mudanya agar tidak menemui pengacaranya dan mengubah isi surat wasiat itu. Ia hanya sendirian di rumah yang besar itu. Tidak ada yang bisa membela dan membantunya.

“Halo, Pak Gunawan. Selamat pagi. Saya Melinda istrinya Pak Hady. Saya harap besok Bapak datang ke rumah. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan. Terima kasih.” Ia meletakkan gagang telepon sambil mengembangkan sebuah senyuman kemenangan.

“Sebentar lagi, harta dan rumah ini akan menjadi milikku. Setelah surat wasiat itu atas namaku, si Hady tua bangka itu akan kubuat mampus untuk selama – lamanya.“

Ting tong!!

Bel pintu tiba – tiba berbunyi memanggil si penghuni rumah agar segera membukanya dan menyambut siapakah tamu yang datang dari balik pintu. Melinda segera menghampiri dan membuka pintu tersebut. Ia terkejut setelah tahu bahwa yang datang bertamu adalah dua orang anggota Penyidik Kepolisian.

“Maaf Bu, kami dari Kepolisian Resort Kota Pangkalpinang,” kata salah seorang anggota Polisi menunjukkan identitasnya.

“Ada keperluan apa?” tanya Melinda agak gugup.

“Kami datang ke sini untuk meminta keterangan dari Ibu seputar kasus yang menimpa anak Ibu,” jawab Polisi tersebut sembari mengamati penampilan Melinda dari atas hingga bawah. Ia merasa sedikit heran bercampur surprise, “Apakah benar wanita muda ini Ibunya Rey? Terlihat sebaya dengan anaknya?” batin Polisi tersebut sambil terus menelusuri tubuh Melinda yang sintal, padat dan kencang seperti gadis remaja itu dengan kedua matanya.  Melinda agak risih diperhatikan seperti itu.

“Ya . . . silahkan masuk.”

Melinda mempersilahkan duduk dua orang anggota Kepolisian tersebut. Ia agak cemas. Entah pertanyaan yang seperti apa yang akan dilontarkan oleh Polisi – polisi tersebut kepadanya.

“Baik, kita mulai saja. Apa Rey sering berkunjung ke rumah?”

“Tidak pernah. Semenjak dia ngekos, dia sudah tidak pernah lagi datang berkunjung ke rumah. Bahkan disaat Ayahnya terbaring sakit terkena stroke seperti sekarang ini, dia tidak mengetahuinya,” jelas Melinda dengan penuh percaya diri. Polisi yang melontarkan pertanyaan tersebut mengerutkan dahinya tanda heran.

“Bukannya Rey masih ngekos di kota ini? Masa dia tidak mengetahui kalo Ayahnya sakit? Apa Ibu memang sengaja tidak memberi taunya?”

Melinda menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan tersebut. Ia sedikit menyesal telah melontarkan jawaban tadi.

“Sebenarnya . . . Rey itu anaknya keras kepala dan pembangkang. Dia ngekos dan memilih keluar dari rumah ini karena dia tidak suka dengan saya.”

“Maksudnya?” tanya Polisi tersebut ingin tahu.

“Dia tidak suka karena saya istri muda Ayahnya.”

Polisi tersebut mengangguk paham. “Pantas dia terlihat lebih muda,” batinnya. Ia meneruskan pertanyaannya.

“Kapan terakhir Ibu berhubungan dengan Rey?”

“Terakhir saya berhubungan dengannya ya . . . pada saat dia meminta ijin kepada Ayahnya untuk keluar dari rumah ini dan memilih tinggal di kos.”

Dua anggota Kepolisian tersebut saling pandang tanda keterangan yang didapat sudah cukup.

“Baiklah, terima kasih atas keterangannya. Kalau Ibu melihat Rey ada di sekitar sini atau mempunyai sedikit informasi tentang keberadaannya mohon Ibu hubungi kami. Kami permisi dulu.”

Polisi – polisi tersebut telah berlalu dari hadapannya. Selang beberapa menit kemudian, Melinda kembali menerima tamu yang kali ini adalah wartawan media cetak lokal kemudian dilanjutkan dengan wartawan salah satu stasiun televisi nasional. Hari itu, Melinda mendadak menjadi selebritis. Ia melayani kedatangan wartawan – wartawan tersebut hingga hari beranjak siang.

 

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: