Rey – Bab VI

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

 

 

BAB  VI

DIA YANG MELAKUKANNYA

9 p.m.

Udara malam yang dingin berhembus secara perlahan. Dinginnya menusuk hingga ke tulang. Di ruangan tengah, Mitha tampak asik mengobrol dengan Rey ditemani dengan secangkir teh hangat. Sementara dari luar tampak sepasang mata sadis dan bringas masih terus mengawasi dari kejauhan.

“Aku pulang dulu ya Rey. Udah jam 9 nih,“ ucap Mitha setelah melihat jam tangannya.

“Biar kuantar ya?“ tawar Rey. Kemudian ia mengambil kunci motornya dan segera menghidupkan motornya yang terpakir di halaman. Namun tiba – tiba, entah kenapa motor tersebut tidak mau menyala.

“Kenapa Rey?“ tanya Mitha.

Nggak tau nih, tiba – tiba aja nggak mau nyala,“ jawab Rey sambil terus mengengkol pedal motornya.

“Padahal sebelumnya nggak gini lho ‘Tha. Mungkin karena emang umurnya dah tua, trus aku jarang lagi perawatan ke bengkel,“ celoteh Rey sembari memeriksa bagian mesin motornya.

“Ya udah, nggak usah dipaksain. Aku pulang naik taksi aja.“

“Tapi taksi jarang lho lewat daerah sini.“

Nggak apa – apa kok. Udah ya aku pulang dulu. Oya, jangan lupa besok tu motor dibawa ke bengkel?“ ujar Mitha menepuk – nepuk pundak Rey. Rey berdiri dan mengecup keningnya dengan hangat.

“Kamu hati – hati ya. Sorry banget nggak bisa nganterin kamu.“

Thank ya Rey atas semuanya.“

Mitha melangkah meninggalkan pelataran kos Rey dan mulai berjalan menyusuri gang – gang sempit dengan santai. Jalanan di gang tersebut tampak telah sepi walaupun masih ada satu sampai dua orang warga yang duduk – duduk di beranda rumah. Mitha merapatkan kedua tangannya di dada untuk mengusir hawa dingin yang menyergap ke seluruh tubuhnya. Matanya celingukan ke sana kemari melihat deretan – deretan rumah – rumah warga yang berjajar rapi.

Setelah melewati jalanan gang yang lurus kemudian ia berbelok ke kiri menuju jalanan gang yang kanan dan kirinya dihiasi oleh semak belukar yang tinggi – tinggi dengan dominan rumput ilalang. Tidak terlihat lagi deretan rumah – rumah warga. Tiba – tiba rasa takut menyergapnya. Dari belakangnya terdengar suara langkah kaki seseorang yang mencurigakan. Ia menoleh ke belakang. Sekelebat bayangan hitam menghindar dari pandangan dan menyusup ke balik semak – semak ilalang yang tinggi.

“Siapa!!!“ teriak Mitha mendekati semak – semak tersebut secara perlahan. Wajahnya seketika berubah menjadi pucat. Tanpa diduga, sesosok bayangan hitam tersebut keluar dari semak – semak dan langsung membekap mulutnya dengan kuat. Ia mencoba berontak. Namun apalah daya, tenaganya tidak cukup kuat untuk menahan laki – laki yang berpakaian serba hitam – hitam tersebut. Ia pun tidak dapat berteriak karena mulutnya di bekap dengan rapat sekali.

Perlahan – lahan ia pun jatuh lemas tak sadarkan diri. Ternyata obat bius yang dibekapkan ke mulut dan hidungnya itu telah bereaksi. Laki – laki itu dengan sigap mengangkat tubuhnya yang lemas tak berdaya itu ke sebuah rumah kosong yang terletak tidak jauh dari semak – semak tersebut. Laki – laki itu membaringkan tubuhnya di lantai. Dengan tergesa – gesa ia melucuti satu per satu pakaiannya sendiri. Setelah itu berganti melucuti satu per satu pakaian Mitha hingga Mitha bertelanjang bulat.

“Maafkan aku sayang. Aku tidak bisa melawan rasa keingintahuanku terhadapmu. Sejak pertemuan itu, aku selalu terbayang kepadamu. Lekuk – lekuk tubuh indahmu selalu berhasil membuat jiwa ragaku bergelora. Lagipula, salahkan dia!!! Dia yang memaksaku untuk berbuat seperti ini kepadamu!!“

Secara perlahan ia mulai menindih tubuh Mitha dan memperkosanya dengan bringas. Ia menyentakkan tubuhnya berkali – kali hingga lendir – lendir kenikmatan itu tersembur keluar dengan derasnya. Ia tak memedulikan keringat yang membasahi tubuhnya. Tidak pula memedulikan dosa besar yang telah diperbuatnya. Yang ia pedulikan hanyalah dapat  menggauli tubuh Mitha sepuas – puasnya.

Kenikmatannya terganggu, tiba – tiba dari jalanan terdengar suara motor melewati gang. Ia menghentikan perbuatannya. Ia mengintip dari balik dinding rumah yang berlubang melihat motor siapakah yang berhenti di jalanan tersebut. Matanya memicing, memokuskan penglihatannya siapakah laki – laki yang mengendarai motor tersebut.

Seketika bibirnya tersenyum mengejek ketika tahu siapa laki – laki tersebut. Ia lalu menoleh ke arah Mitha yang terbaring lemah tak berdaya di lantai dengan keadaan yang acak – acakan. Ia berdiri di sebelahnya dan bergumam pelan.

“Dewa penyelamatmu tidak tahu kau ada di sini. Cck . . . cck . . . Sayang sekali. “

Ia tidak berlama – lama memandangi Mitha. Dengan cekatan ia mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan dengan cepat dikenakannya. Ia kembali mengintip dari lubang dinding rumah tersebut apakah laki – laki pengendara motor tersebut masih ada di sana atau tidak. Setelah ia yakin pengendara motor itu telah pergi, ia pun bergegas keluar dari rumah kosong tersebut dan meninggalkan Mitha begitu saja.

 

♥♥♥

10 a.m

“Tante harap kamu mau lagi ketemuan kalo Tante butuh,“ ucap Tante Mariska genit sambil meraba – raba dada Dika yang bidang. Dika menyeringai dengan jantan.

“Oke Tante. Selama Tante bayar aku dengan bayaran yang memuaskan, aku akan setia untuk nemenin Tante,“ jawab Dika seraya beranjak dari tempat tidur. Ia mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai dan segera mengenakannya satu persatu. Tante Mariska melihatnya dengan terpesona. “Dika yang hitam manis, sungguh menggoda,” pikirnya nakal.

“Aku pulang dulu ya Tante?“

“Iya sayang, hati – hati di jalan.“

Dika segera keluar dari kamar dan berjalan menuju ke pintu depan. Bersamaan dengan itu, Mitha yang pulang dalam keadaan acak – acakan telah berdiri di depan pintu sambil menangis. Ia ragu untuk masuk ke dalam rumah. Ragu dan takut kalau sampai ia menceritakan kejadian yang sebenarnya ke Ibunya dan Ibunya akan marah besar. Puncaknya, mungkin ia akan diusir dari rumah dan tidak dianggap lagi sebagai anak.

Tapi itu adalah sebuah resiko yang harus ia terima. Syukur – syukur kalau Ibunya mengerti keadaan dirinya. Kalau tidak? Ia menarik napas dalam – dalam lalu menyeka air mata yang meleleh di pipinya hingga tidak tampak lagi sisa – sisanya. Hanya mata yang bengkak dan sembab yang tertinggal.

Keberaniannya telah berkumpul. Ia memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut. Tapi alangkah terkejutnya ia ketika melihat ada seorang cowok berdiri di hadapannya seolah – olah menyambut kedatangannya.

“Dika?! Ngapain kamu di sini,“ tanya Mitha heran. Melihat Mitha berdiri di hadapannya, Dika tidak dapat berkata apa – apa. Ia tidak menyangka bahwa ini adalah rumah Mitha dan wanita yang habis ia layani semalam adalah Ibunya.

“Mitha?!“ katanya terkejut.

Secepat kilat ia buru – buru pergi. Ia tidak ingin ditanyai yang macam – macam oleh Mitha. Sementara itu dengan perasaan emosi dan amarah yang meluap – luap, Mitha segera masuk menuju ke kamar Ibunya. Runtuhlah sudah ketakutan dan keraguan yang tadi sempat mendera dirinya. Yakinlah ia pada praduganya terhadap Ibunya kemarin malam. Ternyata dugaan itu benar adanya. “Inilah buktinya Rey, sudah kudapatkan buktinya.” Saat itu juga sejenak hilang dari benaknya peristiwa perkosaan yang dialaminya tadi malam. Tadi ia merasa dirinya hina, bahkan lebih hina dari seorang budak. Tapi kenyataannya ada yang lebih hina dari dirinya, bahkan lebih bejat dengan merendahkan harkat dan martabat dirinya sendiri. Siapa lagi orang itu kalau bukan Ibunya sendiri.

Ngapain ada cowok di sini Ma? Ngapain!!!“ bentaknya dengan berurai air mata. Dengan pakaian tidur yang belum rapi, Ibunya menghampiri Mitha yang berdiri di depan pintu kamar.

“Dari mana aja kamu?“ tanya Ibunya sinis.

“Mama nggak usah ngalihin pembicaraan!” kata Mitha tak kalah sinis sambil mengamati penampilan Ibunya yang seperti tergesa – gesa memakai pakaian tidur.

“Mama tanya, dari mana aja kamu semalam sampe nggak pulang?!“ tanya Ibunya lagi. Namun, Mitha tetap tak peduli dengan pertanyaan Ibunya. Ia malah terus melancarkan kata – kata yang semakin membuat Ibunya terpojok.

“Ternyata bener dugaanku selama ini, Mama tidur ‘kan dengan cowok itu?!” ucap Mitha dengan mata melotot. Ibunya terdiam. Kemudian terduduk dengan berurai air mata.

“Kamu tau ‘kan Mit.  Mama kesepian,“ ucapnya terisak. Mitha tampak tidak terima dengan alasan Ibunya.

“Itu bukan alasan Ma. Mama tu nggak nyadar, Mama belum bercerai dengan Papa. Mama masih istrinya Papa!” ucap Mitha dengan nada suara yang tinggi. Mendengarkan perkataan tersebut tiba – tiba Ibunya menjadi emosi.

“Apa Papamu peduli dengan Mama? Saat dia selingkuh dengan wanita lain dan ingin bercerai, apa dia peduli dengan perasaan Mama? Nggak ‘kan?!!“

“Tapi bukan dengan kayak gini ’kan Ma? Mama udah ngancurin masa depan Mama sendiri. Aku nggak habis pikir Mama bisa ngelakuin hal yang rendah kayak gini. Aku kecewa . . . aku kecewa Ma! Lebih hebatnya lagi, Mama udah tidur dengan temen sekolahku sendiri. Hebat . . . hebat, terusin aja ngelakuin hal kayak gini!!“ teriaknya. Ia lalu bergegas meninggalkan kamar Ibunya dan kembali mengunci diri di kamar. Air mata tak henti – hentinya mengalir dari pelupuk matanya. Dosa apakah yang telah diperbuatnya hingga kejadian yang memilukan terus saja menghampiri dirinya.

Perkosaan dan kelakuan bejat Ibunya. Itulah dua kemalangan nasib yang menimpa dirinya. Dunia seakan runtuh. Hatinyapun hancur berkeping – keping. Perasaan benci, pilu, kesal dan amarah menyatu menjadi satu, campur aduk tak karuan membentuk bilah – bilah sembilu yang membuat batinnya tersiksa, sakit dan perih.

Ingin rasanya ia menjerit, memaki dan berteriak untuk menumpahkan segala kesedihannya. Ingin rasanya ia memarahi Tuhan dan bertanya, “Apa salahku Tuhan?”. Ingin rasanya ia mengakhiri hidupnya dan pergi untuk selama – lamanya dari dunia yang fana ini. Namun, ia masih mencoba berpikir positif. Ia berusaha mengendalikan diri sepenuhnya jangan sampai kendali atas dirinya tersebut beralih ke tangan iblis yang justru akan menjerumuskannya.

“Rey,“ sapa Mitha.

“Iya, ‘Tha?“ jawab Rey dari ujung telepon.

“Kamu bisa ke rumah nggak pulang sekolah?“ tanyanya dengan suara yang serak dan parau.

“Bisa, emangnya kenapa ‘Tha? Oya kenapa kamu nggak masuk hari ini? Ada masalah apa lagi?“ tanya Rey khawatir.

“Pokoknya kamu dateng ke rumahku. Aku nggak tau lagi harus berbicara dengan siapa,“ ucapnya terisak. Rey semakin khawatir dengan keadaannya.

“Oke, sekarang tenangin diri kamu dan bilang sebenarnya ada apa.“

Mitha terdiam. Air mata terus meleleh di pipinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Rey bila mendengarkan pengakuannya.

“A . . . a . . . aku diperkosa Rey.“

Jelegaarrr!!!! Serasa petir menyambar di siang hari yang terik.

“APA!!? Siapa yang ngelakuinnya‘Tha?!!!“ ucap Rey terkejut.

“Aku nggak tau Rey. “

“Ya udah, aku ke rumah kamu sekarang. Aku harap kamu tenang ya. Jangan ngelakuin hal – hal yang nggak aku inginkan, Oke? Lima belas menit lagi aku sampai ke rumah kamu.”

Mitha membenamkan diri dalam kesedihan. Ia mencoba untuk bersikap tenang. Jangan sampai setan merasuki dirinya dan menggodanya untuk melakukan perbuatan yang membahayakan dirinya sendiri.

 

 

♥♥♥

 

 

Rey telah tiba di rumah Mitha. Ia disambut dengan sikap yang tidak ramah dari ibunya Mitha.

“Mau cari siapa?“

“Saya mau ketemu Mitha, Tante,“ jawab Rey.

“Maaf, Mitha nggak ada di rumah.“

“Tapi dia barusan telepon. Ini masalah serius Tante,“ desak Rey.

“Iya, tapi dia tidak ada di rumah sekarang!!“ ucapnya dengan nada suara yang tinggi. Rey tahu Ibunya Mitha berbohong. Ia ingin menerobos masuk, tapi ia tidak bisa melakukannya karena tampaknya Ibunya Mitha tidak menyukai akan kehadirannya. Tiba – tiba dari belakang terdengar suara Mitha.

“Masuk Rey?“

Mendengar suara tersebut Rey langsung menyelonong masuk.

“Kamu nggak apa – apa ‘kan ‘Tha?“ tanya Rey khawatir.

Nggak kok Rey. Mending kita ngobrolnya di kamar aja,“ ajaknya. Ibunya langsung bereaksi keras.

“Apa – apaan kamu ini Mit. Ngajak lelaki masuk kamar seenaknya!!“

“Mama nggak berhak ngomong kayak gitu ke aku. Liat sendiri kelakuan Mama. Mama juga seenaknya ‘kan bawa – bawa lelaki masuk kamar. Tapi otakku nggak ngeres kayak Mama. Aku masih punya harga diri. Rey bukan cowok brengsek,“ ucap Mitha sambil menyeret Rey menuju ke kamarnya. Rey memandang Ibunya Mitha dengan penuh Tanya.

Sesampai di kamar, Mitha tak dapat lagi membendung air matanya. Ia langsung memeluk Rey.

“Aku telah hancur, hancur Rey,“ katanya terisak.

“Benar – benar biadab orang yang telah melakukan ini terhadapmu,“ geram Rey.

“Aku rasa dia telah membuntutiku sejak aku beranjak pergi meninggalkan kosmu,“ ucap Mitha menyeka air matanya.

“Kau ingat wajahnya ‘Tha?“ tanya Rey ingin tahu. Mitha menggeleng.

“Aku tidak tau Rey. Yang aku tau, lelaki itu memakai penutup wajah. Waktu itu aku tidak sadar, mungkin aku dibius.“

“BIADAB!!! Apa kamu merasa punya musuh sebelumnya?“

Nggak ada Rey.“

Rey kembali memeluk Mitha dengan  erat. Ia merasa sangat bersalah sekali.

“Maafkan aku ‘Tha. Coba waktu itu aku mengantarkanmu sampai ke ujung gang, mungkin semua ini tidak akan terjadi,“ sesal Rey.

“Ini bukan salahmu Rey. Ini takdir yang harus aku terima.“

Rey beranjak menuju jendela. Entah mengapa pikirannya tertuju kepada Eric. Ia yakin Eric yang melakukannya. Ia ingat tatapan mata itu. Ya . . ., tatapan mata Eric kepada Mitha yang penuh nafsu saat pertemuan di Kafe waktu itu serta telpon konyol yang ia terima dari Eric, yang isinya ia ingin sekali menelusuri tubuh Mitha yag putih mulus.

“Tepat . . . tepat sekali! Tidak meleset!” pikirnya.

Namun Rey masih menyimpan praduganya tersebut. Tak ingin buru – buru memberi tahu Mitha. Toh, Mitha tidak akan percaya kalau Eric yang melakukannya. Apalagi kejadian di Kafe waktu itu membuat Rey menjadi tersangka, sedangkan Eric korbannya. Padahal waktu itu Rey justru membela kebenaran. Hanya saja Mitha yang tak menyadarinya. Mitha menganggap Rey telah bersalah karena memukul Eric dan terlalu overprotected kepada dirinya.

Biarlah dulu Mitha beranggapan, hanya orang yang tidak waraslah yang telah memmperkosanya, bukan Eric. Lagipula Rey belum mendapatkan bukti yang nyata yang bisa ia perlihatkan kepada Mitha, “Baru bukti yang klise.”

“Apa yang harus aku lakukan sekarang Rey?“ tanya Mitha lirih.

“Kita lapor Polisi.“

Nggak Rey. Aku nggak mau seluruh dunia tau kalo aku diperkosa. Terlebih lagi Mama dan teman – teman di sekolah,“ tolak Mitha.

Tiba – tiba pintu terbuka dengan lebar. Sedari lama Ibuya Mitha telah berdiri di balik pintu dan mendengarkan sayup – sayup perbincangan mereka berdua.

“Apa yang Mama harus tidak tahu dari kamu, Mit?” tanya Ibunya dingin. Mitha melemparkan pandangan ke arah Rey dengan wajah yang gugup. Rey memberikan gerakan isyarat agar ia mengaku saja. Tapi ia segera tertunduk. Pengakuannya tersebut tertahan di dalam batang tenggorokannya.

“Perkosaan??”

Mitha memandang wajah Ibunya seakan membenarkan pernyataannya. Praaakkk!!!! Segera saja tamparan keras mendarat di pipinya. Rey segera membela.

“Tante nggak seharusnya bersikap seperti itu!!”

“Diam!!! Ini semua gara – gara kamu!! Ke mana tanggungjawabmu sebagai pacarnya!! Tega kau membiarkan Mitha berjalan pulang sendirian di malam buta yang penuh dengan bahaya. Ditaruh di mana otakmu waktu itu!!!”

Rey mencoba menjelaskan, tapi selalu tak berhasil selesai.

“Aku curiga, jangan – jangan kau telah merencakan ini sebelumnya. Pemerkosa itu kamu ‘kan!!!”

Mitha berdiri lalu berteriak.

Stop Ma!!! Mama nggak berhak menuduh Rey berbuat hal yang tidak pernah ia lakukan!!”

“Kau masih mengelak? Buka matamu lebar – lebar Mitha!!”

Mitha memandang Rey. Wajah Rey terlihat shock sekali menerima tuduhan tersebut.

“Kau percaya padaku ‘kan ‘Tha?”

Mitha mulai meragukan ucapannya.

“Kau lihat sendiri ‘kan waktu itu? Motorku tidak bisa dinyalakan?”

Ibunya segera menyela.

“Itu hanya trik murahan.”

Rey masih berusaha menghancurkan dinding keraguan di hati Mitha dengan penjelasannya.

“Kamu tahu? Aku menyusulmu saat motorku berhasil dihidupkan. Aku mencarimu sampai ke ujung gang, tapi kau sudah tidak terlihat lagi. Kupikir kau sudah menemukan taksi waktu itu.”

Sedikit demi sedikit keraguan di hati Mitha pun retak dan akhirnya runtuh. “Rey tidak mungkin melakukannya. Kalaupun ia mau melakukannya, kenapa tidak dari dulu saat aku menginap di kosnya,” pikirnya.

“Aku percaya padamu, Rey.”

Rey menarik napas dalam – dalam, lega Mitha telah percaya kepadanya. Tapi tidak dengan Ibunya.

“Kau lebih percaya kepada dia ketimbang dengan Mama, Mit?”

“Kepercayaanku hilang semenjak Mama mengarang – ngarang cerita tentang klien Mama, punya vila di bukit Girimaya, karena kemaleman terus Mama nginep di sana. Omong kosong!!!. Pada kenyataannya, Mama tidur dengan laki – laki muda sesuka hati Mama.”

Rey mengerti sekarang apa yang diucapkan Mitha ketika menyeretnya naik ke kamar tadi.

“Aku telah menemukan buktinya, Rey. Pagi ini. Ya . . . pagi ini aku memergoki Dika, temen sekelasku sendiri keluar dari rumah ini. Sementara Mama berpenampilan konyol dengan pakaian tidur yang belum rapi.”

Ibunya merasa malu sekali karena telah ditelanjangi habis – habisan oleh Mitha di depan Rey. Rey memandang Ibunya Mitha dengan tatapan merendahkan.

“Kenapa!!”

“Aku kasihan kepada Tante. Ternyata Ibuku masih lebih baik walaupun ia gila dan harus tinggal di rumah sakit jiwa.”

Ibunya Mitha mendengus kesal. Kesal dan semakin bertambah kesal karena ia dibanding – bandingkan dengan orang gila. “Apa hubungannya?” batinnya.

“Persetan dengan Ibumu!!!”

Rey melotot ingin membalas umpatan tersebut. Tapi ia tidak jadi mengumpat karena masih menghargai ia sebagai Ibunya Mitha.

“Lebih baik sekarang kita jalani hidup kita masing – masing. Urusin aja hidup kamu sendiri. Mama nggak mau ambil pusing lagi.”

Braakkk!!! Pintu dibanting dengan keras. Ibunya beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.

“Itu memang lebih baik.”

Mitha beranjak dari tempat duduknya dan membuka jendela kamarnya lebar – lebar. Ia mencoba menghirup udara yang bertiup semilir itu dalam – dalam untuk melegakan perasaan hatinya.

Awan di luar mendung. Tampak awan hitam meggelayut tipis melayang – layang terbawa angin semilir. Kebahagiaannya seakan menjauh dari kehidupannya, tergusur oleh mimpi buruk dan takdir dari sang pencipta yang kita sebagai manusia tidak mampu untuk menolaknya.

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: