Rey – Bab V

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

BAB V

EUPHORIA DUNIA

Diskotik Grand Millenium terlihat gegap gempita malam itu. Lampu – lampunya yang bewarna – warni menyorot tiada henti mengikuti hentakan lagu disko yang dimainkan oleh Disk jockey berpengalaman. Orang – orang dari berbagai kalangan berkumpul menjadi satu, bergoyang dengan ceria mengikuti hentakan lagu. Sementara di sudut lain, tampak om – om senang sedang memberi saweran kepada wanita – wanita yang tengah asik ber – streaptease ria di depannya.

“Ayo sayang, buka lagi yang lebar! Nanti om tambah sawerannya!!!“ teriak salah seorang om senang. Di sebuah kursi yang tidak jauh dari meja bar tempat penari streaptease beraksi, Eric duduk seorang diri. Sesekali ia melihat jam yang ada di tangannya. Matanya celingukan ke sana – kemari melihat apakah seseorang yang sedang ia tunggu sudah datang atau belum.

Tampak dari kejauhan seorang pemuda berbadan kurus melambaikan tangannya ke arah Eric.

“Eric!!!“ teriaknya.

“Hey Don!!“ sahut Eric.

Pemuda itu segera menghampiri Eric dan duduk di sebelahnya.

“Ke mana aja lo? Lama amat?“ tanya Eric.

Sorry, tadi ada orang mesen barang dagangan gue. Jadi gue ke sana dulu,“ jelas Doni.

Lo mo minum apa?“ tanya Eric.

Nggak makasih, gue cuman sebentar kok.“

“Oya, ada apa lo ngajak gue janjian ketemu di sini?“ tanya Eric lagi.

“Ada job nih untuk lo malam ini,“ jawab Doni. Eric langsung berdiri dan segera lekas ingin pergi meninggalkan tempat tersebut.

Sorry bro, gue udah nggak mau lagi ngelakuin pekerjaan kotor kayak gitu,“ tolak Eric.

“Eit . . . tunggu dulu. Lo nggak tau sih yang mesen lo siapa?“

“Maksud lo?“ tanya Eric penasaran.

“Tante Mariska! Pemilik Salon and Spa yang megah di pinggir jalan ke bandara itu lho?“ jawab Doni dengan mata berbinar. Eric terdiam sejenak. Di otaknya menari – nari gambar tumpukan uang. Cukup lama ia berpikir hingga akhirnya ia menerima tawaran tersebut.

“Oke, gue setuju. By the way tempatnya di mana?“ tanya Eric.

“Hotel Griya Indah. Sekarang aja lo ke sana. Tante Mariska udah nunggu tuh!  Nomor kamarnya 98.“

Eric mengangguk, lalu ia menengguk martini yang tinggal sedikit di dalam gelasnya.

“Makasih bro atas jobnya.“

“Nyantai aja lagi. Oke, gue cabut dulu ya. Met bersenang – senang,“ pamit Doni sambil menepuk bahu Eric. Doni telah berlalu dari hadapannya. Ia pun tidak berlama – lama di diskotik itu. Dengan kencang ia melajukan motornya menuju ke Hotel Griya Indah. Sesampainya di sana ia langsung menuju ke kamar 98 yang terletak di lantai 3. Ia mengetuk pintu dengan pelan. Dari dalam terdengar suara wanita memanggil dengan lembut menggoda.

“Masuk.“

Eric segera mendorong pintunya. Dari sana terlihatlah sosok Tante Mariska yang sensual dengan mengenakan pakaian yang serba terbuka. Eric menahan nafas. Ia menelan ludah berkali – kali. Jakunnya terlihat naik turun. Perlahan ia mendekatinya yang telah terbaring pasrah di ranjang hotel yang empuk dengan paha mulus yang terbuka lebar. Suara Tante Mariska yang menggoda seakan membuat Eric tersihir dan segera mencumbuinya dengan lembut. Dari atas hingga ke bawah. Tangan Tante Mariska pun aktif meremas – remas rambut Eric dengan penuh gairah sembari menarik kaosnya dan melepaskannya. Suasana malam yang dingin menjadi hangat dan penuh gairah. Dua orang anak manusia tengah melakukan perbuatan yang nista. Dunia serasa menjadi milik mereka berdua. Sepanjang malam kamar hotel itu dihiasi suara – suara desahan nafas yang saling memburu.

 

♥♥♥

Eric melepaskan pelukan Tante Mariska yang erat memeluk tubuhnya. Ia mengambil sebungkus rokok yang tergeletak di atas meja kecil di samping ranjang. Bau asap rokok yang menusuk hidung segera membangunkannya.

“Sayang, udah bangun?“ ucapnya lembut sambil meraba – raba dada Eric yang bidang.

Gimana semalam Tante? Puas?“ tanya Eric.

“Puas banget. Tante nggak pernah ngerasain ini sebelumnya dengan brondong lain,“ jawabnya mengecup mesra pipi Eric.

“Tante bayar aku sekarang ya?“

“Iya sayang, bentar ya?“

Tante Mariska beranjak dari ranjang dan segera meraih tasnya yang tergetak di atas lantai. Ia mengambil dompetnya dan segera mengeluarkan lembaran uang seratus ribuan sebanyak 5 lembar.

“Segini cukup?“ tanyanya.

“Cukup,“ jawab Eric menghitung lembaran uang yang diterimanya. Tante Mariska kemudian meninggalkan Eric ke kamar mandi. Ia lupa menaruh dompetnya kembali ke dalam tas. Iseng – iseng Eric membuka dompet berwarna cokelat muda bermotif bunga – bunga tersebut. Namun, alangkah terkejutnya ia ketika melihat foto yang terselip di dalam sana. Tampak sekilas ia mengenal wajah cewek yang terselip di dalam dompet Tante Mariska tersebut. Namun ia masih ragu apakah ia pernah menjumpainya sebelumnya.

Tante Mariska telah selesai dari kamar mandi. Eric buru – buru meletakkan dompet tersebut ke tempatnya semula. Ia bersikap seperti biasa.

“Tante punya anak cewek?“ tanya Eric berpura – pura.

“Iya, kok kamu tau?“ jawabnya heran.

Nggak kok, nebak aja. Kalo boleh tahu siapa namanya,“ tanyanya lagi dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Namanya Mitha, lengkapnya Paramitha.“

Deg! Jantungnya tiba – tiba berdegup sangat kencang. Nama dan wajahnya sangat familiar, “Cocok.”

“Ini Tante bawa fotonya,“ katanya membuka dompet dan memperlihatkan foto Mitha ke Eric. Eric melihat foto tersebut lebih seksama lagi.

“Tidak salah lagi,“ batinnya.

“Hush, kok sampe segitunya ngeliat. Cantik ya?“

Eric  tersenyum simpul. Pikirannya langsung tertuju kepada Rey.

“Ha . . . ha . . . Rey, ternyata dunia ini memang kecil ya?“ tawanya dalam hati.

“By the way, nama kamu siapa sih? Tante belum tau nih?“

“Eric, Tante,“ jawabnya singkat.

“Kelihatannya kamu masih anak sekolahan ya?“

Eric menggeleng, “Aku nggak sekolah lagi, Tante.”

“Oya, kenapa kamu mau ngelakuin pekerjaan kotor kayak gini?“ tanya Tante Mariska ingin tahu. Mendengar pertanyaan tersebut Eric terdiam. Dilihatnya Tante Mariska  yang ada di sebelahnya yang sebenarnya sebaya dengan Ibunya. Hanya saja tubuh Tante Mariska terlihat lebih terawat. Eric menatapnya dengan tajam. Terselinap sedikit penyesalan di dalam hatinya karena telah kembali melakukan pekerjaan yang selama ini mencoba untuk ditinggalkannya.

“Hanya sekedar cari hiburan sekaligus uang Tante,“ jawab Eric sekenanya.

“Gimana dengan orang tua kamu? Apakah mereka tau kamu kerja kayak gini?“ tanyanya lagi.

“Maaf Tante, sepertinya aku harus pulang sekarang,“ ucap Eric mengalihkan pembicaraan. Ia mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai dan segera memakainya satu per satu.

“Oke, tapi jika tante ingin nemuin kamu lagi bisa lewat Doni ‘kan?“

“Maaf Tante, kayaknya ini pertemuan yang pertama dan terakhir buat kita. Aku nggak mau lagi berhubungan dengan Tante,“ tolak Eric.

Lho kenapa? Apa feenya kurang gede. Kalo kamu mau, Tante bisa tambahin. Ayo berapa lagi yang kamu mau,“ ucapnya seraya membuka kembali tasnya dan meraih dompet yang ada di dalamnya.

Nggak Tante, makasih.“

Eric bergegas keluar dari kamar tersebut. Tante Mariska mengejarnya.

“Eric!! Tunggu dulu dong sayang. Kenapa sih kamu nggak mau diajak untuk ketemuan lagi? Tante pengen denger alasannya sebelum kamu pergi tinggalkan Tante!”

Nggak ada apa – apa Tante. Cuma . . . aku nggak bisa aja untuk ketemuan lagi sama Tante,” jawab Eric dengan terburu – buru.

Nggak bisanya karena apa?”

“Tante nih keras kepala juga ya!!” ujarnya Eric emosi. Tanpa banyak kata – kata lagi, Eric langsung mempercepat langkahnya meninggalkan Tante Mariska. Sementara itu Tante mariska mengikutinya dari belakang dengan mulut yang terus – menerus mengoceh. Eric tak menghiraukan itu semua. Ia terus melangkah hingga sampai ke lobi hotel.

“ERIC . . . !!!! teriak Tante Mariska.

Semua mata menghujam ke arahnya dengan tatapan curiga. Komentar – komentar sinis terdengar sayup – sayup berseliweran di lubang telinganya. Apakah pantas seorang wanita berumur tiga puluhan tahun ke atas mengejar anak ABG berusia delapan belas tahun sampai ke lobi hotel?.

Tante Mariska menyerah. Ia kembali ke kamarnya dengan rasa kecewa.

“Ah Eric, sayang sekali. Padahal aku mulai menyukai kamu,“ desahnya sambil memandangi Eric yang berlalu dari balik kaca jendela hotel yang sedikit buram oleh embun pagi.

 

 

♥♥♥

Suara mobil terdengar berhenti di pelataran rumah. Mitha buru – buru membuka pintu.

“Dari mana aja Ma?“ tanya Mitha sinis saat melihat Ibunya pulang pagi.

“Eh sayang, udah bangun? Mama kira kamu belum . . . ,“

Udah Ma!! Nggak perlu basa – basi. Ke mana aja Mama semalam sampe lupa  pulang!!“ tanya Mitha lagi  dengan nada suara yang keras.

“Mitha sayang, semalam ada klien Mama yang baru datang dari Surabaya. Dia ngajak Mama ke vilanya yang ada di bukit Girimaya. Biasalah, dia hanya sekedar pamer. Mama mau pulang, tapi udah kemaleman. Jadi, ya . . . Mama nginep aja,“ jelas Ibunya.

Mitha mengernyitkan dahi. Alasan yang dilontarkan oleh Ibunya benar – benar tidak masuk di akal. Bagaimana mungkin Ibunya memutuskan untuk menginap di vila tersebut padahal sebenarnya jarak antara bukit Girimaya dengan rumahnya itu tidak terlalu jauh. Hanya sekitar dua puluh menit perjalanan. Apalagi dengan memakai mobil. Seharusnya bisa lebih cepat.

“Itu bukan alasan Ma. Klien Mama itu cowok ‘kan?!“ tanya Mitha dengan mata melotot.

“ Mitha!!!“

Praakkkkk!!! tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. Ibunya terlihat emosi sekali.

Ngomong apa kamu!! Mama begini juga demi masa depan kamu. Mama banting tulang cari uang hanya buat kamu Mitha!! Seenaknya kamu bisa ngomong kayak gitu,“ teriak Ibunya penuh amarah.

“Keterlaluan!! Mama keterlaluan!!“ bentak Mitha.

Ia segera berlari menuju kamarnya dengan terisak. Ibunya mengejarnya sampai ke lantai atas. Namun terlambat, Mitha sudah mengunci pintu kamarnya rapat – rapat.

“Mitha buka pintunya!!“ teriak Ibunya di depan pintu sambil menggedor – gedornya dengan keras. Mitha tak menjawab. Ia larut dalam kesedihan. Baru kali ini Ibunya bersikap kasar seperti itu kepadanya. Ia merasa telah kehilangan Ibunya yang dulu.

Mitha meraih handphonenya yang tergeletak di atas meja belajarnya.

“Halo Rey,“ sapanya dengan suara yang serak dan parau. Rey sedikit terkejut mendengarnya.

“Iya ‘Tha, ada apa?“ tanya Rey.

“Rey, siang ini aku mau ke kos kamu. Kamu ada ‘kan siang ini?“

“Iya ada. Kamu abis nangis ya ‘Tha?“

Mitha tak menjawab. Lalu ia mengakhiri pembicaraannya.

“Tunggu aku ya Rey, kamu nggak usah jemput. Biar aku aja yang ke situ. Daaaggg.“

Tuuuuttttt . . .  telepon terputus. Sejuta tanya menyelimuti benak Rey. Ada apa dengan Mitha? Semoga bukan hal – hal yang serius terjadi menimpa dirinya.

Mitha terus mengurung dirinya hingga tengah hari. Ia tetap tidak mau keluar kamar meskipun Ibunya telah meminta maaf berulang kali. Dengan perlahan ia membuka pintu kamarnya. Ia berjalan mengendap – ngendap menuruni anak tangga berharap Ibunya tidak tahu bahwa ia ingin keluar rumah.

Ketika melintas di depan kamar Ibunya ia mendengar sayup – sayup perbincangan Ibunya dengan seseorang. Entah siapa yang diteleponnya. Mitha mendekatkan telinganya ke daun pintu kamar tersebut. Suara – suara tersebut terdengar sedikit lebih jelas.

Mitha mengernyitkan dahinya dengan raut wajah yang penasaran ketika kata ‘sayang’ meluncur keluar dari bibir Ibunya dengan nada genit menggoda, “Iya sayang. Aku tunggu lho . . .”  begitu katanya. “Tentu bukan Papa yang sedang ditelepon oleh Mama,” pikirnya.

Mitha tak memedulikan Ibunya. Dengan langkah yang dipercepat ia menuju ke pintu depan dan dalam sekejap mata ia telah berhasil berada di luar melewati beberapa blok gang sempit dan akhirnya sampai di pinggir jalan. Ia menaiki angkot dan segera meluncur ke kos Rey.

“Rey,“ panggilnya pelan sambil mengetuk pintu. Perlahan Rey membukanya. Begitu melihat Rey ia langsung memeluk tubuhnya erat – erat.

“Ada apa sih ‘Tha?“ tanya Rey lembut sembari mengusap – ngusap rambut Mitha yang panjang tergerai. Mitha meneteskan air mata.

“Mama Rey. Tadi pagi aku bertengkar hebat dengannya,“ jawabnya terisak. Rey melepaskan pelukannya dan membimbingnya masuk ke dalam.

“Masalah apa?“ Tanya Rey lagi. Mitha berusaha untuk menahan tangis. Namun air matanya tetap saja tak terbendung.

“Mama pulang pagi Rey. Ini tidak seperti biasanya. Aku yakin, ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh Mama. Dia biasa pulang malem, mungkin aku masih bisa maklum. Dia nggak pulang untuk makan siang sama – sama atau tidak mengucapkan kata selamat tidur kepadaku, aku juga masih bisa maklum. Tapi ini? Mama benar – benar sudah keterlaluan,“ jelasnya panjang lebar sambil terus menyeka air mata yang meleleh jatuh di pipinya.

“Kamu nggak boleh berprasangka buruk kayak gitu ‘Tha. Mungkin Mamamu punya alasan yang kuat kenapa dia pulang pagi.“

“Tapi alasannya nggak masuk akal Rey. Terlalu mengada – ngada!“ ucapnya tiba – tiba dengan nada suara yang tinggi.

“Aku merasa telah kehilangan Mama akhir – akhir ini, Rey. Bahkan tadi dia menamparku. Padahal selama ini Mama tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya walaupun kami selalu berdebat serius. Tadi aja dia menyebut – nyebut kata ‘sayang’ dalam telponnya. Entah siapa yang ditelponnya.“

Rey menyulutkan api di ujung sebatang rokok kesukaannya. Seketika asapnya mengepul di udara.

“Tha, lebih baik kamu berpikir positif deh. Jangan dulu berprasangka yang buruk sebelum ada buktinya. Belum tentu juga ‘kan Mamamu punya affair dengan laki – laki lain. Siapa tau aja yang ditelpon Mama kamu itu Papa kamu.” Mitha menggeleng, “Nggak mungkin Papa.” Rey tersenyum.

“Ya udah, lebih baik kamu pulang dan segera minta maaf. Bukankah Mama kamu lagi butuh support dari kamu dalam menghadapi perceraian. Lagian baru sekali ini ‘kan Mama kamu kayak gini?“ ucap Rey menenangkan hatinya. Ia menatap kedua mata Rey dengan lekat dan terdiam sejenak mencoba mencerna perkataan Rey.

“Iya Rey. Kamu benar. Mungkin saja yang ditelepon oleh Mama memang benar Papa. Nanti aku akan menanyakannya dan meminta maaf kepada Mama,“ katanya memeluk kembali tubuh Rey dengan erat.

“Nah, begitu dong. Sekarang jangan sedih lagi ya?“

Mitha tersenyum sekaligus terharu. Rey benar – benar mengerti perasaannya. Sementara itu, dari luar tampak terlihat sepasang mata tengah mengintai kos Rey dari kejauhan. Sepasang mata tersebut tajam bagaikan mata elang. Sesekali mata itu memicing sadis seakan ingin menerkam mangsanya. Mata tersebut terus mengintai hingga hari beranjak malam.

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: