Rey – Bab IX

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

 

BAB IX

HARTA WARISAN

Beberapa hari kemudian Pak Gunawan datang menemui Melinda di rumahnya.

“Ada keperluan apa yang ingin anda bicarakan kepada saya?”

“Saya hanya ingin mengetahui siapa hak waris atas semua harta suami saya?” tanyanya dengan nada ingin tahu. Pak Gunawan berdehem sambil membenarkan kacamata min – nya.

“Maaf, saya tidak dapat memberitahukannya.”

“Anda harus mengatakannya. Ini penting mengingat kesehatan suami saya saat ini tidak menentu dan anda tau sendiri, Rey sekarang menjadi buronan Polisi,” sergahnya dengan suara tinggi. Pak Gunawan mengangguk pelan. Ia lalu membuka tasnya, mengambil amplop besar berwarna coklat muda dan mengeluarkan surat tersebut dari amplop.

“Sebenarnya harta warisan Pak Hady pertama kalinya jatuh ke tangan anda. Tapi karena suatu dan lain hal, satu minggu yang lalu sebelum dia terkena stroke, dia mengubahnya menjadi atas nama Andrey Wiguna.”

Deg! Ternyata dugaannya benar tentang surat wasiat tersebut. Surat tersebut sekarang atas nama Rey. Ia sedikit menyesal atas perbuatannya yang ketahuan selingkuh dengan laki – laki lain saat berada di rumah.

“Tapi bisa’kan surat itu dikembalikan lagi atas nama saya?” pinta Melinda. Pak Gunawan mengerutkan dahinya.

“Maaf, saya tidak bisa mengubah surat tersebut. Semua harus melalui persetujuan dari Andrey atau Pak Hady sendiri.”

Melinda menggeram mendengar perkataan tersebut.

“Sekali lagi saya bilang, anda tau ‘kan kondisi suami saya? Dia tidak dapat bicara! Tangannyapun tidak bisa digerakkan. Jadi bagaimana saya harus minta persetujuannya? Pasti suami saya setuju kalau seluruh harta warisannya dipindahkan lagi ke tangan saya,” jelas Melinda. Pak Gunawan membereskan suratnya dan menaruhnya kembali ke dalam tas. Ia bangun dari tempat duduknya.

“Lebih baik kita tunggu sampai Rey ditemukan untuk meminta persetujuannya,” ujar Pak Gunawan enteng. Melinda terlihat kesal. Ia pesimis Rey bakal setuju kalau seluruh harta warisan Ayahnya diserahkan ke tangannya mengingat hubungannya yang tidak baik dengan Rey selama ini dan sejak dari semula ia tidak setuju kalau Ayahnya menikah lagi. Lagipula Rey tahu bahwa tujuannya menikahi Ayahnya hanya ingin menguasai seluruh hartanya saja.

Ia menatap Pak Gunawan dengan tajam. Terpancar dari sosoknya yang tegas, tampaknya ia tidak bisa disuap. Ia hanya berharap semoga Rey ditembak mati oleh petugas Kepolisian agar Pak Gunawan tidak punya pilihan lain untuk mengalihkan seluruh harta warisan selain ke tangannya.

 

♥♥♥

11 p.m.

Malam itu udara sangat dingin. Hembusan anginnya menusuk hingga ke tulang. Seorang laki – laki dengan langkah yang hati – hati masuk ke dalam rumah. ia menapaki satu demi satu anak tangga dengan hati – hati hingga sampai ke sebuah kamar. Di dalam kamar tersebut, ia mengobrak – abrik isinya. Membongkar semua lemari dan rak untuk mencari benda berharga.

Melinda yang tertidur di kamar utama tersentak kaget. Ia terjaga dari tidurnya setelah mendengar suara – suara berisik dari dalam kamar Andrey. Perlahan ia keluar dari kamar dan berjalan mengendap – ngendap menuju ke kamar tersebut sambil membawa sebatang stik golf. Sesampai di depan pintu, ia mengintip dari lubang kunci dan mencoba melihat siapa seseorang yang sedang berada di dalam kamar tersebut. Dari lubang kunci tersebut ia melihat barang – barang seperti terlempar ke belakang dan jatuh berserakan di lantai. Ia yakin bahwa ada perampok di dalam. Dengan jantung yang berdegup kencang dan keringat dingin yang mengucur deras ia memberanikan diri membuka pintu tersebut dan bersiap – siap menyerang. Namun alangkah terkejutnya ia setelah tahu bahwa orang yang ada di dalam adalah Rey.

“Rey?” kata Melinda terkejut menurunkan stik golfnya. Rey pun tak kalah terkejut melihat istri muda Ayahnya itu memergoki aksinya.

“Melinda?”

“Apa yang kau cari Rey?” tanya melinda penasaran sambil mendekat ke arah Rey. Ia melihat barang – barang yang ada di dalam lemari dan rak telah berserakan di lantai. Rey gugup hingga tak dapat berkata apa – apa. Melinda menatap Rey dengan tajam. Ia sedikit asing melihat penampilan Rey yang sedikit agak tak terurus.

“Kau butuh uang Rey?” tanya Melinda lagi namun Rey tetap diam tak menjawab. Ia berdiri terpaku seperti patung.

“Aku tahu, dalam pelarianmu pasti menghabiskan banyak uang. Apakah buronan seperti kau tidak sempat membaca koran? Kau seperti masuk ke dalam perangkap saja Rey. Kau tau apa yang akan kulakukan sehabis melihatmu ada di sini?!” ucap Melinda sinis. Rey balas menatap Melinda dengan tajam.

“Silahkan saja kalau kau mau menelpon Polisi!” tantang Rey. Melinda tertawa kecil.

“Aku ingin melakukannya, tapi setelah melihatmu di sini tiba – tiba hasratku yang dulu bergelora,” desahnya mendekat ke tubuh Rey dan membelai dadanya dengan lembut. Cepat – cepat Rey menampisnya.

“Kau benar – benar perempuan binal!!”

“Kau tau Rey, aku tidak bisa menikmatinya lagi dengan Ayahmu.”

“Dari dulu memang kau tidak menikmatinya, karena tujuanmu menikah dengan Ayahku hanya karena ingin menguasai hartanya saja, iya ‘kan!!” bentak Rey. Melinda bertepuk tangan.

“Seratus untuk kamu! Tebakan kamu benar sekali. Tapi ada berita baru yang harus kau tau tentang Ayahmu sekarang,” ucap Melinda santai.

“Apa?” tanya Rey dengan raut wajah ingin tahu.

“Ayahmu terkena stroke,” jawab Melinda. Rey tersentak kaget. Ia lalu mencengkram pundak Melinda dan menggoncang – goncangkan tubuhnya dengan keras.

“Itu karena ulahmu ‘kan!!” teriak Rey emosi. Melinda berusaha melepaskan cengkraman tangan Rey.

“Lepaskan Rey! Kau menyakitiku!”

“Di mana Ayah sekarang?”

Tuh, di kamar tamu.”

Secepat kilat Rey berlari menuju kamar tamu yang terletak agak jauh dari kamar tidur utama. Sementara itu, Melinda mengikutinya dari belakang.

“Apa kabar ‘Yah?” sapa Rey setelah melihat kondisi Ayahnya yang terbaring lemah tak berdaya. Ia duduk di pinggir ranjang dan memegang hangat tangan Ayahnya.

“Sekarang baru Ayah sadari, hanya Ibulah yang terbaik. Kenapa dulu Ayah menceraikan Ibu hanya karena wanita jalang yang hanya ingin menguasai harta Ayah saja.”

Air mata meleleh di pelupuk mata Ayahnya. Bibirnya terus dimonyongkan mencoba untuk berkata – kata. Namun, tiada kata yang berhasil keluar dari mulutnya. Seandainya ia bisa berbicara, ingin sekali ia mengucapkan kata maaf kepada Rey.

Melinda tertawa mengejek di depan pintu.

“Mengharukan sekali . . cck . . . cck . . . !” sindirnya sambil geleng – geleng kepala. Rey menatapnya tajam. Matanya liar seperti mata hewan buas yang sedang mengintai mangsanya.

“Kau yang melakukan semua ini ‘kan?” tuduh Rey. Melinda tersenyum sinis.

“Ayahmu kecelakaan Rey. Dia terpeleset di kamar mandi. Tentunya aku melakukan sedikit trik klasik. Sedikit busa sabun di lantai kukira bisa membuat Ayahmu tewas seketika. Tapi yang ada malah menyusahkan,” jelas Melinda hingga membuat Rey makin menggeram.

“Kurang ajar kau Melinda!” tunjuk Rey.

“Sebenarnya aku terlambat melakukan itu semua, karena ternyata dia lebih pintar. Dia mengubah isi surat wasiat menjadi atas namamu sebelum aku membunuhnya.”

“Kau memang tidak berhak apa – apa di rumah ini!” sergah Rey. Melinda melotot.

“Aku ingin surat wasiat itu kembali atas namaku! Kuharap kau ditembak mati saja Rey!!”

Rey membalikkan tubuhnya dan berdiri membelakangi Melinda. Diam – diam ia merogoh saku celananya dan mengambil sebuah pisau cutter lipat. Ia membuka lipatannya perlahan dan keluarlah pisau metal berukuran panjang dengan ujungnya yang lancip berkilat. Melinda terus saja mengoceh. Ia tidak menyadari bahwa Rey telah memegang sebilah pisau di tangan kanannya.

“Aku masih punya segudang rencana untuk mendapatkan surat wasiat itu kembali atas namaku.” Rey tertawa menyeringai.

“Apa itu?”

Melinda tak menjawab. Suasana menjadi hening sejenak. Rey menoleh ke belakang dan ia tersentak kaget melihat Melinda sudah tidak ada lagi di tempatnya. Dilihatnya Melinda sedang menelpon Polisi di lantai bawah. Segera saja Rey berlarian menuruni anak tangga ke lantai bawah dan merebut telepon tersebut dengan paksa sebelum Melinda menuntaskan pembicaraannya. Rey menghempaskan telepon tersebut ke lantai. Melinda ketakutan setengah mati melihat sikap Rey yang tiba – tiba berubah menjadi beringas dengan pisau terhunus di tangannya. Melinda mundur perlahan.

“Kau bermain api denganku Melinda!” bentak Rey berjalan perlahan ke arah Melinda dengan pisau terhunus. Melinda mundur teratur dengan wajah pucat pasi.

“Apa yang ingin kau lakukan Rey?” tanyanya dengan suara bergetar ketakutan.

“Kau tidak akan pernah mendapatkan harta itu selamanya, karena aku akan menghentikanmu malam ini juga,” jawab Rey dengan senyuman yang membuat bulu kuduk Melinda berdiri seketika.

“Tentunya kau tau apa yang kutancapkan di perut Eric malam itu?” ucap Rey memainkan pisau yang ada di tangannya.

“Kau akan membusuk di penjara Rey!!!” teriak Melinda. Rey tak peduli. Keringat dingin makin deras mengucur di tubuh Melinda. Ia terpojok di sudut ruang. Tak ada celah untuk melarikan diri.

“Pisau ini akan merobek perutmu!!!”

Rey mulai menyerang. Melinda berteriak histeris. Ia melemparkan semua benda yang ada di dekatnya. Sebuah guci keramik berhasil mengenai Rey hingga ia roboh jatuh ke lantai. Melinda berlari menuju ke pintu depan. Namun sial baginya, Rey berhasil bangkit dan melemparnya dengan sebuah patung kayu ke arahnya. Melinda jatuh tersungkur. Rey mendekatinya dan menjambak rambutnya kuat. Melinda semakin berteriak histeris.

Suaranya yang melengking terdengar hingga ke telinga Ayah Rey yang terbaring lemah di kamar. Ia mencoba bergerak bangun dan keluar dari kamar untuk mencegah Rey. Namun sayang, ia terjatuh ke lantai. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menyeret tubuhnya hingga sampai ke pinggir pagar pembatas lantai atas. ia melihat Rey menjambak rambut Melinda sambil menodongkan pisau ke perutnya dan bersiap hendak menusuknya. Dengan raut wajah yang pilu ia melihatnya. Ingin ia berteriak tapi tak bisa dilakukannya.

Jreeeeppppp!!! Pisau tersebut berhasil melesat masuk ke dalam perut Melinda dengan sempurna. Melinda meraung sejadi – jadinya. Darah segar muncrat membasahi lantai dengan derasnya. ia roboh jatuh ke lantai dengan bersimbah darah. Matanya membelalak dengan mulut yang menganga menahan sakit. Melinda tewas mengenaskan. Ayah Rey tak kuasa melihat kondisi istri mudanya yang tewas dengan sangat mengerikan di tangan anaknya sendiri tersebut. Ia kembali menyeret tubuhnya masuk ke kamar dengan berurai air mata.

Setelah melakukan aksinya Rey melarikan diri dengan motornya. Ia melesat kencang bagaikan anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Malam itu satu jiwa baru kembali terbang melayang dengan sia – sia ke alam keabadian. Satu kesalahan membawanya ke berkali – kali kesalahan.

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: