Rey-Bab IV

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

 

 

BAB IV

CINTA SEJATI ITU SEPERTI HANTU

Pantai Tanjung Kelayang, SungaiLiat.

 

Udara pantai berhembus sepoi – sepoi menyejukkan, menyibakkan panasnya sinar matahari yang terlalu garang memancarkan sinarnya. Ombak kecil dengan buih – buih putihnya bergulung cepat seolah berlomba satu sama lain untuk dapat sampai dengan segera ke tepian. Langit terlihat cerah. Gerombolan awan putih bergerak perlahan – lahan ditiup angin. Iringan Burung – burung camar terbang ke sana – kemari menghiasi langit yang biru. Rey berjalan beriringan bersama Mitha menyusuri tepi Pantai Tanjung Kelayang yang masih terlihat eksotis panoramanya dengan hamparan pasir putih yang bersih dan deretan batu – batu pantai yang besar, berdiri kokoh seperti hendak menunjukkan keangkuhannya.

“Indah ya Rey?“ ujar Mitha pelan. Rambutnya terkibar melayang –layang ditiup angin. Rey terpesona melihatnya.

“Ya Indah, seperti kamu,“ puji Rey. Mitha tertawa lalu mencubit gemas pinggangnya.

Tuh, mulai gombal ‘kan?“

Suerrr, Emang bener kok,“ tukas Rey dengan mengacungkan kedua jari tangannya ke atas. Mitha tertawa kecil, lalu ia memuncratkan air  ke tubuhnya.

“Ha . . . Ha . . . , Emang enak basah? Itu hukuman karena kamu telah gombal sama aku,“ ejeknya sambil berlarian kecil. Rey berlari mengejarnya hingga mereka berdua sampai di atas sebuah batu granit besar yang berada di ujung pesisir pantai. Mitha berjalan pelan menuju ujung batu granit tersebut. Ia merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya.

“REY . . . AKU TERBANG!!!“ teriaknya keras. Rey mendekatinya perlahan dan memeluk pinggangnya erat. Dari dalam sakunya ia merogoh seuntai kalung liontin berbentuk bulat warna perak yang engselnya dapat dibuka untuk menyisipkan foto. Diam – diam ia mengalungkannya ke leher Mitha.

“Apa ini Rey?“ tanya Mitha tersadar setelah ada sebuah benda yang dikalungkan di lehernya.

“Ini kalung liontin pemberian Ibuku. Katanya, berikanlah kalung liontin ini kepada wanita yang kamu cintai untuk pertama kalinya,“ ujar Rey. Mitha tertawa bahagia mendengarnya.

“Makasih Rey. Apa benar aku First lovenya kamu? Trus, foto cewek yang ada di kamar kamu itu?“ tanya Mitha. Rey diam sejenak. Ia lalu menjawab sambil menerawang  mengenang peristiwa memilukan yang terjadi dua tahun yang lalu.

“Oh, itu foto adikku. Dia meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakan bis.“  Mitha terkejut mendengarnya. Ia kira cewek itu adalah mantan pacarnya.

“Aku turut berduka Rey. Aku minta maaf karena sebelumnya aku telah menyangka cewek itu adalah mantan pacar kamu.“

Nggak apa – apa. aku memang dekat dengannya. Dia adik yang manis. Dulu juga orang banyak mengira kami berdua pacaran.” Rey tertawa kecil.

“Wajar, karena umurnya hanya terpaut satu tahun dariku,“ lanjutnya.

“Dia cantik ya Rey?“ puji Mitha.

“Aku selalu sedih bila mengenang kepergiannya yang begitu tragis. Coba seandainya dia mendengarkan perkataan ibu dan tidak ikut berdarmawisata pada hari minggu itu. Mungkin semua itu tidak akan terjadi,“ ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.

“Semua itu takdir Rey. Hidup dan mati manusia, kita serahkan saja kepada Tuhan yang ada di atas sana. Semuanya telah diatur.“

Rey menggandeng tangan Mitha dan mengajaknya duduk di bawah pohon beringin rindang yang tumbuh di atas celah batu granit tersebut. Akar – akarnya yang kuat menghujam batu tersebut laksana ular phython yang meliuk – liuk melilit dengan kuatnya.

“Apa definisi cinta sejati menurutmu ‘Tha?“ tanya Rey tiba – tiba. Mitha mengernyitkan dahinya. Terbersit rasa aneh mengapa Rey tiba – tiba bertanya seperti itu kepadanya.

“Aku pernah baca sebuah kata mutiara tentang cinta. Bunyinya begini: “Cinta sejati itu seperti hantu, hampir semua orang membicarakannya tapi hanya sedikit saja orang yang benar – benar pernah menjumpainya,“ jawab Mitha.

“Cinta itu kadang menipu, terlihat mencinta diluar, tapi tidak dalam hatinya,“ sambung Rey  sinis.  Mitha menatap kedua matanya.

“Tapi kau mencintaiku ‘kan Rey?“ tanya Mitha. Rey malah balik bertanya.

“Apakah hubungan kita berdua ini bisa disebut cinta sejati,“ tanya Rey serius.

“Aku tidak bisa bilang hubungan kita ini disebut cinta sejati atau tidak. Namun yang jelas, selama hubungan kita baik – baik saja tak akan ada masalah yang datang menghadang,“ jawabnya menyakinkan.

“Tapi, suatu saat kerikil – kerikil tajam itu pasti akan datang juga walaupun kita menjalaninya dengan baik – baik saja. Dia akan datang dengan sendirinya tanpa kita inginkan.“

“Aku tidak ingin kerikil – kerikil tajam itu datang menghancurkan hubungan kita. Aku yakin, kita berdua pasti bisa melaluinya,“ ucap Mitha menyenderkan kepalanya di pundak Rey yang kekar. Rey membelai rambutnya.

“Andai saja kau tahu kerikil tajam itu,” batinnya.

 

♥♥♥

 

“Rey,Rey!! Apa kau ada di rumah Rey?“ teriak Eric dari luar dengan nada suara yang bergoyang – goyang. Malam itu ia terlihat sedikit mabuk. Rey mendengar teriakan tersebut dan dengan penuh emosi ia langsung membuka pintu.

“Kau!!!“ ucap Rey mencengkram kerah baju Eric dan mendorongnya ke dinding. Eric tersudut tak bisa berkutik apa – apa. Ia pasrah menerima ocehan Rey yang terlihat penuh amarah.

“ Untuk apa kau datang – datang lagi ke sini?“

“Tenang . . . tenang Rey, maafin aku . . . aarghh . . . !!!“ ucap Eric dengan suara sedikit tercekik. Rey semakin menunjukkan amarahnya.

“Telepon yang kemarin itu kamu ‘kan!!? Apa maksud kamu bicara seperti itu!!“

“Lepasin Rey . . . tolong . . . aarghh . . . !!“

Melihat Eric yang semakin tak berdaya Rey melepaskan cengkraman tangannya.

“Aku nggak ada maksud untuk ngomong kayak gitu. Sorry, waktu itu aku emosi,“ jelas Eric dengan suara bergetar.

“Sekarang mau kamu apa? Asal kamu tahu, jalan hidup kita kini telah berbeda. Kamu dengan Chaca dan aku dengan Mitha. Impas ‘kan?“

“Tapi Rey?“

“Tapi apa ‘Ric? Terus terang aku bosan menjalani hidup kotor seperti ini. Aku merasa tidak punya identitas diri. Siapa aku ini sebenarnya?“ ucap Rey.

“Mana Rey yang dulu?!“ sahut Eric.

“Rey yang dulu telah mati, sekarang berganti Rey yang baru. Kuharap ini terakhir kalinya kita bertemu,“ pinta Rey.

Eric terdiam mendengar kata – kata yang keluar dari mulut Rey. Ia terkejut dan kecewa. Namun, tiba – tiba sorot matanya berubah menjadi licik.  Diam – diam ia mengeluarkan handphone dari dalam sakunya.

“Tapi kau lupa satu hal Rey?“ ucap Eric dengan nada suara licik. Rey menoleh ke arahnya. Dengan sigap Eric membuka kartu as yang selama ini dipegangnya. Sebuah video berdurasi singkat dalam handphonenya ia tunjukkan kepada Rey.

Rey terbelalak melihat rekaman video tersebut. Ia tak habis pikir bagaimana Eric bisa selicik itu merekamnya dan bodohnya ia bisa sampai kecolongan seperti itu. Ia benar – benar tidak menyangka kalau Eric bisa melakukan hal – hal yang nekat seperti itu.

“Apa – apaan ini ‘Ric?!!“ ucap Rey terkejut.

“Tentu kau masih ingat Rey rekaman video ini. Sorry, terpaksa aku mengeluarkannya.“

“Sini!! Berikan padaku!!“ sergah Rey seraya ingin menyerobot handphone yang berad di tangan Eric. Namun dengan tangkas Eric menampis tangannya.

Nggak semudah itu Rey kau bisa mengambilnya dariku.“

Please ‘Ric, kumohon! Jangan permalukan dirimu sendiri.“

“Kau takut Rey? Bagaimana kalau ini menyebar di sekolahmu? Dan bagaimana pula jika rekaman ini seandainya jatuh ke tangan pacar tersayangmu, MITHA?!!“ ujar Eric dengan mata melotot sambil menggoyang – goyangkan handphone tersebut di tangannya. Ia merasa berada di atas angin.

“Kumohon, jangan lakukan hal yang memalukan seperti itu. Ingat! Bukan hanya aku saja yang malu, tapi juga kau!!“

I don’t care, “ ucap Eric enteng  tanpa rasa bersalah.

“Oke . . . oke, Sekarang mau kamu apa?“ tanya Rey putus asa.

“Mudah saja Rey. Putuskan Mitha dan kita tetap seperti yang dulu.“

“Tapi?“

“Sudahlah Rey, kau tak akan bisa menjalaninya dengan Mitha,“ ujar Eric santai. Rey terdiam cukup lama. Ia berpikir keras tindakan apa yang seharusnya diambilnya. Satu – satunya jalan adalah dengan mengambil paksa handphone tersebut. Disaat Eric lengah, Rey dengan sigap menyerobot handphone yang berada di tangan Eric dan memegangnya erat. Gerak refleks Eric tak bisa menyelamatkan handphonenya yang dirampas secara paksa oleh Rey.

“Tak akan kubiarkan kau melakukan perbuatan bodoh seperti ini.“

“SIAL kau Rey!!“ maki Eric geram. Dengan cepat Rey menghapus rekaman video tersebut dan melemparkannya handphone tersebut dengan keras ke dinding hingga hancur berkeping – keping. Eric melihat semua itu dengan pasrah. Hancurlah kartu as yang selama ini dipegangnya.

“Kau tidak bisa membuangku begitu saja Rey!!“ teriak Eric keras.

“Kau juga tidak bisa menekanku dengan cara – cara licik seperti ini, PERGI!! PERGI KAU DARI SINI!!!!“ usir Rey.

Eric bergegas meninggalkan Rey. Namun itu bukan berarti ia menyerah. Masih banyak segudang rencana yang belum ia lancarkan untuk dapat menghancurkan Rey secepatnya.

 

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: