Rey-Bab III

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

 

BAB III

LUKA JIWA

Rumah Sakit Jiwa, SungaiLiat.

 

Pohon beringin besar menjatuhkan daun – daunnya yang kering ke tanah. Beberapa tampak melayang – layang ditiup semilir angin hingga menyerupai segerombolan kupu – kupu berwarna coklat tua yang sedang terbang melayang – layang. Dari ujung koridor tampak Rey berjalan menuju ke sebuah ruangan yang terletak agak berjauhan dari ruangan yang lainnya. Ruangan bercat warna putih – putih itu mempunyai jendela yang terlihat seperti bukan jendela, melainkan seperti jeruji – jeruji besi pintu penjara. Di bagian dalam tampak sebagian cat telah usang warnanya dan mengelupas.

Rey berdiri terpaku di ambang pintu ruangan tersebut. Di sampingnya berdiri seorang Dokter dan Suster. Rey menghela napas yang panjang lalu ia menoleh ke arah Dokter dengan tatapan penuh tanya.

“Apakah sekarang sudah baik – baik saja Dok?“ tanyanya.

“Sekarang sudah tampak lebih tenang dari sebelumnya,“ jawab Dokter tersebut.

“Kapan Ibu akan membaik?“

“Kami tidak tahu, sebab luka hati Ibumu teramat dalam. Mungkin dengan kau rajin mengunjunginya ke sini, dia bisa berangsur – angsur pulih,“ jawab Dokter menepuk pelan bahu Rey.

Suster mengeluarkan kunci dari dalam sakunya, lalu dengan kunci itu ia membuka pintu ruangan tersebut. Di dalam ruangan terlihat seorang wanita tengah duduk terdiam di pinggir ranjang. Rambutnya terlihat kusam dan sedikit acak – acakan. Rey menghampirinya dengan perlahan. Ia berdiri tepat di hadapannya.

“Bu, apa kabar? Ini Rey. Maaf, akhir – akhir ini Rey jarang jenguk Ibu. Rey harap Ibu tidak marah ya?“ ucap Rey dengan hati – hati. Ibunya menatap wajah Rey dengan tajam sambil mengelus kedua pipinya.

“Andrey . . . . ini Andrey?“ ucapnya menangis.

“Ya Bu, ini Andrey anak Ibu,“ balas Rey.

Perlahan Ibunya melepaskan kedua tangannya dari pipi Rey lalu wajahnya tiba – tiba berubah menjadi penuh amarah.

“Pergi . . .  pergi . . . .  !!!!“ teriak Ibunya keras. Rey tersentak kaget.

“Bu! Ibu kenapa . . . . ??“ tanya Rey heran.

“Kau anak dari laki – laki yang telah menceraikanku ‘kan?!“ teriak Ibunya menunjuk – nunjuk Rey.

“Tapi aku juga anak Ibu!!“

“PERGI . . . PERGI!!!!!“ teriak Ibunya sekali lagi sambil melemparkan segala benda yang terdapat di ruangan tersebut ke arah Rey. Ia tertunduk, lalu dengan langkah yang gontai ia keluar dari ruangan tersebut. Dua orang suster penjaga pun segera masuk dengan membawa suntikan obat penenang. Ia melihat Ibunya dengan hati yang pilu. Tak sadar air mata telah meleleh di kedua pipinya.

Sementara itu di dalam ruangan suster sibuk menenangkan Ibunya dengan mengikat tangan dan kakinya dengan tali agar memudahkan untuk disuntik obat penenang. Rey tak sanggup melihat adegan tersebut. Ia segera beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ia kembali memaki perbuatan ayahnya yang dahulu terhadap Ibunya.

“Sekarang Ayah puas membuat Ibu menderita!!!!“ teriaknya keras menumpahkan segala kekesalan terhadap Ayahnya yang tak pernah sekalipun datang mengunjungi Ibunya. Semua mata memandang Rey dengan perasaan iba.

Rey terduduk lemas di bawah pohon beringin yang sedang menggugurkan daun – daunnya yang kering. Ia menangkap sehelai daun kering yang jatuh tepat di depannya. Daun tersebut mendarat mulus di telapak tangannya. Dengan perasaan yang penuh amarah ia meremas helai daun kering tersebut hingga hancur berkeping – keping. Kepingannya menghambur di udara bagaikan debu yang berterbangan.

 

♥♥♥

 

 Siang itu udara di taman berhembus semilir. Cuaca yang panas menjadi tidak terasa. Pohon – pohon bergoyang – goyang pelan. Suara dahannya yang gemerisik berpadu dengan suara kicau burung – burung kecil yang hinggap di atasnya. Di bangku taman Rey dengan santai menghisap batang rokoknya dan menghembuskan asapnya ke udara. Sementara itu, Mitha asik memperhatikan suasana di sekelilingnya.

“Kemarin aku menjenguk ibu,“ ucap Rey memecah kebisuan. Mitha berpaling ke arahnya.

Kok nggak ngajak aku Rey? “ tanya Mitha.

“Aku telpon kamu kemarin, tapi hape kamu nggak aktif. Trus aku jemput ke rumah, kamu nggak ada,“ jawabnya memberi alasan.

Sorry, kemarin aku ke rumah Nenek bareng Mama. Nenek sakit keras Rey.“

“Keadaan Mama kamu sekarang?“

Mitha menarik napas.

“Itulah Rey. Mama telah bulat hati ingin bercerai dengan Papa, begitu juga sebaliknya. Tapi melihat kondisi Nenek yang seperti itu, kami semua takut keadaannya akan bertambah buruk,“ jelas Mitha. Rey mendekatkan kepalanya di pundaknya.

“Tenanglah ‘Tha, semuanya pasti akan baik – baik saja,“ ucap Rey menenangkan hatinya.

“Makasih Rey. Apa jadinya bila tidak ada kamu di sampingku saat ini. Mungkin aku akan menjalani hari – hariku dengan penuh kesedihan seperti  sebelumnya.“

“Kondisi Ibuku juga sama seperti waktu pertama kali dia masuk ke rumah sakit. Ruangannya pun masih sama. Dia belum boleh bergaul dengan pasien lainnya,“ ujar Rey menerawang. Asap rokok terus mengepul keluar dari mulutnya. Mitha menatap wajah Rey dengan iba.

“Kamu yang sabar ya Rey. Ibumu mungkin perlu diberi sedikit pengertian bahwa itu semua telah terjadi. Mau tidak mau dia harus menerimanya.“

Mendengar perkataan tersebut seketika Rey beranjak dari tempat duduknya dan berkata dengan suara yang keras.

“Tidak sesederhana itu ‘Tha!!!“

Suaranya mengejutkan orang – orang di sekitarnya.

“Rey????“ tatap Mitha heran. Rey tersadar lalu ia kembali duduk dengan wajah yang berusaha untuk tenang.

“Maafkan aku ‘Tha, aku nggak ada maksud . . . ,“ perkataannya terputus karena Mitha buru – buru menyelanya.

Udah. Aku ngerti kok perasaan kamu saat ini.“

“Kau tahu apa yang terjadi kemarin. Ibu berteriak – teriak mengusirku keluar. Dia memaki – maki diriku. Katanya, aku adalah anak dari orang yang telah menceraikannya. Padahal aku juga anaknya. Semua itu imbas dari kelakuan Ayah yang tak punya perasaan.“

Mitha mendengarkan cerita Rey dengan serius. Tapi ia tidak bisa berkata apa – apa. Masalah yang dihadapi oleh Rey sangat complicated. Butuh perjuangan dan pengorbanan yang lebih untuk bisa menyadarkan Ibunya kembali. Ia tak tahu solusi apa yang bisa ia beri ke Rey. Hanya dengan menjadi pendengar setianyalah ia bisa sedikit membantu melegakan hatinya.

Dari kejauhan tampak Eric berjalan sambil menggandeng tangan Chaca dengan mesra. Rey menyadari kehadiran mereka berdua di taman itu, tapi ia pura – pura tidak tahu dan berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lantas, ia buru – buru menggamit tangan Mitha dan mengajaknya pergi dari tempat tersebut sebelum Eric mengetahuinya. Namun sudah terlambat. Eric melihatnya dan memanggilnya dari kejauhan.

“Rey…..!!!“ panggil Eric dengan keras. Ia mendekatinya dengan Chaca berada di sampingnya. Langkah Rey terhenti.

“Eric,“ ucap Rey malas. Mitha menyambutnya dengan hangat.

“Hey, temennya Rey?“ tanya Mitha antusias.

“Kenalkan, aku Eric dan ini Chaca,“ kata Eric menjulurkan tangannya.

“Aku Mitha,“ ucap Mitha membalas jabat tangan Eric.

“Pacarnya Rey?“ tanya Chaca.

“Iya, kamu pacarnya Eric?“ tanya Mitha balik. Chaca mengangguk sambil melirik mesra Eric.

“Eh, kebetulan ya ketemu di sini. Jadi kita bisa hang out bareng,“ ucap Chaca riang. Mitha tersenyum tapi tidak dengan Rey. Ia tampak tidak senang dengan kehadiran mereka berdua, lalu buru – buru menyeret tangan Mitha pulang.

“Pulang yuk!!“ ajak Rey buru – buru.

Ntar dulu kenapa sih Rey? ‘Kan ketemu temen lama, ngobrol – ngobrol dulu kek sebentar,“ pinta Mitha tersenyum ke arah Rey.

Rey masih menunjukkan raut wajah yang tidak senang. Ia menatap mata Eric dengan tajam. Eric tersenyum dikulum, sementara Rey membalasnya dengan seringai sinis. Chaca memperhatikannya dengan heran.

“Kalian berdua kenapa sih? Ya udah biar ngobrolnya enak, kita hang out aja di kafé depan situ. Aku yang traktir,“ ajak Chaca mencairkan suasana.

“Wah, boleh tuh,“ ucap Mitha gembira.

Lalu mereka berdua menyeret tangan pasangan masing – masing. Sesampainya di kafé suasana masih sedikit kaku. Eric mencoba memulai perbincangan.

Kok nggak pernah cerita kalo udah punya cewek, Rey?“ tanya Eric pura – pura tidak tahu. Rey melirik sinis. Ia tidak menjawab pertanyaan Eric. Ia tahu Eric hanya sekedar berbasa – basi. Chaca kembali mencairkan suasana.

“Eh, tadi dari mana aja ‘Tha?“ tanya Chaca.

“Oh, Cuma duduk aja kok sambil ngobrol, kamu?“

“Sama.“

Suasana kembali kaku. Mitha sibuk mengaduk – ngaduk minumannya dengan sedotan, sementara Chaca tidak tahu lagi harus bicara apa. Rey dan Eric terus saja bertatap – tatapan penuh makna. Mereka saling menghujam satu sama lain. Tiba – tiba Eric mengalihkan tatapannya ke Mitha. Matanya liar menyusuri lekuk – lekuk tubuh Mitha dengan detail dari atas sampai bawah. Jakunnya terlihat naik turun. Entah pikiran apa yang ada dalam otaknya. Ia begitu mengagumi kecantikan yang terpancar dari wajahnya. Rey tidak suka melihat itu semua.

“Ric, bisa ikut aku sekarang. Aku mau bicara.“

Mendengar ucapan Rey, Eric sedikit kaget. Begitupun dengan Chaca dan Mitha.

“Kenapa nggak ngomong di sini aja Rey?“ ucap Chaca tersenyum. Rey tampak tak terpengaruh.

Cepet ‘Ric!!“

Rey lalu menarik tangan Eric dengan keras. Mau tidak mau Eric beranjak dari tempat duduknya. Mitha heran melihat tingkah laku Rey, “Ada apa dengan Rey?“ gumamnya. Rey terus menyeret Eric hingga sampai ke belakang kafé.

“Apa maksud kamu menatap Mitha seperti itu?“ tanya Rey dengan membentak. Eric tertawa kecil mengejek.

“Maksud kamu apa?“

“Jangan coba – coba menatap Mitha seperti itu lagi. Memangnya aku tidak tahu apa yang ada di otak kamu? Jangan samakan dia dengan Chaca yang murahan itu!!“

“Hey, Chaca yang mau. Jadi dia tidak murahan. Kita sama – sama suka.  Malah aku kasian sama Mitha. Apa dia bahagia berpacaran dengan kamu?“ ujar Eric sinis.

Bruugggg!!! Rey memukul Eric hingga ia terjerembab jatuh ke tanah. Eric tak membalas. Lalu dengan sempoyongan ia berdiri dengan hidung mengeluarkan darah.

“Kau puas sekarang Rey?“ ucap Eric sambil menyeka darahnya yang terus mengalir keluar. Buru – buru ia kembali ke meja dan menyeret paksa Chaca pulang.

“Ayo, kita pulang sekarang!!“ seret Eric dengan hidung penuh dengan darah.

“Ric, kamu kenapa?“ tanya Chaca panik melihat darah segar keluar dari lubang hidung Eric.

“Udah!!!“ bentak Eric.

Eric berhasil membawa Chaca keluar dari kafé tersebut dan menyeretnya pulang. Sementara Rey tiba di meja dengan wajah emosi. Mitha tak habis pikir melihat tingkah laku Rey yang tiba – tiba berubah menjadi brutal seperti itu.

“Ada apa sih Rey?“ tanya Mitha heran. Rey tidak menjawab.

“Kamu seharusnya jangan bawa – bawa persoalan keluarga kamu dengan melampiaskannya ke teman kamu?!“ ujar Mitha menasehati.

“Ini nggak ada hubungannya dengan itu ‘Tha, ini masalahku dengan dia. Ayo kita pulang sekarang?“ ajaknya mencengkram erat tangan Mitha.

Nggak!!! Aku nggak mau pulang sampai kamu jelaskan ke aku apa masalahnya,“ ujar Mitha bersikeras.

Rey tiba – tiba berkata dengan keras penuh emosi hingga mereka berdua menjadi pusat perhatian di kafé tersebut.

“Kamu mau tahu!!! Dia tadi menatap kamu dengan tatapan penuh nafsu. Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Dia itu playboy ‘Tha!!!“ ucap Rey keras.

“Kamu nggak bisa seenaknya menilai orang kayak gitu!!“ bentak Mitha dengan mata berkaca – kaca. Melihat itu, Rey berusaha meredam emosinya.

“Maaf ‘Tha. Aku hanya nggak ingin kehilangan kamu,“ ucap Rey memeluk Mitha dan mengusap punggungnya pelan.

“Aku nggak mau kamu jadi overprotective gitu sama aku. Kamu memang pacarku, tapi kamu juga nggak berhak melarang aku untuk bergaul sama orang lain,“ ucap Mitha terisak

“Ya udah lupakan. Sekarang kita pulang?“

Mereka berdua keluar dari kafé tersebut dan menuju ke parkiran. Di sana Rey bersiap menghidupkan motornya, tapi tiba – tiba handphonenya berdering. Nomor tanpa nama tertera di LCDnya. Rey mengangkatnya.

“Halo, siapa ini?“

“Ah . . . Rey, Mitha itu cantik ya? Ingin rasanya aku mencumbu bibirnya yang mungil itu. Membelai rambutnya yang panjang dan menelusuri tubuhnya yang putih mulus. Maaf Rey jika aku berkata – kata seperti itu. Apa semua itu bisa kau lakukan?“

 

 

♥♥♥

 

                                                                                                             22  April  2004

Dear diary

Hai, sudah lama sekali aku nggak nulis kamu lagi. Semenjak kejadian aku berciuman dengan Rey di saat hari turun hujan dengan lebatnya. Tau diary? aku sekarang telah jadian dengan Rey. Dia menembakku di belakang toilet sekolah. Walaupun kedengarannya kurang romantis karena di ucapkan di toilet sekolah. Tapi aku tak peduli. Yang penting bagiku adalah ternyata Rey juga mencintaiku seperti aku juga mencintainya.

Dua minggu berjalan, hubungan kami berdua berjalan dengan lancar. Tak ada konflik – konflik yang begitu berarti. Rey yang tadinya pendiam, kini menjadi sedikit lebih terbuka dengan curhat kepadaku tentang masalah keluarganya. Ternyata di balik sikap coolnya selama ini, tersimpan sejuta duka dan kesedihan yang begitu mendalam. Mungkin, masalah itulah yang selama ini dia pendam hingga pernah suatu waktu dia berkata, “Kenapa aku diciptakan sebagai manusia, kenapa tidak diciptakan menjadi awan saja yang tak perlu menanggung banyak masalah seperti halnya manusia“.

Suatu kebetulan masalah yang dihadapinya sama denganku, walaupun terdapat sedikit perbedaannya. Kami berdua sama – sama dari keluarga yang broken home. Tapi aku masih sedikit beruntung, karena masih ada ibu yang menyayangiku. Sementara Rey tidak. Ibunya depresi karena perceraiannya dan mendekam di rumah sakit jiwa. Sementara ayahnya, walaupun ia peduli dengan Rey dengan memberikan segala fasilitas, namun itu semua tidak bisa menggantikan hebatnya sebuah kasih sayang orang tua. Bagi Rey, kasih sayang  orang tua itu mahal harganya.

Aku pun mengerti jika masalahnya yang berat itu sampai terbawa – bawa dalam hubungan kami. Sikapnya yang sering berubah – ubah, kini bisa aku maklumi. Tapi kejadian kemarin benar – benar tidak bisa kupahami. Dia tega menghajar teman sendiri hanya lantaran temannya itu memandangi aku terlalu lekat. Memang aku tidak menyadari hal itu, tapi tidak seharusnya Rey bertindak emosi dan menghajar temannya itu. Aku tidak mau dia jadi overprotected begitu terhadapku.

Tapi ada yang aneh dengan sikap Rey saat berjumpa dengan temannya itu di taman kemarin. Dari awal dia memang sudah tidak suka melihat Eric datang dan menyapanya. Sepertinya memang ada masalah yang sudah terjadi sebelumnya dan belum terselesaikan. Hah, aku tidak tahu apa masalah itu. Tapi tampaknya masalah di antara mereka berdua lumayan berat. Seharusnya, sebagai pacarnya dia aku perlu tahu apa masalahnya. Mungkin aku bisa membantu walaupun sedikit. Tapi, itulah Rey. Butuh waktu baginya untuk bisa menceritakan semua masalahnya terhadapku, seperti masalah keluarganya yang baruku ketahui akhir – akhir ini. Rey, mengapa masih selalu saja ada rahasia – rahasiaan di antara kita berdua.

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: