Rey-Bab II

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

BAB II

MANUSIA ITU BUKAN BATU

“Tertawalah kita bila kita merasa bahagia. Bersedihlah kita bila kita merasa pilu. Dan menangislah kita bila kita merasa haru. Hati itu lunak, tidak keras seperti batu..”

 

“Aku telah menerimanya menjadi pacarku,“ kata Rey sambil melepaskan satu persatu kancing baju seragamnya. Eric memperhatikannya dengan tatapan tak percaya.

“Ternyata kau tidak main – main Rey?“ ujar Eric dengan nada sinis. Rey tidak terima mendengar perkataan Eric yang tampak tidak mendukungnya. Ia lantas mendekatinya dan berkata keras – keras di depan wajahnya.

“Itu saranmu!! Kenapa Tidak?’ Ingat kata – kata itu!!“ bentak Rey dengan penuh emosi. Eric terdiam.

“‘Jalani kehidupanmu seperti air yang mengalir, cobalah untuk menyukainya’ itu juga katamu ‘kan ??!!!“ bentak Rey lagi. Eric membela diri.

“Kau lupa satu perkataanku, ‘Terima apa adanya diri kita,’“ sangkalnya.

“Tidak semudah itu jika kau jadi aku ‘Ric!!“

“Tapi tak kusangka kau akan mengambil keputusan secepat itu. Kukira, semua yang kau katakan padaku itu hanyalah sebuah lelucon dan tidak mungkin akan terjadi. Tapi ternyata . . . Akh . . .!!!“ Teriak Eric mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke dinding hingga jari – jemarinya terluka. Rey tampak tak bersimpati. Ia memalingkan pandangannya ke arah yang lain.

“Kau menyesal ‘Ric telah menasehatiku dengan kata – katamu yang menenangkan? Kau juga menyesal telah memberikan saran yang benar dan lurus sementara kau sendiri tidak ingin semua itu terjadi???“ tanya Rey. Eric kembali terdiam. Ia terduduk di lantai sambil meringis menahan perih memegangi jari – jemarinya yang lecet. Rey mendekatinya dan meremas jari jemarinya  yang lecet itu dengan sangat kuat. Eric tertunduk. Ia semakin merasakan sakit yang teramat sangat. Tetes keringat tampak jatuh dari ujung rambutnya. Ia tak berani melawan.

“Ingat, aku tidak mempermasalahkan kau pacaran dengan Chaca,“ kata Rey sinis sambil terus meremas jari – jemari Eric yang lecet. Eric tampak tak tahan dengan perlakuan Rey. Dengan paksa ia melepaskan remasan tangan tersebut.

“Aku ingin lihat, apakah kau bisa bahagia dengan keputusanmu itu,“ ucap Eric ketus, lalu ia membuka pintu dan segera meninggalkan Rey. Rey menatap Eric berlalu pergi meninggalkannya. Bibir tipisnya menyunggingkan senyuman misterius. Entah apa arti senyuman tersebut.

“Ya, Tuhan akan membantu.“

♥♥♥

 

Malam itu Rey mengantarkan Mitha pulang ke rumah. Seperti biasa, jalanannya menantang dengan melewati beberapa gang sempit. Kali ini Rey telah hafal dengan jalanan di gang tersebut, hingga tak perlu menunggu intruksi dari Mitha sebagai penunjuk jalan. Sesampai di depan rumah, dari dalam terdengar suara teriakan serta makian diiringi dengan suara pecahan beberapa barang pecah belah. Mendengar semua itu, Mitha mengurungkan niatnya untuk turun dari motor dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.

“Rey, bawalah aku bersamamu malam ini,“ katanya dengan suara bergetar. Ia tak kuasa membendung air matanya. Rey mengusap air mata yang jatuh meleleh di pipinya, tapi air mata itu tetap saja turun bagaikan rembesan air hujan di atap. Tanpa banyak kata Rey melajukan motornya meninggalkan pelataran rumah Mitha. Ia melajukan motornya ke kos – kosannya.

Malam sudah larut ketika mereka sampai.

“Kita sudah sampai,“ ucap Rey menggoyang – goyang tubuh Mitha yang terlihat sudah tertidur pulas di pundaknya sementara tangannya memeluk pinggangnya dengan erat. Mitha terkejut. Dengan sedikit malas ia melepaskan pelukannya dan beranjak turun dari motor Rey. Sebuah rumah petak kecil bercat putih berdiri kokoh di hadapannya. Mitha memandanginya rumah tersebut dari atas sampai bawah.

“Rey, aku bisa jelasin sama orang tua kamu. A…aku bisa tidur di mana saja. Cuma semalam saja Rey. Aku pasti bisa yakinin orang tua kamu untuk nerima aku nginep di sini semalam aja,“ katanya dengan suara bergetar dan terburu – buru.

“Ini kos-an aku ‘Tha. Nggak baca papan di depan?“ kata Rey santai seraya menunjuk papan putih bertuliskan “TERIMA KOS PUTRA DI SINI“ di depan pagar masuk. Mitha sedikit kaget melihatnya. Karena rumah tersebut tidak mirip seperti rumah kos melainkan tampak seperti rumah kontrakan yang saling berdempetan.

“Jadi nggak ada orang tuaku di sini,“ lanjut Rey lagi membuyarkan lamunan Mitha.

Kok kos yang lainnya sepi Rey?” tanya Mitha heran melihat rumah kos yang berdempet di samping kiri dan kanan kos Rey. Kos Rey berada di tengah – tengah.

“Yang tinggal di barak kos ini cuma aku. Mungkin karena masih baru dan sedikit peminatnya. Lagian kos di sini mahal. Itu karena airnya mengalir langsung ke kamar mandi, nggak kayak kos lain yang musti nimba dulu ke sumur,” jelas Rey tersenyum sambil menggiring motornya masuk ke dalam rumah. Mitha mengikutinya dari belakang. Aroma asap rokok tercium saat ia mulai berada di dalam rumah tersebut. Ia  duduk di sebuah kursi kayu bercat cokelat tua. Matanya memandang ke segala penjuru melihat ke sekeliling ruangan.

“Satu ruang tamu merangkap kamar tidur, WC plus dapur. Cocoklah buat aku yang sendiri,“ jelas Rey. Mitha tak begitu mendengarkan perkataan Rey. Matanya tertarik dengan foto yang tergantung di dinding, tepat di atas tempat tidur Rey. Ia beranjak dari tempat duduknya dan melihat dengan seksama foto yang terpampang di dinding tersebut.

“Siapa cewek ini?“ gumamnya pelan.

Rey datang dari belakang dengan membawa segelas teh celup. Mitha kembali duduk dengan perasaan curiga yang menyelingkupi. Tapi perasaan itu segera ia buang jauh – jauh dari pikirannya.

“Teh?“ tawar Rey menyodorkan segelas teh ke hadapannya. Mitha meraihnya dan segera menyeruputnya pelan. Rasa hangat langsung menyergap tubuhnya. Rey beranjak menuju ke lemari pakaiannya yang terlihat seperti rak buku.

“Gerah ya?“ ujarnya dengan mengibas – ngibaskan tangannya ke leher. Lalu dengan spontan ia membuka baju kaosnya dan menggantungkannya di gantungan. Mitha terperangah melihat tubuh kekar Rey yang mengkilap berbalut keringat itu. Tak disangkanya Rey akan berbuat seperti itu di hadapannya. Ia menahan napas. Jantungnya berdetak dengan cepat. Ia tak kuasa memalingkan pandangannya.

Rey menatap Mitha. Secepat kilat Mitha melengoskan pandangannya, berpura – pura tidak melihat apa – apa.

“Kenapa? Lihat saja. Aku tidak akan memperkosamu,“ ujarnya tersenyum. Rey kembali membalikkan badan. Ia melepaskan celana jeansnya dan dilemparkannya ke keranjang. Mitha kembali mengarahkan pandangannya ke Rey, melihatnya hanya mengenakan celana dalam. Sungguh pemandangan yang benar – benar membuat darah mudanya mengalir dengan cepat. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Rey segera mengenakan celana pendek dan menutup dada bidangnya dengan kaos tanpa lengan. Mitha membuang pandangannya ke arah yang lain. Tak bisa disangkalnya, Rey memiliki tubuh yang seksi sebagai seorang cowok. Darahnya berdesir tatkala Rey menghampiri dan duduk di sebelahnya.

“Apa yang kau lihat?“ tanya Rey pelan. Mitha pura – pura tak mendengar dan asik menyeruput teh hangatnya.

“Apa aku telah melecehkanmu?“ tanyanya lagi. Mitha menggeleng. Kemudian ia menjawab dengan suara pelan sambil menatap kedua mata Rey dengan tajam.

“Aku terpesona,“ jawabnya singkat. Rey menghela napas panjang.

“Kau tidak akan bertindak agresif seperti waktu itu ‘kan?“ tanya Rey menyalakan sebatang rokok.

“Kalau ya?“ jawab Mitha menantang. Rey terdiam sejenak. Ia memperhatikan wajah Mitha dengan lekat.

“Aku juga tidak akan memperkosamu,“ ujar Mitha tertawa kecil. Rey mengepulkan asap rokoknya.

“Sebenarnya apa yang terjadi di rumahmu,“ tanya Rey ingin tahu.

World War part 3,“ jawab Mitha tertunduk. Rey tersenyum sinis. Mitha lalu bercerita panjang lebar.

“Papaku seorang pecandu alkohol. Dia juga senang main perempuan. Terakhir dia selingkuh dengan sekretarisnya sendiri.“ Mitha menyeruput tehnya sedangkan Rey mendengarkan dengan serius.

“Walaupun begitu Mama tetap bertahan. Dia tak ingin pernikahannya hancur. Mama malu kepada Nenek jika sampai bercerai, karena dulu Nenek sempat tidak setuju Mama menikah dengan Papa. Bahkan Nenek bersikeras untuk membatalkannya. Namun, bujukan almarhum Kakek membuat hati Nenek luluh dan mengijinkan Mama menikah dengan Papa saat itu. Terkadang, penglihatan orang tua lebih jeli dari kita. Baik atau buruk sikap calon menantunya. Mama yang menjalani hubungan dengan papa dari awal, malah tidak bisa menangkap sikap buruk Papa hingga akhirnya mereka menikah,“ tutur Mitha panjang lebar sambil menerawang. Ia menghela napas seperti menahan tangis.

“Pertengkaran itu biasa terjadi Rey,“ ucapnya dengan suara yang terisak. Air mata tampak mulai mengalir membasahi pipinya. Rey mendekatkan kepalanya dan menyandarkan di bahunya. Ia mengusapnya pelan.

“Sepertinya aku ditakdirkan untuk bertemu orang seperti kau ‘Tha,“ kata Rey tiba – tiba.

“Maksudmu?“ tanya Mitha sedikit heran.

“Kita sama, senasib. Tapi bedanya, kedua orang tuaku telah bercerai. Ayah menikah lagi, sedangkan Ibu depresi dan dibuang Ayah ke rumah sakit jiwa,“ ujar Rey dengan nada miris. Mitha terkejut setelah Rey menceritakan tentang keadaan keluarganya. Tak disangkanya keadaan keluarganya sama dengan dirinya.

“Di mana ayahmu saat ini Rey?“ tanya Mitha.

“Ada di kota ini. Masih tinggal di rumah kami yang dulu bersama istri mudanya. Pasti kau bertanya – Tanya, kenapa aku memilih tinggal di kos – kosan sementara rumahku ada di kota ini. Ini semua karena istri muda Ayah. Dia lebih tua dariku 3 tahun. Dia tertarik kepadaku. Suatu hari, disaat Ayah terlambat pulang dari kantor, dia mencoba merayuku. Mengajakku ke tempat tidur di mana dia dan Ayah tidur bersama. Dia memaksa aku untuk mencumbuinya. Tapi aku menolaknya mentah – mentah. Akh!!! Aku muak bila ingat kejadian itu. Keesokan harinya, aku minta kepada Ayah untuk keluar dari rumah dan memilih tinggal di kos. Ayah menanyakan apa masalahnya. Tentu saja aku tidak menceritakan tentang kelakuan istri mudanya itu terhadapku disaat Ayah tak ada.”

“Aku hanya beralasan, aku ingin hidup mandiri. Biarlah Ayah hancur karena perbuatannya sendiri. Aku tahu istri mudanya itu tidak mencintainya. Dia hanya menginginkan uang Ayah saja. Ayah menyetujuinya. Lalu, jadilah aku tinggal di sini. Semua biaya hidup, Ayah yang menanggung. Sebenarnya aku benci bila harus menerima uang dari Ayah. Apalagi bila ingat dia pernah menyakiti hati Ibu hingga membuat Ibu depresi dan harus tinggal di rumah sakit jiwa entah sampai kapan. Tapi aku tidak bertindak bodoh. Itu memang sudah kewajibannya kok? Dari pada uangnya habis dipelorotin sama istri mudanya itu, mending aku minta ini itu yang sebenarnya tidak perlu,“ cerita Rey panjang lebar. Mitha tak sedikitpun melewatkan setiap penggalan cerita yang keluar dari mulut Rey.

“Seandainya Ibu tidak begitu. Aku lebih memilih tinggal bersamanya. Biarlah kami hidup susah. Aku bisa bekerja untuk membantu keuangan. Dari pada harus menerima uang dari Ayah,“ ujar Rey dengan suara yang sedikit bergetar. Matanya berkaca – kaca menahan tangis. Ia berusaha menahan tangis tersebut dan tak ingin menangis di depan Mitha. Ia berusaha bersikap tegar. Namun, hati tak bisa dibohongi. Mitha segera memeluk Rey dengan hangat.

“Menangislah Rey,“ ujar Mitha. Seketika itu titik air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Mitha mengelus pundaknya pelan

“Tak apa Rey. Selagi kita masih diberikan kesempatan menangis untuk menumpahkan kesedihan, menangislah. Kita ini manusia, bukan batu yang tak mempunyai perasaan.“

♥♥♥

11 p.m.

Rey merebahkan tubuhnya di atas selembar tikar dengan tangan sebagai bantalnya. Sementara itu Mitha berbaring di atas tempat tidurnya dengan mata yang belum terpejam. Ia melihat Rey berbaring di tikar dengan perasaan yang tak enak. Dilihatnya mata Rey belum juga terpejam. Pandangannya lurus melihat ke atas langit – langit kamar. Entah apa yang ada di pikirannya.

“Aku ini cengeng ya?“ katanya tiba – tiba dengan suara yang sedikit serak. Mitha tersenyum.

“Aku juga,“ jawab Mitha singkat.

“Wajar kau cewek,“ lanjutnya lagi sambil menatap Mitha yang terbaring dengan lekuk tubuh yang sempurna.

Emang cowok nggak boleh nangis?“ tanya Mitha. Rey tak menjawab.

“Apa itu penghinaan bagimu Rey karena telah menangis di depanku?“ sambung Mitha.

“Bagiku tak sepantasnya,“ ujar Rey membalikkan tubuhnya membelakangi Mitha.

“Tak begitu menurutku. Bagiku, cowok yang bisa menangis adalah cowok yang berhati lembut. Nggak keras hati dan egois. Dengan begitu, dia bisa memahami perasaan cewek dan nggak akan pernah menyakitinya,“ jelas Mitha.

“Aku masuk kriteria yang kau sebutkan,“ ujar Rey tertawa kecil.

“Rey, jaket kamu ada di rumahku.“

“Untuk kamu saja. Bila kau rindu aku, pakai saja jaketnya. Aku pasti ada di dekatmu.“

Suasana malam menjadi hening. Tidak ada lagi suara – suara yang keluar dari bibir mereka berdua. Hanya suara jangkrik yang menghiasi suasana malam yang sepi disertai dengan desiran angin malam yang membelai lembut setiap jiwa – jiwa yang terbang melayang ke alam mimpi.

Mitha beranjak bangun dari tempat tidurnya. Ia mendekati Rey yang berbaring di lantai dengan menggunakan sehelai tikar. Ia memperhatikan wajahnya yang telah tertidur pulas. Rambut Rey yang lebat dan hitam itu ia usap dengan penuh kehangatan.

“Kenapa kau tak jadi brengsek saja malam ini Rey? Padahal jika kau melakukannya, aku pasrah. Karena dengan begitu kau akan jadi milikku selamanya. Tapi kau bukan mereka Rey, yang hanya memandang cinta dari nafsu belaka. Kau berbeda,“ ucap Mitha dengan suara setengah berbisik di telinga Rey.

Ia mengecup kening Rey dengan hangat sambil mengucapkan kata selamat tidur. Kemudian ia meraih bantal yang berada di atas tempat tidur dan meletakkan di sebelahnya. Perlahan ia merebahkan tubuhnya. Ia memeluk pinggang Rey dengan erat seakan Rey adalah bantal guling baginya. Lalu ia memejamkan kedua matanya dan berharap esok pagi adalah pagi yang ceria untuknya.

♥♥♥

“Apa yang kau lakukan semalam terhadapku?“ tanya Rey sambil menghisap batang rokoknya. Mitha tak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil penuh arti.

“Kau akan mengantarkanku pulang ‘kan?“ ujar Mitha mengalihkan pembicaraan. Rey  memandang wajahnya.

“Aku akan mengantarkanmu bila kau telah siap,“ ucap Rey membelai lembut pipinya yang halus. Mitha membalasnya.

“Kau adalah alasanku untuk siap menerima masalah ini.“

Pagi itu Rey mengantarkan Mitha pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan mereka berdua tidak banyak bicara. Udara pagi yang basah mengiringi perjalanan mereka. Sesampai di depan rumah, Mitha segera masuk ke dalam rumah. Sementara Rey telah berlalu meninggalkan pelataran rumahnya.

“Siapa laki – laki itu?“

Mitha sedikit tersentak. Langkahnya terhenti di tangga atas menuju ke kamarnya. Mitha segera menoleh dan menatap Ibunya dengan tajam.

“Apa peduli Mama?!“ jawab Mitha dengan ketus. Ibunya segera menghampirinya dengan wajah yang kesal.

“Mau jadi apa kamu! Anak gadis jalan dengan laki – laki sampai semalaman nggak pulang!!“ bentak Ibunya hingga membuat Mitha turut emosi.

“Mama yang mau jadi apa!? Bertahun – tahun Mama tersiksa batin oleh Papa. Apa yang Mama lakukan? Bisanya cuma pasrah dan menangis. Kapan itu semua akan berakhir Ma?!“ bentak Mitha tak mau kalah.

“Tahu apa kamu masalah orang tua?“

“Mama dan Papa sama aja. EGOIS!!! Coba Mama ngertiin perasaan aku sedikit aja? Aku bosan hidup di dalam rumah ini yang setiap hari bagaikan neraka,“ ucap Mitha dengan berurai air mata. Ibunya terdiam.

Malem tadi aku pulang. Tapi aku nggak jadi masuk. Tentunya Mama tau apa yang terjadi semalam,“ ujar Mitha sinis. Ibunya masih terdiam. Lalu dengan berurai air mata ia terduduk di kursi sofa.

“Semalam Papa minta bercerai,“ ucapnya dengan suara serak. Mitha menghampiri Ibunya.

“Mama menyetujuinya?“ tanya Mitha.

“Ketakutan Mama yang terbesar selama ini akhirnya datang juga.“

Mitha memegang kedua tangan Ibunya dengan erat.

“Aku tau itu sangat berat untuk Mama. Tapi, hanya itulah jalan keluar satu – satunya. Lupakan gengsi Mama terhadap Nenek.“

Nggak semudah itu Mit.“

Mitha berdiri lalu berkata – kata dengan suara yang tinggi.

“Mama harus bisa mengambil sikap. Sampai kapan Mama akan terus begini!!? Sekarang Papa di mana?“

Ibunya tak menjawab. Suasana menjadi hening. Hanya suara isak tangis pilu yang terdengar. Mitha meninggalkan Ibunya sendirian dan langsung naik ke kamarnya. Di dalam kamar ia merebahkan tubuhnya. Matanya menerawang. Pikirannya kembali terbayang akan Ibu Rey yang menjadi depresi gara – gara bercerai.

Nggak, aku nggak mau semua itu terjadi. Mama tidak seperti itu. Dia bukan seorang wanita yang rapuh. Dia wanita yang tegar. Kalau tidak seperti itu mana mungkin Mama bisa bertahan sampai selama ini dengan pernikahannya yang sudah tak pantas lagi disebut sebagai sebuah pernikahan.“

Ia beranjak dari tempat tidurnya dan kembali menghampiri Ibunya yang masih duduk terdiam di sofa.

“Ma, maafin Mitha tadi.“

Ibunya menatap Mitha lalu segera memeluknya.

“Kamu benar Mit. Mama memang harus mengambil sikap. Tidak seharusnya Mama pasrah dan menangis saja melihat tingkah Papamu yang semakin menjadi – jadi.“

Mitha menghela napas yang panjang lalu melepaskan pelukan Ibunya.

“Mama yang tegar ya? Aku nggak pengen liat Mama nangis dan sedih lagi,“ katanya sambil mengusap air mata yang meleleh di pipi Ibunya. Mereka berdua kembali berpelukan erat melupakan sejenak kesedihan dan Mitha berharap neraka itu akan segera berakhir dengan cepat.

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: