Rey-Bab I

Oleh : Rengga Trianto

Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com

BAB I

INI MEMANG BAGIANKU

“Seperti kutub utara dan kutub selatan bumi, seperti ufuk barat dan ufuk  timur, seperti siang dan malam hari, seperti warna hitam dan putih, seperti hulu dan hilir sungai. Semua berpasang – pasangan, semua sudah ada bagiannya…..”

 

“Kamu tahu? Hidup ini sangat keras. Keras bagaikan batu,“ ucap Rey tiba – tiba, lalu ia menyulutkan api di ujung sebatang rokok.

“Aku tahu. Tidak mudah menjalani hidup seperti ini,“ jawab Eric merebahkan diri di atas tempat tidur Rey.

“Orang – orang  tidak akan mudah menerimanya atau bahkan sama sekali tidak,“ lanjut Rey lagi dengan suara pelan. Asap rokok mengepul dari mulutnya membentuk suatu rupa yang tak jelas bentuknya. Eric beranjak bangun dan duduk bersebelahan dengannya. Ia menarik napas panjang.

“Kita hidup di negara yang tidak mudah menerima hal – hal seperti itu.“

“Aku menyesal telah dilahirkan seperti ini. Kalau pun aku telah dilahirkan seperti ini, kenapa aku tak sama dengan yang lainnya!!!“ sesal Rey dengan nada suara yang meninggi. Ia beranjak dari duduknya dan berdiri di dekat jendela memandang langit yang gelap malam itu. Eric memperhatikan tingkahnya dengan rasa iba.

“Kamu nggak sendirian Rey. Bukankah aku mengalami hal yang sama denganmu?” tanya Eric.

“Tapi kau masih beruntung ‘Ric. Tidak seperti aku!!“ jawab Rey lirih. Air mata terlihat jatuh dari pelupuk matanya. Selama ini ia berusaha terlihat tegar di depan Eric, namun kali ini tidak. Perasaan memang tak mudah dibohongi.

“Ya sudah. Kita terima saja apa adanya kita. Jalani saja hidup ini selayaknya air yang mengalir,“ ucap Eric menepuk pelan pundak Rey. Rey tidak menjawab. Ia membisu dalam keheningan malam yang semakin larut. Eric membiarkannya.

“Rey, aku pulang ya?“ pamit Eric. Rey masih tak menjawab. Bahkan anggukan kepala tanda iya pun tak dilakukannya.

“Kuharap, besok kau bisa lebih tenang.“

Rey tak bergeming sedikit pun. Tatapan matanya kosong. Entah apa yang ia renungkan. Ia berusaha menerima apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

♥♥♥

 

Mitha berjalan santai di koridor menuju ke kelasnya. Sementara itu, tanpa ia sadari dari kejauhan Rey memperhatikannya dengan seksama sambil menghisap sebatang rokok. Melihat secara detail setiap gerak dan lekuk – lekuk tubuh Mitha yang ramping. Melihat dengan sedikit terpesona rambut Mitha yang panjang hitam tergerai.

“Seksi, cantik,“ gumamnya pelan. Asap rokok yang dihembuskan dari mulutnya terbawa angin semilir hingga aroma tembakaunya yang khas tercium oleh hidung Mitha. Ia berhenti sejenak dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Dilihatnya Rey tengah bersandar di dinding belakang toilet siswa sambil asik menghisap rokok dan menyemburkan asapnya dengan tampak nikmat.

“Rey!!“ panggil Mitha. Ia terkejut dan spontan membuang rokok yang tampak baru separuh  dihisapnya.

“Mitha?“ katanya dengan nada terkejut.

Ngapain kamu di sini? Gawat lho kalau sampai ketahuan sama Pak Rizal?“ ujar Mitha menasehati. Mendengar perkataan Mitha, Rey tampak tidak terima. Wajahnya tiba – tiba berubah menjadi merah.

Urusin saja urusan kamu sendiri!!!“ ucap Rey dengan nada tinggi.

Lho kok marah?“ tanya Mitha heran.

Laporin saja sama Pak Rizal!!“ teriak Rey kesal sambil bergegas meninggalkan Mitha.

“Rey….!!!“ teriak Mitha. Namun Rey tidak peduli. Ia terus melangkah tanpa memperdulikan Mitha yang terus berteriak memanggil – manggil namanya. Mitha heran melihat tingkah laku Rey. Padahal ia tidak bermaksud untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Pak Rizal. Memang selama ini Rey selalu bersikap dingin kepadanya, bahkan cenderung cuek. Tapi tidak pernah ia berkata – kata dengan nada tinggi seperti itu sebelumnya. Kenapa Rey yang terlihat cool di matanya itu tiba – tiba berubah menjadi temperamental?

“Mungkin Rey hanya salah paham aja,“ batin Mitha dalam hati. Mitha menghela napas yang panjang. Lalu ia bergegas pergi meninggalkan toilet menuju ke kelasnya dengan sedikit perasaan bersalah kepada Rey.

♥♥♥

Malam itu udara sangat lembab. Hujan gerimis yang terus – menerus turun membuat udara dingin bagaikan es. Rey duduk terpaku di lantai seorang diri di dalam kamar kosnya. Televisi yang menyala ia biarkan begitu saja tanpa ditontonnya. Kepalanya menunduk. Pikirannya kosong. Tangannya menggaruk – garuk ujung kakinya yang tidak gatal. Mulutnya bergerak – gerak tapi tidak mengeluarkan suara. Ia seperti menyesali perbuatannya selama ini.

Suara – suara jangkrik di malam hari semakin menambah hening suasana. Suara televisi terus – terusan berbunyi tanpa ada yang menanggapi untuk melihat acara apakah yang sedang ditayangkan. Rey tampak tidak tertarik dengan gambar – gambar yang ditayangkan oleh televisi tersebut. Telinganya seakan tuli, tak mendengar suara – suara di sekitarnya. Hanya suara hatinyalah yang ia dengar.

“Sampai kapan kau akan terus begini?“ suara dari dalam sudut hatinya yang paling dalam tiba – tiba berbunyi. Rey sedikit tersentak. Ia menjawab dengan bibir yang bergetar.

“Aku tidak tahu,“ jawabnya pelan.

“Kenapa kau sampai tidak tahu? Bukankah sudah jelas kau harus memilih bagian yang mana,“ kata suara hati nuraninya berbisik.

“Aku tahu. Tapi itu bukan pilihanku, itu bukan keinginanku,“ jawabnya lagi dengan suara yang sedikit membesar.

“Jangan turuti keinginanmu. Turutilah keinginan Tuhanmu!!“ lanjut hati nuraninya dengan nada meninggi.

“Ini keinginan Tuhan!! Tuhan yang membuatku jadi begini!!“ bentaknya sambil melemparkan bantal ke dinding hingga mengenai toples yang berisi ikan. Toples tersebut  jatuh pecah berserakan di lantai.

“Kau masih punya kesempatan untuk berubah. Tuhan pasti memberi jalan,“ kata hati nuraninya lagi dengan suara yang melemah.

“Kesempatan? Kesempatan apa!!! Kenapa tidak dari awal ketika aku dilahirkan!! Kenapa Tuhan membuatku jadi berbeda!! Tidak sama seperti orang lain!! Kalau boleh aku memilih, aku tidak mau dilahirkan ke dunia kalau tahu nantinya aku dilahirkan seperti ini!!“ bentak Rey kepada hati nuraninya sendiri. Suaranya memecah kesunyian malam. Air matanya jatuh tak terbendung bagaikan titik air hujan yang turun gerimis malam itu.

Suara – suara jangkrik yang nyaring seperti mengalunkan sebuah alunan melodi yang menyayat hati. Seperti alunan melodi instrumentalia yang mengiringi sebuah drama tentang kegalauan hati.

“Terima apa adanya dirimu,“ tiba – tiba suara dari sudut hatinya yang lain berbunyi. Rey menjawab dengan nada heran.

“Maksudmu?“ tanyanya dengan suara yang kembali pelan.

“Ya, jalani kehidupan ini seperti layaknya air yang mengalir. Salahkan Tuhan kenapa menciptakan kamu seperti ini,“ jawab suara hati tersebut dengan pasti. Rey seakan menemukan kembali kepercayaan dirinya.

“Eric benar,“ ujarnya pelan. Namun kepercayaan dirinya tak berlangsung lama.

Stop!! Ingat Rey perbuatan kamu itu salah!!!“ tiba – tiba suara hati nuraninya kembali bergaung dengan nada yang keras. Tanpa ia kehendaki, suara – suara hatinya yang lain tiba – tiba bermunculan, bergaung mengeluarkan komentar – komentar yang saling bertolak belakang. Suara – suara itu memenuhi seluruh ruang hatinya, pikirannya sampai ke dalam lubang telinganya. Suara – suara itu jelas dan tampak semakin nyata. Seakan ada sebuah debat seru antar kelompok dan mengharuskan Rey untuk menentukan siapa akhirnya yang menjadi pemenang. Rey tampak tak tahan. Ia menutup kedua daun telinganya rapat – rapat. Namun, suara – suara perdebatan itu masih saja menggaung di telinganya. Ia menggeram, lalu ia berteriak sekencang – kencangnya.

“Diaaaaaaaam!!!!“ suaranya kembali memecah kesunyian malam. Jangkrik – jangkrik berhenti mengalunkan nada – nada penuh kegalauan. Hujan berhenti menumpahkan airnya ke bumi. Malam semakin larut dalam persimpangan dilema.

“Suara hati nurani adalah sedemikian halusnya, sehingga mudah dicekik, tetapi sedemikian murninya, sehingga tak mungkin disalah artikan.”

 

♥♥♥

                                                                                                            12  Maret 2004

Dear Diary

Hari ini aku melihat Rey merokok di toilet belakang sekolah. Aku heran, kenapa ia berani merokok disaat jam pelajaran tengah berlangsung. Lantas aku menghampirinya. Seperti biasa, sikap coolnya selalu membuatku terpesona. Lalu aku berbasa – basi memberi tahu dia, kalau sampai ketahuan sama Pak Rizal, bisa gawat urusannya. Eh, Tau nggak dia jawab apa? “Urusin aja urusan kamu sendiri,Gitu katanya. Padahal aku nggak ada maksud buat ngelaporin dia. Bete juga sih ngedengernya. Niatnya mau basa – basi eh malah dia salah paham.

Rey…Rey, kenapa sih sikap kamu begitu dingin. Malah lebih dingin dari sebongkah es. Aku benar – benar penasaran sama kamu. Kamu tuh beda sama cowok – cowok lain yang ada di sekolah. Nggak genit kayak si Bryan, nggak kepedean kayak si Riko atau sok kegantengan kayak si Andy. Kamu tuh cool. Ya…Cool. Aku suka gaya kamu itu. Sebenarnya kamu tuh ganteng. Seandainya kamu sedikit saja beraksi godain cewek – cewek di sekolahan kita, bisa – bisa si Riko kalah pamor tuh sama kamu. Aku yakin deh, pasti cewek – cewek pada kelepek – kelepek. Termasuk aku Rey.

Tapi, kenapa Rey tadi kamu kasar sama aku. Biasanya juga nggak. Kalau ada masalah coba ceritain.  Kalau bisa pasti aku bantu dengan senang hati. Sifat cool kamu itu menjadi bumerang bagi kamu sendiri. Punya masalah akhirnya dipendam sendiri. Abis kamu tuh terlalu cool. Jadi, orang anggap kamu tuh sombong. Temen kamu di sekolah bisa dihitung pake jari.

Walaupun begitu, aku tetap suka kamu kok Rey. Aku tetap mengagumimu. Kapan ya kita bisa ngobrol banyak. Dari hati ke hati.

Mitha menutup diarynya dengan rasa penasaran yang masih menyelingkupi.

“Andrey…“ desahnya pelan. Ia merebahkan tubuhnya yang ramping ke atas ranjangnya yang empuk. Matanya perlahan – lahan memejam. Pikirannya dipenuhi dengan segudang rasa penasarannya kepada Rey.

“Andrey…… I love You.

Perkataan penuh makna yang tanpa sadar ia ucapkan dari bibir mungilnya menutup hari malam itu.

♥♥♥

 

Mitha kembali memergoki Rey tengah berada di toilet belakang sekolah. Seperti biasa, mulutnya tengah asik mengisap sebatang rokok. Ia menghampiri Rey dengan hati – hati dan sebisa mungkin menyapa dengan kata – kata yang tak berhubungan dengan aktivitasnya saat itu.

“Rey,“ sapa Mitha pelan. Rey memalingkan wajahnya. Rokok yang berada di tangannya segera  dibuangnya.

“Ada apa?“ tanyanya pelan dengan wajah dingin tak berekspresi.

Nggak ada apa – apa. Aku cuma mau minta maaf soal yang kemarin,“ jawab Mitha tersenyum.

“Masalah apa? Aku nggak punya masalah dengan kamu,“ ucapnya santai hingga membuat dahi Mitha sedikit berkerut.

“Kamu nggak ingat sama sekali?“ tanya Mitha bingung.

“Kalau kata kamu yang kemarin itu masalah, bagiku itu nggak. Jadi, kita nggak punya masalah,“ jawabnya hingga membuat Mitha heran.

“Kamu aneh Rey,“ ujar Mitha.

“Aku memang aneh,“ sahut Rey ketus.

“Sebenarnya apa masalah kamu Rey?“ tanya Mitha menyelidik. Rey terdiam sejenak. Kali ini ia tidak menjawab pertanyaan Mitha. Kepalanya menunduk dan tatapan matanya kosong. Mitha lalu memegang pundaknya seperti seorang sahabat yang siap untuk mendengar cerita  dan memberikan solusi.

“Cerita Rey sama aku. Siapa tahu aku bisa membantu,“ tawar Mitha dengan suara yang menyakinkan. Rey mendongakkan kepalanya ke atas. Melihat segumpalan awan putih bersih yang menyerupai segerombolan anak – anak domba yang terbang melayang – layang mengikuti hembusan angin.

“Andai aku jadi awan. Tidak usah jadi manusia yang punya banyak masalah,“ ujarnya pelan. Mitha tertawa kecil mendengarnya. Dalam hati ia membatin, “Apa – apaan Rey berkata seperti itu?”

“Tapi sayang Rey. Kamu itu manusia,“ ujar Mitha.

“Itulah yang kusesalkan. Kenapa aku diciptakan menjadi manusia,“ katanya lirih.

“Itu takdir Rey. Kita harusnya bersyukur diciptakan sebagai manusia. Punya akal, pikiran, hawa nafsu, keinginan – keinginan. Tiada yang lebih bahagia selain menjadi manusia,“ ucap Mitha hingga membuat Rey memalingkan wajah ke arahnya. Ia tersenyum sinis.

“Bukankah itu semua menjadi bumerang bagi kita?“ tanya Rey.

“Tidak. Selama kita bisa mengaturnya dan menjalaninya sesuai apa yang dinginkan oleh Tuhan,“ jawab Mitha menatap wajah Rey.

“Tapi tidak semudah itu. Tak sesederhana itu bila kamu jadi aku.“

“Aku tahu. Kamu itu laki – laki. Bukankah jadi laki – laki itu menyenangkan? Bebas, ke mana – mana nggak ada yang melarang, gaya selengekan tanpa terikat banyak aturan. Lain dengan perempuan. Ini itu nggak boleh. Pulang jangan kemalemanlah, sikap dijagalah dan seabrek – abrek yang lain. Malah aku pernah berpikir, kenapa aku nggak jadi laki – laki aja. Nggak hamil dan nggak melahirkan,“ ujar Mitha panjang lebar dengan sedikit bercanda. Rey tampak tak tertarik dengan candaan itu. Ia kembali menundukkan kepalanya.

“Tetap tidak sesederhana itu masalahnya. Ini masalah hati, masalah jiwa, yang hanya Tuhan yang bisa merubahnya.“

“Kalau begitu, kamu berusaha aja untuk merubahnya, Tuhan pasti akan membantu,“ ucap Mitha hingga seketika membuat hati Rey menjadi sedikit tergugah. Ia mendongakkan kepalanya lagi lalu menatap wajah Mitha lekat – lekat sambil memegang lembut pundaknya dengan kedua tangannya.

“Kenapa kamu simpati sama aku ‘Tha? Padahal kita beda kelas dan nggak saling kenal dekat,“ tanyanya tiba – tiba. Mitha sedikit terkejut mendengarnya. Ia tak tahu harus menjawab apa. Jantungnya berdegup dengan keras. Apalagi tatapan mata Rey yang tajam bagaikan mata elang itu serasa menembus masuk ke jantung hatinya. Ia tak kuasa melihatnya. Ibarat sebongkah es, mungkin ia telah mencair dan menjadi air. Ingin rasanya ia mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa ia telah jatuh cinta kepadanya. “Seandainya kau tahu perasaan hatiku ini Rey. Tak bisakah kau menangkap gelagat cinta yang kuberikan kepadamu? Saat itu akan segera tiba Rey,“ batinnya dalam hati. Mitha melepaskan pegangan tangan Rey di kedua pundaknya.

“Tapi kita satu sekolah ‘kan Rey?“ jawab Mitha tersenyum sambil melangkah meninggalkan Rey dengan raut wajah penuh keingintahuan. Rey masih tak bisa menangkap gelagat itu. Ia berdiri terpaku melihat Mitha berlalu meninggalkannya.

♥♥♥

 

“Apa tandanya kalau ada seorang cewek yang simpati dengan kita, padahal yang lain tidak dan biasa – biasa aja?“ tanya Rey kepada Eric.

“Itu tandanya, cewek itu suka sama kamu,“ jawab Eric dengan senyum yang dipaksakan..

Ngaco kamu,“ ujar Rey melempar Eric dengan bantal.

“Chaca juga begitu dulu sama aku,“ kata Eric menerawang.

“Tapi kamu bisa menerimanya,“ balas Rey dengan suara yang tiba – tiba melemah. Asap rokok mengepul dari mulutnya. Eric diam dan tak ingin menjawab. Ia berbaring di kasur memainkan gitar dengan nada yang tak karuan. Rey memperhatikannya sambil tersenyum.

“Tentu saja kamu bisa menerimanya. Kamu suka dia,“ lanjut Rey lagi. Eric menghela napas yang panjang.

“Siapa namanya Rey?“ tanya Eric.

“Mitha,“ jawab Rey singkat.

“Simpati bukan berarti dia suka lho Rey.“

“Kalau dia benar – benar suka aku?“ tanyanya hingga membuat Eric tak tahu harus menjawab apa. Perbincangan terhenti sangat lama. Rey terus menikmati rokoknya, sementara Eric terus memainkan senar – senar gitar dengan nada – nada yang tak berirama. Suaranya kembali memecah kekakuan.

“Kamu nggak bisa jawab ‘kan ‘Ric?“ tanyanya lagi. Eric mencoba menjawab.

“Kalau dia suka kenapa tidak?“ jawab Eric dengan nada setengah hati. Rey menghisap rokoknya dalam – dalam lalu menyemburkan asapnya ke udara hingga membuat kabut tipis yang melayang – layang bagaikan sutera di dalam kamarnya.

“Benar. Kenapa tidak? Ini memang bagianku. Ya, bagianku seperti kata hati nuraniku malam tadi,“ ujar Rey dengan kata – kata yang tak dimengerti oleh Eric.

“Apa Rey?“

“Ya, bagianku. Bagianku di dunia ini sesuai dengan kehendak Tuhan.“

♥♥♥

26  Maret  2004

Dear Diary

Hari ini aku seneng banget. Soalnya tadi di sekolah aku ngobrol lumayan banyak dengan Rey. Jarang – jarang kesempatan seperti itu. Biasanya juga ketemu hanya bilang “hey“ atau bicara sepatah dua patah kata aja. Tapi tadi nggak. Rey curhat sama aku. Walaupun kesannya masih malu – malu. Aku juga nggak tahu pasti apa masalah yang sedang menimpa dirinya. Katanya, dia menyesal kenapa diciptakan menjadi manusia, kenapa nggak jadi awan saja. Aneh sih kedengerannya. Aku nggak tahu apa maksudnya. Aku juga nggak bisa menebak – nebak dengan pasti. Tapi menurutku, jika ada seseorang yang berandai – andai ingin menjadi awan, menjadi pohon, atau menjadi tumbuhan, pasti masalah yang dia hadapi sangatlah berat. Hingga dia berpikiran, kenapa nggak jadi pohon atau awan saja, yang bebas, nggak punya masalah, nggak mikirin ini itu segala macam seperti manusia yang dianugerahi akal dan pikiran oleh Tuhan.

Diary,  untuk pertama kalinya dia pegang kedua pundakku dan menatap mataku dengan tajam. Aku tak kuasa melihatnya. Hatiku dag dig  dug dibuatnya. Jantungku seakan ingin lepas dari gantungannya. Oh Rey, seandainya saat itu aku punya keberanian untuk mengatakannya. Tapi, kalau aku mengatakannya belum tentu juga kamu akan suka ‘kan Rey. Lagian, kesannya agresif sekali aku bila mengungkapkannya duluan. Biarlah waktu yang akan menjawab. Cinta itu memang butuh proses.

Mitha menutup diarynya. Wajah Rey yang tampan terus menghiasi pikirannya. Bagaimana Rey menatapnya dan sentuhan tangannya yang lembut seakan masih terasa di atas pundaknya. Bagaimana suaranya yang serak dan berat itu masih terngiang – ngiang di lubang telinganya.

“Seandainya kamu tahu Rey. Malam ini aku nggak bisa tidur. Aku terus aja mikirin kamu. Kau telah mencuri hatiku Rey. Aku terjerat pesonamu. Mengapa kau begitu menarik di mataku. Mengapa hanya kamu yang bisa membuat hatiku bergetar. Apakah kamu merasakan hal sama denganku malam ini Rey ?“

♥♥♥

 

 

 

 

“Masih memikirkan kenapa kamu jadi manusia?“ tanya Mitha tiba – tiba berdiri di depan Rey yang sedang duduk seorang diri di bangku taman sekolah.

“Masih,“ jawab Rey singkat. Mitha duduk di sampingnya, kemudian memperhatikan wajahnya yang seperti biasa, cool. Sambil menopang dagu dengan kedua tangannya, Mitha terus saja memperhatikannya. Rey sadar ia diperhatikan, lantas ia balas memperhatikan Mitha. Namun dengan secepat kilat Mitha melengoskan wajahnya. Rey geleng – geleng kepala. Mitha tertawa kecil tak bersuara.

“Kenapa?“ tanya Rey singkat. Mitha berpaling ke Rey.

“Coba kamu tuh senyum. Sedikit aja,“ goda Mitha. Rey menatap mata Mitha dengan tajam hingga membuatnya jadi salah tingkah. Lagi – lagi ia tak kuasa menatap tatapan mata itu.

“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku kemarin?“ tanya Rey tiba – tiba. Deg!  jantung Mitha seketika berdegup kencang.

“Bukannya sudah kujawab?“ jawab Mitha tenang.

“Itu bukan alasan kamu simpati sama aku ‘kan?“ tanya Rey lagi.

“Bukankah setiap manusia butuh manusia lain untuk berbagi cerita?“ tanya Mitha balik

“Tapi kamu tidak tahu apa masalahku,“ jawab Rey ketus.

“Seandainya kamu memberitahuku Rey,“ desak Mitha sambil memegang kedua pipinya. Rey tersentak kaget.

“Maaf Rey,“ ucap Mitha menjauhkan tangannya. Rey buru – buru beranjak dari tempat duduknya.

“Tak perlu meminta maaf. Sorry, aku sudah ditunggu teman di kantin,“ katanya berlalu meninggalkan Mitha.

Angin semilir merontokkan daun – daun beringin yang kering. Ada yang jatuh berserakan di atas tanah. Sebagian lagi tampak bersiuran ditiup angin. Mitha duduk sendiri di bangku taman. Memikirkan sikap Rey yang terlalu misterius baginya.

“Sebenarnya, apa masalahmu Rey?“ tanya Mitha dalam hati.

“Apakah sepenting itu hingga kau tak mau menceritakannya kepadaku.“

Ia beranjak dari tempat duduknya dengan meninggalkan daun – daun beringin yang terus berguguran jatuh ke bumi.

Mendung tampak menggelayut di atas langit kota Pangkalpinang. Awan – awan yang tadinya berwarna putih bersih berganti warna menjadi kehitam – hitaman. Angin berhembus sedikit kencang hingga membuat pohon – pohon di sekitar sekolah bergoyang – goyang ke sana – kemari. Mitha berjalan pelan menuju ke pintu gerbang sekolah. Ia melihat jam tangannya.

“Sudah jam 4 rupanya,“ gumamnya pelan. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat hingga akhirnya sampai di pinggir jalan. Ia berhenti. Matanya celingukan ke sana kemari melihat apakah ada angkutan umum yang lewat. Sesekali ia melihat jam tangannya. Dari belakang terdengar suara motor yang menghampirinya. Bunyi mesinnya yang nyaring cukup memekakkan telinga. Mitha menoleh ke belakang hendak memarahi pengendara motor tersebut. Tapi ia tidak jadi marah ketika tahu pengendara motor tersebut adalah Rey.

“Rey, baru pulang?“ tanya Mitha.

“Ya, mau bareng?“ ajak Rey lagi – lagi dengan gaya coolnya. Mitha tersenyum lebar. “Tumben,“ batinnya dalam hati.

“Boleh,“ jawab Mitha menerima ajakan Rey. Tanpa banyak kata Rey melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Spontan Mitha memeluk pinggangnya erat. Rey membiarkannya.

“Ini memang bagianku.“

Di perjalanan mereka berdua tidak banyak bicara. Mitha lebih banyak melamun memikirkan sikap Rey yang benar – benar tak bisa dimengerti olehnya, “Tadi siang jutek, sekarang berubah jadi manis.”

Rey menurunkan kecepatan motornya di jalan yang ramai. Mitha melepaskan pelukkannya.

“Bentar lagi hujan lho Rey!!“ ucap Mitha dengan suara yang dikuatkan. Rey tidak menjawab, lalu dengan nada cuek ia bertanya.

“Rumah kamu di mana?“ tanya Rey.

“Rumahku masih jauh, di Pangkalbalam,“ jawab Mitha. Rey kembali memacu motornya dengan kencang. Motornya ia lajukan ke arah jalanan menuju Pangkalbalam.

Mitha mendongakkan kepalanya ke atas, melihat langit yang tampak semakin hitam disertai suara gemuruh yang riuh rendah. Titik air hujan tampaknya sudah tak sabar lagi ingin ditumpahkan. Ia menengadahkan tangannya ke atas. Tampak satu sampai tiga tetes air jatuh membasahi telapak tangannya yang halus. Rey terlihat tenang mengendarai motornya dengan kencang. Ia tidak terpengaruh dengan tetes air hujan yang mulai membasahi jaket levisnya.

“Rey, hujan!!“  teriak Mitha dengan suara keras. Tetes air hujan itu akhirnya jatuh ke bumi dengan begitu derasnya. Rey membelokkan motornya dan berhenti di sebuah rumah kosong di pinggir jalan. Dengan cepat mereka berdua turun dari motor dan berteduh di sana.

Mereka berdua berdiri di teras depan rumah kosong tersebut dengan membisu. Tak ada kata – kata yang terlontar untuk memecah kebisuan. Mitha tampak kedinginan dan merapatkan kedua tangannya di dada agar terasa hangat. Baju seragamnya terlihat setengah basah. Rambut hitam panjangnya pun kuncup tak tergerai karena basah. Rey memperhatikannya lekat – lekat. Entah apa yang ada dipikirannya. Spontan ia melepaskan jaket levis miliknya dan digantungkannya di pundak Mitha.

“Kamu kedinginan ‘kan?“ ucap Rey tiba – tiba dengan nada penuh perhatian memecah kebisuan. Mitha menatap wajah Rey yang basah. Ia tidak menyangka Rey tiba – tiba bisa bersikap semanis itu.

“Kamu perhatian sama aku Rey,“ ucap Mitha tersanjung. Rey jadi salah tingkah.

“Aku….. aku…“ perkataan Rey terputus karena Mitha buru – buru menutup mulutnya dengan kedua jarinya. Mitha kembali menatap wajah Rey dengan lekat dan memegang kedua pipinya yang basah. Mereka berdua terdiam, hanyut dalam suasana. Tanpa sadar Mitha mendekatkan bibirnya sambil terus menatap kedua mata Rey dalam – dalam. Rey terperanjat, namun ia tidak bisa berbuat apa – apa. Bibir mungil dan basah itu semakin dekat menuju ke arah bibirnya.

“Ini bagianmu,“ tiba – tiba terdengar suara dari dalam hatinya. Rey memantapkan hati. Ia langsung menerima bibir Mitha melumat bibirnya. Ia membalas lumatan itu dengan lembut. Tanpa sadar tangannya bereaksi mendekap erat pinggang Mitha yang ramping semakin mendekat ke arahnya. Bunyi rintik hujan yang semakin deras disertai bunyi gemuruh yang menggelegar tidak mereka hiraukan. Mereka berdua hanyut dalam lumatan – lumatan penuh gairah hingga mereka hampir kehilangan napas. Tiba – tiba Rey melepaskan dekapannya dan menyudahi ciuman tersebut. Mitha terkejut.

“Maafkan aku. Aku memang cowok brengsek,“ maki Rey pada dirinya sendiri.

“Aku yang tidak tahu diri Rey. Tidak seharusnya aku berbuat begitu kepadamu. Aku memang cewek murahan,“ bantah Mitha dengan rasa bersalah.

“Itu salahku ‘Tha!!!!“ tegas Rey  keras hingga membuat Mitha tersentak kaget.

Suasana kembali membisu. Kekakuan kembali meraja. Tak ada lagi suara – suara yang terlontar dari mulut mereka berdua. Hanya suara tetes – tetes air hujan dan suara gemuruh yang saling berlomba menunjukkan keangkuhannya. Mitha menatap Rey yang berdiri membisu memperhatikan tiap tetes air hujan yang jatuh membasahi bumi.

“Apa dia suka aku?“ tanya Mitha dalam hati.

“Cowok mana yang tidak mau jika disodorkan ciuman seperti itu,“ pikirnya lagi.

“Tapi dia tidak menolak. Dia menikmati ciuman itu,“ batinnya.

Hujan telah mereda walaupun masih menyisakan rintik – rintik yang kecil. Rey menghidupkan motornya dan memanaskannya sebentar. Mitha berdiri di belakangnya.

“Apa arti dari ciuman tadi Rey?“ tanya Mitha. Rey menoleh, namun ia tak menjawab pertanyaan itu hingga Mitha diantarkan tepat sampai di depan rumahnya.

“Makasih Rey,“ ucap Mitha tersenyum. Rey menatap Mitha dengan tatapan penuh makna. Bibirnya tersenyum walaupun sedikit, entah apa arti senyuman itu. Mitha surprise melihatnya.

“Ini pertama kalinya aku liat kamu tersenyum.“

“Aku pulang ya ‘Tha?” pamit Rey.

Ia lalu melajukan motornya dan meninggalkan pelataran rumah Mitha. Sementara itu, Mitha melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya. Tiba – tiba ia sadar, ada sesuatu yang tertinggal, “Jaket Rey.“

♥♥♥

 

Kipas angin berputar dengan kencang. Udara malam yang gerah memaksa Rey untuk menyetelnya hingga level teratas. Ia duduk di pinggir ranjang sambil merokok dengan nikmat. Sementara Eric keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada.

“Aku tadi menciumnya,“ ucap Rey tiba – tiba. Eric terkejut mendengarnya.

“Terus?“ tanya Eric sembari mengenakan kaosnya yang tergeletak di atas lantai.

“Kau bisa tahu bagaimana kelanjutannya,“ jawab Rey dengan melirik ke arah Eric.

Sex?? “ tebak Eric sembarangan. Rey tertawa terbahak – bahak.

Ngeres otak lo!!“ sergahnya berdiri dan mendowel kepala Eric.

“Lalu apa?“ tanya Eric penasaran. Rey menuju ke arah cermin dan memperhatikan wajahnya sendiri. Ia merapikan rambutnya yang tampak terlihat acak – acakan.

Just kissing,“ jawabnya dengan logat sok inggris. Eric melemparnya dengan kain handuk.

“Gaya lo!! Tapi kau menikmatinya ‘kan?“ tanya Eric lagi. Rey terdiam. Ia menarik napas yang panjang. Tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Rokok terus ia hisap hingga menyisakan batangan yang pendek.

“Apakah kau begitu terhadap Chaca?“ tanya Rey. Eric mengangguk. Rey tersenyum kecut melihatnya.

“Kau menikmatinya?“ tanya Rey lagi. Eric kembali mengangguk.

“Kau sungguh biadab ‘Ric,“ sindir Rey. Eric membela diri.

“Kita sama bro. Kau juga menciumnya ‘kan?“ tanya Eric.

“Tapi dia yang mulai,“ jawab Rey.

“Tapi kamu mau ‘kan?“ tanya Eric lagi.

“Yang pasti aku tidak seberuntung kamu ‘Ric. Kau suka Chaca,“ jawab Rey dengan kepala tertunduk.

“Cobalah untuk menyukainya Rey,“ ujar Eric seraya menepuk pundak Rey pelan. Rey diam sejenak. Suara hatinya yang paling dalam kembali menyerukan, “Ini bagianmu….memang bagianmu,“ Kalimat sakti itu selalu berhasil membuat hatinya tergugah.

“Jadi, mau kau apakan si Mitha?“ tanya Eric. Rey menjawab dengan pasti.

“Aku jadiin pacar,“ jawab Rey singkat hingga membuat Eric  terperangah.

♥♥♥

                                                                                                            28  Maret 2004

Dear Diary

Hatiku luluh lantak. Aku mencium bibir Rey. Ibarat roket, mungkin aku sudah terbang ke langit ke tujuh. Entah dorongan apa yang membuatku berani melakukannya. Tapi, dia tidak menolak. Malah dia medekapku dengan erat, seakan tak ingin lepas. Rey, andai itu dapat terulang lagi. Merasakan hangatnya sentuhan bibirmu dan dekapan hangatmu. Tapi aku tidak yakin, apakah dia memang suka aku atau karena memang terbawa suasana aja. Dia sempat minta maaf dan mengatakan bahwa dia cowok brengsek. Aku juga minta maaf karena  telah berbuat lancang seperti itu.

Tapi, waktu dia melepaskan jaketnya dan menggantungkannya di pundakku, aku yakin dia juga ada rasa kepadaku. Dia rela kedinginan demi aku. Sikapnya yang sering berubah – ubah membuatku semakin bingung. Terkadang dia pendiam, terkadang temperamental, terkadang lembut dan perhatian. Akh, aku nggak mau mengecap dia memiliki kepribadian ganda. Mungkin semua sikapnya itu mengikuti moodnya saja saat itu.

Aku tak sabar melihat sikap Rey besok kepadaku setelah kejadian tadi. Apakah dia dengan mudah melupakannya atau berpura – pura tidak terjadi apa – apa seperti waktu dia salah paham terhadapku tempo hari? Kita liat aja besok. Kuharap dia tidak melupakannya. Karena itu adalah moment yang sangat berharga dalam hidupku. My first kiss.

Mitha mengambil jaket Rey yang tergantung di gantungan bajunya. Jaket yang tampak setengah basah itu ia dekap ke dadanya erat – erat. Bau parfum Rey yang khas membuat Mitha terbang melayang ke alam khayal. Ia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dengan jaket Rey berada dalam dekapannya.

“Andrey, kau berhasil membuatku tidak tidur nyenyak lagi malam ini.“ Mitha memejamkan matanya dengan seribu bayangan wajah Rey di pelupuk matanya.

♥♥♥

 

 

Pagi itu Rey meluncurkan motor Rx Kingnya menuju ke rumah Mitha. Lokasi Rumah Mitha yang melewati beberapa gang sempit membuatnya sedikit bingung. Memang itu pertama kalinya ia memasuki daerah tersebut, sehingga terlihat asing di matanya.

Motornya tiba – tiba berhenti di persimpangan gang. Ia bingung untuk memilih, apakah harus berbelok kiri atau kanan atau lurus saja. Kemarin sewaktu mengantar Mitha pulang, ia tidak melihat dengan benar ke mana ia membelokkan motornya di persimpangan gang tersebut. Karena waktu itu hari sudah gelap dan hujan rintik – rintik yang turun membuat pandangan menjadi sedikit terganggu. Akhirnya ia putuskan untuk menunggu di persimpangan gang tersebut. Matanya celingukan ke sana kemari menanti Mitha keluar dari jalur jalan yang sebelah mana. Sembari menunggu, ia mengambil sebatang rokok dari dalam tasnya. Rokok tersebut ia nyalakan dan dihisapnya pelan – pelan. Asapnya mengepul bagaikan kabut pagi yang tipis melayang – layang lalu menghilang ditiup angin.

Dari arah kanannya Mitha muncul dengan mengenakan jaket sweater berwarna pink dan tas selempangan berwarna cokelat muda. Rey melambaikan tangannya sambil tersenyum. Mitha sedikit kaget. Ia berkali – kali mengucek kedua matanya, tak percaya bahwa cowok yang melambaikan tangan kepadanya itu adalah Rey.

“Rey?“ gumam Mitha pelan. Lalu dengan langkah yang dipercepat, ia menghampirinya.

“Rey, tumben?“ tanyanya tak percaya. Rey menjawab dengan nada suara yang seperti biasa, cool dan to the point.

“Yuk berangkat,“ katanya singkat. Mitha segera naik ke motornya dan seketika itu Rey melajukan motornya dengan kencang. Seperti biasa, Mitha panik dan spontan memeluk pinggangnya.

Pagi itu adalah pagi terindah yang pernah dialami oleh Mitha. Siapa sangka cowok yang selama ini ia kagumi dan diimpikannya setiap malam, selangkah lagi hampir menjadi miliknya.

“Benar dia suka aku. Kali ini aku yakin, dia benar – benar suka aku,“ batinnya dalam hati.

Sesampai di sekolah, Rey menurunkan Mitha di depan pintu gerbang sekolah. Ia sedikit kecewa. Padahal ia berharap diturunkan di parkiran saja biar semua orang tahu bahwa ia bersama dengan Rey pagi itu.

“Makasih Rey,“ ucap Mitha mengembangkan senyuman manis ke arahnya. Rey membalas senyuman itu.

“Tha, istirahat jam kedua, aku tunggu di toilet belakang sekolah,“ ucapnya dengan menatap tajam kedua mata Mitha. Mitha mengangguk, lalu berlalu meninggalkan Rey menuju ke kelasnya dengan hati yang berbunga – bunga.

“Ya Tuhan, saat itu akan segera tiba,“ gumamnya.

Siang hari udara sangat terik. Angin seakan berhenti menyemburkan kesejukannya. Dengan wajah sedikit berpeluh Mitha melangkahkan kaki dengan cepat menuju toilet yang terletak di belakang sekolah. Dilihatnya Rey telah berdiri menanti sambil menyenderkan bahunya ke dinding. Seperti biasa ia merokok dengan wajah tak berdosa.

Mitha mendekatinya tanpa bersuara dan berdiri di hadapannya dengan membisu.

“Aku ingin berubah sesuai dengan keinginan Tuhan dan kuharap Tuhan bisa membantu,“ ujar Rey sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara. Lagi – lagi Mitha dibuatnya bingung dengan perkataannya yang terkadang sulit untuk ditangkap apa maknanya.

“Berubah?“ tanya Mitha dengan nada heran.

“Ya, berubah. Seperti kata hati nuraniku,“ lanjut Rey hingga membuat Mitha semakin bertambah bingung. Tiba – tiba Rey memegang kedua tangannya dan meremasnya dengan lembut.

“Kau ingin tahu apa arti ciuman kemarin itu?“ tanyanya hingga membuat Mitha terperangah.

“Itulah yang ingin kutahu Rey,“ jawab Mitha dengan mata berbinar. Tak lama ia menanti sebuah jawaban meluncur keluar dari bibirnya.

“Aku mau kamu jadi pacarku,“ ucap Rey setengah berbisik. Deg! Mitha tak bisa berkata – kata setelah mendengar sebaris kalimat penuh makna tersebut. Bibirnya terasa kelu. Darah mengalir cepat dalam tubuhnya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Tanpa sadar ia memeluk Rey. Rey membiarkan ia memeluk tubuh kekarnya.

“Aku nggak salah dengar ‘kan Rey?“ tanya Mitha dengan suara bergetar. Rey melepaskan pelukannya.

“Bukankah itu keinginanmu ‘Tha?“ tanya Rey balik. Mitha terdiam. Lalu ia kembali memeluk Rey. Kali ini ia tidak menjawab pertanyaannya. Ia lega karena Rey ternyata juga menyukainya. Suasana siang yang terasa panas bagaikan api neraka itu terasa bagaikan angin surga olehnya. Ia merasa menjadi orang yang paling bahagia di seluruh dunia. Keinginannya telah tercapai. Rey telah menjadi miliknya, miliknya seorang. Ia memeluk tubuh Rey semakin erat.

Posted on June 1, 2011, in Rey - by Rengga Trianto and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: