Let Me Be Your Hero

“Lyn, ada telpon dari Kak Devon,” panggil Mama.

”Iya Ma,” jawabku sambil berjalan gontai meninggalkan meja makan.

Kuraih dengan kesal gagang telepon itu. Huh, nganggu orang makan aja, batinku.

”Ada apa, Kak? Kok tumben telpon?”kataku asal.

”Aduh, gimana ya ngomongnya. Hmm,”jawab orang di seberang. Terlihat grogi dari cara bicaranya.

”Ya ngomong aja, Kak. Lagi makan nih. Cepetan dong.”

”Gini,  emmm, ngomong dari mana ya?”

”Yee.. ya mana aku tahu. Kak Epon kan yang mau ngomong.”

”Oke.”

”Iya. Ada apa, Kak?”

”….”

”Halo, Kak.”

”….”

”Kalo Kakak gak buruan ngomong, Jocelyn tutup nih telponnya!” ancamku.

”Kakak suka sama kamu. Mau gak kamu jadi pacar Kakak?” katanya dengan cepat.

Deg, jantungku serasa terhenti seketika.

”Jangan bercanda deh, Kak. Kita ini kan belum kenal banget. Cuman papa kita aja yang deket. Kalo ketemu aja, kita sekedar nyapa doang,” cerocosku.

”Duh, tapi Kakak udah suka kamu dari waktu kelas X, waktu kita pertama kali ketemu di pesta ulang tahun perkawinan Papa-Mamamu,” belanya.

”Tapi, Kak. Kakak kan juga gak pernah PDKT. Gimana bisa percaya coba?”

”Oke. Kalo gitu, mulai besok aku mau PDKT sama kamu.”

”Jayus. Di mana-mana tuh, PDKT dulu baru nembak.”

”Terserah deh. Pokoknya mulai besok, Kakak akan berjuang untuk mendapatkan hatimu,” jawabnya dengan semangat.

”Tapi, Kak..”

”Sudah dulu ya. Bye,” katanya.

Bripp..

Telepon terputus seketika. Dasar orang aneh, pikirku.

***

Keesokan harinya, saat aku masuk ke halaman sekolah, semua orang menatapku dan berbisik-bisik. Gak pernah lihat orang cantik kali ya, batinku. Ketika masuk ke dalam kelas pun, teman-teman sekelas langsung menjadi riuh. Seakan-akan seorang putri sedang disambut untuk menuju ke perjamuan makan malam kerajaan. Namun aku terus berja an menuju ke bangkuku yang terletak di sebelah jendela dan mengarah ke lapangan basket.

”Ciee, yang baru ditembak sama kakak kelas,” kata Shella dengan senyum lebar.

”Apaan sih?” tanyaku.

”Jangan berlagak bego deh loe. Kemarin baru ditembak sama Kak Epon kan? Ciee.. Ciee..”

”Loe kok tahu?” tanyaku dengan penasaran.

”Ya iya lah. Satu sekolah juga sudah pada tahu, kalo Devon Luxuriforus Widjaja lagi jatuh cinta sama Jocelyn Giovanie. Jadi hot gosip di sekolah ini deh.”

”Kok bisa?”

”Begini ya Putri Jocelyn, Pangeran Devon telah menempelkan brosur di mading yang berisi supaya tidak ada satu makhluk pun di sekolah kita ini untuk tidak ada yang mengganggu Tuan Putri, karna Sang Pangeran sedang PDKT,” terangnya lalu tertawa terbahak-bahak.

”Sialan tuh orang!” geramku.

”Biarin dulu, Lyn. Kita liat ntar aja gimana aksi-aksi Kak Epon selanjutnya,” katanya seperti seorang badan intelijen.

”Huff.. Oke. Kita liat aja,” balasku.

***

Sepulang sekolah, aku harus menunggu Shella yang sedang remidi. Dengan ketidaksabaran kutendang-tendang tiang halte. Bete banget. Kenapa Papa gak bisa jemput? Kan kalo bisa jemput, gue gak perlu nunggu Shella buat ikutan mobil, dumelku.

”Tuan Putri kok cemberut? Adakah sesuatu yang menganggu Tuan Putri?”

Sebuah pertanyaan yang membuatku untuk mendongak ke atas dan melihat ternyata Kak Epon yang sedang mengajakku berbicara.

”Kakak tuh yang ngganggu! Ngapain sih pake nempel brosur kaya gitu di mading?” tanyaku kesal.

”Oh, itu masalahnya. Kakak iseng aja. Biar kamu gak diambil orang lain.” katanya dengan cuek.

”Malu tahu! Kakak gak ngrasain, gimana aku tadi dari masuk gerbang sekolah sampai masuk kelas diliatin orang terus-terusan.”

”Kamu cantik sih. Pantes aja dong kalo mereka ngliatin kamu.”

”Gombal!”

”Hahaha. Cewek cantik itu harus pacaran sama cowok ganteng loh,” katanya lalu menyisir rambutnya yang spike dengan jemarinya dan ke-sok cool-annya.

”Hoek!” balasku sambil pura-pura ingin muntah.

”Ehm, mau minum?”

”Gak deh. Gak haus.”

”Bentar ya,” katanya sambil berlalu.

Beberapa saat kemudian, ia sudah kembali dengan dua buah teh botol di tangannya.

”Nih, minum. Ntar haus,” lalu menyerahkan yang sebuah kepadaku.

”Trims,” ucapku dengan senyum.

Dengan bersemangat, Epon menghabiskan teh botol miliknya.

”Cepet banget, Kak. Kaya isi bensin aja,” candaku.

”Abisnya, teh botolnya manis banget sih, kaya kamu,” gombalnya.

”Ada aja,” balasku dengan sedikit senang.

”Kok belum pulang?”

”Mau pulang bareng Shella. Tapi dia lagi remidi, jadi aku nunggu deh.“

”Ckckck. Hari gini masih remidi. Mau pulang bareng?” tanyanya.

”Gak deh. Thanks. Sama Mama gak boleh naik motor,” tolakku dengan halus.

”Masa sama calon menantu sendiri gak boleh.”

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala saat mendengar ucapan terakhir dari Kak Epon.

Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Shella rupanya. Senang sekali rasanya hatiku. Shella segera mengajakku pulang. Dan aku berpamitan kepada Kak Epon. Lalu berjalan ke mobil Honda Jazz merah milik Shella.

***

Semenjak itu, setiap hari Kak Epon tidak pernah absen untuk SMS dan telepon untuk sekedar menanyakan sedang apa atau mengingatkan makan, tidur, dan belajar. Dari beberapa minggu ini, aku sudah dapat menilai kalau Kak Devon itu baik banget, ramah dan cenderung cerewet, suka bercanda, serta yang pasti perhatiannya melebihi perhatian dari Mamaku.

Aku merasa sangat bahagia sekali bila berada di dekatnya. Aku akan selalu tertawa dengannya. Seperti tak ada beban. Apakah aku sudah memiliki perasaan yang sama dengannya?

***

Hari minggu pagi, terdengar suara motor di depan rumah. Aku langsung keluar rumah. Kak Epon sedang duduk di atas motornya dengan membawa sebuah helm.

”Lyn, ayo pergi,” ajaknya.

”Kakak kan tahu kalo aku gak boleh naik motor.”

”Kalo sama Kakak boleh kok. Kakak sudah minta ijin sama mama kamu. Sama Papamu. Kalo perlu, tetangga juga diminta ijinnya. Gimana?”

”Jayus ahh. Masa sih?” tanyaku penuh keraguan.

”Telpon aja deh Mama kamu itu. Beliau lagi pergi ke Hongkong sama Papamu kan?”

”Iya. Bentar. Masuk dulu aja deh, Kak.”

Aku langsung menelepon Mama. Ternyata benar apa yang diungkapkan oleh Kak Epon. Aku boleh pergi naik motor. Cihuy. Cepat-cepat aku langsung berganti baju pergi dan siap untuk berangkat dengan Kak Epon.

***

Di perjalanan, aku merasakan wangi parfum yang digunakan oleh Kak Epon. Bagaimana tidak, karena Kak Epon seperti dengan sengaja mengerem secara mendadak sehingga aku lebih erat untuk memeluknya. Melewati padang ilalang, sawah dan berbagai pemandangan yang indah, membuatku curiga. Aku takut bila tiba-tiba dia mau memperkosaku seperti yang ada di berita televisi. Aku hanya bisa berdoa semoga kecurigaanku tidak benar. Karena sepertinya Mama senang-senang saja ketika aku tanya ijinnya. Seperti menyembunyikan sesuatu.

***

Kami tiba di sebuah pantai. Pantai yang sama sekali belum pernah kukunjungi. Bahkan aku tidak tahu bila ada pantai di kota ini. Layaknya anak kecil, aku langsung berlari ke arah bibir pantai tanpa menghiraukan Kak Epon. Bermain air sendiri membuat aku ingat Kak Epon. Kutoleh ke kanan-kiri, tapi tak ada dia. Kucari-cari tetap tak menemukannya. Aku ingin menangis. Lalu tiba-tiba, terdengar suara petikan gitar dibarengi dengan sebuah lagu yang menjadi favoritku.

Would you dance if I asked you to dance
Would you run and never look back
Would you cry if you saw me crying
Would you save my soul tonight
Would you tremble if I touched your lips
Would you laugh oh please tell me this
Now would you die for the one you love
Hold me in your arms tonight

I can be your hero baby
I can kiss away the pain
I will stand by you forever
You can take my breath away

Would you swear that you’ll always be mine
Would you lie would you run and hide
Am I in too deep have I lost my mind
Well I don’t care you’re here tonight

I can be your hero baby
I can kiss away the pain
I will stand by you forever
You can take my breath away

Ohhh I just wanna hold you,
I just wanna hold you, oh yeah
Am I in too deep have I lost my mind
Well I don’t care you’re here tonight

Kak Epon menyanyikan lagu itu untukku. Desiran angin menambah suasana romantis. Membuat aku semakin merinding. Dan laju darahku seakan bergerak cepat. Aku hanya bisa membiarkan hatiku terbang ke awang-awang sampai lagu itu selesai dinyanyikan.

Setelah selesai bernyanyi, ia berjalan ke arahku. Mengeluarkan sebuah kalung dari dalam sakunya.

”Sudah satu tahun aku memendam perasaan ini. Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk mendekatimu. Sekarang kamu yang menentukan hasil dari upayaku itu. Sekali lagi aku tanya ke kamu. Would you be my mine?” katanya dengan penuh kesungguhan. Tak ada keraguan sedikit pun di matanya.

“Kak, makasih buat semua usaha Kakak buat Jocelyn.”

”Lalu apa jawabannya?” tanyanya penuh harap.

”Aku gak bisa, Kak,” jawabku singkat.

”Gak bisa?? Kenapa?” tanyanya setengah emosi.

Aku masih terdiam. Kutatap matanya. Kulihat ada air yang hendak menetes di pelupuk matanya. Membuatku tidak tega.

”Begini, Kak. Jocelyn gak bisa. Bener-bener gak bisa….. buat nolak Kakak.”

”Jadi Kakak diterima nih,” katanya sambil mengusap matanya.

Aku hanya bisa mengangguk.

”Dasar! Kamu sudah bikin Kakak jadi kaget aja! Untung nggak jadi nangis.”

”Biarin.”

Kak Epon melangkah dan memakaikan kalung berliontin ”DJ” di leherku. Aku akan tetap menjaga hatiku untuk tetap mencintai pada satu orang, yaitu Kak Epon. Dan hidupku akan pada akhirnya terus bersamanya.

Copyright :

Ditulis oleh v_lina  pada website http://www.kolomkita.com/2008/12/01/let-me-be-your-hero/

Posted on May 17, 2011, in Cerita Pendek, Cerpen Amatir and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: