Always Near You

A/n : Ini fiction pertama Umii. Masih amatir. Jadi pasti kurang bagus. Tapi inilah karya Umii, yang Umii harap bisa menghibur reader semua.

 

Hanya friendship, dan belum kepada yaoi. Tapi, Umii sedang usaha membuat cerita berunsur yaoi. Dengan rated T.

 

Don’t like, Don’t read.

 

Enjoy! ^^

 

XDXDXD

 

Ekor mataku tertuju pada satu bangku kosong di ujung ruang kelas. Bangku itu kosong sejak dua hari yang lalu. Kemana gerangan si pemilik bangku itu pikirku. Hari ini hari ketiga, dia juga tidak masuk sekolah. Akhirnya aku penasaran, siapa yang tengah duduk di sana. Aku bertanya pada teman yang duduk di sebelahku.

 

“Hei, kemana anak yang duduk di sana?” tunjukku pada bangku kosong yang ada di ujung sana.

 

“Oh dia. Yang duduk di situ Kira. Tidak heran jika kau tidak mengenalnya. Dia memang sering tidak masuk karena selalu sakit. Mungkin dia memiliki penyakit yang gampang kambuh.” Jawabnya cuek. Aku hanya diam mendengarkan, namun kucerna semua itu. Kemudian dia menatapku dengan aneh.

 

“Ada apa? Kenapa Zee mencarinya. Kalian ada masalah?” tanyanya menebak.

 

“Gimana mau punya masalah, kenal aja nggak!” jawabku sambil tertawa garing. Dia hanya membalas dengan tersenyum. Lalu keadaan kembali seperti semula seperti saat aku belum menanyakannya.

Esoknya aku masih duduk di tempatku. Masuk kelas masih ada waktu sepuluh menit lagi. Aku pun melirik ke pintu. Berharap orang yang kucari akan datang. Sudah lima menit berlalu, dan dia pun belum juga muncul. Sepuluh menit itu pun habis sia-sia dengan ke tidak hadirannya. Guru pun masuk ke dalam kelas, menandakan pelajaran akan segera dimulai. Aku memalingkan pandanganku dari pintu, dan menghadap ke depan. Semua penantianku sia-sia. Dia tidak kunjung datang. Sampai akhirnya terdengar suara yang lemah, “Maaf bu, saya terlambat.”

 

Ibu guru yang melihat dia begitu lemah, hanya memberinya nasihat tanpa harus memarahinya. Dia hanya mengangguk dan berjalan pelan menuju tempat duduknya. Aku menatap ke arahnya yang masih berkutat dengan tasnya. Aku pun memalingkan lirikanku saat mataku dengan matanya bertemu pandang. Dia hanya tersenyum, dan aku balas dengan tersenyum.

 

TENG TENG TENG

 

Bel istirahat berbunyi. Semua anak-anak dalam kelas berhamburan keluar kelas, bermaksud menuju kantin. Aku masih duduk ditempatku, sesekali melirik ke arah Kira yang sepertinya mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Kotak makan siang. Sepertinya dia berinisiatif untuk membawa bekal sendiri. Mungkin pandanganku masih tetap ke arahnya jika seseorang tidak menyapaku.

 

“Zee, mau bareng?” ajak temanku yang bernama Vena sambil tersenyum. Aku hanya membalas sambil tersenyum tipis, “Tidak terima kasih.” Setelah percakapan singkat itu, aku kembali menatapnya yang dengan tenang memakan bekalnya. Entah ada dorongan apa dan suruhan siapa, tiba-tiba saja aku sudah ada di hadapannya. Duduk di depannya.

 

“Mau?” tawarnya padaku. Aku hanya menggeleng, “Kamu Zee kan?” tanyanya, dan aku hanya mengangguk, “kamu kan yang memenangkan lomba karate tingkat kota bulan lalu?” tanyanya. Aku mengangguk lagi. Dia tersenyum dan aku menatap aneh padanya. “Enak ya seperti Zee. Bisa melakukan apa pun yang Zee suka,” tuturnya pelan sambil tersenyum kecut.

 

“Kenapa?” tanyaku penasaran.

 

“Karena aku tidak akan bisa melakukan itu,” ujarnya.

 

“Aku tahu itu. Tapi kenapa?” tanyaku lagi.

 

“Jantungku lemah, karena itu aku jarang masuk sekolah. Aneh ya, laki-laki tidak bisa melakukan apapun yang seharusnya di lakukan laki-laki,” ujarnya tersenyum kecut. Aku tahu senyum itu, senyum kesedihan. Menyedihkan sekali, “Oh ya, ada apa Zee ke sini. Kok tumben-tumbenan banget” tanya Kira padaku.

 

“Tidak hanya ingin berbicara denganmu saja,” jawabku seadanya.

 

“Oh begitu.” jawabnya sambil kembali memakan bekalnya. Aku diam sambil memandang wajahnya yang tirus, “Apa penyakitnya tidak bisa sembuh?” tanyaku membuatnya kaget, namun ia tersenyum lembut padaku, “Kata dokter waktuku tidak lama lagi. Suatu saat nanti, cepat atau lambat Tuhan akan segera mencabut nyawaku.” ucapnya biasa. Seperti tidak ada tekanan sama sekali.

 

“Kau tidak takut?” tanyaku. Pertanyaan yang memang sesuai untuk anak kelas 5 SD sepertiku yang masih berpikir seperti anak-anak. Walaupun aku tahu jawabannya pasti sangat takut. Itu biasa.

 

“Tidak.” jawabnya tenang. Jawabannya barusan sempat membuatku tersentak. Aneh, semua orang pasti akan takut dengan kematian, tapi dia berbeda, “Kenapa?” tanyaku yang mulai serius, “Ibuku bilang, Semuanya Tuhan yang mengatur. Jika memang seperti itu, aku tidak apa-apa. Ibuku juga sering berkata padaku, aku ini seperti kupu-kupu, yang bila sayapnya disentuh maka akan mati. Aku pun begitu. Tidak bisa melakukan apa-apa. Selalu tergantung pada orang lain,” jawabnya getir, membuatku sedikit merinding.

 

“Maaf, malah jadi curhat,” ujarnya padaku, “Tidak apa. Aku suka berbicara dengan orang sepertimu.” jawabku, “Terima kasih.” jawabnya sambil tersenyum lembut. Walau aku tahu senyum itu tak akan bertahan lama.

 

Besoknya Kira kembali tidak masuk ke sekolah. Aku yakin sakitnya pasti kambuh lagi. Kasihan. Pikirku. Sekolah pun usai, aku menghampiri Pak Yoshi, supir Pribadi ayah. Aku memintanya untuk mengantarkanku ke alamat yang ada di secarik kertas. Alamat yang ku dapat dari guruku.

 

Kami pun sampai di rumah yang lumayan besar. Aku berpikir Kira memang anak orang kaya, namun kesehatannya tak mndukung. Aku menyuruh pak Yoshi tetap menunggu di mobil biar aku saja yang masuk. Aku menekan bel beberapa kali, hingga seseorang dari dalam membukakan pintunya padaku. Yang kutemui itu adalah wanita paru baya yang masih kelihatan cantik. Mungkinkah dia ibu Kira?

 

“Maaf, saya teman Kira. Nama saya Zee. Saya datang bermaksud menjenguk Kira.” jawabku sopan ala anak SD. Wanita itu hanya tersenyum lembut dan mempersilahkan aku masuk. Dia mengantarku ke sebuah ruangan. Yang bisa kutebak adalah kamar Kira. Wanita itu mempersilahkan aku masuk ke dalam kamar itu. Aku sekilas melihat wajahnya. Tersirat wajah yang sedih namun seperti sedikit tenang karena sesuatu. Apa karena kedatangan ku. Pikirku. Setelah itu wanita itu pun keluar dan menutup pintu.

 

Aku melihat ke atas tempat tidur yang cukup besar. Terlihat anak kecil sebayaku yang tengah tertidur pulas di atas ranjang besar itu. Tapi yang mengenaskan adalah di punggung tangan kirinya tertanam jarum infuse yang menyalurkan bermacam-macam cairan berwarna merah, putih, kuning, dengan selang pernapasan di hidungnya dan mesin pendeteksi jantung. Semua alat-alat yang ada di rumah sakit tersedia di sini. Kamar ini sama saja dengan rumah sakit, tak ada bedanya. Pikirku.

 

Aku duduk di sebalah Kira yang sedang berbaring. Kulihat wajah yang tirus dan tubuhnya semakin lemah. Sedih melihat seseorang yang seperti itu di depan mata. Ingin menangis rasanya. Pikirku. Kelopak mata itu pun perlahan mulai terbuka, walau lambat. Dengan refleks cepat, aku langsung memanggil wanita tadi. Wanita itu langsung masuk ke dalam kamar, matanya berbinar saat melihat Kira bangun dari tidurnya, “Kau sudah sadar, nak?” ujarnya seraya memeluk sayang tubuh lemah Kira, dan mengelus pundaknya sayang.

 

“Aku tidak apa-apa ibu. Loh, kenapa ada Zee di sini?” tanyanya heran dengan keberadaan diriku. Aku pun menjelaskan maksud kedatangan ku ke sini, “Oh, begitu. Terima kasih. Aku senang sekali. Zee adalah orang pertama yang mengunjungiku,” ucapnya tersenyum. Walau dalam hati, sakit rasanya, “Sudahlah, kau jangan terlalu banyak bergerak. Kau kan masih sakit. Lebih baik istirahat saja dulu!” ucapku. Dia hanya membalas sambil tersenyum.

 

Setelah mengetahui kalau dia baik-baik saja, aku buru-buru kembali pulang. Tak mau mengganggu istirahatnya. Mulai dari hari itu hingga seterusnya aku sering menjenguknya jika dia memang tidak hadir. Seperti biasa, penyakitnya kambuh lagi. Itu sudah biasa. Dan mulai dari situlah tumbuh rasa persahabatan antara kami. Menjadi teman yang sulit dilepaskan.

 

Yang kukhawatirkan pun terjadi, sudah seminggu dia juga belum masuk. Saat aku menjenguknya, dia hanya berkata kalau dia baik-baik saja. Padahal aku tahu kalau jantung lemah itu sangat berbahaya. Walaupun aku masih kelas 5 SD, aku tahu resiko penyakit itu.

 

Sampai hari ke sepuluh, sejak seminggu yang lalu. Aku kembali menghampirinya. Di tanganku, seperti biasa aku membawakan buah-buahan yang di titipkan ibuku.

 

Aku juga ingin sekalian minta maaf, karena semalam, juga dua hari yang lalu aku tidak sempat mengunjunginya. Karena itulah aku bersemangat mengunjunginya. Seperti biasa, aku menyuruh Pak Yoshi untuk tetap menunggu di dalam mobil. Dengan semangat, aku mengetuk pintu rumah Kira yang besar. Dari balik pintu, keluar wanita yang seperti biasa selalu membukakan pintu untukku. Siapa lagi kalau bukan ibunya Kira.

 

“Maaf tante, aku mengganggu,” jawabku sambil seraya masuk ke dalam, saat ibu Kira mempersilahkan dirisku untuk masuk.

 

Tidak seperti biasanya, dia malah menyuruhku untuk duduk di sofa ruang tamu. Biasanya dia akan langsung mengantarkan aku ke kamar Kira. Tapi, kali ini tidak. Seketika membuat hatiku gelisah dan tidak tenang.

 

Tiba-tiba, dari balik pintu kamar, ibu Kira datang dengan sebuah surat ditangannya. Dengan raut wajah datar ia memberikan surat itu padaku. Aku menaikkan sebelah alisku. Apa ini…surat, aneh sekali. Pikirku. Dia menyuruhku untuk membuka surat itu dan membacanya. Aku awalnya merasa aneh, namun perlahan kurobek amplop surat itu.

 

Terlihat tulisah indah Kira. Namun isi surat itu sangat aneh. Aku membacanya perlahan, hingga mataku terasa panas.

 

Setetes…

 

Terima kasih Zee, telah mau menjadi temanku. Aku sangat senang saat pertama kali kau megajakku untuk berbicara. Aku juga senang saat kau menjengukku. Menemaniku saat aku mengalami masa-masa sulitku.

 

Dua tetes…

 

Kau adalah teman yang akan kukenang selamanya. Bahkan dalam kematian sekalipun. Akan terus kukenang.

 

Tiga tetes…

 

Selamanya pun kau begitu. Jangan pernah lupakan aku. Berjanjilah. Aku bangga menjadi temanmu. Sangat behagia, kau sudah seperti saudaraku sendiri. Aku akan terus bersamamu dan mengawasimu dari atas sana. Selalu bersamamu. Selalu. Berada didekatmu. Jadi kau tak perlu harus merasa kehilangan. Kau akan tetap menjadi sahabatku. Selamanya.Selalu didekatmu.

 

Sincerely

 

Kira

 

Air mata yang sedari tadi tertahan dan hanya perlahan jatuhnya, semakin menjadi saat isak tangisku tak terbendung lagi, dan memuntahkan semua kesedihan ku lewat sesuatu yang dinamakan air mata itu. Ibu Kira hanya mengusap sayang pundakku. Setidaknya dapat menenangkan sedikitnya kesedihan ku.

 

“Kenapa tente tidak memberi tahu ku langsung?” tanyaku serak. Dan dia hanya diam.

 

“Kenapa, tante?” teriakku lagi. Memang kedengaran tidak sopan, tapi emosiku diluar kendali, “Kira menyuruh tante untuk tidak memberi tahumu, jika kau memang tidak mencarinya. Dan juga surat itu, jika Zee tidak datang, jangan pernah sekali pun diberikan padamu” ucap ibu Kira yang juga sudah mulai melelehkan air mata dari sudut matanya. Aku hanya diam. Tak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Kira sebelum ia pergi. Tapi aku tak menghiraukan itu.

 

“Kalau Zee boleh minta tolong, bisakah Tante mengantarkan Zee ke makam Kira?” pintaku padanya dengan nada mengiba. Diwajahnya terpampang wajah khawatir. Aku tahu itu. Namun ia pikirkan sekali lagi permintaanku. Dan akhirnya ia menerimanya. Bersama Pak Yoshi, aku dan ibu Kira berangkat.

 

Tempat itu adalah untuk peristirahatan terakhir manusia yang tak lain adalah pemakaman. kami menyusuri makam demi makam untuk mencari makam seseorang yang paling penting untukku. Akhirnya kami berhenti di depan makam baru yang tertata rapi.

 

Kira Canra

 

29 Januari 1995 – 03 oktober 2005

 

aku menatap nisan itu dengan sendu. Tidak ada bunga lain disitu, artinya kami yang pertama datang ke sana. aku meletakkan bunga yang terangkai dengan cantik di atas makam Kira.

 

“Orang yang tertidur disini tidak dapat bangun lagi. Itu disebut kematian. Benarkan tante?” tanyaku tiba-tiba membuat ibu Kira sempat tersentak dengan ucapku. Namun ia hanya menatap nanar pada nisan itu, “Iya.” jawabnya lemah. Setelah puas melihat nisan itu, ibu Kira menyentuh pundakku ringan. Mengartikan bahwa secepatnya kami pulang, karena langit sudah mulai mendung. Aku hanya mengangguk dan mengikuti ibu Kira dari belakang. Sebelum berlalu, dari agak kejauhan aku kembali menatap makamnya. Mataku terbelalak, seseorang yang sangat aku kenal dan penting bagiku, sedang memakai pakaian putih dengan cahaya putih mengitarinya, indah sekali seperti…malaikat.

 

Perlahan, tersungging senyum diwajahku, menatap Kira yang juga tersenyum lembut padaku. Setelah cahaya itu hilang seiring dengan suara gemuruh langit. Aku segera masuk ke dalam mobil. Karena tetes demi tetes air hujan sudah mulai berjatuhan. Dengan cepat, Pak Yoshi melajukan mobil dan membawa kami pergi dari pemakaman itu.

 

Kau anak suci tak berdosa. Sampai, langit pun menangis untukmu.

 

The end

 

a/n : huuaaa…\(^0^)/ akhirnya selese juga nih cerita. Umii udah usaha bongkar otak tuk cari ide, dan ini ide yang didapat. Fyuh~(v,v)/… Dari sekian banyak ide, kok ini juga yang keluar dari otak umii. Awalnya, waktu bikin ini cerita, ditengah jalan tiba-tiba ada sebersit ide yang keluar. Oh my gosh! Seperti biasa, penyakit umii kambuh lagi *di tendang karena curhat* \(_ _’). Buat Ly, Shuu, Atayz, Khanza, Oniichan, Ao, dan Akii. Teman-teman yang sudah menemaniku selama ini. Okkeh, thankz udah pada baca, dan jangan lupa reviewnya. Di flame juga gag apa.😄

 

See you…

 

..Umii E Miisa..

 

P.S : Anda yang mau kontak dengan Umii E Missa.. silakan kontak email :

 

  • -umiefaithyde@yahoo.com/Umii ‘uEshii’ Miisa 
  • -umiiemiisa@ymail.com/Umii-Michaelis ‘uEshii’ Phantomhive-Miisa  

Atau twitter @UmiiEMiisa

 

Umii E Missa menulis cerita ini pada link berikut : http://www.fictionpress.com/s/2817588/1/ALWAYS_NEAR_YOU

 

Posted on May 17, 2011, in Cerita Pendek, Cerpen Amatir and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: