Raja Yang Hilang

Ini adalah suatu kisah, kisah mengenai seorang anak manusia biasa, dalam kesehariannya yang biasa, namun kedalaman jiwanya luar biasa. Suryanto, itulah nama yang ia sandang semenjak tangisannya pecah untuk pertama kalinya di bumi Indonesia ini. Saat lahir, dikumandangkanlah ayat-ayat suci Al-Quran di telinganya oleh ayahnya yang hanya seorang guru SD. Na’as, barangkali karena begitu gembiranya atas kelahiran putra sulungnya itu, dalam perjalanan pulang ke rumahnya ia mengayuh sepedanya terlalu cepat dan ….. sebuah mobil yang sedang dikemudikan seorang pemuda yang bahkan tidak tahu perbedaan rem dan kopling menabrak bapak guru itu. Tubuh bapak guru itu terpental dan jatuh di aspal yang keras. Dalam detik-detik terakhir hidupnya ia bukannya melihat sosok istri yang dicintainya ataupun sosok putra yang selama ini ia dambakan, tetapi justru kerumunan orang yang sebagian besar hanya menonton penderitaan yang ia rasakan.

Tersebutlah seorang polisi, seorang Polantas yang memanggil ambulans untuk membawa jenazah tersebut ke rumah sakit. Dari saku dompet jenazah itu, ia tariklah sebuah dompet, ia baca alamat pemilik dompet ini dan bergegas ke sana. Sesampainya ia di sebuah rumah kontrakan kecil di gang sempit kota Adangan ini, seorang ibu memberitahu perihal istri korban yang sedang bersalin. Maka ia memacu motornya ke rumah sakit, dan setelah dari mulutnya keluar pernyataan perihal kematian Bapak Guru tersebut, menjeritlah sang istri sekuat tenaga. Tangisannya meraung-raung seantero pavilion, “Bohong! Bohong! Anda bohong! Mas Karyadi belum mati!!!!!”. Dan karena ia merasa tidak bisa berbuat lebih dari ini, ia pun undur diri dari situ.

Sang ibu dari anak yang belum sempat mengenal bapaknya ini bernama Leksonarti. Leksonarti bukanlah wanita berpendidikan tinggi, ia hanyalah seorang lulusan SMP. Usianya pun masih cukup muda, 23 tahun. Hanya selisih 3 tahun dengan Karyadi, suaminya. Sepeninggal suaminya, banyak orang menasehatinya untuk segera mencari suami baru. Sebab di negeri ini tak elok rasanya seorang janda muda hidup sendiri membesarkan seorang anak. Tapi Leksonarti adalah seorang wanita yang tegar. Dia menolak dengan tegas, “Ketika tangan dan kaki saya ini sudah tak mampu membesarkan Suryanto, maka diri saya ini boleh menjadi hamba sahaya bagi lelaki lain. Tetapi selama saya mampu, sekali pun tidak terlintas di pikiran saya untuk menikah kembali.”

Dan begitulah, di tengah pandangan miring masyarakat, Leksonarti terus berjuang menghidupi putra semata wayangnya ini dengan berjualan kue dan terkadang menerima pesanan masakan. Kue dan masakan buatannya meski tidak terasa selezat masakan koki restoran bintang lima, namun sudah cukup menggoyang lidah masyarakat biasa. Ia bekerja keras menutup biaya hidup mereka berdua. Suryanto semenjak kelas 4 SD seakan sadar atas beban yang ditanggung ibunya, sehingga ia membantu ekonomi keluarga dengan menjadi loper koran dan menjajakan kue buatan ibunya di sekolah. Tak terasa tibalah saat Suryanto untuk masuk ke bangku kuliah. Karena tidak ingin menambah beban ibunya, menghadaplah Suryanto pada ibunya, “Bunda, selepas saya lulus dari SMK ini izinkanlah saya mencari kerja.”

“Tidak! Kamu harus kuliah!”

“Saya tidak ingin menambah beban Bunda.”

“Akan lebih pedih hati Bunda jika melihatmu hidup terlunta-lunta seperti yang Bunda alami sekarang, Nak! Kamu harus jadi sarjana, dan setidak-tidaknya bisa menjadi guru seperti bapakmu dulu!”

Suryanto anak yang patuh dan taat beribadah. Karena surga itu ada di telapak kaki ibu, maka ia berjuang keras untuk lulus dalam SPMB. Nasib baik menghampirinya, ia lulus ujian masuk dan menjadi mahasiswa suatu Fakultas Ilmu Kependidikan Universitas Negeri di kota itu. Ia masuk, mengikuti OSPEK yang digembar-gemborkan sebagai diklat bagi agen-agen perubahan, dan mulai berkuliah. Di benaknya tidak ada niatan untuk menjadi mahasiswa populer, tidak ada niatan dalam dirinya terjun ke kancah politik seperti teman-temannya. Dalam dirinya ia hanya ingin menyerap ilmu sedapat yang ia bisa, lulus, lalu bekerja, sebab dengan begitu ia bisa membahagiakan ibundanya. Namun, meski tiada pernah ia menjadi ketua organisasi kemahasiswaan sekalipun dalam hidupnya, ia memiliki wibawa yang menawan bagaikan seorang raja. Wajahnya tegas, kulitnya hitam legam terbakar sinar matahari, dan urat-urat di tangannya menampakkan diri mereka masing-masing, menunjukkan bahwa ia seorang pekerja keras.

Suryanto menjalani kesehariannya sebagai mahasiswa sembari bekerja sebagai guru privat dan penjaga toko. Tak pernah sekali pun ia mengeluh meski terkadang ia harus berjalan kaki amat jauh sebab tak ada satupun angkutan kota yang mencapai kediaman beberapa muridnya. Saban hari ia menyerahkan seluruh nasibnya pada Allah SWT dan tak terasa sudahlah ia menginjak semester 9. Selama itu ia selalu belajar dengan giat, meski ia bukan yang terbaik. Dalam setiap pekerjaan kelompok dan kepanitian-kepanitiaan yang ia pimpin, seluruhnya berjalan baik, seluruh anggotanya taat padanya dan hampir tak pernah ada satupun kata-katanya yang dibantah karena segala sesuatu yang ia rencanakan dan ia katakan benar dan masuk akal adanya.

Selepas ia lulus, melamarlah ia ke suatu SMU Negeri dan ia diterima menjadi seorang guru sejarah dan sosiologi. Di sini, banyak guru mencibir atas kedekatannya dengan murid-muridnya dan kegigihannya menolak segala macam komersialisasi pendidikan. Ia selalu menjelaskan segala materi sampai murid-muridnya bisa mengerti apa yang ia sampaikan. Ia pun selalu bisa menguasai kelas dengan kewibawaannya, sehingga tak pernah sekali pun ia perlu keluarkan amarahnya di hadapan murid-muridnya. Ia tidak begitu kaya namun tak ada ambisi sedikit pun dalam dirinya melakukan penelitian-penelitian fiktif layaknya rekan-rekannya yang akhirnya mengorbankan jam mengajar serta tidak menghiraukan renggangnya hubungan mereka dengan murid-murid mereka. Di dalam pikiran Suryanto, guru haruslah tetap menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, bukan pahlawan yang meminta tanda jasa.

Masa lalu keluarganya sungguh aneh bin ajaib! Ia, ayahnya, dan ibunya tak pernah sadar akan garis keturunan mereka. Mereka adalah salah satu keturunan dari cucu Pakubowono VIII, sehingga ia adalah salah satu keturunan raja Jawa. Kemampuan memimpin dan mengambil keputusan secara bijaksana serta usaha mendekatkan diri dengan orang-orang yang lebih rendah seolah mengalir dalam darahnya. Ia adalah pangeran, pangeran tanpa gelar, tetapi ia telah tumbuh menjadi pangeran sejati. Pangeran sejati ini lahir dan tumbuh di kalangan orang biasa, ia merasakan penderitaan orang kecil, ia merasakan bagaimana sulitnya sesuatu bernama uang itu dicari, ia dicintai murid-muridnya, ia bekerja dengan penuh tanggung jawab dan tidak pernah berbuat curang atau berkata dusta. Ia tidak seperti pangeran yang sedari kecil tinggal di lingkungan keraton yang penuh aturan dan bertempel aneka gelar, namun tiada satupun aspek dalam diri mereka yang dapat dibanggakan selain gelar! Ia pun tidak seperti orang-orang yang dengan uang membeli gelar kebangsawanan yang saat ini sedang diobral layaknya barang diskon akhir tahun namun tindak-tanduknya barangkali lebih pantas disejajarkan dengan lampor(perampok)! Ia pun dapat memimpin anggotanya jauh lebih baik daripada para pemimpin-pemimpin yang mengemis-ngemis jabatan layaknya gembel setiap kali pemilu diadakan.

Sekalipun dengan segala aspek yang luar biasa dalam dirinya, kejujuran, keuletan, rasa tanggung jawab tinggi, taat beragama, serta malu berbuat curang ataupun berkata dusta, anak manusia bernama Suryanto ini tidak akan pernah menjadi raja. Adalah tabu bagi dirinya meminta jabatan. Karena itu tiada satu pun saudara-saudarinya, para pangeran dan putri yang kini bergelar bangsawan tahu akan dirinya, dan sungguh amat lucu tiada satu kali pun ia pernah dipilih menjadi kepala sekolah maupun wakil kepala sekolah. Kenapa? Sebab ia adalah orang jujur! Ia selalu menolak segala proyek berorientasi keuntungan finansial pribadi dalam dunia pendidikan. Bukankah negeri ini tidak menghendaki orang jujur memimpin langkahnya namun lebih memilih orang-orang munafik dan haus harta serta kekuasaan? Tapi Suryanto yang saat ini sudah 30 tahun hanya tersenyum akan hal tersebut. Dalam setiap doanya ia selalu berucap, “Ya Tuhanku, ampunilah aku di dunia ini yang termasuk para pendosa. Tunjukkanlah jalan yang benar bagiku, sehingga aku sadar bahwa hidup di dunia ini semata-mata hanyalah untuk melayani-Mu dan dapat menjauhi segala laranganmu. Buatlah aku pada hari esok menjadi orang yang lebih baik dan lebih berguna bagi orang lain.”

Suryanto, seorang guru sejarah, pengetahuan akan masa lampau serta sosiologi, pengetahuan mengenai sisi sosial sekupulan makhluk bernama manusia. Suryanto, seorang guru yang dicintai murid-muridnya. Suryanto, yang seumur hidupnya adalah pangeran tanpa gelar. Suryanto, sosok yang sebenarnya adalah raja yang ideal bagi wilayah yang akan ia pimpin tapi tiada akan pernah menjadi raja di manapun juga di negeri ini. Ia dan Suryanto-Suryanto yang lain adalah raja-raja yang hilang di republik ini. Raja yang memang layak disebut raja.

Posted on February 12, 2011, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: