Children of The Apocalypse : Rise of The Ancient (Chapter 6)

Chapter 6

Strike Back

Wuosss! Aku tersedot ke dalam pusaran energi. Sesuatu yang sudah lama tidak aku alami. Aku terjatuh ke sebuah daerah berpasir, yang ternyata adalah daerah pantai. Tetapi karena kelelahan yang amat sangat aku pun langsung jatuh tertelengkup, tertidur.

“Yo! Ayo bangun, bocah tampan!” suara itu membangunkanku dan sosok itu menepuk-nepuk bahuku. Aku membuka mata dengan malas dan menggosok-gosoknya lalu mencoba melihat siapa orang itu dan ternyata …

“Vius Vitalis!” seruku terkejut.

Ia melemparkan sebuntel kain kepadaku, “Berpakaianlah!”

Aku pun membuka buntelan kain itu dan kudapati sebuah celana jeans panjang berwarna hitam, sebuah kaos berkerah berwarna hitam, dan sebuah mantel panjang berwarna hitam juga. “Apakah aku harus menghadiri upacara dukacita?” tanyaku bercanda.

“Hahaha. Tidak sih, tapi kami membaca pikiranmu dan kami dapati kau menyukai warna hitam jadi kami belikan saja setelan hitam-hitam.”

“Aku senang kau tidak memukulku lagi.”

“Yah! Itu karena aku amat kecewa melihat dirimu yang di masa laluku adalah seorang yang menunjukkan jalanku sebagai Children of the Apocalypse sekarang menjadi anak lemah dan tak berdaya.”

Aku hanya tersenyum saja.

“Oh ya, Skadi menitipkan pesan padaku bahwa kau harus menantang Odin sekali lagi, dan dia memberimu ini,” katanya sembari menyerahkan sebuah tombak hitam berornamen singa kembar pada mata tombaknya yang berbentuk seperti mata pisau. Gagangnya hitam, dihiasi ukiran-ukiran ala Cina. Aku memegang tombak ini dengan mantap dan berkonsentrasi pada tombak ini, mencoba membiasakan diri dengannya.

“Nama tombak itu, Xī Wáng.”

“Er, ini tombak yang bagus,” aku berkomentar.

“Dan cukup kuat untuk menggores armor Odin.”

“Kelihatannya menyenangkan.”

“Ya, dan tidak perlu khawatir lagi dirimu akan kehilangan senjata lagi.”

“Boleh pinjam kuda?”

“Kau tidak perlu kuda, ini mungkin lebih baik. Piiiii!” ia meniup peluit dan dari langit yang berawan ini aku seolah melihat sesosok makhluk bersayap, tetapi yang jelas bukan burung. Makhluk ini berwarna hitam, semakin lama semakin mendekat. Makhluk ini ternyata pegasus. “Kenalkan, ini Edea! Pegasus milikku! Kupinjamkan padamu.”


“Terima kasih,” jawabku sambil naik ke atas punggung Edea.

“Sebelum kau pergi Ying Go, Vidar berpesan setelah kau mengalahkan Odin tolong kembalikan Xī Wáng padanya.”

“Jadi ini senjatanya?”

“Ya, tahukah kau siapa dia dahulu sehingga memiliki senjata semacam itu?”

Zhuge Liang, bukan?”

“Hahaha, bagimana kau tahu?”

“Entahlah, di kepalaku seperti ada banyak nama dan profesi kalian di masa lalu.”

“Kalau begitu, selamat jalan saudaraku, semoga berhasil!”

“Ayo Edea, Hah!” seruku sambil menepuk leher Edea.

Maka terbanglah pegasus hitam itu ke arah kuil Odin. Jujur saja ini adalah suatu sensasi tersendiri melihat daratan yang hijau ini dari atas sini. Aku menikmatinya dan hampir saja melupakan tujuanku semula, yakni mengalahkan Odin. Tapi kali ini aku merasa amat siap, tiada lagi keraguan dari dalam diri ini. Kami terbang cukup lama dan akhirnya tibalah kami di hutan yang dijaga oleh Flidais.

Aku turun dari punggung Edea dan menuju ke tempat di mana aku dahulu bertemu Flidais. Kulihat Flidais sedang tidur. Dahan-dahan di puncak kepalanya naik turun mengikuti irama nafasnya. Aku menghampirinya dan mengetok-ngetok tangannya, “Kakek Treant, bisa bukakan pintu untuk saya?”

Ia membuka mata, menguap, kemudian mengalihkan pandangannya ke arahku dan terkejut! Matanya membelalak dan ia berseru, “Jika kamu hantu, maka pergilah, di sini bukanlah tempatmu lagi!”

“Aku bukanlah hantu, Flidais. Aku Ying Go yang dahulu menantang Odin dan sekarang kembali untuk menantang Odin,” jawabku. “Jika kamu diberi kesempatan untuk hidup kembali kenapa tak kau gunakan untuk hidup bahagia di dunia ini? Jangan melakukan bunuh diri untuk kedua kalinya.”

Sekejap aku dapatkan suatu penglihatan, penglihatan di mana Flidais membawa tubuhku yang sudah terkulai tak bernyawa dan menguburkanku di sebuah lubang besar di tengah hutan. Sekejap saja, namun hal itu tidak membuatku gentar, aku tahu bahwa treant ini berhati lembut dan tidak tega melihat orang menderita. Karena itu aku paham benar mengapa ia mengkhawatirkan diriku. Tapi jika Odin tidak kalah hari ini maka habislah riwayat kami, karena itu aku memohon padanya untuk membukakan pintu, “Flidais, aku tahu dirimu mengkhawatirkanku, tapi saya harus mengalahkan Odin hari ini supaya Children of The Apocalypse dapat mengalahkan para archangel di pertempuran mendatang.”

Flidais merenggut muram, namun ia akhirnya membukakan pintu menuju kediaman Odin. Aku mengucapkan terima kasih namun Flidais tak merespon, melihat itu aku tidak berkata apapun dan segera menuruni tangga dan menemukan Odin sedang duduk di singgasananya. Tampaknya ia tertidur Aku memberi salam, “Salam hai Odin, ayah dari semua dewa!”

Ia terbangun dan berkata, “Aku sudah lama menunggumu. Bagaimana? Bisa kita mulai?”

“Bisa, ayo!” sahutku.

Ia menarik Zantetsuken dari sarungnya sementara aku mempersiapkan Xī Wáng. Ia segera maju dengan langkah kilatnya lalu menyabetkan Zantetsuken, tetapi aku sudah bisa melihat gerakannya dan menangkisnya dengan Xī Wáng, setelah itu aku menyentakkan tombak ini dan melempar Odin ke sisi barat bangunan. Ia berhasil mendarat dengan selamat, tetapi berkat mata Saklas aku kini dapat bergerak cepat menyamai Odin sehingga hanya sedetik kemudian aku sudah berada di samping Odin dan kuhujamkan tombak ini ka arah jantungnya. Sayang, ia menghindar, namun Xī Wáng sempat menggores armornya dan kulihat armornya retak. Ia berseru, “Apa yang kau lakukan?”

“Entahlah, aku hanya menggores armor anda dengan tombak ini. Tapi tampaknya keberuntungan memang sedang berada di pihakku. Sekarang …. giliranmu yang harus merasakan kekalahan.”

The eyes of the forgotten angel, Saklas. The entity that help The Creator build the world. He who seek the justice, he who is the first of their kind, and he who was the brightest among the angels of The Creator. Give me power to tear the ocean, and blade to destroy mountain. So mote it be,” mulutku mengucapkan mantra yang bahkan belum pernah kudengar sebelumnya. Selesai mantra itu terucap maka Odin berseru, “Apa yang terjadi dengan matamu?”

“Memangnya kenapa?” tanyaku.

“Matamu, matamu …. berubah warna menjadi biru safir. Mata itu milik ….. Saklas?! Dari mana kau dapatkan mata milik Saklas?”

“Tebak tiga kali!” kataku tak mengindahkan keterkejutannnya

Segera sesudah itu aku menyerangnya lagi, namun kali ini aku merasakan tenaga dan kecepatanku meningkat pesat. Bahkan aku merasakan bahwa Odin menjadi semakin lambat. Aku menebas armornya berkali-kali dan dapat kulihat ia sekarang dapat dilukai. Setelah berkali – kali mendapat serangan telak maka ia memanggil Gungnir. “Sekarang waktunya tombak melawan tombak,” pikirku. Maka kedua tombak kami pun saling beradu dan ternyata kekuatan kami sekarang seri. Meski begitu, aku sekarang lebih cepat sehingga aku cukup menang posisi. Setelah sekian lama aku menghantam helm milik Odin dengan Xī Wáng dan terlepaslah helmnya. Namun yang kulihat adalah sebuah pemandangan horor!

Tidak ada kepala dalam helm itu. Dalam baju besi itu juga tidak ada seorang pun. Odin adalah sebuah baju zirah yang bergerak menurut keinginannya sendiri. Aku mundur sekitar 3 langkah dan berseru, “Sebenarnya kau ini apa?”

“Musnahkan diriku baru kau tahu aku ini apa. Setelah itu aku akan membantu Children of The Apocalypse,” jawabnya.

Aku mengangkat Xi Wang tinggi-tinggi lalu dengan kuat membelah tubuh Odin dengan tombak itu. Ia terbelah menjadi dua lalu musnah menjadi asap hitam lalu menghilang, sementara itu dari kepulan asap hitam itu muncullah sebuah orb berwarna biru cerah melayang pergi dari tubuh Odin lalu masuk ke dalam tangan kananku. Kulihat Zantetsuken miliknya masih tertancap di lantai. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa bahwa aku harus mengambil senjata ini. Aku menarik pedang ini dari lantai dan …. berhasil. Namun baru 3 detik aku memegang pedang ini namun tiba-tiba Zantetsuken melayang dari tanganku. Ia melayang-layang 3 meter di atas lantai. Dari dalam dirinya terpancar sinar biru yang terang benderang.

Pedang itu mulai berucap, “Master! Aku siap melayanimu kembali.”

“Maksudmu?” tanyaku.

“Seperti kataku tadi Master. Aku siap melayanimu kembali.”

“Aku tidak mengerti maksudmu. Mastermu adalah Odin.”

“Master, kaulah Odin!”

“Apa-apaan….?”

“Kaulah Odin dan akulah senjatamu, pedangmu, dan perisaimu.”

Aku mengernyit bingung, tidak tahu apa maksudnya. Pedang itu kembali berkata,”Genggam diriku dan konsentrasilah, Master!”

Pedang itu dengan lembut mendekat ke arahku dan kugenggam ia dengan lembut, dari sini aku kembali mendapatkan penglihatan. Penglihatan mengenai diriku sebagai Odin. Tetapi aku bingung bagaimana mungkin? Aku baru saja mengalahkan Odin, lalu siapa sebenarnya Odin yang pernah melawanku? Aku pun bertanya pada senjataku ini, “Jika aku Odin, siapa sebenarnya Odin yang tadi melawanku?”

“Biar Skadi yang menjelaskannya,” jawab Zantetsuken.

Aku memendam perkara ini dahulu dalam hatiku, aku menaiki tangga ke atas, sembari memanggul Xi Wang dan memungut sarung pedang Zantetsuken. Aku mengikatkan Zantetsuken pada punggungku lalu kembali naik ke atas. Setibanya di pintu batu yang dijaga oleh Flidais, aku mengetuk-ngetuk pintu itu, “Flidais, tolong bukakan pintunya!”

Dengan segera aku dengar ada suara batang pohon besar yang berdebam di luar sana dan tergeserlah pintu batu itu sehingga masuklah sinar matahari ke dalam reruntuhan ini. Flidais tampak terkejut melihat kali ini aku masih hidup. Ia bertanya, “Apa yang terjadi dengan Master Odin?”

“Aku membunuhnya, ia lenyap tak berbekas,” jawabku.

“Dan di mana Zantetsuken?” lanjutnya.

“Ada padaku,” jawabku lagi.

Sesaat sesudah aku mengatakan hal itu, berlututlah Flidais dan kemudian diikuti oleh seluruh makhluk di padang itu, mulai dari treant, burung, anjing, kucing, kumbang, dan lainnya. Flidais berkata, “Salam Master Odin. Selamat datang kembali!”

Aku mengernyitkan dahi masih tidak percaya. Flidais tampaknya paham dengan kebingunganku maka ia melanjutkan, “Hanya Odin yang berhak memegang Zantetsuken sebagai senjatanya. Anda adalah Odin yang bereinkarnasi sebagai manusia. Tetapi anda tetaplah Master Odin. Tidak peduli apapun wujud anda, anda tetaplah Master Odin.”

“Aku mungkin masih belum dapat memahaminya secara penuh Flidais. Tapi terima kasih untuk penjelasanmu. Dan sekarang, aku harus pergi. Selamat tinggal dan sampai bertemu lagi.”

“Selamat jalan Master Odin!”

Aku menaiki punggung Edea, dan segera terbang. Di atas aku melambaikan tanganku pada seluruh makhluk yang ada di situ dan kulihat mereka juga bersorak-sorai melepas kepergianku.

Posted on February 12, 2011, in Children of The Apocalypse and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: