Children of The Apocalypse : Rise of The Ancient (Chapter 5)

Chapter 5

Torture

Hari sudah mulai senja, dan aku telah kehilangan tangan kananku selama pertarungan ini. Aku menatap Odin masih mengayun-ayunkan Zantetsuken miliknya. Celakanya, pandanganku mulai kabur dan aku sudah tak mampu berdiri lagi. Yang bisa kulakukan hanya duduk berlutut, seolah-olah aku memohon belas kasih Odin atas hidupku. Tapi aku tidak mau mati seperti ini! Kupaksa diriku berdiri dan menggenggam pedangku yang sudah patah ujungnya itu, dan dengan sisa tenaga aku menyerang Odin secara langsung, mengincar jantungnya.

Tapi itu adalah suatu kesalahan, sebelum aku sampai padanya kurasakan dadaku terasa hangat, sangat hangat. Dan begitu kulihat ke dadaku, kulihat baju yang kukenakan sudah basah oleh cairan pekat berwarna merah, darahku sendiri! Zantetsuken milik Odin menembus jantungku dari dada depan sampai punggung bagian belakang. Dua detik kemudian dia menarik pedangnya itu keluar dari tubuhku dan aku merasa tubuhku terasa amat ringan.

Amat ringan, makin ringan, dan semakin ringan! Aku kehilangan tenaga bahkan untuk memastikan kakiku berpijak secara benar. Aku pun terjatuh. Sakit! Lemas! Dan tak berdaya! Namun di akhir hayatku ini aku masih diijinkan melihat indahnya langit senja. Langit senja yang kemerahan dengan awan yang menari-nari dan burung-burung yang beterbangan serasa menentramkan jiwa. Aku menoleh ke kanan dan kulihat matahari sudah hampir terbenam. Sungguh lucu, pikirku. Matahari akan segera menghilang laiknya hidupku yang akan segera menghilang pula.


“Ada kata terakhir?” tanya Odin dengan suara beratnya.

“Tidak…. Ta..pi… ja..ng..an..lu…pa…da…. jan..ji..mu ta..di (Ackh)!” aku berusaha untuk tetap sadar, tetapi perlahan-lahan penglihatanku mulai kabur, hingga akhirnya aku tidak kuat membuka mata lagi. Aku mulai sulit untuk bernafas, dan aku bahkan tidak punya tenaga lagi untuk menarik nafas. Dalam beberapa detik kemudian, aku merasa diriku ini melayang, dan saat itu aku sadar bahwa aku sudah mati.

Jadi ini rasanya mati? Aku pun berpikir bahwa tidak masalah jika orang tak terlalu berguna seperti aku ini mati. Dari dulu aku juga tidak terlalu mempermasalahkan apakah aku akan mati atau hidup. Tidak ada lagi di dunia ini yang tersisa bagiku dan tidak ada lagi yang dunia butuhkan dariku, aku hanya menyesal tak sempat membahagiakan ibuku. Ah, tapi masih ada Mas Pulung dan Mas Theo, mereka akan mampu memberikan kebahagiaan pada ibuku nantinya.

Aku merasa terjerumus dalam kegelapan yang pekat namun menenangkan dan mendamaikan. Aku berada dalam kegelapan yang tenang ini hanya sesaat karena tiba-tiba kulihat Odin di tengah kegelapan ini. Ia bersinar, menandakan keagungannya sebagai dewa dari para dewa.

“Sudah siap?” tanyanya.

Belum sempat aku menyahut ia sudah mencekik leherku. Aku pun mengerang, “Ah, ah, arrggggh!”

“Nikmati perjalananmu ke neraka, Ying Go!” katanya sembari melemparku ke sebuah lubang hitam.

Dan terjatuhlah aku ke dalam lubang hitam yang amat pekat dan makin pekat saja. Aku merasa kegelapan ini seperti makhluk hidup. Dan benar saja, tak berapa lama muncul tentakel-tentakel yang membelitku dan menghancurkan seluruh tulang badanku. Lalu tentakel ini melemparku ke sebuah lubang lain berwarna merah.

“Apa lagi kali ini?” pikirku.

Dan di sana aku langsung tercebur di lautan api berwarna biru dan hijau. Kurasakan seluruh tubuhku terbakar. Kulit-kulitku terkelupas, daging dan ototku hangus terbakar hingga bisa kucium bau hangus dari tubuhku sendiri. Tak berapa lama aku sudah tak bisa melihat lagi.

Dalam kebutaan ini aku masih bisa merasakan api yang membara masih membakar tubuhku yang tinggal tulang belulang ini. Terasa pedih dan perih yang amat sangat. Sungguh tak menyangka aku bisa jatuh ke tempat jahanam ini.

Betul-betul gelap namun terbakar. Tiba-tiba ada hembusan angin kuat yang membawaku ke sebuah tempat yang agak terang dengan penerangan obor-obor. Ah! Pandanganku telah kembali. Di sini angin kencang itu tiba-tiba berhenti bertiup dan menghempaskanku ke suatu dataran yang penuh dengan batu-batu kerikil tajam. Tubuhku sudah kembali ke wujud semula rupanya, hanya pakaianku yang tidak pulih kembali. Aku kini telanjang bulat di antara kerumunan api. Kurasakan punggung dan lenganku terluka akibat jatuh tadi.

Aku melihat sekelilingku kulihat ada sesosok pria berkulit hitam namun berkepala anjing ajax. Aku langsung mengenali sosok ini. Ya! Dewa penghakiman bangsa Mesir, Anubis! Anubis memalingkan mukanya kepadaku dan bertanya, “Siapa engkau?”

Aku pun menjawab, Kosmas Sugeng Rahadi, namun teman-temanku memanggilku Ying Go.”

“Ah, ikat dia di tiang besi itu dan biarlah Baal menentukan hukuman yang tepat untuknya,” katanya seolah-olah pada dirinya sendiri sebab tak kulihat satu sosok pun berdiri di sekitar sini. Dugaan naifku lagi-lagi salah! Dari dinding-dinding batu merah itu keluarlah sekelompok makhluk berkepala anjing ajax. Mereka mengikatku pada sebuah tiang dan mulai mencambukiku. Bukan dengan cemeti atau cambuk biasa, melainkan dengan kala-kala (cambuk dengan kait-kait besi seperti pancing pada ujungnya), setiap kali cemeti itu menyambar tubuhku, ada saja dagingku yang terkoyak dari tempatnya semula. Terkadang dalam jumlah kecil, terkadang pula dalam jumlah yang cukup banyak. Sepanjang malam itu mereka terus mencambukku dengan kala-kala tanpa henti dan sepanjang malam itulah erangan kesakitan keluar dari mulutku sehingga kurasakan kering sudah mulutku.


Sesudah mereka puas mencambukiku seekor makhluk berkepala anjing itu menggotongku, membawaku berjalan sekitar 30 menit tanpa bisa aku tebak ke mana. Tiba-tiba ia berhenti dan kemudian membantingku ke tanah dan dari luka-lukaku mengucur deras darah segar ke tanah neraka yang merah ini. Aku terbaring tak berdaya menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Pandanganku kabur akibat kesakitan yang amat sangat di seluruh tubuhku ini. Namun dalam beberapa detik kurasakan rasa sakitku tiba-tiba hilang dan seluruh lukaku sembuh, aku bangkit dan melihat sekelilingku. Ini adalah sebuah lembah yang amat dalam, tidak ada jalan keluar selain sebuah celah sempit yang tampaknya dipakai makhluk tadi untuk membawaku ke sini. Aku pun berjalan ke celah itu namun tiba-tiba dari celah itu muncullah sesosok makhluk raksasa berkepala banteng, Minotaur. Minotaur itu berlari ke arahku, mencengkeram tubuhku dengan tangan kanannya. Tangan kanannya meremas tubuhku dan … KRAKK…. kurasakan tulang rusuk, tulang pinggang, dan tulang-tulang tanganku mengeluarkan suara, sepertinya patah. Aku mengerang, kesakitan, tetapi Minotaur ini tampaknya tidak menghiraukan eranganku dan melemparku dengan kasar ke dinding bagian kanannya, tubuhku menghantam dinding dan terrjatuh dalam posisi tertelungkup, aku mencoba lari tapi aku tidak bisa berdiri. Minotaur itu berjalan perlahan-lahan ke arahku, “Sial!” umpatku, “Aku tidak punya tenaga bahkan untuk berdiri.”

Aku mendongak ke atas dan minotaur itu sudah berdiri di hadapanku. Dalam sekejap ia mengarahkan kepalan tangan kanannya ke arahku. Pukulannya mendarat di punggungku dan ..KRAAKK.. sekali lagi terdengar suara tulang patah. Aku merasakan kesakitan yang luar biasa dan kurasakan aku mau muntah. Ketika aku muntah yang keluar adalah darah yang menghitam. Minotaur itu memukulku sekali lagi dan sekali lagi. Ia melakukannya berkali-kali.

Seluruh tubuhku remuk memar. Tulang punggung dan rusukku patah. Aku tak bisa menggerakkan kakiku. Tanganku juga tidak bisa bergerak bebas. Nafasku sesak, mungkin akibat tekanan dari tulang rusuk yang patah tadi. Minotaur it kemudian menggenggam kepalaku kemudian dengan tenaga yang luar biasa, menghancur-remukkan kepalaku. Tidak sampai 30 detik tubuhku sudah kembali seperti semula. Aku sadar bahwa ada pola di neraka ini. Setiap kali kau mati, kau akan bangkit kembali, tanpa cacat. Dan setelah itu kau akan disiksa kembali tanpa memberikan kesempatan bagimu untuk bernafas lega.

Dugaanku kali ini benar. Segera sesudah tubuhku ini terbentuk kembali, dari dalam tanah dan muncullah sekumpulan kepala ular. Jumlahnya ratusan. Ular-ular itu membelit tubuhku dan kurasakan tulang rusuk dan tulang punggungku patah untuk ke sekian kalinya. Sesosok iblis menusukkan trisulanya ke dalam jantungku. Anehnya aku tak mati. Tapi bagaimana bisa mati? Di sini kita semua telah mati. Dalam kehinaan dan derita yang amat sangat kudengar para iblis jahanam ini menertawakanku. Ah siksa neraka, seperti yang difirmankan dalan Al-Quran dan Alkitab, ternyata lebih parah daripada dugaanku dan juga memang tak tergambarkan oleh kata-kata. Orang-orang munafiklah penghuni tempat ini, tapi siapa sangka kenekatanku melawan Odin adalah penyebab dia melemparku ke tempat ini.

“Hai Ying Go! Manusia yang berani menantang Odin. Jadilah bagian dari kami maka kami akan melepaskanmu dari derita ini!” sorak para iblis itu.

Aku tak pernah menyangka seorang dewa berhala dari Norwegia mampu melakukan hal ini dan. Skadi memang berpesan jika aku kalah dalam pertarungan dengan Odin maka ia akan melempar jiwaku ke neraka untuk masa 5000 tahun. Ah tapi masa 5000 tahun menurut hitungan siapa? Hitungan kami para manusia ataukah hitungan para dewa ataukah hitungan para iblis?

Di sisi lain yang tidak dapat kuamati Skadi dan para Children of the Apocalypse mengamati penderitaanku melalui mata air Yor. Maeve bertanya pada Skadi, “Apa kita harus biarkan saja Ying Go menderita di sana?”. “Aku tahu perasaan kalian tentang Ying Go, tetapi kita tidak bisa melanggar peraturan, yang harus melawan Odin adalah Ying Go sendiri, tidak boleh ada satu pun dari kita turut campur dalam pertarungan mereka. Dan jika Ying Go dijatuhkan ke dalam neraka untuk masa 5000 tahun, percayalah itu adalah 5000 tahun neraka, yang notabene hanyalah 2 bulan waktu bumi. Dan sekarang selagi para archangel belum bergerak, aku ingin kalian semua melakukan persiapan untuk rencana kita berikutnya!” jawab Skadi sembari menunjuk mereka berenam. “Rencana sesudah ini …..” Helmut ragu-ragu untuk meneruskan kata-katanya. “Ya! Rencana sesudah ini, tidak boleh gagal!” jawab Skadi tegas.

Sementara itu aku pun menjalani hidup sebagai ‘objek penderita’ di neraka selama kurun waktu yang tak dapat kuperkirakan lagi. Ragam siksaan mereka beraneka ragam saban hari ada minimal 3 macam siksaan yang mereka lakukan. Tetapi dari antara siksaan-siksaan yang mereka lakukan ada 5 macam siksaan yang paling aku ingat hingga saat ini.

  1. Palu dan paku.

Pada kejadian ini para iblis menyeret tubuhku dengan kereta yang ditarik griphon dengan kecepatan tinggi, seluruh tubuh ini tersayat-sayat akibat tanah neraka yang penuh kerikil-kerikil tajam dan beberapa di antaranya membara. Setibanya di suatu tempat yang memiliki sebuah peti mati besar dan berisi paku-paku tajam mereka menjambak rambutku melemparkanku ke suatu lingkaran pentagram di sana ada sesosok iblis berbentuk pria berotot dan bertopeng besi memegang sebuah palu besar seperti palu pengempuk daging sapi namun ukurannya 100 x lipat. Mereka mengikatku dengan tali api lalu iblis yang memegang palu itu memukulku dengan palu raksasa itu sampai tubuh bagian atas dan bawahku terpisah.

Penyiksaan dilanjutkan dengan memasukkan tubuh bagian atasku ke peti mati berisi paku itu. Mereka menancapkan punggungku pada dinding bagian dalam peti yang penuh berisi paku sepanjang 30 cm dan untuk kesekian kalinya erangan kesakitanku terdengar seantero neraka. Mereka menutup peti itu dan ternyata dinding atas peti ini bisa diturunkan. Itulah yang terjadi. Dinding bagian atas peti ini turun secara perlahan-lahan dan paku-paku panjang di sisi atas ini menusuk setiap centi yang tadi belum terjamah oleh paku-paku dari sisi bagian belakang. Belum puas juga, dinding bagian atas ini menjepit tubuhku dan akhirnya meremukkan diriku menjadi seonggok daging gepeng. Beberapa iblis mulai memakan tubuhku yang sudah menjadi seonggok daging ini dan begitu mereka selesai melakukannya aku kembali seperti semula.

  1. Mutilasi (Ling Chi)

    Suatu hari mereka mengikatku dengan posisi tanganku terikat pada sebuah balok besi dan diriku tergantung sekitar 2 meter dari tanah. Di situ seekor iblis membawa sebuah pisau tajam dan mulai menyayat perutku. Tentu saja aku menjerit kesakitan. Namun itu bukan hanya satu sayatan. Beberapa iblis dengan bentuk pisau yang sama kembali mengerumuniku, menusuk tubuhku dengan pisau dan mengiris-iris tubuhku secara perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit.

    Mereka mengiris semua bagian. Mataku dicungkil dari tempatnya, hidungku diiris menjadi 3, bibirku mereka iris menjadi 10, punggungku menerima sekitar 200 sayatan. Dan puncak dari semua penderitaan itu adalah waktu mereka mengiris-iris lidahku kemudian memasukkan cairan kanji panas ke dalam kerongkonganku sehingga terbakarlah kerongkonganku. Setelah puas dengan ritual ‘mengiris-iris’ tadi maka beberapa dari antara mereka memisahkan kepala, tangan dan kakiku dari tubuhku. tanganku mereka potong menjadi 10 bagian, kakiku mereka potong menjadi 7 bagian dan kepalaku mereka jadikan bulan-bulanan di antara mereka.

  2. Pembedahan(Quartering)

    Entah sudah berapa bulan semenjak aku masuk neraka ini, tapi penyiksaan ini adalah penyiksaan yang menurutku paling keji. Mereka menancapkan kait pada bahuku, kait tersebut dihubungkan dengan rantai yang terkait pada dinding cadas. Setiap kali aku melangkah pasti tidak akan bisa lebih dari 5 langkah.

    Salah satu iblis bertubuh layaknya Goliath menarik rantai yang terkait dengan bahuku kemudian membuat suatu simpul dan menguncinya dengan sebuah gembok raksasa. Kemudian muncullah satu iblis bertampang seperti orang tua namun memiliki ekor. Ia memasukkan tangannya yang keriput itu ke dalam tubuhku dan mencabut ginjalku dari tempatnya. Setelah itu disusul dengan diafragma, pankreas, dan hati.

    Aku terengah-engah dan meringis kesakitan, tetapi iblis ini kemudian memasukkan kembali tangannya ke bagian organ dalamku dan mencengkeram lambungku, “Ohok!” suara itulah yang keluar dari mulut ini saat ia mencengkeram lambungku, dan kemudian menghancurkannya. Saat organ ini hancur, aku memuntahkan suatu cairan pahit dan asam dari mulutku (dalam jumlah cukup banyak), “Hok! Ohok!” yang kutahu adalah asam lambung.

    Puncaknya setelah ia menghancurkan lambungku, sebelum sempat aku menarik nafas , ia menarik keluar paru-paruku dan aku tak bisa bernafas lagi. Tercekik! Dan iblis-iblis itu tertawa keras-keras saat melihatku tercekik seperti orang menjelang ajal namun tak jua dijemput. 1 jam aku merasa tercekik seperti ini dan akhirnya iblis tua ini mencabut jantungku dan seketika itu juga aku merasa gelap. Tak sampai semenit tubuhku telah kembali seperti semula dan mereka melakukan hal itu lagi hingga berkali-kali.

  3. Penyaliban (Cruxifaction)

    Suatu ketika mereka menyeretku keluar dari sel menuju sebuah bukit di mana mereka memaksaku memanggul batang kayu besar sepanjang 2 meter seorang diri. Sebenarnya ketika masih di dunia hal ini tidak menjadi masalah. Tapi di sini kekuatanku sebagai manusia maupun sebagai Children of the Apocalypse hilang. Maka aku memanggulnya dengan tertatih-tatih sambil dipukuli oleh iblis-iblis di belakangku dengan gada kayu.

    Di tengah jalan mereka menambahkan sebatang kayu sepanjang 2,5 meter lagi dan memaksaku memanggulnya kembali. Jadi sekarang aku memanggul 2 batang kayu yang berat. Bisa kurasakan pundakku lecet dan dari dadaku serasa mau pecah karena kehabisan nafas. Perjalanan ini serasa tidak masuk akal, serasa aku sudah berjalan berkilo-kilo namun tak jua sampai.

    Akhirnya setelah beberapa jam yang melelahkan aku sampai di sebuah bukit (atau gunung) tertinggi di daerah ini. batang kayu itu Di sana ada 2 iblis Goliath yang memegangi tangan dan kakiku kuat sekali pada ujung-ujung batang kayu itu sementara ada satu iblis berwujud seperti pria paruh baya memakuku pada batang kayu itu.

    Mereka memakuku pada sebuah kayu salib, sama seperti yang mereka lakukan pada terpidana mati di Romawi Kuno. Sesudah mereka selesai melakukannya, mereka menancapkan paku tambahan pada ulu hati dan perutku. Dari sanalah darah segar mengucur deras, namun kali ini aku mencoba untuk tutup mulut dan diam, tidak mengerang ataupun berteriak.


    Melihat diriku hanya diam saja meski mendapat siksaan seperti itu, salah satu di antara mereka mengambil seekor ular hitam berkepala segitiga dan bermata hijau zamrud. Ia mendekatkan ular itu padaku, menggigitkannya dan kemudian mereka menunggu reaksiku.

    Gigitan ular ini membuat kepalaku pening dan seluruh tubuhku menggigil. Setelah sekitar 2 jam tergantung di sini aku serasa hendak mau jatuh, tetapi tangan, kaki, perut dan ulu hatiku tertancap kuat pada kayu sialan ini. Setiap kali aku hendak mengambil posisi sedikit menunduk maka yang paku-paku ini akan menggores otot bagian atas atau bagian bawah dari bagian tubuh yang tertusuk paku.

    Setelah sekian lama kulihat iblis-iblis ini pergi dari sini, digantikan oleh iblis lain. Melihat itu aku tahu bahwa ini sudah setengah hari. Para iblis selalu berganti posisi mereka setiap setengah hari. Diriku masih tergantung di sini, dan merasakan sesak nafas yang luar biasa. Normalnya orang yang mengalami penyaliban harus mengangkat kaki mereka untuk memberi ruang pada diafragma untuk berkontraksi tetapi bagaimana aku dapat melakukannya jika di ulu hatiku tertancap sebuah paku? Mereka tampaknya seperti tidak ingin segera menghabisiku maupun mengganti siksaanku dengan macam siksaan lain.

    Mereka membiarkanku tergantung di sini sudah selama 8x shift. Itu berarti ini sudah 4 hari. Aku masih tidak mengerang juga meski beberapa dari mereka mulai menusukkan besi panas ke tangan dan kakiku. Namun entah karena apa, tiba-tiba saja mereka semua pergi, seolah ada panggilan yang memanggil para iblis ini ke suatu tempat. Dan memang benar, dalam beberapa waktu saja sektor neraka yang satu ini menjadi kosong,

    Aku sedikit keheranan tapi aku mencoba memanfaatkan waktu ini untuk bersitirahat sejenak meski di sini tidak nyaman. Tiba-tiba ada suara yang kukenal memanggilku, “Ying Go!”.

    Aku mengangkat mukaku yang sedari tadi tertunduk dan kulihat Maeve berdiri di pinggir jurang dalam balutan gaun merah. Aku pun menjawab, “Ada apa kau ke sini? Bukankah kalian seharusnya ada di bumi dan mulai melawan archangel?”

    “Ying Go, kekuatan kami memang bertambah tetapi ini belum cukup. Ada satu sumber kekuatan lagi yang harus kita cari dan kami membutuhkan dirimu.”

    “Bagaimana aku bisa membantu kalian sementara diriku terlempar dalam neraka jahanam ini ?”

    “Masa 5000 tahun sudah hampir lewat. Jadi kuatlah, Ying Go!” ia tersenyum sambil menyeka mukaku dengan handuk basah. Ah! Suatu kesegaran yang tidak pernah kudapat di neraka. Maeve kembali bertanya, “Apakah kau mau minum?”

    “Ya, sudah tahunan aku tidak mencicipi air,” jawabku lemah.

    Ia membuka sebuah botol dan menyuruhku minum. Air di dalamnya serasa seperti minuman anggur bercampur madu. Maka aku bertanya padanya, “Apa ini?”

    Mead. Dengan ini dirimu tidak perlu minum lagi sampai masa tahananmu berakhir.”

    “Terima kasih, Maeve!”

    “Tidak! Kamilah yang harus berterima kasih karena pengorbananmu. Ying Go, apakah kau merasa menyesal membantu kami?”

    “Tidak. Aku hanya menyesal tidak cukup kuat melawan Odin.”

    “Waktu pertemuan mereka hampir habis, aku pamit dahulu. Kuatlah Ying Go, tinggal sedikit lagi.”

  4. Perajaman

    Iblis-iblis itu melepasku dari kayu salib penuh penderitaan itu setelah aku tergantung 30 hari di sana. Selepasnya aku dari sana mereka membawaku ke sebuah padang rumput yang rumputnya telah mati semua. Mereka membantingku ke tengah-tengah padang rumput itu dan mulai melempariku dengan batu-batu, mulai dari yang seukuran kerikil, batu kerakal (batu kali untuk hiasan taman/pot), sampai batu karang yang seukuran batu bata. Mereka terus melempariku terus-menerus hingga tubuh ini remuk memar dan tiada tulang dari diriku yang utuh pada tempatnya lagi. Begitu aku pulih kembali mereka akan melakukan hal yang sama berulang kali.

Setelah perajaman itu selesai, iblis-iblis setinggi 3 meter ini menggotong tubuhku yang sudah remuk memar ini kembali ke selku. Walau disebut sel, ini lebih tepat disebut sumur. Berbentuk seperti sumur sedalam 30 meter-an dan amat sempit, aku bahkan tidak dapat duduk dengan benar di sini. Di dasarnya terdapat lubang-lubang kecil yang mengeluarkan gas metana. Sesekali iblis penjaga sel akan mengaktifkan mekanisme yang akan memicu terbakarnya gas itu. Lalu gas itu akan membakar tubuhku sampai hangus tak bersisa, setelah itu tubuhku akan pulih seperti sedia kala, dan siap untuk mengalami penyiksaan lagi. Dalam perjalanan kembali ke selku, sungguh aku ingin sekali hilang kesadaran, tetapi di dunia orang mati hal itu adalah mustahil, sebab di sini semuanya terbangun, dan setiap waktu adalah malam. Ini adalah tempat makhluk-makhluk malam dan aku telah menjadi salah satu dari antara mereka. Setibanya di selku, mereka langsung melemparkanku ke dasar sel sehingga tubuh yang sudah remuk memar ini merasakan tulang yang telah hancur kini dihancurkan lagi. Bahuku yang sudah tak bisa bergerak lagi membentur cadas di dasar sel dan bagian pinggang ke bawah tak bisa kurasakan lagi. Aku merasa kedinginan dan ingin mati saja. Menurut perkiraanku, sebentar lagi api akan menghanguskan tubuhku yang sudah hancur ini untuk kemudian dipulihkan lagi.

Sudah berapa lamakah aku di sini? Aku tidak tahu, namun pastinya sudah lama sekali. aku sudah tak bisa menghitung lagi berapa tahun aku di sini dan berapa kali penyiksaan yang sudah aku jalani. Aku pun sudah putus asa akan harapan bisa keluar dari sini dan kembali melihat dunia lagi.

Namun hari ini sangat aneh. Tidak ada api yang menghanguskanku dan kulihat iblis penjaga selku memanggilku, “Ying Go! Yang Mulia ingin berjumpa denganmu.” dan ia turun dan menarikku keluar dari sel. Setibanya di atas aku langsung terjatuh, tidak mampu untuk berdiri, tapi dengan sekuat tenaga aku mencoba berdiri. Iblis itu membantuku berdiri dan kemudian memapahku, “Hati-hati!” katanya.

“Terima kasih,” jawabku.

“Jangan pikirkan, kau sudah mengalami banyak penderitaan. Percayalah, di antara para penguni neraka, kaulah satu-satunya orang yang tidak layak berada di sini.”

“Untuk seorang iblis kau ini punya hati.”

“Aku dulu juga manusia, Ying Go. Aku berada di sini karena membunuh saudara kandungku demi melindungi adik-adikku dari keserakahannya akan harta keluarga, tetapi aku juga tewas dalam peristiwa itu. Aku membunuhnya dengan penuh dendam dan karena itu aku dihakimi ke sini.”

“Mengapa aku harus percaya pada cerita yang mungkin saja kau karang?”

“Jika kamu tidak percaya padaku bisa kau tanyakan pada Skadi.”

“Akan kulakukan. Tapi terima kasih atas kebaikanmu.”

“Kita sudah sampai, Yang Mulia menunggumu di dalam.”

“Terima kasih.”

Aku masuk ke dalam dan melihat Anubis duduk di singgasananya. Tubuhnya dibalut pakaian dari emas dan bertatahkan batu permata. Ia memandangku dengan wajah hitamnya yang dihiasi mata berwarna emas, “Bagaimana kabarmu?”

“Pernah lebih baik daripada sekarang.”

“Sadarkah kau sudah berapa tahun kau di sini?”

“Tidak.”

“Kau sudah di sini selama 5000 tahun. Sadarkah kau. Ini sudah waktunya bagi dirimu untuk bebas. Sekarang!” aku tertegun tidak percaya tapi Anubis segera menyambung pembicaraannya, “Skadi memintaku untuk menyerahkan ini padamu.” ia menyerahkan dua buah bola kristal menyerupai bola mata manusia. Aku pun menerima benda itu dan memasukkan mereka ke dalam bola mataku. Sekarang aku bisa melihat dari sini aktivitas para iblis yang berada beberapa kilometer dari sini. “Kau suka?” tanya Anubis.

“Mata yang bagus. Siapa yang memilikinya dahulu?”

“Saklas!”

“Oh! Lalu kapan diriku bisa keluar dari sini?”

“Sekarang juga! ……” katanya sambil meletakkan 3 jarinya pada dahiku.

Posted on February 12, 2011, in Children of The Apocalypse and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: