Children of The Apocalypse : Rise of The Ancient (Chapter 4)

Chapter 4

Odin

Aku keluar melewati portal yang dibuat oleh Skadi, dan terhampar di depan mataku sebuah padang rumput yang luas, di tengah-tengahnya berdiri sebuah kuil seperti Parthenon. Aku mulai melangkah dan tiba-tiba kurasakan adanya hawa aneh di udara. Suatu suasana yang menggambarkan sesuatu yang amat kuat, sangat kuat, sehingga membuat kakiku bergetar. Takut! Tapi takut apa? Ah ya takut diriku kalah dalam pertarungan ini.

“Kau takut?” tanya Skadi.

“Tentu saja,” jawabku.

“Hilangkan rasa takutmu itu, mana mungkin kau bisa mengalahkan Odin jika dirimu ketakutan.”

“Sungguh! Rasanya aku tidak akan bisa lagi melihat matahari yang terbit besok. Aku juga tidak yakin apakah aku masih bisa hidup untuk hanya sekedar melihat matahari terbenam hari ini,”

“Jika kau memang takut kenapa kau bersedia melawan Odin?” tanya Skadi.

“Karena Children of the Apocalypse tidak bersalah, dan mereka tak layak jadi kambing hitam atas datangnya kiamat!” jawabku lantang.

“Dari mana kau tahu itu, Ying Go? Kau baru saja mengenal mereka.”

“Dari dua bola mata setiap orang dari mereka, aku mengetahui bahwa mereka tidak bersalah.”

“Kamu benar-benar rela melakukan hal ini? Jika tidak kau masih bisa mundur.”

“Aku akan melakukannya.”

“Ah, Ying Go! Kau telah menguasai prinsip seorang ksatria sejati. Menjadi berani itu memang bukan sama sekali tidak takut. Ketakutanlah yang membuat kita tertantang untuk menaklukkannya. Ketakutanlah yang menjadi pembatas ambisi kita. Dan ketahuilah, pengorbananmu takkan sia-sia. Aku sendiri akan menjaga keluargamu setelah ini. Jangan khawatirkan mereka.”

“Terima kasih.”



“Ini kudamu!” katanya sembari menyerahkan tali kekang kuda berwarna hitam kepadaku.

“Terima kasih!” jawabku.

Maka aku pun naik ke atas kudaku dan memacunya ke utara. Ke arah kuil di mana Odin tinggal. Selama dua jam aku menuju ke sana kulihat pemandangan sabana yang hijau ini perlahan-lahan berubah menjadi suatu hutan yang hijau meski tak terlalu lebat. Tiba-tiba ada sesosok makhluk menghadangku, kudaku pun meringkik dan nyaris saja aku jatuh dari kudaku. Makhluk ini sepertinya Treant, tubuhnya amat tinggi sekitar 30 meter. Aku pun bertanya padanya, “Wahai Treant yang agung, siapakah gerangan dirimu?”

“Namaku Miming, begitu para orang Norse memanggilku, tetapi aku lebih suka dipanggil sebagai Flidais. Akulah penguasa hutan ini. Apa yang kiranya dapat kubantu anak muda?”

“Ah, Flidais, sudilah kiranya kau menunjukkan di mana aku dapat menemui Odin.”

“Kemarilah!” katanya sambil mengetuk-ngetuk sebuah batu karang. Sesudah ia melakukan seperti itu, batu karang itu runtuh dan tampaklah sebuah tangga yang menuju bawah tanah. “Masuklah dan di sanalah akan kau temukan Odin,” kata Flidais.

“Aku berharap kau kembali dengan selamat anak muda. Semoga berhasil,” katanya lagi.

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Treant itu, “Terima kasih Flidais. Sampai bertemu lagi.”

Aku meninggalkan kudaku bersama Flidais sementara aku menuruni tangga itu menuju ruangan besar dengan arsitektur perpaduan Mesir, Norse, dan Yunani. Di sana aku melihat sesosok penunggang kuda berpakaian jubah hitam menutupi wajah dan tubuhnya.”Hai manusia, apa yang kau inginkan?” tanya sesosok penunggang kuda berjubah hitam itu.

“Aku ingin bertemu dengan Odin. Adakah dia di sini?” jawabku pada sosok itu.

“Masuklah!” katanya.

“Di mana Odin?” tanyaku.

“Akulah Dia!” kata sosok penunggang kuda berpakaian hitam itu yang dengan segera ia melepaskan jubah yang menutupi dirinya itu dan tampaklah sosok ksatria dengan baju zirah hitam dan berjubah hitam. Helm yang dikenakannya menyerupai tanduk banteng, menunjukkan keperkasaannya. Kuda yang ditungganginya juga tampak hebat, kuda hitam yang gagah dan tegap. Ukuran kuda itu 1,5 kali lebih besar dari kuda milik keluarga kerajaan Inggris yang pernah kulihat. Kuda ini memiliki 8 kaki. Aku ingat nama kuda ini, Sleipnir!

“Aku memiliki banyak nama, orang Norwegia memanggilku Odin, orang Yunani memanggilku Hades dan para ksatria Andalas memanggilku Mulajadi Na Bolon. Apa yang kau cari hingga kau berani menantangku?” tanyanya. “Sudah banyak orang datang ke sini menantangku dan mereka semua menemui ajalnya. Mereka tidak dapat merebut Zantetsuken milikku. Tapi jika kau berhasil mengalahkanku maka Zantetsuken ini jadi milikmu, Ying Go!”

“Mereka menantangmu untuk kejayaan mereka sendiri. Tetapi aku datang kemari bukan untuk hal tersebut, bukan untuk merebut Zantetsuken ataupun mengalahkanmu. Aku datang kemari karena ingin menyelamatkan Etria beserta Children of Apocalypse. Para malaikat surga mengejar-ngejar mereka karena suatu alasan yang tidak masuk akal. Aku memohon bantuanmu untuk mengalahkan mereka,” jawabku.

“Kau tidak berambisi merebut Zantetsuken? Aneh! Tapi baiklah!”

“Aku ingin membuat suatu perjanjian terlebih dahulu!”

“Dan apa itu anak muda?”

“Aku ingin menang tidaknya diriku dalam pertarungan ini kau akan tetap membantu kami!”

“Ah, tapi patut kau camkan juga….,”

“Ya, aku tahu. Kau akan melemparku ke neraka untuk masa 5000 tahun jika aku kalah bukan? Aku siap untuk itu! Janji ksatria?!”

“Tentu!” kata Odin mantap.

“Tapi sebelum kau protes anak muda, aku hanya akan membantu Children of the Apocalypse mendapatkan kembali kekuatan mereka. Aku tidak akan membantu mereka dalam perang mereka melawan surga jika kau kalah. Namun jika kau menang maka aku akan mengabdi kepadamu kembali,” kata Odin kembali.

Hal yang aneh bukan dengan kata-kata ‘aku akan mengabdi kepadamu kembali’? Tapi saat itu aku tidak menyadarinya karena Odin segera turun dari kudanya dan mengambil posisi siap menarik Zantetsuken dari sarungnya. Aku tahu bahwa aku tidak akan menang melawan dewa ini. Kekuatan kami berbeda jauh dan dia tampak amat terlatih bermain pedang.

Maka majulah Odin dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, yang untungnya serangan ini bisa kutangkis dengan pedangku. Saat senjata kami saling beradu terjadilah percakapan di antara kami.

“Heh, lumayan juga dirimu,” kata Odin.

“Tapi aku rasa serangan yang kau lancarkan tadi bukanlah serangan pamungkasmu,” jawabku.

“Ah, kau mengamati dengan amat baik anak muda. Kau termasuk ksatria yang rendah hati. Atau mungkin rendah diri?”

“Berapa banyak ksatria yang mati di tanganmu?”

“Mungkin sekitar 100.”

“Biar kutebak, mereka semua berkata : ‘aku akan mengalahkanmu’.”

“Ya. Memang seperti itu. Dan kenapa kau tidak melakukannya?”

“Karena aku tidak yakin dapat mengalahkanmu.”

“Kalau kau sama sekali tidak yakin dapat mengalahkanku mengapa engkau berani menantangku?”

Odin pun menghentakkan senjatanya dan membuatku melayang di udara. Namun aku berhasil mendarat dengan selamat dan kulanjutkan seranganku dengan tujuan tangan kanannya, namun Odin ternyata lebih sigap dari dugaanku. Ia langsung menangkisnya dengan tangan kirinya yang ternyata amat keras hingga seluruh urat di tanganku terasa sakit saat pedangku menghantam tangannya. Maka aku pun menyerangnya dengan mantra kutukan, “Terre is Aru Rexega!”, mantra ini mengeluarkan sinar ungu gelap dari tanganku dan menghantam armor Odin dan menimbulkan ledakan. Tubuh Odin ditutupi oleh asap akibat ledakan tadi namun ia segera menyibakkan jubahnya dan menyingkirkan asap itu. Aku amat terkejut melihat armornya tidak tergores sedikit pun, padahal mantra ini seharusnya mampu meluluhlantakkan baja sekeras apapun. “Tampaknya keyakinanmu benar, anak muda. Kau tidak bisa mengalahkanku. Tapi setidaknya anak muda, kau jujur dan rendah hati. Aku berjanji tidak akan membunuhmu jika kau menyerah sekarang,” katanya. Aku pun mengambil posisi siaga menyerang lagi sambil menyahut anjurannya, “O tidak! Sebab jika kulakukan seperti itu kau tidak akan membantu Children of Apocalypse!”. Odin pun mengambil ancang-ancang lagi dan kali ini serangannya berhasil kuhindari. Zantetsuken merobohkan salah satu pilar di bangunan itu dan Odin pun memalingkan mukanya kepadaku dan berkata, ‘Apa yang kau katakan memang benar, jika kau menyerah maka aku tidak akan membantu para Children of Apocalypse. Namun relakah kau mengorbankan dirimu untuk sesuatu yang sebenarnya tak perlu kau lakukan?”

Deg! Kurasakan sedikit keraguan merasuk dalam hatiku. Untuk apa kulakukan semua ini? Apakah benar Children of the Apocalypse layak dibela? Dan apa benar aku perlu melakukan semua ini? Tapi dengan segera aku menepis semua keraguan itu dan menjawab Odin dengan lantang, “Aku sudah berjanji pada Skadi dan para Children of Apocalypse. Apa yang hendak aku katakan jika aku mengingkarinya? Sungguh jika hal ini kuingkari maka aku telah mati dan hidup layaknya orang mati.”

“Harga dirimu tinggi, anak muda. Sungguh tak kusangka masih ada manusia sepertimu. Tapi kau juga naif, bagaimana jika aku mengingkari janjiku meski kau telah mati di tanganku?”

“Aku sangka seorang dewa Aesir tak akan berbuat sampai sebegitunya. Di mana harga dirimu hendak kau letakkan jika kau berbuat demikian?”

“Kau anak yang pandai dan kuat. Sungguh sayang kita tidak bertemu di kesempatan yang lebih baik.” Katanya sambil mengayunkan Zantetsuken lagi ke arahku. Sekali lagi serangan ini meleset namun hantaman ini membuat lantai batu yang ia hantam pecah dan pecahannya menghambur ke segala arah. Aku sempat terkena salah satu pecahannya dan debunya masuk ke mataku sehingga untuk sesaat aku tidak bisa konsentrasi pada pertarungan. Odin pun segera menyerangku dengan penuh tenaga. Pedangku menangkisnya dan segera kutarget jantungnya dengan pedangku. Odin melayang di udara, menghindari seranganku lalu melancarkan tendangan berputar yang segera kutangkis dengan mantra perlindungan, “Podi straniod movega areda.” Mantra perlindungan ini membuat Odin terlempar sejauh 2 meter namun ia berhasil bersalto di udara dan mendarat lalu menyerangku lagi. Zantetsuken dan pedangku kembali beradu. Dencingan logam senjata kami yang saling beradu ini berlangsung sekitar 10 menit sebelum Odin akhirnya melompat ke lantai ketiga bangunan itu dan memasukkan kembali Zantesuken ke sarungnya lalu membaca sebait mantra, “Bilah pedang yang terbelah di lingkaran masa bersatulah kembali. Bagai petir dan hujan yang tak terpisahkan, datang dan kembalilah membantuku. Biarlah musuh-musuhku takluk di hadapanku, biarlah mereka yang menghalangiku hancur oleh amarahmu. Bangkitlah : Gungnir!”

Zantetsuken memancarkan sinar terang dan bentuknya berubah. Bukan lagi sebuah pedang tunggal Zantetsuken, melainkan sebuah tombak yang tampak terdiri dari 2 pedang yang disatukan. Warnanya hitam legam namun tampak mengkilat memantulkan sinar matahari yang masuk melalui lubang-lubang pada dinding bangunan ini. Aku tiba-tiba merasakan aura Odin berubah, perubahan aura ini membuat udara di sekitarku terasa berat. Aku merasa sulit bergerak dan tak lama kemudian juga merasa sulit bernapas. Dengan napas terengah-engah aku bersiap menghadapi serangan Odin berikutnya.

Tetapi Odin tiba-tiba sudah tidak ada di tempatnya dan baru kusadari kalau ia sudah ada di samping kiriku, aku dengan segera menghindar namun ia sempat memukul dada kananku dengan tangan kiriku. Aku bisa merasakan ada rusuk kananku yang patah. Aku berusaha mencapai lantai kedua dengan melayang namun Odin ternyata sudah menghadangku di udara. Gungnir disabetkannya padaku dan dengan segera kutangkis, namun ternyata kekuatan Gungnir lebih hebat daripada Zantetsuken. Pedangku langsung patah akibat serangan Gungnir ini, patahannya terlempar ke pepohonan yang tumbuh di sisi barat bangunan ini. Aku berusaha lari menghindarinya sambil menyusun strategi dan kini aku berusaha memancing Odin ke sebuah ruang kecil di lantai kedua bangunan ini. Rencanaku berhasil, Odin masuk ke ruangan itu. Ia pun berseru, “Apakah hanya itu kemampuanmu? Ksatria terakhir yang melawanku mampu bertahan lebih lama daripada dirimu!” Aku pun muncul dari balik pilar dan menggambar sebuah pentagram dari darahku sendiri pada salah satu pilar sambil mengucapkan mantra, “Angelozi zets’it’ k’ari. siskhlis adam tsashlilia out orive muk’i da nat’eli arseba. Me var dze Adam. Dae, ch’emi siskhli rom ch’amoqalibdes am simbolos tsashlilia out qvela zebunebrivi arseba am ot’akhsh.” Mantra ini menghasilkan sebuah atmosfer biru yang mengelilingiku sekaligus menghasilkan sebuah sinar biru yang menyerang Odin. Odin tampak berusaha keras menangkis serangan ini. Aku cukup lega bisa membuat dewa ini sedikit repot untuk sesaat. Tapi ternyata hal itu tidak berlangsung lama, ia segera bisa menghancurkan seranganku beserta dinding atmosfer biru yang melindungiku hanya dengan pukulannya, menghasilkan ledakan yang cukup besar. Aku amat terkejut melihat betapa besar kekuatan dewa ini. Sungguh!

“Cuma itu?” kata Odin.

“…….. !!” aku terdiam dan tak bisa berkata apapun karena amat terkejut.

“Aku mengharapkan lebih dari itu, anak muda. Ksatria terakhir yang menghadapiku memiliki kemampuan yang lebih baik dari ini. Sungguh! Walau jika dibandingkan dengan ksatria-ksatria yang terdahulu kau ini cukup lumayan.”

Kali ini aku juga tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Mantra tadi adalah mantra terkuat yang kupunya tapi aku bahkan tidak dapat menggores armornya. Dalam kebimbangan ini aku menarik pedangku kaluar dari sarungku menuju samping ruangan dan menyerang Odin dari samping kanannya. Ia menangkis lalu mengibaskan Gungnir dan mencengkeram leherku lalu melemparku ke lantai dasar. Aku berhasil mendarat di atas kedua kakiku namun Odin langsung menyerang lagi. Aku menghindar namun Gungnir berhasil melukai otot bisep lengan kananku. Aku ganti menggenggam pedangku dengan tangan kiri dan mencoba menangkis serangan Gungnir namun ternyata Gungnir lebih tajam dan keras dibandingkan Zantetsuken, pedangku patah begitu aku menangkis Gungnir dan langsung melukai bahu kiriku. Aku pun lari menghindari Odin sembari menahan sakit akibat sabetan senjata Odin.

Kusarungkan kembali pedangku yang patah ini lalu aku berlari menuju tingkat tiga, berencana menghancurkan plafon bagian atas tepat ketika ia akan menyerangku. Tingkat tiga bangunan ini sempit sehingga menurutku akan lebih mudah melakukannya. Namun setibanya aku di atas, Odin sudah ada di sana dan menunggu dengan angkuhnya sembari berkata, “Aku ingin tahu apalagi yang kau rencanakan?”. Aku pun tak membuang waktu, segera kuarahkan mantra ke arah plafon tepat di atas kepala Odin, “Jisparixu inti avi dilam!”. Dari tanganku memancar energi hijau yang menghancurkan plafon di atas kepala Odin. Pecahan plafon tersebut jatuh ke arah Odin namun ia dengan tenang
mengangkat Gungnir dan hancurlah pecahan plafon tadi menjadi serpihan-serpihan kecil.

“Cuma itu?” tanya Odin dengan nada sedikit mengejek. “Baiklah kalau begitu, aku sudah cukup lama melayanimu, jujur saja dirimu memecah kebosananku selama ini, namun saat ini lebih baik kau temui takdirmu!”. Tiba-tiba saja ia sudah berada di samping kiriku, tangan kirinya melancarkan pukulan ke ulu hatiku. Pukulannya amat keras, membuatku melayang dan terlempar keluar bangunan itu setelah sebelumnya membentur tembok batu yang sudah rapuh. Aku mendarat di padang rumput itu lagi dalam posisi tertelungkup setelah sempat terbanting-banting beberapa kali. Darah segar keluar dari mulutku, mewarnai hijaunya sepetak rumput dengan warna merah. Sakit sekali! Bisa kurasakan tulang rusukku yang patah menusuk sesuatu, mungkin paru-paruku. Aku juga mengalami kesulitan bernapas karena diafragmaku amat sakit.

Odin datang tak berapa lama kemudian, mengunggangi Sleipnir, kulihat Gungnir sudah kembali menjadi Zantetsuken. Aku berpikir jika Odin hanya menggunakan Zantetzuken maka aku masih punya kesempatan. Maka kupaksakan diriku ini bangkit, meski dengan seluruh tubuh bergetar menahan sakit. Dari dalam diri Odin serasa keluar suatu aura menakutkan, dan kulihat rumput-rumput di sekitar itu tiba-tiba kering dan akhirnya hilang sama sekali. Berubahlah padang rumput itu menjadi suatu area padang gersang. Aku segera menarik kembali pedang patah ini dari sarungnya namun Odin sudah tidak ada di depanku lagi. Aku segera sadar pasti ia ada di sampingku lagi. Dan memang benar! Ia ada di samping kananku. Aku mengarahkan pukulan tangan kananku sekuat tenaga ke arahnya, namun ia mencengkeram lengan kananku lalu menariknya dengan tenaga yang luar biasa sehingga lengan kananku terlepas dari tubuhku. Kurasakan darah mengalir melalui bahu kananku disertai kesakitan yang amat sangat. “Eakkkhh!”aku mengerang kesakitan namun sekali lagi Odin meninjuku tepat di tulang taju pedangku dan melemparkan tubuhku ini sejauh 10 langkah dari posisiku semula.

“Hah….., hah….., hah……!” nafasku terengah-engah antara menahan sakit dan berkonsentrasi untuk bangkit melawan Odin lagi. Aku memaksakan diri untuk bangkit namun begitu aku berdiri kurasakan kakiku gemetaran dan aku pun jatuh dalam posisi berlutut.


Posted on February 12, 2011, in Novel and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: