Children of The Apocalypse : Rise of The Ancient (Chapter 3)

Chapter 3

Destiny

“Pegang tanganku!” perintah Helmut, aku mematuhinya dan ia membaca mantra kembali, ” Volám císaře času. Dovolte mi, abych projít portály času. Cestování do minulosti a budoucnosti. Nechte mě jít, a budete z toho, že něco ztratil.” Mantra kali ini membawa kami bertujuh ke sebuah padang rumput yang tenang. Angin sepoi-sepoi berhembus dengan tenangnya, membawa dedaunan maple kering menari-nari di udara dan seolah akan dibawa ke ujung langit. Aku melihat diriku, pakaianku telah berganti dengan celana jeans biru, t-shirt biru dan mantel hitam. Aku bertanya, “Di mana ini?”

“Etria, pecahan dari Taman Eden yang diserahkan pada kami,” jawab Helmut.

Belum sempat keherananku terjawab, aku melihat salah satu dari Children of the Apocalypse tersebut mendekati segerombolan domba dan bersiul memanggil domba-domba tersebut. Aku pun bertanya pada Helmut, “Siapa dia? Apakah dia penggembala domba-domba ini?”


“Ia adalah Patrick Osborne, sebelum ia menjadi salah satu Children of Apocalypse, ia adalah seorang penggembala domba. Dahulu ia juga seorang penjual susu keliling. Kau ingin melihat masa lalunya?” tanya Helmut sambil tersenyum, namun senyumnya kali ini amat bersahabat, senyum yang sama seperti saat kami pertama kali bertemu. Aku pun lega karena dia sudah kembali ke karakter normalnya.

“Kemarilah, Ying Go! Dan lihatlah apa yang akan kau lihat pada mangkuk batu ini!” perintah Helmut.

Aku pun menurutinya dan melihat ke dalam mangkuk batu yang penuh berisi air dengan sebuah batu yang bersinar hijau, seperti zamrud namun memancarkan sinar. Aku mengamati zamrud itu terus menerus dan tiba-tiba datanglah sebuah penglihatan kepadaku.

Patrick Osborne

Aku mendengar sebuah suara misterius, “Di sini kau akan mengetahui cerita dari Amaethon Mathowny atau Patrick Osborne.” Dan setelah itu aku melihat sebuah desa kecil di mana aku melihat seorang anak lelaki berusia sekitar 10 tahun berkeliling menjajakan susu perah bersama kakeknya. Aku tahu kalau dia Patrick Osborne, tapi tahun berapakah ini?

“Kita berada pada kehidupan Amaethon di tahun 1380,” suara misterius itu menjelaskan.

“Siapa kau?” tanyaku.

“Aku hanyalah seorang pencerita,” jawab suara itu disertai kemunculan seorang kakek berjanggut yang berwujud seperti bayangan berwarna biru terang.

“Dan siapakah kau ini, dewi, malaikat, atau salah satu dari mereka?” tanyaku lagi

“Aku bukanlah salah satu dari Children of Apocalypse. Seperti kataku tadi, aku hanyalah ‘Sang Pencerita’, yang menceritakan kebenaran dari setiap peristiwa, yang membuka tabir waktu atas misteri tak terjawab, dan menjelaskan kebenaran pada setiap mereka yang menginginkannya,” jawabnya, sembari melanjutkan, “Dan sekarang Ying Go perhatikanlah dia.”

Aku melihat Patrick nampak bersemangat menjajakan susu yang ia jual. Ia membawa susu yang ia jual dalam wadah-wadah logam yang ditarik seekor anjing besar sejenis Herder. Orang-orang tampaknya sangat menyukai susu yang ia jual bersama kakeknya, karena hampir di setiap rumah mereka berhenti dan menjual setidaknya 1 kaleng susu. Tidak sampai tengah hari susu yang mereka jajakan telah habis. Dan kulihat mereka pulang dengan wajah penuh syukur.

“Kakek, susu kita terjual habis hari ini,” Patrick mengungkapkan kegembiraannya dengan keluguan seorang anak kecil.

“Ah, ya cucuku. Marilah kita mampir di kedai Emma untuk membeli bahan makanan. Dan untuk malam ini makanan apa yang ingin kau makan cucuku?” tanya kakek tua itu penuh kelembutan.

“Aku cukup puas dengan makan roti kasar dan minum susu hasil perahan kita sendiri,” jawab Patrick.

“Ah. Jika kedua orang tuamu masih hidup tentu mereka bangga terhadapmu,” kata si kakek sambil tersenyum hangat.

Deg! Kurasakan penyesalan yang amat dalam atas segala ketidakpuasanku terhadap kondisi keluargaku. Diam-diam aku merasa malu pada Patrick yang sejak kecil sudah berjuang sedemikian keras untuk menyambung hidup. Sementara aku? Aku adalah anak manja yang tak bisa apa-apa hingga usia 17 tahun. Sungguh aku merasa ingin menghilang saja. Rasa maluku yang tak terbendung lagi membuat aku berlutut lemas dan tak terasa air mataku mengalir.

“Untuk seorang Children of the Apocalypse dirimu cukup perasa. Namun sebaiknya buang perasaan humanismu itu, Ying Go. Kau di sini untuk mengetahui lebih banyak tentang teman-temanmu, bukan untuk menyesali diri,” tegur ‘Sang Pencerita’.

“Ah, maaf!” ucapku dan dengan segera aku dilingkupi oleh kabut hijau.

Dan kini kulihat Patrick telah tumbuh menjadi remaja 11 tahun, ia menggembalakan domba-domba. Dan kulihat ia menggembalakan domba-domba milik orang, namun meski orang upahan, ia tampak menyayangi domba-domba itu. Ia selalu menyisir bulu-bulu domba itu setiap hari untuk mengetahui apakah ada luka atau cacat pada mereka. Ia mengusir segerombolan anjing liar yang hendak menyerang domba-domba tuannya. Pada intinya ia merawat domba-domba itu sepenuh hatinya, seolah domba-domba itu adalah miliknya sendiri.

Kabut hijau itu datang kembali, dan timbul keingintahuanku kenapa para Children of the Apocalypse beserta Patrick dan kakeknya berbicara bahasa Indonesia, padahal dari kondisi alamnya aku tahu bahwa itu suatu negara di Eropa, “Bagaimana Patrick dan kakeknya bisa berbahasa Indonesia?”

“Itu karena bahasa yang kau pahami adalah bahasa Indonesia, Ying Go,” jawabnya, “Kau telah mendapatkan kembali kemampuanmu yang hilang, kemampuan memahami setiap bahasa di dunia ini sebagai bahasa yang kau tuturkan setiap hari. Dan dalam hal ini adalah Bahasa Indonesia.”

“Oh!” sahutku langsung mengerti.

“Sekarang lihatlah!” kata ‘Sang Pencerita’.

Aku pun memperhatikan ada seorang gadis muda seusia Patrick mendekati Patrick dan menyapanya, “Selamat pagi, Patrick. Apa kabarmu dan kakekmu?” Patrick nampak terkejut namun langsung mengankat topinya dan memberi hormat sembari membalas sapaan gadis muda itu, “Selamat pagi pula, Nona Arianna. Apa yang bisa saya bantu?”

Gadis muda itu merenggut dan langsung berkata, “Jangan panggil aku Nona! Sudah berapa kali aku katakan itu padamu dan kamu masih memanggilku seperti itu. Jujur saja aku tidak suka dipanggil seperti itu. ”

“Maaf, Nona… eh maksudku Arianna.”

“Panggil aku Arianna saja Patrick. Aku di sini sebagai temanmu bukan sebagai putri dari Tuan Cornwall.”

‘Sang Pencerita’ pun menjelaskan bahwa Tuan Cornwall adalah orang terkaya di desa tersebut. Arianna adalah putri keduanya dan Arianna amat menyukai Patrick namun karena Patrick hanyalah seorang cucu pedagang susu maka Tuan Cornwall tidak mengijinkan Arianna berhubungan dengan Patrick.

“Ada apakah kau kemari ?” tanya Patrick.

“Aku ingin kau melukisku Patrick,” jawab Arianna.

“Kenapa kau mau saja dilukis oleh seorang anak miskin sepertiku?” tanya Patrick lagi.

“Aku tidak peduli soal itu. Pada kenyataannya kau adalah pelukis terbaik di desa ini bukan? Ayo lukislah aku,” pinta Arianna.

Maka Patrick mengambil selembar kertas dan sebatang arang. Ia mulai menggoreskan arang tersebut di atas kertas dan tidak sampai 30 menit jadilah sebuah sket wajah Arianna yang indah. Namun tiba-tiba terdengar suara hardikan keras, “Apa yang kau lakukan dengan putriku?”

Aku melihat seorang pria berusia 40 tahunan, bertubuh tambun berjalan tergopoh-gopoh dan segera menarik Arianna pulang. Aku melihat ekspresi wajah Patrick murung penuh penyesalan. Sket yang ia buat tadi terbang terbawa angin namun tak ia hiraukan. Baru setelah sekian lama ia memungut kembali sketnya yang terbang tadi.

“Mari kita lihat apa yang terjadi setahun kemudian,” ajak ‘Sang Pencerita’.

Kabut hijau ini muncul kembali dan kini kulihat Patrick sedang menangis tersedu-sedu di atas tubuh kakeknya. Dan kulihat sesosok wanita berdiri di samping tubuh kakek Patrick dan menarik sesuatu dari tubuh kakek Patrick. Astaga! Itu jiwa kakek Patrick dan wanita itu adalah malaikat kematian.

Patrick pun membawa jenazah kakeknya keluar dan di sana ia menggali salju untuk mengubur kakeknya setelah itu ia merenung seharian di depan pusara kakeknya. Maka bertanyalah ‘Sang Pencerita’ kepadaku, “Kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakeknya?”

“Ya, aku ingin tahu,” jawabku.

“Setelah peristiwa Patrick melukis wajah Arianna, ayah Arianna menghasut kepala desa ini untuk melarang Patrick berjualan susu. Padahal kakeknya sedang sakit. Karena itu kakeknya meninggal karena sakitnya tak terobati.”

“Suatu kekejaman!” ungkapku marah.

“Ya dan sekarang lihatlah apa yang terjadi!” perintah ‘Sang Pencerita’ sambil menunjuk adegan berikutnya.

Patrick masih terdiam di depan pusara kakeknya dan tiba-tiba kulihat Helmut datang menghampirinya seraya berkata, “Saudaraku, tidak ada gunanya kau menangisi terus kematian kakekmu. Ini diakibatkan karena ketidakadilan yang dilakukan ayah Arianna dan kepala desa kepadamu.”

Kata-kata Helmut menghasilkan sebuah jawaban dari Patrick, “Jika memang begitu, apa yang bisa kulakukan sekarang? Kakekku adalah pelindungku, orangtuaku, dan orang yang paling kusayangi di dunia ini. Tapi aku juga tidak ingin menyakiti kepala desa dan ayah Arianna.”

Helmut pun menjawab, “Saudaraku segala ketidakadilan ini harus segera dihentikan! Jika tidak maka akan banyak orang yang menderita sepertimu. Kau tentu tidak ingin melihat Arianna menderita jika kelak ia dipersunting oleh seorang yang tidak ia cintai dan hidup menderita?”

“Apa maksudmu bicara seperti itu?” tanya Patrick marah.

“Lihatlah sendiri!” jawab Helmut sambil meletakkan 3 jarinya di dahi Patrick. Mantra yang Helmut ucapkan membuatnya melihat Arianna saat usia 16 tahun. Arianna bersiap-siap menikahi putra seorang saudagar kaya namun ia tak nampak bahagia. Ia menangis dan dalam tangisnya ia memanggil nama Patrick, “Patrick , seandainya kau bisa mendengarku, tolong selamatkan aku dari sini.” Setelah itu pemandangan pun berganti dengan pemandangan saat Arianna berusia 30 tahun, ia nampak masih cantik namun dirinya sering menangis karena suaminya jarang pulang andaikan pulang setiap kali selalu mabuk dan marah-marah.

Setelah itu semua selesai, Patrick jatuh lemas, ia nampak marah atas kondisi yang akan menimpa Arianna kelak. Maka ia pun berpaling pada Helmut dan bertanya, “Bagaimana kita mencegah hal tersebut?”

Helmut tersenyum penuh arti dan berkata, “Pegang tanganku!”

Setelah itu ada sinar ungu terang keluar dari jabat tangan kedua orang itu. Segera sesudah itu aku melihat sosok Patrick sudah lenyap dan berganti dengan sesosok pria berarmor hitam dan bertopeng serigala, di tangannya terdapat sebuah senjata berbentuk bulan sabit. Ia berkata, “Akulah Amaethon dewa para peternak dan dewa para pemburu, siapa yang berani mengganggu mereka yang berlindung padaku tidak akan selamat!” Segera setelah ia berkata demikian terbangkah ia ke udara menuju rumah Arianna dan di situ ia membantai seluruh pengawal dan pembantu yang bekerja di rumah itu. Pada akhirnya api dendamnya membunuh ayah Arianna, ia menancapkan sabitnya ke leher ayah Arianna dan mengalirlah air penunjang kehidupan berwarna merah dari tuan tanah berwajah bengis itu. Segera sesudah itu ia menuju rumah kepala desa dan dengan sabitnya ia memisahkan kepala dari orang yang hanya berpikir tentang harta dan kekuasaan itu dari tubuh tambunnya yang berlumuran minyak wangi. Selain itu ia juga membunuh beberapa pejabat desa yang dari matanya pun aku sudah tahu bahwa mereka bukan orang-orang yang jujur. Desa itu kini penuh darah dan api. Di penghabisan Arianna menghampiri sosok Patrick yang sudah berubah menjadi Amaethon. Ia menghampirinya, “Kau Patrick bukan?”

“Dulu,”jawabnya.

“Patrick, tolong hentikan semua ini!”

“Sudah kulakukan!”

“Kenapa kau bunuh ayahku, kepala desa, dan para tuan tanah?”

“Aku mendengar doa-doa orang desa ini Arianna.”

“Siapa kau?”

“Aku Amaethon. Dewa pelindung para petani, peternak, dan pemburu, sekaligus dewa pelindung desa ini. 200 tahun yang lalu, penduduk desa ini selalu mengadakan upacara persembahan untukku. Tapi semenjak misionaris datang kemari mereka mulai menghasut penduduk untuk tidak menyembahku lagi. Aku menerimanya saja. Barangkali sudah waktunya untuk berubah. Maka aku menghapus ingatanku, menjelma menjadi sesosok bayi bernama Patrick Osborne dan aku … aku ….. jatuh cinta padamu. Tetapi ayahmu dan para pejabat desa membuat para petani dan peternak desa ini menderita. Aku bangkit lagi untuk mengakhiri penderitaan mereka. Tapi saat ini kita tak bisa bersatu lagi.”

“Kenapa? Aku menyukaimu Patrick, seperti apapun dirimu, meski kau membunuh ayahku. Aku … aku … aku tahu kalau kau melakukannya untuk melindungiku.”

“Aku akan hidup untuk waktu lama, Arianna. Ribuan tahun mungkin. Tapi jika kita bersama maka aku akan melihat wanita yang kucintai bertambah tua dan meninggal. Aku tak ingin menyaksikannya.”

“Maka ubahlah aku menjadi sepertimu.”

“Tidak bisa. Jumlah kami telah ditentukan dan kami tidak bisa membuat manusia biasa menjadi dewa. Tapi ini yang akan terjadi Arianna. Pergilah ke Oxford, di sana akan kau jumpai seorang pria yang akan membahagiakan hidupmu. Kalian akan dikaruniai 3 anak dan kau akan hidup bahagia bersama keluargamu sampai akhir hayatmu. Dan aku akan menjadi penjaga keluargamu. Selamat tinggal.”

Helmut menghampiri Patrick, memegang pundaknya dan dengan segera melayang dari tanah, menuju langit dan pelan-pelan awan datang menyelimuti mereka. Arianna memandang terus ke langit, meratapi pemuda yang begitu baik padanya, pemuda yang mencintainya setulus hati, pemuda yang tak akan pernah ia temui lagi.

“Mari kita lihat yang lainnya,” ajak ‘Sang Pencerita’.


4 Bersaudara

Kabut hijau ini tersibak dan kini kulihat Helmut, Olivia, dan 2 anak lainnya. Aku mengenal kedua anak itu sebagai Children of the Apocalypse juga. Sang Pencerita pun bertanya kepadaku, “Terkejut?”. “Ah ya,” jawabku, “Apakah mereka ini…. err… bersaudara?”

“Ya, mereka bersaudara, Helmut Redermes, Olivia Limlet, Maeve Aine, dan Vidar Camalus adalah saudara sekandung di kehidupan mereka sekarang. Sekarang kau tahu bukan mengapa Helmut menjadi pemimpin mereka? Sebab ia adalah yang tertua dari antara mereka,” Sang Pencerita menjelaskan.

Aku mengamati mereka hidup di sebuah gubuk sederhana di antara ladang gandum. Helmut tampak masih berusia 16 tahun, Olvia 15 tahun, Maeve 14, dan Vidar 13. Sebenarnya ini merupakan kehidupan yang amat damai. Sungguh damai dan tenang. Helmut nampak sekali sebagai seorang kakak sulung yang baik dan bertanggung jawab, wajahnya tampannya menunjukkan ia orang yang lembut dan penuh kasih sayang. Sungguh jauh berbeda dengan Helmut yang sekarang. Helmut yang sekarang seperti dibebani oleh suatu tanggung jawab yang berat dan tidak merasa bahagia karenanya.

Ayah mereka mulai duduk dan memimpin doa sebelum makan, “Bapa kami yang ada di surga, terima kasih atas makanan yang telah Kau berikan pada kami. Biarlah makanan ini menjadi berkat bagi kami. Dan semoga saudara-saudari kami di luar sana yang hari ini tidak bisa makan Kau berkati dan Kau tolong dengan rahmat-Mu. Amen.” Seluruh anggota keluarga pun mengamininya dan kemudian mereka mulai makan. Sebenarnya makanan mereka cukup sederhana, hanya roti diolesi mentega. Suatu roti gandum yang hanya diolesi mentega, tanpa selai, meises, ataupun sayuran. Minuman mereka pun hanya susu yang tampaknya hasil perahan dari sapi mereka.

Seusai makan keempat anak ini membantu kedua orangtuanya bekerja. Helmut membantu ayahnya menyabiti rumput yang tampaknya akan menjadi makanan ternak. Vidar memberi makan ternak dan mengangkuti jerami ke dalam gudang. Sementara itu Olivia dan Maeve membantu ibu mereka membuat mentega dari susu sapi di dapur. Aku tertarik mengamati bahwa antara Helmut dan ayahnya tampak ada pembicaraan serius. Aku pun mendekati mereka dan memang benar ada pembicaraan serius di antara mereka.

“Perang sudah dimulai, ayah. Bagaimana jika tahun depan aku ikut wajib militer?” tanya Helmut.

“Nak, kami di sini membutuhkanmu. Kita hanyalah petani biasa dan akan selalu begitu. Apa yang kau cari dengan ikut perang?”

“Kehidupan yang lebih baik! Apa yang kita dapat dari mengolah tanah seharian selama ini?”

“Cukup untuk hidup kita berenam, Nak.”

“Tapi aku ingin Olivia dan Maeve bisa sekolah musik dan Vidar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di kota.”

“Janganlah kau terlalu mengejar harta duniawi, Nak. Aku hidup sebagai petani sama seperti ketika kakek buyutmu datang pertama kali ke sini. Perang ini sangat tidak menguntungkan. Presiden Lincoln pun tidak menginginkan adanya perang saudara seperti ini.”

“Tapi bukankah dari hasil bertani kita selalu berkekurangan, sudah berapa kali hasil panen kita nyaris gagal. Andaikan berhasil sekalipun tuan tanah selalu saja menarik biaya sewa. Jika aku menjadi prajurit, aku yakin kita akan mendapat cukup uang untuk membeli sebidang tanah milik kita sendiri dan kita …..”

“Helmut! Diam! Aku tak mau lagi membicarakan hal itu!” sentak ayahnya dengan nada tinggi.

Helmut terdiam. Dan tak lama kemudian ayah mereka berkata, “Tapi kalau memang itu cita-citamu maka aku tak bisa melarangmu. Lagipula ini saatnya bagi kalian berempat untuk mengetahui sesuatu. Kumpulkan saudara-saudarimu setelah makan malam.

Helmut mengangguk dan kabut hijau ini menutupiku lagi. Ketika kabut ini tersibak lagi kulihat keempat anak itu duduk di sebuah kursi besar, berhadapan dengan kedua orangtua mereka. Mimik wajah kedua orangtua mereka amat serius. Sangat serius! Ayah mereka memulai pembicaraan, “Anak-anakku kalian semua punya cita-cita yang amat besar, dan ayah sadar bahwa kalian tidak akan berkembang di sini. Jadi sebaiknya kalian pergi, mengembara. Mengembaralah supaya Helmut bisa menjadi orang kaya, Olivia dan Maeve bisa bernyanyi di opera, dan Vidar bisa keluar dari kesehariannya sebagai peternak.”

“Lalu bagaimana dengan ayah dan ibu?” tanya Maeve.

“Kalian tidak perlu mengkhawatirkan kami. Kami bisa menjaga diri kami sendiri,” jawab Ibu mereka.

“Oh ya, kami harus menceritakan sesuatu, 13 tahun yang lalu, kami hanyalah pasangan suami istri petani yang tidak punya anak meski sudah menikah selama bertahun-tahun. Suatu ketika datanglah seorang wanita mengantarkan 4 orang anak, yaitu kalian. Wanita itu meminta kami untuk menjaga dan merawat kalian sampai kalian siap mengembara melihat dunia. Kami rasa ini saatnya kalian melakukan hal tersebut. Pergilah!” kata ayah mereka lembut.

Aku melihat keempat anak itu menitikkan air mata mereka lalu menghambur ke arah orangtua angkat mereka dan menangis tersedu-sedu. “Terima kasih ayah dan ibu, kami tidak akan melupakan kalian,” kata keempat anak itu bersamaan. Aku turut terharu atas suasana itu dan tanpa terasa air mataku menetes. Kabut hijau datang meliputiku lagi dan aku melompat ke hari esok. Di sana kulihat keempat anak itu berpamitan pada orangtuanya. Mereka menuju kota Pittsburgh menumpang sebuah truk yang menuju kota tersebut. Namun belum 10 menit mereka meninggalkan rumah mereka, ada sebuah meteor menghantam rumah mereka.

“Ayah! Ibu!” teriak mereka berempat sembari melompat turun dari truk yang mereka tumpangi. Sang sopir turut menghentikan truknya dan berlari bersama-sama keempat anak itu menuju rumah mereka yang hancur. Setiba di rumah mereka, tampaklah suatu pemandangan mengenaskan, rumah mereka terbakar hebat dan kepala ayah mereka yang terlepas dari tubuhnya teronggok persis di tempat yang dahulu merupakan pintu rumah mereka. Olivia dan Maeve menangis tersedu-sedu di hadapan jenazah ayah angkat mereka sementara Helmut dan Vidar masih berusaha mencari ibu mereka di antara reruntuhan rumah. Sang sopir menghampiri mereka dan berkata, “Aku akan mencari bantuan!” lalu berlari menuju pemukiman terdekat. Namun naas bagi sang sopir, di depan pagar seseorang menusuknya dengan sebilah pisau berwarna perak dan ia langsung tewas. Orang itu kemudian berkata, “Helmut Redermes, Olivia Limlet, Maeve Aine, dan Vidar Camalus. Sudah berapa lama aku memburu kalian. Siapa sangka kalian bersembunyi di sini?”

Keempat anak itu terkejut dan Helmut dengan sigap segera maju ke depan. “Siapa kau?” hardik Helmut sembari memberi isyarat agar semua adik-adiknya bersembunyi di belakangnya.

“Namaku Joehaynus, seorang malaikat dari surga. ”

Mereka tertegun dan kemudian Maeve bertanya, “Mana sayapmu? Malaikat selalu memiliki sayap.”

Orang itu membungkuk sedikit dan dari punggungnya tampak sesuatu menyembul. Sesuatu itu akhirnya keluar dan merobek jasnya. Maka tersibaklah sayapnya, sepasang sayap hitam mengkilat. Hitam seperti metal dan bentangannya 2 x panjang lengan orang dewasa.

“Aku kemari untuk mencabut nyawa kalian,” jawab orang itu dengan ekspresi dingin dan tanpa ba-bi-bu lagi langsung menuju ke arah Helmut dan saudara-saudarinya. Mereka terpelanting akibat pukulan Joehaynus dan dengan segera berjalan pelan-pelan ke arah Helmut dengan pisau perak terhunus di tangan kanannya. Tiba-tiba entah dari mana Helmut melukai tangannya, membuat sebuah pentagram dari darahnya serta mengucapkan sebuah mantra, “Pojdi estran odier mojega pogleda!”

Terlihat sebuah sinar terang dari pentagram yang akhirnya menyerang Joehaynus. Malaikat bernama Joehaynus itu terpelanting sejauh 3 meter. Tubuhnya terbakar dan kemudian ia hilang tak berbekas. Helmut dan saudara-saudaranya menengok ke kanan dan ke kiri, mencari tanda-tanda ke mana orang yang mengaku malaikat tadi pergi. Mereka tidak menemukannya, namun tiba-tiba di belakang mereka sudah berdiri seorang wanita cantik, bermahkotakan tiara perak dan bergaun putih layaknya seorang putri kerajaan negeri dongeng. Ia menyapa mereka, “Selamat Children of Apocalypse, kalian berhasil mengusir Joehaynus dari sini.”

“Siapa kau? Apakah kau teman dari orang gila itu? Dan ke mana dia sekarang?” tanya Maeve.

“Aku adalah Skadi, dewi musim dingin bangsa Norwegia. Joehaynus bukanlah manusia, ia memang seorang malaikat, prajurit surga yang berperang melawan kekuatan gelap yang mengancam dunia ini,” jawab wanita itu.

“Bagus, ada orang gila lagi yang mengaku dirinya dewi!” keluh Vidar.

“Aku bukanlah orang gila, Vidar Camalus. Aku benar-benar Skadi. Kau ingin bukti? Baiklah, ini buktinya!”

Skadi mengangkat tangan kirinya dan menunjuk langit, dalam sekejap turunlah hujan salju di daerah itu. Olivia pun terkejut dan langsung berkata, “Siapa kau ini? Sekarang masih musim semi, tapi kenapa tiba-tiba turun salju?”

“Sudah kubilang, aku adalah Skadi, dewi musim dingin.”

“Lalu apa kau juga akan membunuh kami?” tanya Helmut sambil mengambil sebuah balok kayu.

“Tidak, anak-anak. Akulah yang menitipkan kalian pada pasangan Pinkster Joses dan Ana Yerzuts ini 13 tahun yang lalu. Sebenarnya usia kalian sama, 20.000 tahun. Kalian adalah Children of Apocalypse, anak-anak yang berhak memanggil empat penunggang kuda pemicu kiamat jika para malaikat tidak bisa melakukannya. Kalian memiliki kekuatan yang amat istimewa, namun 13 tahun yang lalu para malaikat berhasil mengalahkan kalian dan merubah kalian menjadi manusia biasa. Tapi sekarang lihatlah, Helmut kau sudah berhasil mendapatkan sebagian kekuatanmu,” Skadi menjelaskan.

“20.000 tahun? Kau pasti bercanda!” komentar Vidar.

“Maka dari itu peganglah tanganku!” ajak Skadi.

Keempat bersaudara itu saling memandang satu sama lain, sempat ragu atas tawaran itu, walau akhirnya mereka meletakkan tangan mereka di atas tangan Skadi, Vius dan Helmut pada tangan kanannya sementara Olivia dan Maeve pada tangan kirinya. Aku melihat apa yang mereka lihat, perang di surga berpuluh ribu tahun yang lalu, ketika para iblis yang marah atas penciptaan manusia berperang dengan para archangel. Empat penunggang kuda bertindak sebagai pengawas netral kemudian disegel dalam perut bumi dan nantinya bertindak sebagai pembawa kiamat. Sementara para iblis dan malaikat-malaikatnya dikurung dalam neraka. Beribu tahun kemudian, beberapa anak manusia tiba-tiba memegang hak untuk memanggil empat penunggang kuda. Sesuatu yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh Sammael dan Azrael beserta pasukan malaikat kematiannya.

Aku melihat ratusan anak yang menjadi pemegang hak itu, masing-masing memegang sebuah terompet tanduk berukir. Motif ukirannya berbeda satu sama lain. Karena pemegang hak itu ada banyak, aku tak bisa mengingatnya satu per satu. Namun dari antara mereka Helmut, Maeve, Vidar, Olivia, Patrick, Vius termasuk di antaranya. Aku juga melihat diriku di antara mereka.

“Kau sudah percaya sekarang jika dirimu adalah salah satu Children of Apocalypse?” tanya ‘Sang Pencerita’.

“Apa lagi yang perlu kuragukan?

“Mengenai asalmu mungkin?”

“Maksudmu?”

“Siapa yang melahirkan kalian dari dunia ini mungkin?”

“Aku punya perasaan kalau kau tidak akan mau mengatakannya.”

“Nah! Salah satu kemampuanmu sudah kembali rupanya. Membaca pikiran makhluk lain.”

“Apa perduliku?”

“Lihatlah yang satu ini.”

Kali ini datang kabut putih yang menyelimutiku. Kabut putih ini lama sekali menutupiku dan setelah sekian lama menunggu tersibaklah juga kabut ini. Kali ini aku melihat sebuah kastil besar, berbentuk seperti piramida bangsa Aztec, tersusun atas batu marmer dengan ornamen dari emas dan perak pada mengelilingi tiap tingkatnya. Puncaknya memancarkan cahaya putih yang menyilaukan. Aku dan Sang Pencerita melayang ke puncaknya dan di sana kulihat sesosok pemuda bersayap perak berpidato di hadapan sekumpulan orang-orang yang bersayap hitam. Aku segera sadar bahwa mereka adalah para malaikat surga, dan tampaknya ini adalah sebuah sidang.

Pemuda bersayap perak itu mulai berkata-kata, “Saudara-saudaraku para prajurit Tuhan dalam perang melawan kegelapan. Aku, Simiel, berdiri di sini mewakili para archangel untuk menyampaikan beberapa hal. Yang pertama, dengan munculnya anak-anak yang menamakan diri mereka Children of the Apocalypse maka keseimbangan dunia ini terancam. Mereka memiliki kekuatan untuk mempercepat kiamat dengan memanggil para ‘penunggang kuda’. Yang kedua, Mikael selaku pemimpin kita telah mengambil keputusan bahwa esok, kita para malaikat surga akan memusnahkan seluruh Children of the Apocalypse dari muka bumi. Apakah ada yang tidak setuju?”

“Kami diciptakan untuk melayani Tuhan dan melakukan apapun untuk melindungi dunia ciptaannya. Maka dari itu kami akan membinasakan seluruh Children of Apocalypse,” sorak mereka serempak.

“Aku akan memilih salah satu dari kalian untuk memimpin pertempuran besok! Dan saudara kita yang kupilih adalah …. Joehaynus!”

“Yoooooo….,” para malaikat itu bersorak.

Kabut putih ini datang kembali meliputiku, dan kali ini aku melihat suatu pemandangan mengenaskan. Para malaikat surga menghabisi seluruh Children of the Apocalypse secara brutal, seolah mereka adalah iblis pendosa yang patut dimusnahkan dengan kekuatan penuh dari surga. Ini bukanlah perang yang adil karena para archangel juga turut serta. Semua Children of the Apocalypse tewas kecuali 9. Tujuh di antara mereka adalah Helmut dan kawan-kawan serta diriku, kelompok ini memilih menyembunyikan diri dan membaur dengan manusia lainnya. Sementara 2 orang lainnya memasuki perut bumi dan semenjak itu tidak pernah keluar lagi.

Begitu pertempuran ini selesai, ‘Sang Pencerita’ datang menemui diriku dan berkata, “Untuk perjalanan selanjutnya engkau akan belajar menguasai kekuatanmu. Kau tidak memerlukan diriku lagi. Jadi, ini adalah ucapan perpisahan. Selamat tinggal.”

Aku pun diliputi oleh kabut hijau dan kabut ini akan membawaku ke tempat lain lagi.


Vius Vitalis

Aku mendarat di London. Seorang loper koran cilik lewat di depanku dan kubaca tanggal surat kabar : 2 September 1898. Asap hitam membumbung tinggi dari pabrik-pabrik. Suasana kota ini masih kumuh dan belum tertata sebagus saat ini. Aku mendengar suara palu yang dipukul-pukul dari bengkel pandai besi, suara kuda meringkik di kandangnya, dan suara kesibukan orang di pasar. Aku berjalan lurus. Entah ke mana tapi aku terus saja berjalan. Sang Pencerita tampaknya sudah tidak mendampingiku lagi. Aku berjalan cukup jauh. Setiap kali ada orang di depanku aku akan berjalan menembusnya. Tentu saja! Ini adalah sebuah memori dari salah satu Children of Apocalypse. Dan dilihat dari daftarnya tampaknya ini adalah memori Vius Vitalis, si tangan besi itu.

Aku melihat seorang pemuda yang kuidentifikasi sebagai Vius masuk ke dalam sebuah bar yang tampaknya juga menjadi tempat perjudian. Aku mengikutinya masuk dan kudapati ini bukan saja bar tapi mempunyai basement. Aku turun menuju basement dan kudapati suasananya amat riuh. Ternyata ini adalah ajang pertarungan semacam gulat namun sifatnya bebas. Aku melihat dua sosok pria bertelanjang dada di tengah arena. Mereka saling hantam satu sama lain. Seorang di antaranya adalah pria berusia 30-an sementara yang satu lagi adalah Vius Vitalis dengan wajah seperti anak remaja seusia 18 tahun. Vius ternyata amat tangguh, sudah sekitar 10 menit pria dewasa itu memukulinya namun tak nampak sedikit pun rasa sakit dan lelah di wajahnya, justru pria itu yang nampak kelelahan. Nampaknya ia melihat musuhnya sudah lelah dan langsung memelintir tangan lawannya dengan tenaga yang luar biasa lalu melempar musuhnya keluar arena. Ia menang dan ternyata banyak penjudi menjagokan lawannya tadi sehingga banyak yang keluar dengan marah dan kecewa. Setelah beberapa saat, Vius berpakaian , menerima uang bagiannya dan pergi dari tempat itu.

Aku mengikutinya dan ternyata ia masuk sebuah kedai, memesan bir dan minum. Ia memesan 5 gelas bir, sesuatu yang seharusnya membuat orang lain mabuk, namun ia tak jua mabuk. Ia masih tampak segar sekeluarnya ia dari kedai itu. Tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang dan aku pun terjungkal ke sebuah kaki lima yang berdagang sayuran. Aku terkejut karena seharusnya aku mampu menembus ruang dan waktu dalam perjalanan waktu ini, tetapi sekarang aku berada di tengah-tengah mereka. Orang yang menabrakku tadi langsung lari dan dari situ kusadari bahwa kantung bajuku sobek. Ya ampun! Orang tadi rupanya pencopet. Belum habis keterkejutanku, pedagang bunga yang lapaknya hancur terkena terjanganku tadi langsung marah, “Siapa yang akan mengganti kerugianku?”

Nah? Satu lagi kejutan. Ada orang Inggris, di London lagi, bicara dengan bahasa Indonesia. Aku pun menjawab, “Maaf, saya tidak sengaja. Dan maaf saya saat ini juga tidak memiliki uang untuk membayar ganti rugi.”

Wajah pria itu langsung memerah, wajah bulat dengan brewok tipis mengelilingi wajahnya ditambah badan gemuk dan kekar sebetulnya menyeramkan juga. Namun sekarang aku tidak terlalu takut lagi berhadapan dengan orang seperti itu. Ia mencengkeram leherku dan meninjuku dadaku dengan pukulan sekuat tenaga. Tapi apa yang terjadi? Bukannya aku yang kesakitan, tapi malah dia. Dia meraung-raung kesakitan, sambil mengumpat, “Apa yang kau pasang di balik bajumu?”

Aku pun menjawab, “Tidak ada apa-apa.”

“Bohong, aku seperti memukul besi baja!”

Beberapa orang di pasar itu mulai mengerumuniku. Mereka semua berwajah ‘sangar’ dan ada sekitar 8 orang. Salah satu dari mereka mengarahkan tinjunya ke pipi kananku tapi seolah tahu itu akan terjadi, aku memegang pergelangan tangannya, memutarnya ke arah kiriku dan …. terputuslah tangan itu dari tubuhnya, 7 orang lainnya langsung menyerangku bersamaan, 3 dari antara mereka bersenjatakan palu godam, sementara yang lain menggunakan meja dagang yang tak terpakai untuk menghajarku. Aku memukul meja-meja yang terarah ke diriku serasa tanpa tenaga yang berarti, namun meja itu hancur berantakan. 4 orang itu langsung mundur dan melarikan diri, sementara 3 orang pria bersenjatakan palu godam itu menyerangku. Seorang dari antara mereka berhasil memukul tangan kiriku dan terjadilah suatu bunyi KLANG! Seolah tubuhku ini terbuat dari baja.

Orang-orang di pasar itu panik, dan mereka meneriakiku, “Penyihir! Ada penyihir di sini!”

Aku tak mau ada keributan yang lebih parah lagi, aku segera mengambil potongan tangan dari pria yang kupotong tangannya tadi lalu menghampirinya dan mengucap sepatah mantra “Orzewt!“. Ajaib! Tangan itu tersambung kembali, namun aku segera melarikan diri. Orang-orang yang melarikan diri tadi rupanya memanggil polisi. Aku berlari melalui lorong-lorong gelap di jalanan tanpa tahu tujuan. Aku berlari dan terus berlari, dan tanpa kusadari aku sudah berada di suatu daerah di mana aku melihat sekumpulan wanita dengan dandanan yang menunjukkan mereka bukan wanita “baik-baik”. Kubaca salah satu papan di situ dan kudapat tulisan “WHITECHAPEL”. Ya ampun! Ini adalah Whitechapel, sentra pelacuran terbesar di London pada tahun 1700-an. Beberapa wanita mendekatiku, menawari ‘kehangatan’ bersama mereka namun dengan cepat kutepis. Pikiranku masih kalut dan bingung karena 2 hal. Yang pertama : kenapa Vius Vitalis ada di tempat seperti ini? Yang kedua : sejak kapan tubuh dan tanganku sekeras ini?

Belum habis kebingunganku aku melihat Vius Vitalis muncul dari sebuah motel dengan pakaian cukup acak-acakan. Ia melirik tajam ke arahku dan kubalas dengan tatapan yang sama tajamnya pula. Namun ia kembali masuk motel. Aku pun memilih untuk meninggalkan Whitechapel. Aku berjalan menyusuri sederetan motel dan rumah bordil menuju Westminster Abbey. Aku tidak tahu mengapa aku merasa harus ke sana tapi perasaanku mengatakan aku haruslah ke sana. Jarak antara Whitchapel dan Westminster Abbey tak begitu jauh. Tak sampai 20 menit aku sudah sampai di Westminster Abbey. Di sini aku melihat seorang yang mirip Vius berjalan di taman sekitar Westminster Abbey.

Aku mengejar Vius Vitalis masuk ke sebuah lorong yang di kanan dan kirinya adalah pertokoan. Ia berjalan cepat sekali di antara kerumunan orang-orang, tapi untungnya aku dapat menyamai kecepatannya, tapi pada satu titik tiba-tiba ia menghilang dari pandanganku dan aku kehilangan jejak. ‘Sang Pencerita’ muncul di ujung sebuah gang buntu dan kemudian memanggilku, “Pssstt! Ying Go, kemari!”

“Ada apa?”

“Apa yang bisa kau simpulkan dari Vius Vitalis?”

“Entahlah. Seorang berandalan yang menjadi Children of the Apocalypse mungkin?”

“Tidak. Ia ditelantarkan orang tuanya di jalan semenjak balita, berkali-kali hampir dibunuh namun karena ia memiliki tubuh sekeras baja dan kekuatan fisik di luar batas manusia biasa ia dapat bertahan hidup. Tugasmu sekarang mencari tahu sendiri apa yang terjadi kemudian padanya,” dan segera sesudah itu ‘Sang Pencerita’ menghilang.

Aku memejamkan mata untuk sesaat, dalam pemikiranku jika Children of the Apocalypse memiliki kemampuan di luar nalar manusia maka seharusnya mereka bisa mendeteksi keberadaan sesamanya. Aku berkonsentrasi dan segera dalam gelapnya pandangan mataku aku melihat lingkungan sekitarku dalam warna ungu dan dihiasi benang-benang perak. Benang-benang perak ini ternyata berasal dari dalam diriku dan dapat kugerakkan sesukaku. Setiap area yang terjamah benang perak ini dapat kuamati. Maka aku mulai memperluas jangkauan benang perak ini, setelah sekian lama aku sampai ke sebuah bukit di luar kota London dan aku mendapati sesosok manusia dengan warna berbeda, bukan ungu tapi cyan. “Itu dia!” sorakku dalam hati. Maka aku kembali membuka mataku dan segera berlari ke arah bukit itu.

Sesampainya di sana kudapati Vius Vitalis sedang duduk termenung menatap langit, lalu berkata tanpa memalingkan mukanya, “Siapa kau? Kenapa kau mengikutiku? Apa kau mau mati?”

“Vius Vitalis, mungkin ini agak sulit dipercaya tapi aku berasal dari masa depan di mana err.. kau harus memenuhi takdirmu sebagai seseorang yang lain, bukan seseorang petarung jalanan seperti saat ini.”

“Atau itu hanya dalihmu untuk membunuhku?”

“Apa maksudmu?”

“Kau anak buah Joehaynus bukan? Tidak usah berpura-pura lagi. Sekarang ….!” ia berdiri dan langsung mengarahkan tinjunya ke arahku. Aku menangkisnya, mencengkeram pergelangan tangannya dan kemudian membantingnya. Ia terpelanting sejauh 2 meter namun kemudian bangkit kembali lalu … ia membungkuk dan kemudian melompat tinggi …. tinggi sekali …dan ….. oh! Ia melayang …. bukan! Terbang! Dari udara ia mengambil posisi menendang dan langsung menuju arahku, aku melancarkan pukulan ke arah kakinya dan terciptalah suatu medan kekuatan antara tanganku dan telapak kakinya di udara, yang seolah membatasi antara kepalan tanganku dengan telapak kakinya untuk tidak saling kontak fisik. Medan kekuatan ini akhirnya meledak dan kami sama-sama terpelanting.

“Heh! Kau lebih tangguh daripada Joehaynus!”

“Hei, anak berandal! Dengarkan penjelasanku dulu!”

“Kalau kau bisa mengalahkanku maka aku akan mendengarkanmu.”

“Sulit sekali berbicara denganmu.”

Maka kami pun saling baku hantam sekali lagi, tetapi karena tubuh kami seolah dari besi maka baik pukulan yang ia terima dariku maupun pukulan yang kuterima dari dia seolah tak mempengaruhi kami. Pukulannya keras memang tapi tidak terasa sakit lagi di tubuhku. Pada suatu kesempatan terlihat ia mulai lelah, maka aku mencoba untuk terbang ke udara dan … berhasil! Di udara kurapal sebuah mantra, “Orix veras luxicus toreze, Deumos!” yang segera membantuk sebuah bola energi ke arah Vius dan mengurungnya. Di dalamnya ia berteriak dan meronta-ronta, “Keluarkan aku dari sini, Bangsat!” dan segera kujawab, “O, tidak sebelum kau berjanji mau mendengarkanku.”

Vius tetap meronta-ronta dalam bola energi itu maka kujentikkan jariku dan bola energi itu menyerap seluruh kekuatannya dalam wujud asap berwara biru dan ia mengerang, “Eakkkhhh!” segera sesudah itu ia terjatuh lemas ke tanah dan bola energi ini menghilang mengalirkan energi dari Vius Vitalis ke dalam tubuhku. Aku membiarkan Vius tidur dan beristirahat dahulu, begitu ia bangun segera kujelaskan semuanya, mulai dari siapa dirinya, siapa diriku, takdir apa yang menunggunya, dan siapa saja yang harus ia temui. Sesudah itu semua kulakukan, aku mengarahkan tangan kananku ke arah barat, mengucapkan mantra, “Klixem sveti daur, Varuh Terena kraljestva, razbila molaih mislih, in naj vidim tervea cloveka pretekaloster Neir.” dan terbukalah sebuah portal waktu berwarna hijau lalu aku memasukinya.

Training

Sekeluarnya aku dari portal itu aku kembali ke padang rumput di mana keenam Children of the Apocalypse yang lain telah menungguku. Aku tersenyum dan bertanya, “Nah! Apa lagi yang perlu kuketahui?”

“Hei, rasanya dia sudah ingat kita dan masa lalunya,” komentar Vidar.

“Kemarilah! Ada seseorang yang hendak kami perkenalkan padamu,” kata Olivia.

Kami berjalan melewati beberapa kebun bunga yang indah dan akhirnya tibalah kami di sebuah kastil. Kastil yang indah, tingginya setinggi Monas dan tersusun atas batu marmer putih. Bentuk kastil ini layaknya kastil-kastil negeri dongeng. Kami memasuki kastil ini hingga akhirnya memasuki ruang tahta di mana akhirnya kami mendapati sesosok wanita duduk di atas singgasana yang terbuat dari es.

“Perkenalkan, ini adalah Skadi,” kata Vidar memperkenalkan sosok wanita itu padaku, wanita yang sama dengan yang kulihat pada memori Helmut dan saudara-saudarinya. “Ia adalah dewi musim dingin bangsa Norwegia sekaligus pembimbing dan penjaga kami,”lanjut Vidar. “Halo!” sapaku.

Skadi hanya tersenyum. Suhu ruangan ini memang dingin sekali, lebih mirip freezer untuk mengawetkan daging daripada ruang singgasana. Maka berkatalah Skadi padaku, “Ying Go, kami ada suatu tugas untukmu. Tugas yang amat penting dan berkaitan dengan kelangsungan hidup kaum kita. Aku minta yang lain meninggalkan kami berdua!”

“Baik Skadi. Ayo kita pergi dahulu dari sini,” kata Helmut pada Children of the Apocalypse lainnya. Dan sesudah ia berkata demikian menghilanglah mereka semua entah ke mana. Aku memandang Skadi dengan pandangan tajam sembari bertanya, “Tugas apa yang kau maksud?”

“Ada dua tugas Ying Go. Yang pertama harus kau laksanakan sendiri sementara yang kedua harus kau lakukan bersama saudara-saudarimu.”

“Dan apa yang pertama?”

“Melawan ODIN!!!”

Aku terkejut! Hanya mendengar namanya saja sudah membuat lututku gemetar entah kenapa. “Dia pemimpin dewa-dewi Norwegia bukan?” tanyaku dan kulanjutkan, “Kenapa aku harus melawannya?”

“Satu hal yang pasti adalah seluruh Children of the Apocalypse telah kehilangan banyak kekuatan mereka. Untuk melawan para archangel mereka membutuhkan kekuatan yang lebih besar dari yang saat ini mereka miliki.”

“Aku.. aku tidak tahu ada apa, tapi aku sampai gemetaran hanya saat mendengar namanya.”

“Karena kau tahu bahwa dia amat kuat. Carilah dalam hatimu, memori tentang Odin. Biar kubantu.”

Skadi meletakkan jari telunjuknya ke dahiku dan aku melihat suatu penampakan masa lalu. Ada seorang berarmor hitam dan membawa pedang besar di pinggangnya. Orang itu menaiki kuda berkaki enam dan di baliknya bergelimpangan mayat-mayat manusia. “Hegh!” aku tersadar kembali dan langsung jatuh terduduk.

“Aku rasa kau belum terlalu terbiasa melihat memori masa lalu. Tapi tidak apa-apa. Nah, akan kuberitahu, Odin cukup kuat untuk melawan 4 archangel, jadi kita membutuhkannya. Jika kau berhasil mengalahkannya maka ia akan mengundang Thor dan beberapa dewa-dewi lainnya untuk bergabung dengan kita.”

“Apakah Patrick Osborne juga dewa?”

“Tidak tapi itulah perwujudan kekuatan kalian yang sempurna. Namun hanya Patrick saja yang bisa mencapai level itu saat ini, yang lain termasuk dirimu belum. Karena itu kami membutuhkan bantuan Odin karena ia juga satu-satunya dewa yang tahu bagaimana mendapatkan kembali kekuatan kalian.”

“Bersediakah kau?” Skadi bertanya.

“Apa yang terjadi jika aku menolak?”

“Maka umat manusia akan saling menghancurkan satu sama lain akibat rusaknya keseimbangan. Jika Children of the Apocalypse dilenyapkan maka akan timbul ketidakseimbangan yang akan memicu suatu reaksi yang tidak diinginkan.”

“Apa itu?”

“Apa yang terjadi jika suatu neraca yang seimbang, salah satu bebannya pada sauatu sisi diambil?”

“Neraca itu akan goyah?”

“Nah, kau bisa umpamakan Children of The Apocalypse seperti beban pada neraca tersebut. Permasalahannya neraca ini adalah bumi.”

“Aku masih belum paham apa masalahnya!”

“Saat penciptaan manusia dahulu, ada suatu perjanjian yang mengatur bagaimana para dewa-dewi, manusia, Children of The Apocalypse dan malaikat-malaikat bisa hidup berdampingan. Isi dari perjanjian itu dapat kau ketahui segera setelah ini.”

“Baiklah, sekarang jelaskan tentang Odin dan para dewa-dewi ini!”

“Kau lihat bahwa ada banyak kepercayaan tentang dunia bawah. Di mana masyarakat Yunani percaya Hades menguasainya, masyarakat Mesir percaya akan Anubis dan Osiris, sementara masyarakat Norwegia mempercayai Hel.”

“Ya?”

“Mereka semua ada, beberapa dari mereka punya banyak nama, Zeus dipanggil seperti itu di Yunani namun di Norwegia ia dipanggil Thor. Odin, di Yunani ia dipanggil Ares, para dewa-dewi itu memang benar ada, tampuk kepemimpinan semula diserahkan pada Odin, lalu Zeus dan sekarang pada Prometheus. Sementara Odin adalah dewa yang mengetahui cara mengembalikan kekuatan kalian, Children of The Apocalypse”

“Kenapa aku sendirian yang melawan Odin?”

“Karena kau yang menguasai sihir paling banyak di antara saudara-saudarimu. Untuk melawan Odin diperlukan keahlian berpedang dan kemampuan sihir yang bagus. Selain itu peraturan untuk menantang dewa adalah satu lawan satu, tidak boleh lebih.”

“Aku tidak bisa berpedang!”

“Aku akan mengajarimu. Ini! Terimalah!” katanya sambil melemparkan sebilah pedang besar dan beraaatt.

“Auh! Berat!” keluhku.

“Kau akan terbiasa nantinya. Nah sekarang terima ini!”

PYARRR…. ia melancarkan serangan es kepadaku dan dengan tangan kiriku langsung kuhantam es itu hingga hancur berkeping-keping. Skadi langsung menegurku, “Pakai pedangmu jangan pakai kekuatan fisikmu!”

“Aku sudah bilang pedang ini berat!” jawabku.

“Coba ayunkan!”

Aku mencoba mengayunkan pedang ini dan bisa walau lambat. Maka Skadi berkata, “Konsentrasikan seluruh energi pada kedua tanganmu maka kau akan merasakan pedang itu menjadi ringan.”

Aku menurutinya dan mencoba berkonsentrasi. Sudah berjalan 10 menit dan aku mulai bisa berkonsentrasi lalu kupusatkan seluruh energi pada kedua tanganku. PRAKKKK…. kali ini Skadi kembali menembakkan es ke arahku. “RREEAHH….!” aku menebas es itu hingga hancur berkeping-keping.

“Bagus!” puji Skadi. “Sekarang bagaimana dengan ini?” dan ia membuat sebuah badai salju yang bagiku sudah cukup buruk menuju ke arahku. Tapi entah dari mana aku mendapatkan sebuah penampakan bagaimana cara menggunakan pedang besar secara cepat dan bebas. “Aur ef Exedera aum te Kazeziri!” dan tanganku secara otomatis menyabetkan pedang besar ini dengan kecepatan yang luar biasa, membelah badai dan memecah bongkahan-bongkahan es di dalamnya menjadi serpihan-serpihan tipis.

“Tidak buruk! Sekarang bagaimana dengan ini?” tanyanya sambil mengambil sebongkah es dan membantuk pedang dari bongkahan es itu. Skadi memang seorang wanita, tapi ia amat kuat. Sabetan pedangnya mantap dan kuat. Gerakannya lincah, anggun, namun mematikan. Sudah untuk kesekian kalinya pedangku terlepas dari tanganku. Aku sebenarnya lebih suka bertarung dengan tangan kosong, tapi sayangnya aku wajib menguasai keterampilan berpedang jika ingin melawan Odin.

Setelah pedang kami saling beradu satu sama lain maka bertanyalah aku, “Mengapa aku wajib menguasai kemampuan berpedang ini?”

“Pedang milik Odin Zantetsuken mampu memotong benda sekeras apapun di dunia ini, termasuk segel pintu gerbang Tartarus. Mustahil jika kamu ingin mengalahkannya dengan tangan kosong, ” kata Skadi.

“Jika memang kau lebih kuat dariku mengapa tidak kau sendiri yang melawan Odin?”

“Kami para dewa-dewi dilarang melawan sesama kami.”

“Siapa yang membuat peraturan itu?”

“Sang Pencipta, yang menciptakan kami.”

“Siapakah dia? Allah? Yesus? Tuhan? Sang Hyang Wenang? Nommo Yang Agung?”

“Ia memiliki banyak nama seperti yang kau sebutkan tadi. Pada kenyataannya ia tidak pernah mau memaksakan apa panggilannya. Ada lebih dari 20 buku di dunia manusia yang bercerita tentang Dia dan antara buku yang satu dengan buku lainnya tidak ada yang sama.”

“Maksudmu Ia menurunkan dengan versi yang berbeda-beda tentang dirinya pada setiap bangsa di dunia ini?”

“Tepat sekali!”

“Apa maksud-Nya melakukan hal tersebut?”

“Supaya makhluk ciptaan favorit-Nya dapat hidup dalam keberagaman, tidak hidup dalam satu suasana yang sama seperti para malaikat surga.”

“Tampaknya Ia menyukai perbedaan.”

“Memang begitu.”

“Tapi tidak semua manusia bisa hidup dalam keberagaman bukan? Ia pasti sudah mengetahuinya namun ia membiarkannya begitu saja.”

“Ia pasti punya rencana.”

“Dan mengapa tidak kau pertanyakan rencana apa yang Dia rencanakan?”

“Kami tidak mau, sebab kami percaya pada-Nya.”

“Dewa-dewi percaya pada Tuhan? Dan Skadi, kau berbicara seolah-olah kau pernah dekat dengan-Nya.”

“Memang. Kami dewa-dewi dahulu adalah golongan malaikat pula. Kami adalah golongan malaikat yang setara Seraph dan Ophanim.”

“Dua golongan tertinggi dalam hierarki malaikat bukan?”

“Ya.”

“Apa yang kemudian terjadi?”

“Kami diutus untuk menjaga Adam dan istrinya Lilith di Taman Eden. Namun Lilith memberontak pada suaminya dan malah menjadi gundik dari seorang pembawa cahaya.”

“Apa kau maksudkan malaikat yang memberontak, Lucifer?”

“Ya. Lucifer dan Lilith sering berhubungan intim layaknya suami-istri. Perpaduan darah kedua makhluk itu menciptakan makhluk yang kita sebut iblis.”

“Dan setelah itu Ia menciptakan Hawa bukan?”

“Ya, namun karena pengalaman kami yang kurang nyaman dengan Lilith maka kami menolak keberadaan Hawa. Kami tidak ingin manusia mengecewakan Tuhan lagi. Tetapi Tuhan malah mengusir kami dari Taman Eden. Tak lama setelah itu, Cherubim mengusir manusia dari Taman Eden karena memakan buah terlarang ‘kadi’.”

Ia pun melanjutkan, “Manusia diusir ke bumi dan harus membanting tulang untuk bertahan hidup. Kami pun diperintahkan untuk membantu mereka. Kami awalnya hanya ber-12, namun kemudian menjadi 13 hingga akhirnya menjadi 200.”

“Bagaimana jumlah kalian bisa bertambah sebegitu banyaknya?”

“Hubungan asmara kami dengan manusia menghasilkan makhluk bernama demigod. Demigod bisa menjadi seorang dewa atau dewi setelah memenuhi persyaratan tertentu.”

“Di mana dewa-dewi lainnya?”

“Beberapa sudah melepas keabadiaannya dan memilih mati. Beberapa masih hidup namun kini hidup membaur dengan orang biasa karena sudah tidak ada lagi yang menyembah mereka. Beberapa bersembunyi dan menciptakan suatu dimensi lain. Aku dan Odin termasuk dalam golongan ketiga.”

“Ke mana para malaikat dan dewa-dewi setelah mati.”

“Lenyap dari siklus hidup.”

“Tak bisakah mereka hidup kembali?”

“Bisa, selama Sang Pencipta berkehendak.”

“Children of the Apocalypse juga semacam demigod bukan?”

“Ya, bisa dibilang semacam itu. Namun kalian sudah ada semenjak awal zaman. Diciptakan sebagai entitas lain di luar malaikat, dewa-dewi, dan iblis guna menjadi penengah apabila terjadi perang antara kami.”

“Dan ada satu hal yang tidak kumengerti. Jika Children of the Apocalypse adalah anak-anak yang memiliki hubungan dengan dewa-dewi dan dewa-dewi juga masih bersaudara dengan malaikat surga mengapa kita harus bertarung dengan para malaikat surga?”

“Tuhan sedang tidak ada di singgasananya. Para malaikat mulai resah, hingga muncul desas-desus bahwa Tuhan telah mati di kalangan mereka. Dan entah mengapa muncul isu bahwa kiamat akan segera datang, lebih cepat dari yang diperkirakan. Penyebab kiamat menurut isu itu adalah Children of Apocalypse. Para malaikat mulai menyerang para Children of the Apocalypse hingga yang tersisa tinggal 7 orang termasuk dirimu.”

Tiba-tiba tanpa kuduga Skadi langsung melancarkan serangan esnya ke arahku. Aku pun segera menghindar namun tangan kananku terkena hawa dinginnya hingga membeku. Aku pun kesal dan bertanya, “Apa maksudmu?”

“Jangan pernah mengalihkan perhatianmu dari lawanmu meski lawanmu tampak tidak ingin menyerangmu!”

Ia kembali maju menghujamkan pedang ke arahku. Aku memukul pedang itu dengan tangan kiriku hingga pedang itu hancur berkeping-keping, tapi karena pedang itu terbuat dari es, dengan mudah Skadi membuat ulang bilah pedang itu dengan mudah.

“Ini belum selesai,” serunya sambil menyabetkan pedang esnya ke tangan kiriku namun berhasil kutangkis dengan mantra api, “Infernalis oum de!” dan pertarungan kami berlangsung selama kira-kira 2 jam sebelum akhirnya Skadi memelintir tangan kananku dan membuatku tak bisa menggenggam pedang dengan tangan kananku lagi.

“Gunakan tangan kirimu saat tangan kananmu tak bisa digunakan!” perintahnya. Maka aku pun menggenggam pedang besar dan berat sialan ini dengan tangan kiri. Kukonsentrasikan energi di sekitar tangan kiriku dan pertarungan kami lanjutkan kembali. Suara dencingan dari logam dan es yang saling beradu ini sebenarnya merdu untuk telingaku. Aku seolah menyukainya. Menyukai perang, pertarungan, dan darah. Dan tiba-tiba serasa hilang kesadaran aku mengulangi mantra pedang kilat tadi, “Aur ef Exedera aum te Kazeziri!” dan terpotonglah tangan Skadi. Tangan itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping, seperti es! Begitu kusadari apa yang sudah kulakukan, aku memalingkan muka kepada Skadi dan mohon maaf, “Maaf! Aku seperti lepas kontrol.”

“Tidak apa-apa, lihat!” katanya sambil memegang bahu kanannya yang kini tak berlengan dan dari sana tumbuhlah sebuah tangan baru.

Enam Children of the Apocalypse tiba-tiba sudah berada di ruangan itu, dan Helmut pun bertanya, “Ada apa Skadi?”

“Tidak ada apa-apa, Ying Go baru saja mempraktekkan tekhnik pedang bayangan yang sudah lama ia lupakan,” jawabnya.

“Bagaimana kau melakukannya? Maksudku, bagaimana tanganmu bisa tumbuh kembali?” tanyaku.

“Kami immortal dan dapat meregenerasikan bagian tubuh kami yang hilang. Kalian juga memiliki kemampuan yang sama hanya saja daya regenerasinya lambat. Jadi hati-hati!” jawab Skadi.

“Soal?”

“Odin amat cepat dan bisa memotong tanganmu dalan waktu kurang dari 2 detik jika kau tidak waspada.”

“Oh!” jawabku tanpa terkejut.

“Apa maksudmu dengan ‘oh’?” tanya Maeve kesal, “Kau bisa saja mati di tangan Odin!”

“Tapi aku mendengar suara dalam kepalaku bahwa aku tidak harus mengalahkan Odin untuk mengembalikan kekuatan kalian.”

“Tapi cara itu sangat berat dan tidak ada satu pun dari kami yang sanggup menjalaninya! Kau ingin bunuh diri ya?” jawab Maeve marah.

“Kalian mungkin tidak, tapi aku SANGGUP!” jawabku mantap.

“Jika kamu kalah dari Odin maka Odin tetap akan memenuhi permintaan kita namun hanya sebatas mengembalikan kekuatan mereka, ia tidak akan berbicara di hadapan para dewa yang lain dan tidak akan ada dewa-dewi yang akan membantu kita,” jelas Skadi. “Lagipula, sebagai konsekuensi dari permintaanmu maka ia akan melemparkan dirimu ke neraka dan dirimu tidak akan hidup kembali sampai pengadilan terakhir tiba!” Skadi menjelaskan seluruh resiko yang akan kuterima.

“Nah? Aku sekarang bertanya, sesuatu penampakan dalam kepalaku mengatakan waktu kalian supaya bisa mendapatkan kekuatan kalian secara penuh tinggal 4 hari lagi, selewat itu maka kalian harus menunggu 30 tahun lagi untuk menunggu lingkar gerbang surga dan neraka saling berhadapan, apa aku salah?”

Semua terdiam. Baik Skadi maupun keenam Children of the Apocalypse tiada satupun yang bisa berkata-kata lagi. Maka aku pun bertanya sekali lagi, “Jadi, adakah alternatif lain? Ataukah ada dari antara kalian yang cukup berani untuk melawan Odin?” dan mereka semua masih terdiam.

Akhirnya Vius Vitalis angkat bicara, “Memang waktu kita sempit, tapi itu bukan berarti kau berpikir akan melakukan misi bunuh diri.”

“Kalaupun aku mati, masih ada 2 kaum kita di dunia bawah yang bisa kalian bujuk untuk bertempur dengan kalian.”

“Kau melihat mereka?” tanya Skadi terkejut.

“Ya, saat archangel dan kalian bertempur di padang penghabisan, 2 Children of the Apocalypse masuk ke dalam perut bumi dan bersembunyi di sana. Aku merasa mereka masih ada di sana dan menunggu kalian. Ayolah, mereka tampak lebih kuat dan perkasa daripada diriku. Rekrut saja mereka.”

“Kami tidak pernah menyangka mereka ada di sana. Saat kami melintasi waktu bersama ‘Sang Pencerita’, tidak pernah kami lihat hal itu.” kata Helmut.

“Memori itu ada pada memori kalian, empat bersaudara,” jawabku sambil tersenyum.

“Jadi kau berencana bunuh diri untuk menyelamatkan kami?” tanya Maeve sambil sedikit terisak.

“Aku tahu aku tidak akan menang melawan Odin. Dan dari perjalanan waktu ini aku dapat menyimpulkan bahwa aku sudah mengingkari kewajibanku selama beratus tahun, namun kini aku telah bersumpah akan memenuhi permintaan kalian sejak aku pertama kali bertemu kalian berenam, maka tidak ada alasan yang tersisa dari dalam diriku untuk melarikan diri dari kewajiban ini,” jawabku mantap.

Keenam Children of the Apocalypse terdiam, dan setelah suasana hening beberapa saat, Skadi memecah keheningan dengan berkata, “Kalau begitu, tidurlah kalian semua sekarang. Dan Ying Go, untuk malam ini aku ingin kau mempelajari buku ini!” katanya seraya menyerahkan sebuah buku kuno padaku. Buku ini besar, beratnya mungkin sekitar 3 kilogram, dan bersampul hitam. Pada sampulnya ada tulisan emas dalam bahasa yang asing namun dengan kemampuan baruku aku dapat membaca tulisan itu sebagai ‘CODEX ENOCH, mantra-mantra dan pengetahuan terlarang’.

Aku menghabiskan sepanjang malam itu mempelajari buku itu. Di dalamnya banyak pengetahuan tentang sihir-sihiran, keluarga-keluarga penyihir di dunia ini, hingga pengetahuan bagaimana cara membunuh makhluk immortal, baik itu malaikat maupun iblis. Tetapi ketika kucari bagaimana cara membunuh para dewa-dewi kusadari bahwa hal itu tidak tercantum di situ, tetapi di sana aku menemukan empat paragraf yang menarik di halama akhir,

Children of Apocalypse, pemegang hak atas empat penunggang kuda, memiliki hak mencabut nyawa para immortal dari surga maupun dari neraka. Dari jantung mereka mengalir kekuatan penghancur, yang dapat diwariskan pada tongkat mereka. Segala makhluk akan tunduk pada mereka. Mereka dilahirkan sebelum segala abad, keturunan Saklas. Dalam diri mereka citra pertama Yahwe terwujud. Dari mereka akan lahir seorang Saklas baru, yang akan membawa kedamaian dan keadilan bagi orang-orang Atlantis.

…..

Dari mataharilah para malaikat berasal dan bulan adalah pantulan matahari bagi para iblis. Di tengah-tengah itu semua adalah matahari hitam yang menjadi penengah bagi semua. Matahari hitam tempat anak-anak Adam dan Hawa berdampingan dengan anak-anak Adam dan Lilith. Tempat di mana anak-anak haram, Nephilim, bersiap membalaskan dendam mereka atas tidak diakuinya mereka di surga. Matahari hitam di mana mereka yang terkutuk dan tidak terkutuk bisa hidup dan bisa mati tanpa pandang bulu.

……

Dewa-dewi adalah makhluk surga terindah di samping malaikat, memiliki emosi layaknya putra-putri Adam, berdampingan bersama hewan-hewan buas maupun tidak buas. Para malaikat tak lebih dari sebuah patung hidup, bergerak jika diperintah, hanya archangel, principality, power, virtue, dan dominion yang beremosi laiknya dewa-dewi. Iri hati akan para dewa-dewi, para malaikat membujuk Yahwe untuk menugaskan dewa-dewi ke dunia untuk membantu manusia. Di tangan mereka archangel menitipkan kitab ini, berdalih di balik muka palsu, ini adalah pengetahuan yang dibutuhkan manusia.

Alangkah marahnya Yahwe ketika mengetahui bahwa pengetahuan terlarang kedua diambil dari surga. Setelah buah kadi mereka makan, kini pengetahuan terlarang kedua akan dikuasai manusia pula. Murka Yahwe bangkit atas para dewa-dewi dan menutup gerbang surga dari mereka. Yahwe pun menutup gerbang surga bagi mereka. Terkurunglah mereka di antara manusia dunia tanpa akan sempat menjadi seterang diri para malaikat lagi.

Aku menutup kitab itu setelah membaca sekian banyak mantra sihir dan empat paragraf yang menarik itu. Entah dari mana aku mendapatkan ide bahwa para Nephilim mungkin dapat membantu kami. Tapi mereka separuh manusia, jadi mungkin akan jadi ide yang amat buruk merekrut mereka dalam pertempuran ini.

Tetapi ada satu hal yang masih membuatku penasaran. Siapa sebenarnya kami? Para dewa-dewikah atau manusia abadi? Aku melihat sampul kitab itu lagi dan berniat mencari tahu tentang diri kami lebih jauh lagi. Namun aku merasakan sinar matahari mulai masuk ke dalam ruangan ini, sudah pagi rupanya! Dari belakangku tiba-tiba Skadi menyapaku, “Selamat pagi!”

Aku memalingkan mukaku padanya dan menjawab, “Pagi!” dan aku bertanya padanya, “Siapa sebenarnya Children of Apocalypse? Aku tidak sempat membaca apapun tentang kami pada kitab itu.”

“Setelah mengalahkan Odin kau akan mengetahui jawabannnya. Kitab itu istimewa, ia akan menunjukkan apapun yang harus diketahui oleh pembacanya, namun ia tidak akan memberitahukan apa yang sebenarnya tidak perlu diketahui pembacanya.”

“Baiklah sekarang apa?”

“Ikutlah aku!” kata Skadi sambil mengambil sebuah kunci dan melemparkannya ke dinding. Dari situ terbentuklah sebuah portal berwarna biru dan berdiameter 3 meter. “Ayo!” ajaknya lagi. Maka aku pun memasuki portal tersebut.

Posted on February 12, 2011, in Children of The Apocalypse and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: