Children of The Apocalypse : Rise of The Ancient (Chapter 2)

Chapter 2 

 

Children of The Apocalypse 

 

Suatu ketika aku mendapat tawaran beasiswa ke luar negeri. Ke United Kingdom tepatnya. Sungguh itu adalah suatu kesempatan besar dan aku tak akan melewatkannya begitu saja. Suatu momen mengharukan ketika aku mengucapkan salam perpisahan pada ibuku saat di Bandara Soekarno Hatta. 

 

“Baik-baik jaga diri di sana ya,”pesan ibuku sambil menahan air matanya 

 

“Tentu saja, jangan khawatir, Ma,” jawabku mantap dan aku langsung melangkah menuju pesawat yang akan membawaku bersama teman-teman sesama penerima beasiswa. 

 

“Ibumu baik dan cantik sekali,” kata Rina, seorang penerima beasiswa pula. “Yah,” jawabku, “Memang benar sih, dan aku bangga pada ibuku.” 

 

Di pesawat aku duduk berdampingan dengan Helmut seorang ekspatriat dan juga warga negara UK. “Is it your first time visit UK?” tanyanya. “Yes, I never go to UK before,”jawabku. “When you come to my country, please pay me a visit. Here is my name card,” dan ia memberiku kartu namanya. Aneh, biasanya aku selalu merasa curiga acapkali aku bertemu seseorang yang baru kukenal, tapi Helmut dan aku seperti sudah kenal bertahun-tahun. Begitu turun dari pesawat aku periksa lagi seluruh bawaanku tadi (maklum takut kalau orang bule tadi menggendamku). 

 

“Ah, kenapa aku jadi curiga begitu sih?” pikirku. 

 

Maka kulangkahkan kakiku mengikuti teman-teman untuk mengambil bagasiku. Di sana kami disambut oleh Theresella, pemandu kami untuk tur singkat ke Nathan University, tempat kami akan belajar nantinya. Theresella adalah wanita berusia sekitar 25 tahunan, ia amat tinggi, setinggi kami, pria-pria dari Indonesia. 

 

I hope you are not tired. Because for next 2 hours I will guide you in a tour inside Nathan University,” katanya. 

 

Jadilah kami mengelilingi universitas besar ini, boleh kubilang suasananya amat menyenangkan. Aku suka berada lingkungan ini. Dingin, rindang, sejuk, dan bernuansa akademis. Akhirnya tibalah kami pada pembagian kamar di asrama (dormitory). Aku mendapatkan kamar di lantai 2 sayap barat asrama. Di sini aku tinggal bersama Albert, seorang mahasiswa Fisika, sekelas denganku. Di hari pertama ini kami saling bertukar pikiran. Ia banyak menanyakan tentang Indonesia sebab salah satu pamannya bekerja di Foster Parent Plan cabang Indonesia. Aku juga menanyakan padanya beberapa hal mengenai budaya dan tata krama pergaulan di sini agar aku tidak mengalami shock culture

 

Meski sudah berusaha menyesuaikan diri, tetap saja aku mengalami shock culture. Jika (maaf!) buang air besar di Indonesia aku bisa cebokan dari bak mandi, di sini modelnya adalah memakai tissue toilet. Aku risih juga, karena itu aku selalu mengisi sebuah ember penuh dengan air untuk diriku cebokan. Namun apesnya suatu hari Albert malah menaruh ikan dan tanaman air dalam ember itu karena dianggap bisa lebih bermanfaat. 

 

Maka aku mendatanginya dan bertanya, “What do you mean by put some fish and water lily on my pail?” 

 

You are very funny! Why don’t use shower to take a bath? Instead of shower, you use water in that pail. So to change your habit, I put some fish in your pail.” 

 

Please! I use that to ‘wash my hands’!” 

 

Why don’t use tissue toilet?” 

 

I can’t. I still can’t. In Indonesia, we use water rather than tissue.” 

 

Oh, then I am sorry.” 

 

It doesn’t matter but looks like I must buy another pail at Dawson’s Shop.” 

 

Maka aku pun mengambil mantelku dan menuju ke sebuah toko kelontong bernama Dawson’s Shop. Di sana aku membeli ember baru. 

 

Setahun kemudian… 

 

Aku sudah memasuki tahun kedua sekarang. Di sini aku mendapatkan cukup banyak teman, baik sesama pelajar dari Indonesia maupun teman-teman dari negara lain. Teman-teman yang paling dekat denganku adalah Rodhwan, seorang mahasiswa Biologi, warganegara Inggris berkebangsaan India. Rodhwan terkenal jenius namun playboy padahal ia sudah memiliki tunangan. Dari Indonesia ada Rina dan Shanti. Rina adalah mahasiswa Fakultas Sastra Inggris dan Shanti dari Fisika sama sepertiku. Kedua cewek ini tetap saja narsis dan centil seperti cewek-cewek Indonesia umumnya meski terkadang bisa juga bersikap dewasa. Yang paling dekat denganku adalah Albert, teman sekamarku. Ia adalah anak yang humoris, pandai, dan yang paling kusuka adalah hobinya yang sama denganku : bermain game. Jika aku adalah ahli mencari cheat game, maka ia adalah ahli merakit PC dan konsol game. Komputernya amat canggih, mampu memainkan game Mass Effect secara lancar, beda dengan laptopku yang langsung “tewas”. Kami sering bermain bersama sampai tengah malam, terutama jika hari libur dan aku tidak ada tugas menjaga kedai pizza. Aku memang bekerja sebagai part-timer di kedai pizza milik Mr. Terry, salah seorang dosenku. 

 

Malam Natal akan tiba di bumi Raja Arthur ini besok. Kami semua, para mahasiswa Nathan University diundang ke suatu pesta dansa di ballroom kampus. Aku malas datang sebab bukan gayaku untuk berhura-hura dalam pesta meski hanya semalam saja. “Aku mau main game saja malam ini,” pikirku sembari berjalan menuju asramaku. 

 

 

 

Hey, Kosmas! Come here please!” seseorang tiba-tiba memanggilku. 

 

Kutengok siapa yang memanggilku itu dan kudapati Rodhwan menghampiriku. 

 

Would you come to our prom tomorrow? Please! I promise that you wouldn’t dissappointed,” bujuknya. 

 

I can’t dance, Rodhwan. Please! It will be an embarassing if some girl ask me to dance with her then I dance like an old man that never wake up from his wheel-chair,” jawabku mencoba menolak. 

 

Ah! Come on, Man! I can’t dance either, but I’ll come tomorrow. It will be a great chance to get some new friends,” bujuknya lagi. 

 

Or maybe some girlfriend for our Mr-Alone-Without-Girlfriend,” goda Rina kepadaku. 

 

I bet you will looking for some handsome boys from Medical Faculty to fill your list of candidates to be your boyfriend, hahahaha!” jawabku membalas godaan Rina. 

 

Come on, don’t always lock down yourself in your room with Albert. I know you are duo-videogame-maniac. But remember that Albert must return to his hometown tonight and you don’t have anybody to accompany you playing games. So just come and joy with us tomorrow night! Don’t make any reason! Ok?” kata Rodhwan sambil menyelipkan tiket masuk pesta dansa besok malam ke tanganku. 

 

And don’t forget, boys must wear tuxedo!” teriak Rina memperingatkanku. 

 

Tuxedo astaga! Aku hanya punya batik dan kemeja saja. Mau beli tuxedo? Kok sayang uangnya ya? Dibela-belain kerja sambilan sebagai pegawai kedai pizza masak mau dihabiskan buat tuxedo. Apalagi aku kan datang ke sana bukan buat mejeng dan jual tampang kan? Setelah kupikir-pikir apa salahnya jika aku menggunakan batik dipadu dengan jas? Tapi aku ingat pernah melontarkan ‘ide gila’ ini pada ibuku dan beliau langsung marah besar. 

 

“Pakai setelan itu ya yang sesuai aturan! Jangan padukan dengan hal yang aneh-aneh!” begitu ibuku selalu memperingatkanku. Ah, entahlah. Aku nekat saja pakai batik besok malam. 

 

Ketika aku sampai di kamarku kulihat Albert sibuk mengepak barang. 

 

Do you need some help?” tanyaku. 

 

Oh no, thank you, but I am almost done,” jawabnya. 

 

Err, I want to ask you something. Would you mind to answer it?” tanyaku dengan akses ‘kesopananku’ yang masih belum bisa kulepas. Aku selalu menggunakan ungkapan “would you mind” untuk memohon bantuan pada seseorang. 

 

I don’t mind? What is it?” 

 

Will they mad at me if I come at their prom tomorrow by come without wearing tuxedo but batik?” 

 

I think, they aren’t. Kosmas, your clothes that you called batik is very unique. They have very complicated pattern and awesome colour. Don’t hesitate to wear it tomorrow night,” jawabnya. “Oh, and I want to ask too. Is everybody from your community using a ‘very polite’ manner when they are speaking to other person?” 

 

No, maybe it’s just my family, hahahahaha,” 

 

Cool, man! I think you are very match to be a great negotiator,” katanya. 

 

Oh,by the way, who will pick you up here tonight? tanyaku penasaran. 

 

My 2nd elder brother who work as mechanic at workshop at White Capel. He will pick me up at 7.00 PM. Sorry, we can’t play together tonight,” jawabnya. 

 

It doesn’t matter. Be fun at your house, and see you after New Year. Have a nice holiday,” kataku. 

 

Haha, sure!” jawabnya dengan tersenyum. 

 

Pukul 19.00 GMT kakak Albert datang menjemputnya. Aku membantunya mengangkat barang-barangnya ke mobil dan kami pun mengucapkan salam perpisahan. Sepeninggalnya aku menikmati kesendirianku di bawah terang lampu-lampu jalan yang menerangi kampus ini. Sangat indah! Malam ini memang berawan dan turun salju, namun entah kenapa aku sangat menyenangi suasana kelam. Suasana kelam yang kurang menyenangkan bagi orang lain seolah adalah suasana paling bahagia bagi diriku. Apakah hatiku diliputi kekelaman sehingga suasana kelam bagiku terasa menyenangkan? Ah rasanya tidak juga karena aku tetap bisa turut bersukacita saat orang lain bahagia. Apakah karena beratnya hidup sebagai anak tak berayah membuatku dapat menerima setiap suasana sebagai suasana yang baik? Ataukah memang aku telah belajar untuk mengendalikan suasana hati lewat ketangguhan yang ditunjukkan ibuku? Entahlah! Aku sendiri juga merasa bodoh memikirkan hal ini. Aku adalah mahasiswa Fisika, mahasiswa yang seharusnya berpikir secara nalar scientific, bukannya berfilsafat dan bersastra. Akhirnya kulangkahkan kakiku menuju kamarku, masih ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan. 

 

Aku terbangun keesokan harinya pada tanggal 24 Desember. Aku melangkahkan kakiku keluar lingkungan kampus dan menuju suatu kompleks pertokoan. Di sana ada sebuah kedai yang menyewakan teleponnya dan kuhubungi nomor rumahku. Selama satu menit aku menunggu dan diangkatlah juga panggilanku ini. Dari sana terdengar suara wanita paruh baya yang masih bersemangat dan cerdas, tipikal suara seorang pendidik, suara ibuku. 

 

“Kosmas, gimana kuliahmu?” tanya ibuku. 

 

“Lumayan baik, untuk semester ini aku ambil 8 matakuliah dan syukur 3 di antaranya A dan sisanya B atau B+,” jawabku. “Selamat natal ya Ma, juga buat Mas Pulung dan Mas Theo.” 

 

“Ya bagus itu. Ingat ya kamu harus tunjukkan bahwa anak Indonesia juga bisa menjadi mahasiswa outstanding di sana,” ibuku menyahut dengan nada bangga. 

 

“Ya kuusahakan, Ma. Bagaimana kabar di Indonesia?” jawabku. 

 

“Masih begini aja, beras dan sembako naik, kerusuhan di mana-mana, bencana di mana-mana. Kamu tahun depan bisa pulang kan? Mama, Mas Pulung, dan Mas Theo kangen,” sahut ibuku. 

 

“Aku usahakan, lagi mengumpulkan uang buat pulang, soalnya kemarin habis buat beli laptop,” kataku. “Maklum, tabungan dari honor jadi pelayan kedai kan tidak cukup, hehehe.” 

 

“Ya, ini keponakanmu Tia sudah besar, sudah 6 tahun dan masuk SD MRD kelas 1 SD. Raportnya ya lumayan bagus sih.” Kata Ibuku membanggakan cucunya itu. Tia adalah anak pertama dari kakak sulungku bernama Sanggito Pulung, ia adalah anak yang lucu, lincah, dan cerdas. 

 

“O begitu, tapi jangan dipaksa jadi rangking 1 lo, Ma. Nanti capek anaknya. 

 

“Ah ya nggak to. Mama cuma bangga saja sama cucu Mama yang cantik ini,” jawab Ibuku. 

 

Pembicaraan kami ini berlangsung cukup lama. Sekitar 1 jam. Aku juga sempat berbincang-bincang dengan kedua kakakku. Setelah itu aku memutuskan untuk kembali ke kampusku. Salju yang turun menutupi jalan makin menambah cantik suasana kota London. Suasana kota ini memang menyenangkan, tidak seperti saat aku tinggal di Malang di mana setiap kali aku berjalan selalu saja hampir diserempet jika tidak angkot ya sepeda motor. Di sini semuanya serba tertib dan teratur. Aku dapat berjalan kaki di trotoar dengan santai ataupun menyeberang dengan tenang tanpa khawatir ada pengendara motor atau mobil yang akan menabrakku. 

 

Dan ketika aku kembali ke kamarku kubuka lemari pakaianku dan kukeluarkan baju batik yang selama ini jarang sekali kupakai. Batik Pekalongan hadiah ulang tahunku yang ke -17 dari ibuku. Motifnya berupa lurik-lurik coklat dengan warna dasar putih. Sangat cantik sebenarnya. Namun karena aku lupa membawa sabun lerak dari Indonesia maka aku tidak terlalu sering memakainya. Maklum warna batik sangat rentan luntur. 

 

Malam itu aku datang dengan setelan batik Pekalongan dan celana panjang hitam. Beberapa orang memandang aku seperti orang aneh, tapi bagiku pandangan mereka hanyalah seperti pandangan kucing liar jalanan yang curiga pada setiap orang yang lewat. Aku pun berjalan ke arah teman-teman karibku, Rodhwan cs. 

 

What is it, Man? A mesh and complicated motives clothes. What is its name?” tanya Rodhwan. 

 

Aku pun menjawab, “We, Indonesian, called it batik.” 

 

Our dresscode is tuxedo for boys and gown for girls, why don’t you wear tuxedo?” 

 

I don’t have tuxedo. Plus Albert’s tuxedo’s size is bigger than my size.” 

 

Cool, Man!” 

 

What did you say?” 

 

I said ‘cool’! Can this clothes worn by the girls?” 

 

There is a special shape for woman. This shape is used by man,” jawabku. 

 

Did the guard forbid you to enter?” tanya Rina 

 

No, they didn’t.” jawabku 

 

I wonder why?“kata Rina 

 

Maybe because this clothes represent a polite person, hahaha,” jawabku 

 

Stop with your joke!” tegur rina dengan ekspresi sebal 

 

“Why?” 

 

You always joke with us, never take our conversation serously.” 

 

And you have problem with that?” 

 

Of course!” 

 

Hahaha.” 

 

 

 

Saat kami sedang asyik berbincang-bincang, acara pun dimulai, seorang wanita muda naik ke podium, dan membuka acara. Ia mulai membuka acara malam itu. Pembawa acara malam itu adalah Annabelle, mahasiswi fakultas Ekonomi yang memang berprofesi sebagai MC profesional. “Good night guys! Thank you for coming tonight. Tonight we will celebrate Christmas together. Please enjoy the party. For now let’s give applause for E.T band.” Dan setelah itu suara tepuk tangan dan sorak-sorai penonton bergemuruh memenuhi ruangan. 

 

Ah, tentu saja. E.T. Band adalah band indie dari Nathan University yang amat terkenal karena ketampanan mereka. Suara vokalis mereka Tom Rayner mengingatkanku pada suara Roy Boomerang, sangat keras. Tapi penampilan mereka sangat innocent untuk sebuah band rock. Namun mungkin karena hal tersebut maka mereka digemari. 

 

Penampilan band rock itu sudah berakhir, kini tampaknya kami akan disuguhkan hiburan yang lebih ringan di telinga. 

 

Give applause to Olivia, the seriousa singer from Saxon!” seru Annabelle. 

 

Who is she?” tanyaku pada Rodhwan. 

 

Olivia Limlet,” jawabnya, “She is a student from art faculty, music department. I hear she was an orphan that adopted by a rich family in Saxon. She is beautiful, isn’t it?” 

 

By the way, I think you come to this party to get some new friends and why do you just watching and approach the girls?” tanyaku. 

 

Come on, Man. I am a single! What’s wrong with that?” 

 

Hahaha, you aren’t a single. In fact you have fiance in Edinburgh, isn’t it? Don’t betray your fiance now. She will cry loudly if she found you date with other girl.” 

 

Why do you say like that? She is in Edinburgh and she won’t see me here.” 

 

Really?” tanyaku sambil menunjuk seorang gadis di pintu masuk ruang pesta. 

 

Oh NO!” kata Rodhwan panik dan segera menghampiri gadis yang kutunjuk tadi. Gadis yang tak lain adalah tunangannya. Aku pun tertawa geli melihat kejadian itu. 

 

Shanty menghampiriku dan bertanya, “Ada apa?” 

 

“Rodhwan. Tunangannya datang ke pesta ini tanpa dia sangka. Padahal dirinya ingin menggaet gadis-gadis cantik di pesta ini.” 

 

“Dasar dia itu. Tapi ngomong-ngomong kamu beda sendiri lo. Pake batik. Keren!” 

 

“Haha, aku kan tak punya tuxedo, maka aku pakai batik saja.” 

 

“Berani beda adalah salah satu tanda-tanda orang yang akan sukses.” 

 

“Kuharap begitu.” 

 

Saat aku selesai berbincang, mulailah Olivia Limlet menyanyikan lagu “Time to Say Goodbye” milik Sarah Brightman. Dan…. Astaga! Pasangan duetnya adalah Helmut. 

 

They are like a couple,” celetuk Ria. 

 

Maybe, but I heard they are just friends,” jawabku. 

 

You are a cold hearted, Man! Don’t you see that they are too close as if they are a husband and wife?” Ria ngeyel. 

 

I see your point. But Helmut tell me that he has a girlfriend, but not Olivia Limlet,” kataku mencoba memotong argumentasi Ria, “Besides, I don’t like to gossip about other people’s business.” 

 

And he’s right. You want looking for a new handsome boys in this party, right? Don’t waste your time to talk about other people’s business. That’s impolite! Especially we aren’t in Indonesia,” tiba-tiba Shanty datang dan menegur Ria atas apa yang ia lakukan. 

 

Oh. Ok! Ok! I am sorry!” kata Ria sambil menunduk malu. Ia memang segan pada Shanty sebab Shanty memang tampak seperti wanita dewasa. Ia seolah-olah merupakan kakak bagi kami semua. 

 

Goodbye Kosmas,” kata Ria dan Shanty. Maka pergilah Ria dan Shanty mendekati kerumunan lelaki bule di arah baratku. Sementara aku sendiri tetap berdiri di tempatku kini. Namun tiba-tiba Helmut menyebut namaku dari atas panggung. 

 

Give your applause for our night’s special performance! Kosmas Sugeng Rahadi from Indonesia. He will sing a song from Indonesia. Come on Kosmas!” seru Helmut dari atas panggung. 

 

Astaga! Apa yang dia pikirkan? Aku bukan penyanyi! Dan lebih-lebih aku tampil tanpa persiapan. Tapi kulihat Ria dan kawan-kawannya di pojok ruangan mengepalkan tangan mereka dan mengisyaratkanku untuk naik ke panggung. 

 

“Sialan! Ini pasti akal-akalan mereka,” pikirku, “Apa yang mereka rencanakan?” 

 

“Come on and give your applause, guys. This man will sing “Tembang Padhang Bulan”. Kata Helmut. 

 

Aku pun naik ke panggung dan lumayan lega juga. Lagu Padhang Bulan adalah tembang yang biasa kunyanyikan di waktu senggang. Maka jadilah aku menyanyikan tembang itu. Pada akhir penampilanku kudengar sorak-sorai penonton bergemuruh di seluruh aula. Aku pikir sudah saatnya aku turun panggung. Namun ternyata kawan-kawanku belum cukup puas mengerjaiku. 

 

Annabelle mengisyaratkan aku untuk tidak turun panggung dahulu. Wah, ada apa lagi ini? Ia pun maju ke depan dan mulai berkata, “That was a good song, wasn’t it? But I have given an information that this man was a dancer and how about we challenge him to dance with Olivia Limlet? Do you agree?” 

 

Of Course!!!!!” sorak mereka. 

 

Entah dapat ilham dari mana, seolah-olah aku seperti sudah tahu harus melakukan apa. Saat Olivia muncul dan mengangkat rok gaun kuningnya, aku juga memberi hormat ala pria Inggris saat akan mengajak seorang wanita berdansa. Kami pun mulai berdansa, seolah-olah kami adalah pedansa profesional. Namun entah kenapa tiba-tiba aku membisikkan sesuatu ke telinga Olivia, “Omnes eniem qui aceperinto gradeum gradeo perivunt, Contra Mundi.” Ekspresi muka Olivia langsung berubah, namun kami berhasil menyelesaikan dansa itu layaknya seorang profesional. Begitu kami selesai dan tepuk tangan penonton sekali membahana, aku cepat-cepat turun panggung dan berniat langsung masuk kamar saja. Aku merasa ada yang tidak beres dengan diriku. Lagipula kata-kata yang kuucapkan tadi secara tak langsung mengandung arti : Mereka yang hidup di jalan pedang tidak akan hancur dengan pedang, hai kau musuh dunia

 

Aku dicegat oleh Rodhwan dan ia langsung bertanya, “Where are you going? This party is not finished yet.” 

 

Sorry, but I must back to my room,” jawabku sambil mendorongnya. 

 

Ia menatapku heran, begitupun Ria dan Shanty. Aku sempat melihat Helmut mengamatiku di lapangan dengan pandangan yang tidak biasa. Tajam dan seolah-olah menusuk hatiku. Aku pun berlari kembali menuju kamar asramaku. 

 

Aku melewati lorong-lorong berpilar raksasa yang hening. Ah, tentu saja hening! Semua mahasiswa sedang menghadiri pesta natal. Hanya aku saja yang tidak. Aku seperti sudah membuat kesalahan besar tapi aku sendiri juga tidak tahu kesalahan apa yang kubuat. 

 

Begitu tiba di depan kamarku, aku langsung masuk kamar dan mengganti pakaianku dengan kaus oblong dan celana pendek. Aku pun menuju meja belajar dan bersiap-siap mengerjakan tugas kuliahku yang mungkin akan membantuku melupakan kejadian tadi. Sambil menunggu OS Windows laptopku siap, aku membaca majalah National Geographic. Aku memang suka membaca di waktu senggang. Bahkan Albert pernah protes dengan kebiasaanku membaca buku di kamar mandi saat aku buang air besar, sehingga dia terpaksa menunggu lama dan akhirnya (maaf!) mencret di karpet (saat itu ia sedang diare berat). Tiba-tiba pintu kamarku diketuk seseorang. Kulangkahkan kakiku menuju pintu dan ketika kubuka kulihat Olivia Limlet berdiri di depan kamarku. Ia langsung mencengkram kerah kausku. 

 

Who are you?” tanyanya dengan ekspresi marah. 

 

Hey, hey, hey take it easy Lady. What did I do that make you mad at me? Did I do something impolite to you? If so, I am very sorry,” jawabku mencoba menenangkannya. 

 

Dan ia menjawab, “Don’t playacting with me! I know you target my life, why you want my life?” . 

 

Aku benar-benar bingung dan tiba-tiba ia mendorongku dengan kekuatan yang luar biasa, seperti tangan tak terlihat berkekuatan besar dan langsung menghempaskanku ke tembok kamarku. 

 

Don’t you ever dare to show your face again in front of me again! If I meet you again, I will kill you!” katanya sembari pergi meninggalkan kamarku. 

 

“Gila!” batinku, “Ada pula perempuan sekuat dia! Macam mana dia bisa menghempaskan aku ke dinding hanya dengan sekali dorongan!” Tapi aku segera sadar bahwa ia sama sekali tidak mendorongku secara fisik, namun dari tangannya tiba-tiba keluar suatu energi yang amat kuat dan mendorongku, seperti tangan namun tak terlihat. 

 

Aku langsung pergi tidur malam itu tanpa menyentuh satu pun tugas kuliahku. Esok paginya aku bangun pukul 3.00 dan kudengar pintu kamarku diketuk dengan keras. Aku bangun dengan malas menuju pintu dan begitu kubuka pintu itu kulihat Helmut ada di depan pintu. 

 

“Maaf mengganggumu pagi-pagi buta, Kosmas. Tapi kamu harus ikut saya!” katanya dengan mimik serius. 

 

Aku terkejut mengetahui bahwa Helmut bisa berbahasa Indonesia. Tapi belum sempat aku menolak ataupun menanyakan perihal itu, ia sudah menyeretku yang masih dalam balutan kaos oblong dan celana pendek keluar dari kamarku. Aku bahkan belum sempat mengunci kamarku. Astaga! 

 

“Hei, sebentar! Kamarku masih belum terkunci!” protesku 

 

Helmut menggerakkan tangannya sambil membaca mantra yang asing kudengar di telingaku. Kudengar pintu kamarku terkunci dan kuncinya yang tadi kuletakkan di atas meja belajar melayang ke tangan Helmut. 

 

“Apa kamu penyihir?” tanyaku 

 

“Bukan”, jawabnya. 

 

“Lalu kekuatan apa itu?” tanyaku. 

 

“Kau akan segera mengetahuinya!” jawabnya masih dengan ekspresi serius. 

 

“Tidak! Aku tak mau ikut denganmu jika aku tidak tahu siapa dirimu, siapa Olivia dan siapa orang-orang yang tadi!” tolakku sambil menepiskan tangannya. 

 

“Oh, tapi kami memaksamu!” jawabnya. Tiba-tiba aku merasa tengkukku dipukul dan aku pingsan. 

 

“Ketika terbangun aku merasakan pusing yang amat sangat. Aku duduk terikat di sebuah kursi dan kulihat Helmut dan Olivia berdiri di depanku. 

 

“Mohon kau tidak salah paham dulu, Ying Go. Kami membawamu ke sini karena punya alasan. Maaf bila cara kami membawamu agak kasar,” kata Helmut. 

 

“Siapa kalian sebenarnya?” tanyaku bingung dan sedikit marah. 

 

“Para malaikat surga memanggil kami ‘Children of Apocalypse’. Kami adalah immortal yang berwujud anak-anak remaja. Pada kenyataannya kami sudah berusia 200.000 tahun. 

 

“Oh, bagus! Aku bertemu dengan sekelompok mahasiswa sakit jiwa yang berbicara tentang malaikat, surga, dan mengaku diri mereka immortal,” sahutku, dan tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di atas pipi kiriku dilanjutkan 2 bogem mentah mendarat di perutku. Astaga, tangan orang ini seolah terbuat dari besi! 

 

“Oookkkh!” erangku kesakitan. 

 

“Jaga bicaramu Ying Go!” sahut seorang dari antara mereka. Anak ini memiliki rambut lurus, mata biru, tubuh sedikit pendek, dengan usia sekitar 16 tahun. 

 

“Ying Go? Namaku Kosmas Sugeng Rahadi,” jawabku. 

 

“Tapi di sini kami mengenalmu sebagai ‘Ying Go’,” jawab Helmut. Dan ia pun melanjutkan, “Perkenalkan ini Olivia.” 

 

“Kami sudah saling mengenal,” jawabku. 

 

“Dan ini adalah Vius Vitalis,” katanya sambil menunjuk anak yang menampar dan memukulku tadi. 

 

“Senang bertemu denganmu,” kataku sambil mencoba tersenyum, namun yang keluar hanyalah seringai akibat bibirku berdarah. “Aku tidak berharap membuatmu marah lagi. Tinjumu menyakitkan,” kataku mencoba bercanda. 

 

Pilihan yang salah! Betul-betul salah! Karena dia melayangkan kembali tinjunya ke dada dan perutku, kali ini pukulannya membuatku muntah darah. 

 

“Cukup! Kau bisa membunuhnya!” tegur Helmut pada Vius. 

 

Belum pulih benar aku dari rasa sakitku, tapi aku pun angkat bicara, “Maaf, tapi bisa tolong anda jelaskan ada apa ini sebenarnya? Kenapa saya harus diikat begini dan kenapa anda semua tampak marah pada saya?” tanyaku. 

 

Traitor!” jawab seorang dari antara mereka yang bertubuh paling kecil dari antara mereka. Aku pikir usianya sekitar 12 tahun. 

 

We are here give you a judgement, Ying Go,” timpal seorang yang lain. 

 

A…. what? Judgment?” 

 

Aye!” kata Helmut. 

 

Tentu saja aku bingung setengah mati. Aku baru saja mengenal Helmut sekitar setahun yang lalu. Dan sekarang aku dihadapkan pada orang-orang aneh ini. Dan lebih-lebih mereka menuduhku berkhianat. Berkhianat atas siapa? 

 

“Aku lihat dari matamu kau kebingungan setengah mati, Ying Go. Mungkin ini akan membantumu memperjelas situasi saat ini,” katanya sambil meletakkan 3 jarinya di dahiku. 

 

Klixem sveti daur, Varuh Terena kraljestva, razbila molaih mislih, in naj vidim tervea cloveka pretekaloster Neir,” kata-kata itu terucap dari mulutnya. Dan tiba-tiba aku merasa jiwaku ditarik dari tubuhku. Jiwaku melayang-layang di sebuah ruang berisi aliran sesuatu yang koloid berwarna biru. Tapi di sini aku bisa bernafas, dan tiba-tiba kudapati diriku sudah berada di sebuah perbukitan batu karang. 

 

“Di mana aku?” 

 

“Di masa lalumu,” kata Helmut yang tiba-tiba sudah berada di sampingku. 

 

“Masa laluku? Ini sama sekali bukan kota Malang.” 

 

“Memang bukan, ini adalah ‘Kota Terlarang’ di China tahun 1150.” 

 

“Ahahahaha, pasti mantramu membawa kita ke tempat dan waktu yang salah.” 

 

“Tidak, ini waktu dan tempat yang benar.” 

 

“Benar untuk apa?” 

 

“Benar untuk kebenaran yang sebenar-benarnya.” 

 

“Dan apakah kebenaran itu?” 

 

“Mata dan telingamu bisa menipumu. Tetapi penipu terbesar adalah pikiranmu, Ying Go. Sekarang simak dan pelajari!” 

 

Aku melihat sekelompok tentara berkuda berderap-derap menuju istana, di antara para prajurit itu aku melihat seorang yang armornya berbeda, wajahnya menunjukkan kharisma yang besar, dan tampaknya juga orang yang amat lihai memainkan senjata sebab dia membawa 2 buah katana, 7 bilah pisau, dan sebuah tombak. Semua orang di jalanan memberi hormat pada pasukan berkuda itu. 

 

Prajurit yang tadi kuamati itu ternyata kapten pasukan. Ia turun dari kudanya dan memberi hormat pada kaisar. Aneh! Seolah-olah mereka berbicara dalam bahasa Indonesia. 

 

“Panjang umur Kaisar!” sorak para prajurit berkuda tersebut. 

 

Dan majulah seseorang dari kalangan istana yang dari pakaiannya nampaknya adalah penasihat raja atau perdana menteri. Ia membuka sebuah gulungan kertas dan membacanya, “Dengan ini, Kaisar menganugerahkan Kapten Ying Go gelar kebangsawanan dan menjadikannya panglima perang atas seluruh tentara dinasti Qing!” 

 

Aku pun bertanya, “Apa-apaan ini? Orang itulah Ying Go, bukan aku! Kenapa kau membawaku kemari?” 

 

“Kau percaya pada reinkarnasi?” tanya Helmut. 

 

“Tidak, agamaku menyangkalnya,” jawabku. 

 

“Apa karena agamamu menyangkalnya maka dirimu lantas tidak percaya? Ada banyak kepercayaan di dunia ini dan manakah yang kau percayai paling benar. Ayolah, kau bukan orang yang terlalu taat beragama bukan?” 

 

“Memang bukan. Tapi kepercayaan setiap individu adalah hak asasi tiap manusia.” 

 

“Jangan mengalihkan topik, Ying Go. Hanya karena agamamu menyangkal reinkarnasi, bukan berarti reinkarnasi itu tak ada.” 

 

“Aku bukan Ying Go.” 

 

“Kau Ying Go, jenderal pasukan infanteri Dinasti Qing. Salah satu jendral China yang mendapat gelar ‘Tangan Kanan Dewa Perang‘. Dan patut kau ketahui adalah ini bukan satu-satunya masa lalumu.” 

 

Dan tiba-tiba Helmut meletakkan lagi 3 jarinya di dahiku sambil membaca mantra yang sama,”Klixem sveti daur, Varuh Terena kraljestva, razbila molaih mislih, in naj vidim tervea cloveka pretekaloster Neir.” 

 

Ya, perjalanan waktu itu terjadi lagi. Kali ini aku berada di sebuah padang rumput di mana kulihat Stonehenge. 

 

“Skotlandia, huh?” kataku menebak. 

 

“Ya! Tahun 1040,” jawab Helmut dingin. 

 

“Apa yang ingin kau tunjukkan?” 

 

“Kau lihat penggembala di sana?” tanyanya sambil menunjuk ke arah barat. 

 

“Ya?” jawabku bingung. 

 

“Lihat apa yang dia lakukan!” 

 

Aku melihat pria itu meletakkan tangannya ke tanah dan membaca mantra, “Let the Gaia open the mist between fact and reality. The priest of Ghenma, bring down the bless of Ancient God. Give this village rain so they can feed their children, so that they can worship the Lord once more. And so mote it be!” 

 

Tepat setelah pria itu menyelesaikan mantranya, turunlah hujan lebat mengguyur tanah pedesaan tersebut. Warga desa tersebut, baik muda maupun tua turun ke jalan dan bergembira ria. 

 

“Dia penyihir?” tanyaku. 

 

“Ya, dan dia adalah dirimu di masa lalu juga.” 

 

“Siapa namanya?” 

 

“Damian Black.” 

 

“Apa yang sedang ia lakukan?” 

 

“Desa ini mengalami kekeringan yang amat panjang. Dirimu di masa lalu ini menurunkan hujan untuk pertama kalinya dalam 3 tahun bagi desa ini.” 

 

“Pakai mantra sihir?” tanyaku. 

 

“Ya. Sebenarnya kemampuan sihirmu masih ada. Mengingat kau masih bertahan hidup meski Vius memukulmu. Sisa kekuatan sihirmu menciptakan medan pelindung di sekeliling tubuhmu dan meregenerasikan ulang organmu yang terluka.” 

 

“Oh ya. Ada masalah apa dia denganku di masa lalu sehingga dia memukulku seperti itu?” 

 

“Sebenarnya aku juga ingin melakukan hal yang sama padamu.” 

 

“Hei jangan! OK? Aku bisa mati nanti.” 

 

“Maka jaga bicaramu pada Vius. Dia mudah marah dan ringan tangan.” 

 

“Kata-kataku terlalu kasar untuk dirinya?” 

 

“Ya. Sebaiknya malah jangan bicara padanya jika belum mengenalnya lebih dekat. Lagipula ia melakukannya untuk membantumu menyadari kesalahanmu.” 

 

“Apa salahku pada kalian?” 

 

“Kau akan segera mengetahuinya!” katanya sambil kembali meletakkan 3 jarinya di dahiku. Mantra itu terdengar lagi, “Klixem sveti daur, Varuh Terena kraljestva, razbila molaih mislih, in naj vidim tervea cloveka pretekaloster Neir.” 

 

Dan tibalah kami di sebuah gunung batu. Di sini aku melihat ada 6 orang duduk mengelilingi sebuah meja bundar dari batu yang diukir dengan amat halus. Tapi tunggu! Ada yang tidak beres! Mana ada meja dan kursi batu dengan ukiran sehalus itu di atas gunung seperti ini, lebih-lebih itu bukan batu biasa, itu marmer Carrara! 

 

“Kelima orang itu mirip kalian,” aku berkomentar. 

 

“Itu memang kami dan yang sedang berbicara itu adalah kau,” kata Helmut. 

 

Dan kulihat orang yang sedang berbicara itu memang mirip aku. Ia berkata-kata banyak tapi hanya secuplik ini yang kudengar cukup baik, “I will release my immortality to protect this land from from evil and tyrant. My immortality is powerful enough to protect this land for 1000 years. So, goodbye my friends. Looks like I will forget about you in my next life.” 

 

“Kau mengorbankan keabadianmu untuk melindungi tanah ini dari seorang tiran yang kejam. Namun dengan melakukan hal itu maka kau akan bertambah tua, mati, kemudian lahir kembali sebagai orang lain. Di tiap tahap kehidupanmu, Ying Go, kau terlihat amat menikmatinya. Kau menikmati setiap momen yang kau alami. Namun tidak untuk hidupmu kali ini! Kau mulai merasa ada ketidakadilan muncul di dunia ini. Dan kau ingin merubahnya namun tidak bisa.” 

 

“Hmm, itu memang benar. Tapi apa yang kalian mau dariku? Seandainya aku memang mengorbankan keabadianku pada kehidupan yang lalu, apa masalahnya bagi kalian? Kita masih bisa berteman,” tanggapku biasa saja. Jujur saja ini semua sangat sulit dipercaya. 

 

Ekspresi wajah Helmut berubah menjadi amat marah, “Kami kehilangan separuh kekuatan kami dahulu kala saat kami berperang melawan para malaikat surga. Dan hanya kau bisa mengembalikan kekuatan kami seutuhnya. Namun pada setiap reinkarnasimu kau selalu menolak untuk membantu kami. Karena itu kami kini amat marah. Dan jika kali ini kau tidak mau membantu kami, maka kami akan menghancurkanmu dan keluargamu. Kami tidak akan segan-segan lagi, sebab waktunya makin menipis!” 

 

Aku pun terperanjat. Dengan segera kusadari bahwa Helmut dan teman-temannya yang punya kekuatan aneh ini bisa saja mencelakakan keluargaku dengan mudah. Mantra teleportasi mereka dengan mudah membawa mereka ke seluruh penjuru dunia tanpa harus bersusah payah dan memakan waktu lama. Dan aku pun menjawab,”Tolong jangan libatkan keluargaku dalam hal ini.” 

 

“Kau ini sungguh naif, Ying Go. Kami akan tetap membunuh keluargamu jika kau tidak mau membantu kami. Bagaimana?” kata Helmut masih dalam ekspresi marah dan dingin. 

 

Astaga! Aku benar-benar terjepit. Apa dayaku orang yang tak bisa sihir ini menghadapi sekumpulan anak-anak remaja yang menguasai sihir-sihir aneh. Tapi belum sempat aku menolak, Children of the Apocalypse lainnya tiba-tiba sudah berada di situ semua. Mereka membentuk lingkaran, mengelilingiku, seolah aku adalah seekor pelarian yang akan dihajar oleh sekelompok massa. Olivia mendekatiku dan menghunuskan sebuah pisau ke leherku, “Kau akan membantu kami, atau kau lebih memilih dirimu dan keluargamu mati di tangan kami? Sejujurnya aku akan amat menyesal harus menghabisi seorang bermuka baby face seperti dirimu ini”. Didesak seperti ini, akhirnya dengan berat hati aku menjawab, “Ok. Aku bersedia. Apa yang harus kulakukan?” 

 

“Dari mana kami tahu bahwa kau akan menepati janjimu?” tanya Vius. 

 

“Sangkamu aku dididik sebagai seorang pengingkar janji. Tidak! Jika aku menyanggupi sesuatu maka akan kulaksanakan dengan sekuat tenagaku. Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan!” jawabku dengan nada menghentak. 

 

Dan kulihat keenam Children of the Apocalypse itu tersenyum penuh arti. Tapi ah, aku tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi berikutnya. 

 

Posted on February 12, 2011, in Children of The Apocalypse and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. salam, maaf baru replay. Sebelumnya, thank’s buat commentnya di blog aku.
    cerita ini bagus, masih soal reinkarnasi dan dunia antah berantah, hehe. Tapi kalo dikurangin bhs inggrisnya di awal cerita pasti keren banget. Soalnya bahasa para bule itu dapet banget wkt di akhir cerita (wkt dia bertualang di masa lalu) good job🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: