Children of The Apocalypse : Rise of The Ancient (Chapter 1)


Ketentuan:

  1. Penulis karya ini adalah Andreas Nugroho Sihananto, setiap orang yang hendak menggunakan karya ini pada suatu jurnal, makalah, dsb. harap mencantumkan nama penulis setidak-tidaknya di daftar referensi.
  2. Jika ada pihak yang ingin menggandakan karya ini untuk tujuan pendidikan maupun komersil harap menghubungi penulis via e-mail di jendral.ying@gmail.com.
Saran dan kritik amat penulis harapkan. Untuk mengirimkan saran dan kritik harap mengirimnya ke jendral.ying@gmail.com.

Terms and Agreement :

  1. This novel is written by Andreas Nugroho Sihananto, everyone that will use this novel in their journal, paper, etc. please make sure that write the writer’s name at least in bibliography.
  2. If someone hope to copy this novel both for educational or comercial purpose, please ask the writer via e-mail at jendral.ying@gmail.com.
  3. Please send your critic and suggestion via e-mail at jendral.ying@gmail.com.

Chapter 1

Prologue


Namaku Kosmas Sugeng Rahadi, pelajar SMA biasa, dengan kemampuan akademis biasa-biasa saja yang tinggal di Kota Malang. Diriku adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ayah kami sudah meninggal sejak diriku berusia 12 tahun, dan ibu kami harus menghidupi empat orang anak dengan bekerja sebagai dosen honorer dan tentor kursus.

Aku punya tiga orang kakak, kakak pertama : Mas Theodorus Mangatur Baruno, seorang fotografer handal dan pemilik sebuah studio foto namun memilih untuk tidak berumah tangga jua di usianya yang sudah menginjak 29 tahun ini. Kakak keduaku adalah Mas Edward Bowo Rikanda, seorang kakak yang sangat pendiam dan misterius, kami sendiri jarang bercakap-cakap dengannya karena sikapnya yang dingin dan misterius itu. Ia berprofesi sebagai agen Badan Intelijen Negara, lulusan STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara) dan berusia 27 tahun . Kakak ketigaku adalah Mas Leonardus Pulung Wijayadi, seorang mahasiswa ISI, namun sudah menikah semenjak usia 20 tahun dan tindakannya sedikit banyak membuat ibuku kecewa. Saat ini usianya 23 tahun dan berprofesi sebagai pelukis dan bekerja di sebuah toko pigura.

Aku paling dekat dengan kakak sulungku, Mas Theo karena ia amat dewasa, ramah, low profile dan bijaksana. Ia selalu tahu apa yang baik bagi kami dan ia adalah teman sharing yang enak. Ia selalu mengatakan, “Kamu tidak harus menjadi orang yang sukses, yang kaya, yang terpandai, ataupun yang terbaik. Andaikan kamu jadi orang biasa sekalipun, itu sudah cukup. Jika dirimu menargetkan diri terlalu tinggi maka jika kamu gagal maka kamu akan jatuh amat keras.”

Kata-kata itu selalu kukenang, aku memang tidak memiliki bakat hebat seperti kakak-kakakku, prestasiku di sekolah juga biasa-biasa saja, tetapi yang aku syukuri adalah keluargaku menerima diriku apa adanya dan tidak pernah menuntut diriku akan menjadi apa. Sungguh suatu kondisi yang menyenangkan bagi siapapun di dunia ini bukan? Keluarga yang ideal dan bahagia meski tanpa hadirnya seorang ayah.

Posted on February 12, 2011, in Children of The Apocalypse and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: