Sang Surya : Prolog
Oleh : Araqiel + Shamyaza
e-mail (via admin) : jendral.ying@gmail.com
BAB 0: PROLOG
Dahulu ada suatu negeri, bernama Nagari Dwipa. Negeri yang amat makmur. Tercipta sebagai negeri pertama di Nusantara ini. Para ahli modern menyebut negeri ini… Atlantis. Negeri ini dikatakan memiliki teknologi yang amat tinggi, mampu menciptakan peralatan yang amat canggih. Memang benar bahwa mereka mampu membuat peralatan-peralatan yang berteknologi maju pada masa itu, namun pada kenyataannya sesuatu yang bernama sihirlah yang paling berperan.
Negeri ini dikatakan menghilang secara misterius, namun itu tidaklah benar. Negeri ini moksa[1] bersama seluruh penduduknya karena mereka lakukan sesuatu yang amat mengerikan, pengorbanan manusia besar-besaran untuk para dewata yang salah sehingga langit pun menjatuhkan hukuman pada mereka. Ketika hujan badai terus menerus mengguyur Nagari Dwipa dan membuat negeri itu terancam tenggelam, raja Nagari Dwipa saat itu, Dwirawasta VI, membuat keputusan bahwa mereka akan membawa negeri ini ke alam lain, ke dimensi lain melalui sebuah portal sihir.
Nagari Dwipa, negeri yang hilang itu tetap menjadi sebuah negeri yang makmur di sebuah dimensi lain, yakni dimensi di mana para dhemit[2], danyangan[3], dan segala jin serta hantu bersemayam. Penduduk Atlantis pun menjalin persahabatan dengan makhluk-makhluk itu. Para makhluk itu menyebut para penduduk Atlantis sebagai Kalingga.
Seperti kita tahu bahwa para dukun alias paranormal di Nusantara generasi pertama, Nusantara generasi kedua hingga Nusantara generasi ketiga sekarang suka sekali memohon pertolongan dari para jin atau danyangan di alam tak kasat mata atau alam gaib. Para jin yang mereka panggil itu mereka masukkan dalam akik, keris, tombak, kain, tasbih, atau benda-benda lain untuk memberi suatu daya tersendiri pada benda tersebut. Para jin penghuni benda-benda tersebut disebut khodam/khadam, meski ada pula khodam yang menyertai seorang tersebut sejak lahir.
Cerita yang akan anda baca adalah cerita mengenai para khodam, manusia dan Kalingga. Bagaimana mereka berinteraksi, dan bagaimana kita sebagai sesama ciptaan-Nya seharusnya bisa saling menghargai satu sama lain.
Transparency
Pengarang : tasya tazzu
Sumber : FictionPress.com
Apa yang aku lakukan disini?
Aku berdiri di pojokan sebuah kamar yang, cukup berantakan. Kertas-kertas dengan berbagai gambar tulang-belulang berserakan dilantai, buku-buku tebal menumpuk di atas meja, laptop 12″ menampilkan layar gelap dan mendendangkan nyanyian lembut, dan baju kotor menumpuk diatas sandaran kursi. Aku melihat apa yang ada di depanku dengan takjub. Siapa orang yang bisa betah hidup di kamar sekotor ini? Read the rest of this entry
Rey – Bab XI
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB XI
LEMBARAN HIDUP YANG BARU
Di kamar Mitha termenung sambil memandangi foto Rey. Jari – jarinya menelusuri foto tersebut dengan mata berkaca – kaca. Semenjak kematian Rey yang begitu tragis, ia seperti kehilangan gairah hidup. Setiap ia ingat akan kenangan indahnya bersama Rey, setiap itu pulalah ia meneteskan air mata. Read the rest of this entry
Rey – Bab X
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB X
AKHIR DARI KEHIDUPAN
Pantai Tanjung Kelayang, SungaiLiat.
“Hai anak muda! Kenapa kau berdiri terpaku di situ?” teriak seorang Pak tua yang sedang membereskan jaring – jaring penangkap ikannya. Rey sedikit tersentak mendengar teriakan tersebut. Dengan langkah gontai ia berjalan menghampiri Pak tua yang tampaknya seorang nelayan. Read the rest of this entry
Rey – Bab IX
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB IX
HARTA WARISAN
Beberapa hari kemudian Pak Gunawan datang menemui Melinda di rumahnya.
“Ada keperluan apa yang ingin anda bicarakan kepada saya?”
“Saya hanya ingin mengetahui siapa hak waris atas semua harta suami saya?” tanyanya dengan nada ingin tahu. Pak Gunawan berdehem sambil membenarkan kacamata min – nya.
“Maaf, saya tidak dapat memberitahukannya.”
“Anda harus mengatakannya. Ini penting mengingat kesehatan suami saya saat ini tidak menentu dan anda tau sendiri, Rey sekarang menjadi buronan Polisi,” sergahnya dengan suara tinggi. Pak Gunawan mengangguk pelan. Ia lalu membuka tasnya, mengambil amplop besar berwarna coklat muda dan mengeluarkan surat tersebut dari amplop. Read the rest of this entry
Rey – Bab VIII
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB VIII
JANGAN CINTAI AKU
Daun – daun pohon kamboja masih menyimpan titik air hujan sisa semalam. Bau tanah yang khas tersiram hujan masih tercium samar – samar. Rumput – rumput jepang yang menghiasi gundukan tanah makam tampak segar hijau berdiri, menambah keasrian deretan – deretan makam yang berjajar rapi dengan bentuk batu nisan seragam berukir identitas si penghuni liang. Read the rest of this entry
Rey – Bab VII
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB VII
PEMBALASAN DENDAM
Chaca berjalan hilir mudik di depan teras rumah Eric. Wajahnya menunjukkan gurat – gurat keraguan. Ia ragu untuk mengetok pintu dan memanggil nama Eric. Ia ragu untuk bertemu dan meminta maaf kepadanya atas pertengkaran kecil yang terjadi beberapa hari yang lalu. Read the rest of this entry
Rey – Bab VI
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB VI
DIA YANG MELAKUKANNYA
9 p.m.
Udara malam yang dingin berhembus secara perlahan. Dinginnya menusuk hingga ke tulang. Di ruangan tengah, Mitha tampak asik mengobrol dengan Rey ditemani dengan secangkir teh hangat. Sementara dari luar tampak sepasang mata sadis dan bringas masih terus mengawasi dari kejauhan. Read the rest of this entry
