<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Penulis Amatir</title>
	<atom:link href="http://shamyaza.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://shamyaza.wordpress.com</link>
	<description>Karya kami adalah ungkapan diri kami</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 Jul 2011 14:57:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='shamyaza.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/23baaa4bb29d4707b5f7573941125da7?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Penulis Amatir</title>
		<link>http://shamyaza.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://shamyaza.wordpress.com/osd.xml" title="Penulis Amatir" />
	<atom:link rel='hub' href='http://shamyaza.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sang Surya : Bab III</title>
		<link>http://shamyaza.wordpress.com/2011/07/04/sang-surya-bab-iii/</link>
		<comments>http://shamyaza.wordpress.com/2011/07/04/sang-surya-bab-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jul 2011 07:07:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saklas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sang Surya]]></category>
		<category><![CDATA[fantasy novel]]></category>
		<category><![CDATA[karya anak negeri]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen amatir]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[novel amatir]]></category>
		<category><![CDATA[Novel fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[novel fantasi amatir]]></category>
		<category><![CDATA[novel gratis]]></category>
		<category><![CDATA[novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[penulis amatir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shamyaza.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[BAB III : SANG PENGENDALI Pratanala telah mengabdi pada Indra dan saban harinya selalu berjalan bersama Indra. Indra sendiri yang semula tidak suka dengan kepemilikan khodam mulai bisa menerimanya karena Pratanala enak diajak bicara meski terkadang sikap angkuhnya sebagai Mahamantri keluar. Tapi secara keseluruhan Indra tidak menyesal menerima Pratanala sebagai khodamnya. Pratanala sendiri sudah lama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=229&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 align="center">BAB III : SANG PENGENDALI</h1>
<p>Pratanala telah mengabdi pada Indra dan saban harinya selalu berjalan bersama Indra. Indra sendiri yang semula tidak suka dengan kepemilikan khodam mulai bisa menerimanya karena Pratanala enak diajak bicara meski terkadang sikap angkuhnya sebagai Mahamantri keluar. Tapi secara keseluruhan Indra tidak menyesal menerima Pratanala sebagai khodamnya.<span id="more-229"></span></p>
<p>Pratanala sendiri sudah lama terikat di Trowulan, ia buta akan dunia saat ini dan berjalan bersama Indra saban hari membuatnya terkagum-kagum akan keadaan dunia saat ini. Saat Indra memasuki kelas sebagai seorang siswa, Pratanala selalu berjalan-jalan di sekitar sekolah Indra dan mengamat-amati buku-buku pelajaran yang sarat akan tulisan namun tidak bisa ia baca. Pratanala pun sering bertanya soal itu pada Indra dan Indra pun lama-lama malas menjawabnya sehingga akhirnya menjawab, “Pergilah ke SD yang ada di seberang sekolahku dan carilah kelas yang dihuni anak-anak berusia sekitar 6 tahun. Di sana kau akan mempelajari makna dari aneka tulisan yang kau tanyakan.”</p>
<p>Pratanala menuruti nasihat Indra, saban hari ketika Indra bersekolah, Pratanala selalu memasuki ruang kelas 1 SD tersebut dan ikut belajar bersama anak-anak di sana walau sudah pasti tidak ada orang yang bisa melihat sosoknya jadi ia tak perlu malu. Sebulan setelah ia ‘mengenyam’pendidikan di kelas 1, ia beralih ke kelas 2, sebulan kemudian ia beralih ke kelas 3 dan sesudah itu ia ‘berhenti bersekolah’.</p>
<p align="center">*******</p>
<p>            Adapun Affandi merasa kehadiran Suhita tidak mengganggunya sama sekali tapi terkadang ia lupa bahwa Suhita sudah ikut dengannya. Hal ini dikarenakan Suhita sangat pendiam jika tidak ditanyai. Selain itu Suhita kerap menghilang dari jangkauannya lalu secara tiba-tiba sudah kembali ke sisinya. Suatu kali Affandi bertanya pada Suhita, “Sebenarnya ke mana saja Prabu Suhita saban hari ini?”</p>
<p>“Perpustakaan masa kini, Affandi. Banyak sekali buku-buku menarik untuk dibaca walau kadang aku kecewa pada buku-buku itu.”</p>
<p>“Kenapa?” tanya Affandi.</p>
<p>“Kau lihat buku itu Affandi?” kata Suhita sambil menunjuk sebuah buku di etalase sebuah toko buku berjudul ‘Sejarah untuk kelas X’.</p>
<p>“Ya?” jawab Indra masih tidak mengerti.</p>
<p>Kenapa pembahasan mereka soal Majapahit hanya sampai pada Eyang Bhre Daha<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>? Kenapa diriku tidak dibahas? Padahal sudah susah payah aku mencoba menyatukan kembali Nusantara yang terpecah ini, namun sangat sulit sekali menyatukan mereka kembali dalam naungan Majapahit! Hiks!”</p>
<p>“Apa anda membuat suatu prasasti Prabu Suhita?”</p>
<p>“Aku membuat suatu prasasti di daerah yang seharusnya menjadi makam Eyang Pabu Hayam Wuruk.”</p>
<p>“Daerah Ngetos di Nganjuk?”</p>
<p>“Ya!”</p>
<p>“Aku rasa prasasti anda belum ditemukan Prabu Suhita atau meski sudah ditemukan belum berhasil kami terjemahkan, lagipula untuk menerjemahkan aneka prasasti peninggalan Prabu Sri Kertarajasa hingga Prabu Hayam Wuruk saja, para ahli kami membutuhkan waktu lama. Tapi sabar saja, suatu saat prasasti anda akan ditemukan atau diterjemahkan. Setelah itu seluruh Nusantara akan tahu mengenai kehebatan Prabu Suhita.”</p>
<p>Suhita tersenyum simpul. Penjelasan Affandi mampu menenangkan kegalauannya. Dalam hati ia kagum pada anak ini yang meski masih muda namun berpengetahuan luas.”</p>
<p>Tiba-tiba Affandi mengagetkannya dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana Prabu bisa membaca buku sementara Prabu adalah makhluk di dimensi yang berbeda?”</p>
<p>“Dengan cara ini,” jawab Suhita yang sekonyong-konyong pudar dari hadapan Affandi dan berubah menjadi kepulan asap tebal dan merasuk ke buku yang sedang dibawa Affandi. Tak sampai semenit ia sudah keluar dan berkata, “Catatanmu singkat sekali, Affandi.”</p>
<p>“Yah, aku memang tidak suka mencatat, aku lebih suka mengingatnya dalam otakku. Hei, aku penasaran kenapa anda begitu menyukai buku?”</p>
<p>“Guruku selalu mengajarkan padaku untuk mencintai pengetahuan lebih dari apapun. Karena itu aku selalu berkeliling ke seluruh wilayah Majapahit guna mencari lebih banyak pengalaman dan dengan itu aku dapat membuat Majapahit yang lebih baik. Tapi ternyata itu saja tidak cukup. Aku tidak cukup kuat untuk memimpin Majapahit agar tetap utuh. Dan akhirnya banyak wilayah kami yang lepas dari Majapahit.”</p>
<p>“Anda bisa membaca bahasa kami?”</p>
<p>“Tentu saja! Aku banyak belajar dari Para Pengendali yang hidup sebagai pegawai dinas purbakala Trowulan!”</p>
<p align="center">********</p>
<p>            Ujian tengah semester baru saja berlalu, para siswa dipulangkan pagi karena para guru hendak mengadakan rapat evaluasi hasil UTS dan kurikulum. Karena pulang pagi hari itu Indra tidak langsung pulang melainkan berjalan-jalan ke taman dekat sekolahnya. Taman itu amat rimbun dengan aneka pepohonan. Indra berjalan tidak tentu arah dan di sana ada seorang gadis seusianya dan tampaknya juga siswi SMP duduk di bangku taman yang diteduhi pohon mahoni. Ia mendekati gadis itu dan mengucap salam, “Permisi, bolehkah saya duduk di sini?”</p>
<p>“Silakan,” kata gadis itu sembari menggeser posisi duduknya.</p>
<p>Indra pun duduk di bangku itu, di samping seorang gadis yang belum pernah ia kenal. Tapi Indra tidak punya pikiran apapun terhadap gadis itu. Ia hanya bersikap biasa.</p>
<p>“Kamu Indra Jumantra kan?” tanya gadis itu.</p>
<p>“Lo kamu kok tahu namaku?” tanya Indra bingung.</p>
<p>“Kita kan satu sekolah, namaku Wulan, Wulan Nagari. Kita satu sekolah lho, hanya saja beda kelas. Aku kelas VII-B kamu kelas apa?”</p>
<p>“Aku kelas VII-A, wah aku tidak sadar kalau kita satu sekolah. Eh, sedang apa kamu di sini?”</p>
<p>“Aku? Aku di sini menunggu temanku.”</p>
<p>“Teman?”</p>
<p>“Iya, teman. Namun bukan teman yang bisa dilihat sembarang orang Indra.”</p>
<p>“Teman khayalan?”</p>
<p>“Hahahaha, bukan,” jawab Wulan sambil tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>“Itu dia sudah datang,” kata Wulan sambil menunjuk ke arah kirinya.</p>
<p>Indra memicingkan matanya dan ia melihat sesosok wanita dengan kecantikan bak bidadari, berpakaian kemben merah serta diselubungi selendang merah menunggang seekor kuda coklat datang mendekati Wulan.</p>
<p>“Pambayun, dari mana saja kau?” tanya Wulan pada wanita itu.</p>
<p>“Ini khodammu ya?” tanya Indra.</p>
<p>“Hei, kau bisa melihatnya juga? Apakah kau juga Kaum Pengendali?”</p>
<p>“Err, mungkin. Tapi jujur saja aku tidak punya khodam bawaan<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>. Pambayun sudah ikut denganmu sejak kamu lahir bukan?”</p>
<p>“Wow, kamu tahu hal itu bahkan sebelum aku memberitahumu? Kau memang luar biasa Indra. Apa kau juga punya khodam? Kalau kau punya perlihatkan pada kami!” bujuk Wulan dengan mata berbinar-binar.</p>
<p>Indra baru saja akan memanggil Pratanala sebelum Pratanala berbicara dalam kepalanya, “Tuan, jangan gegabah. Pambayun adalah khodam wanita yang amat kuat namun licik. Apabila anak ini mampu menundukkan Pambayun ada kemungkinan ada lagi khodam miliknya selain Pambayun. Aku sarankan Tuan tidak memanggilku sebelum kita tahu anak ini lawan atau kawan kita!”</p>
<p>“Kenapa kau begitu curiga Pratanala?”</p>
<p>“Aku merasakan aura tidak enak dari Pambayun.”</p>
<p>“Hanya merasakan?”</p>
<p>“Tuan, percayalah padaku! Sangat beresiko jika mereka tahu siapa abdi Tuan ini.”</p>
<p>“Baiklah,” jawab Indra kesal.</p>
<p>Indra menatap wajah Wulan yang polos lalu berkata, “Err, nampaknya khodamku tidak mau dipanggil, ia sedang tidak <em>mood</em>.”</p>
<p>“Oh, tak apa Indra, aku maklum akan hal itu. Pambayun terkadang juga begitu. Ayo Pambayun, kita pulang! Indra, aku pulang dulu ya? Sampai jumpa besok!”</p>
<p>Indra pun balas menjawab dengan senyum dan lambaian tangan, tak lebih dari itu dan tanpa sepatah kata pun. Kata-kata Pratanala benar-benar mengusik dirinya. Setelah Wulan pergi menjauh, Indra segera menuju bagian tengah taman di mana terdapat air mancur di situ. Ia berniat menghabiskan waktu di situ sampai Lohor tiba.</p>
<p align="center">********</p>
<p>            Sementara Wulan yang berjalan menjauh dari taman itu tiba-tiba berbalik ke taman tersebut dan mencari area yang sepi dan terlindung oleh pepohonan lebat. Di sana ia mengeluarkan sebuah cermin rias lalu mengucapkan mantra-mantra pada cermin tersebut dan diakhiri dengan kalimat, “Kaca Benggala, biarkan aku melakukan kontak dengan Guruku!”</p>
<p>Tiba-tiba dari dalam cermin tersebut muncullah wajah seorang pria berusia 40 tahunan dalam balutan jas berwarna krem dan dia berbicara pada Wulan dengan suara berat dan berwibawa, “Ada apa anakku Wulan?”</p>
<p>“Aku menemukan seseorang yang mungkin saja adalah Sang Pengendali Kalingga!” jawab Wulan berbisik namun dengan nada bersemangat sekali.</p>
<p>“Dari mana kau tahu bahwa ia adalah Sang Pengendali Kalingga?” tanya pria itu lagi.</p>
<p>“Auranya berwarna pelangi dan terasa dari jarak 20 depa. Ia mampu melihat masa lalu dan asal-usul serta hubungan antara khodam dengan majikannya. Bukankah itu ciri-ciri seorang Pengendali Kalingga?”</p>
<p>“Siapa saja yang mengabdi padanya?”</p>
<p>“Aku tidak tahu, ia tidak bersedia menunjukkannya.”</p>
<p>“Awasi terus dia, Wulan. Kau tahu bukan bahwa ia harus dilenyapkan?”</p>
<p>“Baik, Guru!” jawab Wulan Nagari penuh hormat dan kepatuhan .</p>
<p>Tak lama cermin rias itu hanya menampakkan wajah seorang Wulan Nagari. Wajah pria itu sudah tida tampak di sana.</p>
<p align="center">********</p>
<p>            Sementara Indra yang sedang duduk-duduk merenung di tengah taman tersebut tiba-tiba didatangi seorang pria berpakaian kemeja biru polos dengan paduan celana jeans hitam. Indra terkejut melihat sosok laki-laki di sampingnya. Indra tahu bahwa orang itu bukanlah manusia, namun yang mengejutkan Indra, laki-laki itu mengajaknya bersalaman sembari memperkenalkan diri, “Perkenalkan, namaku Pramudya<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Parasdya<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>, aku adalah seorang senopati dari suatu kerajaan bernama Nagari Dwipa.”</p>
<p>Indra menyambut uluran tangan laki-laki itu dengan ragu-ragu namun akhirnya Indra menyebutkan juga namanya, “Indra Jumantra.”</p>
<p>“Indra Jumantra, saya datang kemari karena hendak mengikuti anda sebagai pengawal anda, dengan kata lain khodam anda. Sembari mempersiapkan anda menjadi Pengendali Kalingga yang akan melindungi Kalpataru dari marabahaya yang akan menerjang,” kata pria asing yang mengaku bernama Pramudya Parasdya itu.</p>
<p>Indra terheran-heran, selama ini sudah banyak makhluk lelembut yang datang menghampirinya dan kebanyakan berniat mencelakakannya kecuali para khodam situs Trowulan serta Ki Wibisana dan Nyai Branyak namun kali ini datang makhluk sebangsa lelembut lagi yang entah berasal dari mana hendak mengabdi kepadanya dan mempersiapkannya menjadi … ‘Pengendali Kalingga’? Kosakata itu masih asing di telinga dan otaknya. Lagipula ia sedikit curiga pada sosok lelembut ini, sehingga Indra pun memanggil khodam miliknya, “Pratanala, hadapi orang ini!”</p>
<p>Maka muncullah dari dalam diri Indra, sesosok khodam berwujud sesosok pria tampan bersenjatakan tombak ala kerajaan Mataram kuno, berpakaian laiknya seorang patih pada film-film kolosal dengan lambang ‘Surya Majapahit’melekat pada bagian dadanya. Ia adalah Pratanala. Pratanala segera menerjang Pramudya dengan cepat namun Pramudya rupanya cukup sigap, ia segera melenting ke udara dan mengatupkan kedua belah tangannya serta membaca mantra yang ternyata memanggil senjatanya berupa sebuah gada yang amat besar. Indra mengenali gada itu mirip dengan gada ‘Rujak Pala’milik Bima dalam kisah-kisah pewayangan yang sering ia tonton.</p>
<p>Tombak Prabancana milik Pratanala pun beradu tanding dengan gada raksasa milik Pramudya. Kedua makhluk khodam itu saling bertarung dengan sengit. Beberapa kali Pratanala berhasil menembus pertahanan Pramudya namun setiap kali tombaknya hendak menghujam ke tubuh lawannya, Pramudya dengan gesit selalu berhasil mengelak kemudian melenting ke arah yang berlawanan dan membalas serangan Pratanala. Tapi bukan Pratanala namanya kalau gampang menyerah, sebagai salah satu dari 4 Mahamantri Majapahit pasca kematian Gajah Mada, ia pastinya memiliki ilmu kanuragan yang amat tinggi. Namun diam-diam ia kagum pada lawannya. Dalam hatinya ia yakin bahwa Pramudya pastilah bukan orang sembarangan di kehidupannya yang lalu.</p>
<p>Sementara itu Pramudya meski berhasil menghindar berkali-kali dari serangan Pratanala, cukup merasa kewalahan juga menghadapi serangan Pratanala yang bertubi-tubi. Dilihat dari segi kecepatan, Pratanala pastilah lebih unggul karena ia bersenjatakan gada yang cukup berat sementara lawannya adalah tombak yang mirip ular, bergerak secara trengginas <a title="" href="#_ftn5">[5]</a> namun mematikan.</p>
<p>Namun Pramudya tiba-tiba duduk bersila di udara, dikatupkannya kedua belah telapak tangannya dan kembali ia membaca mantra. Mantra yang ia baca ini memanggil ajian Lembu Sekilan<a title="" href="#_ftn6">[6]</a> dari dalam tubuhnya. Pratanala segera berhenti menyerang, ia berdiri 15 langkah dari lawannya dan berseru, “Hai, kau kira kau bisa mengalahkan diriku dengan ajian Lembu Sekilan? Ketahuilah, aku sudah mempelajari ajian itu semenjak diriku masih anak kemarin sore di Chakra Bhirawa.”</p>
<p>Pratanala kemudian turut mengatupkan kedua belah telapak tangannya, ia mengucapkan berbaris-baris mantra-mantra, memanggil ajian andalannya … ajian Segara Geni. Ajian itu menciptakan lautan api yang sayangnya benar-benar kasat mata sehingga orang-orang biasa pun dapat melihatnya. Pramudya berkelit dari serangan api yang hendak membelitnya berkali-kali namun akhirnya ia terkurung juga dalam dinding api yang tidak bisa ia tembus bahkan dengan gadanya sekalipun, akhirnya ia berteriak, “Woi Pratanala! Kamu mau membakarku ya?” kemudian ia memalingkan mukanya pada Indra (meski percuma saja karena seluruh tubuhnya diselimuti api), “Paduka Indra, percayalah saya tidak bermaksud jahat. Kalau Paduka tidak percaya, tanya saja pada Ki Wibisana!”</p>
<p>Mendengar nama khodam yang sudah ia anggap sebagai kakeknya itu, Indra pun berseru, “Pratanala, hentikan!”</p>
<p>Pratanala pun menyudahi aji Segara Geni dan Pramudya pun turun ke bumi sambil cengar-cengir nakal.</p>
<p>“Sekarang ayo pulang kembali ke rumahku, Pratanala dan kau … Pramudya!” perintah Indra sebal. Maka ikutlah kedua makhluk astral tadi berjalan di belakang Indra. Tanpa mereka sadari dari balik kerimbunan dahan taman tersebut ada 2 pasang mata yang mengawasi pertarungan mereka. Pemilik kedua pasang mata itu tak lain dan tak bukan adalah Pambayun dan Wulan Nagari. Pramudya merasakan kehadiran kedua orang itu, namun ia tidak mau ribut dengan Indra yang kelihatannya sudah sebal atas pertarungan yang tidak perlu tadi akhirnya memutuskan untuk mendiamkannya saja dan beranjak mengikuti Pratanala dan Indra.</p>
<p align="center">********</p>
<p>            Di zaman apapun, semenjak kita bebas dari penjajahan Belanda hingga tahun di mana Indra hidup saat ini namanya sekolah tetap saja hal wajib. Namun jika di tahun 2010 program wajib belajar masihlah 9 tahun, di zaman ini program wajib belajar diharuskan 13 tahun, yakni 12 tahun SD, SMP, dan SMU (atau SMK) ditambah 1 tahun Diploma-1. Indra tidak suka angka 13 itu, angka sial katanya. Namun saat ini ia tidak mau mengutuki angka sial wajib belajar itu karena guru Bahasa Inggrisnya, Bapak Andi memberinya 25 soal uraian Bahasa Inggris yang membuatnya kelabakan.</p>
<p>Indra mengamati soal demi soal di I-Padnya yang membuat ia semakin garuk-garuk kepala. Saat ini pukul 15.00 dan soal ini harus sudah dikumpulkan pukul 18.00. Gara-gara ia curiga berat pada Pramudya sehingga ia harus memanggil Pratanala dan bertarung dengannya, ia harus merelakan 2 jam waktunya untuk meladeni Pramudya. Dan sekarang kedua makhluk astral itu hanya bisa memandangi Indra dengan pandangan heran dan seperti orang bodoh. Indra sebenarnya mampu saja mengerjakan ke-25 soal ini, namun karena otaknya bukan otak yang diprogram untuk menguasai Bahasa Inggris, butuh waktu minimal 4 jam baginya untuk mengerjakan soal semacam ini.</p>
<p>Indra berkata pada Pratanala, “Pratanala, jangan diam saja! Bantu aku!”</p>
<p>Pratanala pun bangkit dan berkata, “Seumur hidupku di dunia ini aku tidak pernah melihat bahasa semacam itu, Indra! Aku tidak bisa membantumu. Lagipula apa yang terjadi pada dunia ini? Kenapa huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta tidak dipakai lagi?”</p>
<p>Pramudya hanya tersenyum geli, meski sama-sama makhluk astral namun Pramudya memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada Pratanala. Ia paham bahwa bahasa bernama Bahasa Inggris itu sudah menjadi bahasa internasional yang dipakai di seluruh belahan dunia. Tidak ada bahasa lain yang sanggup menggeser pamor bahasa ini sebagai bahasa yang dipakai sebagain besar manusia di belahan dunia ini. Sementara ia sadar Pratanala sudah ribuan tahun hidup tanpa menyadari adanya perubahan zaman karena jiwanya tersegel di Trowulan. Maka Pramudya pun bangkit dan berkata, “Perlu bantuan dengan masalah <em>is-am-are</em> itu Indra?</p>
<p>Indra menoleh pada Pramudya, “Bisakah kau?”</p>
<p>Pramudya pun menjawab, “Di Nagari Dwipa kami pun mempelajari hal itu.”</p>
<p>Maka Indra pun menyodorkan I-Padnya pada Pramudya dan menunjukkaan pada senopati itu 25 soal mengenai Simpe Past Tense<a title="" href="#_ftn7">[7]</a>. Pramudya dengan cepat menuliskan 25 jawaban di I-Pad milik Indra dan mengirimkannya ke e-mail sekolah Indra. Indra dibuat terheran-heran oleh kecepatan Pramudya dalam mengerjakan soal-soal Bahasa Inggris yang dirasanya sulit itu dengan cepat.</p>
<p>“Bagaimana kau melakukannya?”tanya Indra.</p>
<p>“Sudah kubilang di Nagari Dwipa kami pun mempelajari bahasa ini, aku kan tidak bodoh seperti pengawalmu itu,” jawab Pramudya sambil tersenyum-senyum.</p>
<p>“Hei, apa maksudmu?!!” hardik Pratanala sebal.</p>
<p>“Akuilah Pratanala, kau sudah ketinggalan zaman, pikiranmu sudah kaku dan otakmu sudah berkarat sama berkaratnya dengan kendi besi yang mengikatmu di Trowulan itu. Hahahahaha!!!!” goda Pramudya pada Pratanala.</p>
<p>Wajah Pratanala pun merah padam. Seumur hidupnya ia dihormati sebagai Mahamantri Agung pelaksana tugas Mahapatih Majapahit, pengganti Gajah Mada, hal itu membuatnya menjadi sedikit gila hormat. Dan sekarang ada orang asing entah dari negara mana berani-beraninya menghina dirinya bodoh di hadapan tuan mudanya. Tahap kemarahannya sudah mencapai puncak. Dengan segera ia mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya ke arah Pramudya. Pramudya dengan enteng menampik serangan Pratanala sambil tertawa-tawa. Namun di saat Pratanala hendak melancarkan serangan kembali, Indra melancarkan ajian <em>Tebah Mergana</em> ke dua makhluk astral itu dan membuat mereka terlempar keluar dari kamar Indra di lantai 2 menuju teras rumah Indra di lantai 1.</p>
<p>Meski jatuh dari ketinggian seperti itu, mereka tidak merasakan sakit karena hal itu, namun pukulan ajian <em>Tebah Mergana</em>-lah yang membuat mereka kesakitan. Indra pun keluar dari kamarnya dan melongok ke bawah kemudian berkata pada mereka melalui telepati, “Bertengkar seperti itu lagi maka akan kulemparkan kalian berdua ke Laut Selatan!” dan sesudah berkata demikian masuklah lagi ia ke kamarnya.</p>
<p>Pratanala dan Pramudya hanya bisa berpandang-pandangan mata. Pramudya pun mendekati Pratanala dan mengulurkan tangan sembari mohon maaf, “Maaf aku sudah mengataimu bodoh.”</p>
<p>“Tak apa, aku juga salah sudah menyerangmu atas sesuatu yang sebenarnya remeh. Akulah yang seharusnya merasa malu karena diriku memang bodoh sementara dirimu amat pandai. Aku terlalu terpaku pada ingatanku semasa diriku menjadi Mahamantri Agung Majapahit dahulu sehingga lupa bahwa sekarang diriku mengabdi pada Indra Jumantra dan aku tidak bersikap yang semestinya di hadapannya,”</p>
<p>“Tapi aku sampai lupa, bahwa ia adalah Pengendali Kalingga. Untuk bisa mengendalikan Kalingga maka ia pastinya amat kuat. Aku meremehkannya dan kini inilah nasibku, dilempar dari ruangan kehormatan dengan pantat sampai lebih dahulu ke tanah. Hahahahahahahaha” Pramudya tertawa tergelak-gelak.</p>
<p>“Kau ini suka bercanda yah?” tanya Pratanala sembari tersenyum.</p>
<p>“Ya, begitulah. Pekerjaanku di Nagari Dwipa sangat melelahkan sehingga aku mengatasinya dengan aneka guyonan dan lelucon. Hahahahahaha!”</p>
<p>“Sebaiknya kita duduk di atas atap saja, sampai Indra selesai dengan PRnya,” ajak Pratanala.</p>
<p>“Ide bagus, tapi akan lebih seru kalau kita melihat pemandangannya dari ketinggian yang lebih tinggi.”</p>
<p>“Maksudmu?”</p>
<p>“Kita terbang setinggi-tingginya namun tetap pada satu garis lurus dengan rumah ini, sehingga kita bisa melihat kota ini dengan lebih leluasa namun dapat segera menolong Indra kalau-kalau ia butuh bantuan.”</p>
<p>“Tidak buruk, mari kita coba.”</p>
<p>Kedua khodam tersebut terbang dalam garis lurus yang tepat berada di atas rumah Indra. Mereka terbang sampai ketinggian kira-kira 500 meter dari permukaan tanah dan di sana Pratanala memandang dengan kagum pemandangan kota Salatiga di saat menjelang senja.</p>
<p>Mereka terus memandang kemegahan kota masa kini itu nyaris tanpa kedip hingga akhirnya malam hari pun tiba. Jalan-jalan protokol mulai dihiasi oleh lampu-lampu berwarna keemasan. Mobil-mobil tak beroda melayang dengan anggun pada melintasi jalur yang sudah ditetapkan bagi mereka. Di sisi barat terlihat sebuah pesawat jumbo jet mendarat di bandara Diponegoro, Salatiga<a title="" href="#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>“Peradaban yang sungguh berbeda dibandingkan masaku,” ungkap Pratanala sembari melanjutkan, “Di masaku hanya ada kereta kuda ataupun kereta yang ditarik lembu dan gajah. Namun kini aku melihat kereta-kereta yang melayang di udara. Serta kereta besar berbentuk seperti burung tadi sungguh luar biasa gagah dan perkasa.”</p>
<p>“Manusia menamakan kereta yang melayang pada jalanan-jalanan itu sebagai mobil sementara kereta yang lebih kecil dan tak beratap itu disebut sepeda motor. Dahulu sekali kendaraan ini memiliki roda layaknya kereta pada zamanmu namun kini tidak lagi. Manusia sudah menemukan teknologi untuk melawan gravitasi. Adapun burung besi yang kau lihat tadi disebut pesawat terbang,” kata Pramudya menjelaskan</p>
<p>“Ah, andaikan pada masaku benda-benda ini sudah ada maka akan makmur dan sejahteralah rakyat Majapahit.”</p>
<p>“Kamu yakin?”</p>
<p>“Kenapa kau bertanya seperti itu?”</p>
<p>“Karena dengan adanya benda-benda ini, manusia masa kini dipaksa bekerja 18 jam per hari. Mereka hampir tidak ada waktu untuk bersenang-senang, bila kau hidup di masa ini Pratanala, tidak akan ada namanya hiburan di Keputren<a title="" href="#_ftn9">[9]</a>.”</p>
<p>“Waduh, mati saja aku kalau begitu,” keluh Pratanala.</p>
<p>“Kau kan memang sudah mati, hahahahaha!!” tawa Pramudya tergelak-gelak.</p>
<p>“Hahahahaha,” kali ini Pratanala pun tertawa.</p>
<p>Sementara Indra melihat kedua khodamnya akur melalui mata batinnya diam-diam tersenyum sembari terus mengerjakan PRnya. Namun ibunya kemudian memanggilnya, “Indraaa,ayo turun, makan malam sudah siap!”</p>
<p>“Iya, Bu!” jawab Indra sembari mengeset I-padnya pada kondisi ‘hibernate’ lalu turun ke bawah.</p>
<p>Pratanala dan Pramudya pun akhirnya memutuskan kembali ke raga Indra saat itu pula dan beristirahat dalam tubuh remaja itu. Seusai makan malam Indra melanjutkan PRnya sampai pukul 9.00 WIB lalu ia tidur.</p>
<p align="center">********</p>
<p>“Apakah Para Pengendali sudah menyadari akan hal itu?” terdengar suara berat di suatu ruang President Suite suatu hotel mewah di daerah Bandung.</p>
<p>“Tentang bangkitnya Wangsa Kuru? Aku rasa belum. Aku hanya bisa menemukan satu orang Pengendali yang tak lain adalah cucu dari kawanku sendiri,” jawab seorang pria yang tak lain adalah Priyono.</p>
<p>“Dokter Priyono, kami penasaran bisakah kau membuat suatu pendeteksi aura Para Pengendali sehingga kita bisa mengumpulkan mereka dengan cepat?” timpal seorang pria pendek dan gemuk berambut klimis yang duduk berseberangan dengan Priyono.</p>
<p>“Aku bukan mekanik Tuan Sujiwo. Mana mungkin aku membuat benda macam itu?” jawab Priyono.</p>
<p>“Lagipula….,” lanjut Priyono sambil menghela nafas, “akan sangat sulit mendeteksi mereka dengan pendeteksi aura sekalipun karena Para Pengendali yang sudah sadar akan kekuatan mereka dapat menghilangkan jejak mereka dan membuat mereka tidak terdeteksi oleh kita.”</p>
<p>“Sungguh merepotkan,” umpat Sujiwo.</p>
<p>“Tuan-tuan, mohon tenang dahulu. Kita memang tidak bisa mendeteksi mereka semua dengan pendeteksi aura modern yang selama ini kita rancang. Terlebih kita tidak atau tepatnya belum menemukan mekanik yang sanggup mengimplementasikan rancangan kita ini. Para agen kita sudah menjelajah seluruh bengkel mekanik pribadi dari Banda Aceh hingga Mataram namun tidak menemukan satu pun mekanik yang kompeten dan sanggup membuat alat ini. Karena itu Tuan-Tuan ….,” pria itu menghentikan pembicaraannya sebelum akhirnya melanjutkan kembali, “Aku memutuskan untuk mencari mereka dengan cara kuno.”</p>
<p>“Memakai Para Maestro dan Supranaturalis? Apa yang Tuan Pandiangan maksud adalah hal itu?” tanya Sujiwo dengan mata membelalak tidak percaya.</p>
<p>“Ya!” jawab pria itu.</p>
<p>“Mereka tidak dapat dipercaya, Tuan. Bagaimana kita bisa mempercayai badut-badut sok bikin atraksi itu?” seru Sujiwo lantang.</p>
<p>“Tuan Sujiwo, ada beberapa dari antara mereka yang memang benar-benar kompeten di bidang ini. Aku rasa aku bisa menyumbangkan satu nama,” kata Priyono.</p>
<p>“Dan siapa dia?” tanya Pandiangan masih dengan ekspresi datar yang sejak awal pertemuan sudah ia pertahankan.</p>
<p>“Rahman Alamsyah alias …..,” kata-kata Priyono tertahan.</p>
<p>“Empu Sangara,” timpal Pandiangan.</p>
<p>“Ada lagi yang punya usul lain?” tanya Priyono pada anggota pertemuan lainnya yakni seorang pria paruh baya berkacamata bulat dengan wajah pucat dan ceking serta seorang eksekutif muda berkacamata persegi dengan wajah bulat dan tubuh atletis dan rambutnya berminyak karena gel rambut.</p>
<p>“Aku rasa kita patut pula perhitungkan bahwa ia juga termasuk Sang Pengendali,” kata pria pucat dan ceking itu sambil mendorong sebuah map penuh dengan berkas ke arah Pandiangan.</p>
<p>Pandiangan membuka berkas itu dan ekspresinya langsung berubah seketika menjadi pucat pasi. Ia lalu menutup file itu dan berkata, “Tidak, ia bukan Sang Pengendali. Ia adalah Ksatria Alengka.”</p>
<p align="center">********</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Hayam Wuruk</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Khodam bawaan = <em>qorin</em> à khodam yang ikut manusia sejak ia dilahirkan</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Pramudya = bijaksana</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Parasdya = niat</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Trengginas = lincah</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Lembu Sekilan = ajian yang konon digunakan para prajurit Majapahit untuk membuat medan energi di sekeliling tubuh sehingga serangan musuh akan selalu meleset</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Bentuk structure yang menyatakan lampau, ditandai dengan S+V2</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Rekaan penulis akan sebuah bandara di kota Salatiga di masa mendatang</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Bagian dari istana yang merupakan tempat bagi para selir dan gadis-gadis cantik untuk menghibur raja dan pejabat istana</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shamyaza.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shamyaza.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shamyaza.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shamyaza.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shamyaza.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shamyaza.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shamyaza.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shamyaza.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shamyaza.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shamyaza.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shamyaza.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shamyaza.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shamyaza.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shamyaza.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=229&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shamyaza.wordpress.com/2011/07/04/sang-surya-bab-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad52ae32859ba5d07d0149f0acc4324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shamyaza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sang Anarawata Saksana</title>
		<link>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/sang-anarawata-saksana/</link>
		<comments>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/sang-anarawata-saksana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 14:13:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saklas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Amatir]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen amatir]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[fantasy novel]]></category>
		<category><![CDATA[karya anak negeri]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen gratis]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[novel amatir]]></category>
		<category><![CDATA[Novel fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[novel fantasi amatir]]></category>
		<category><![CDATA[novel gratis]]></category>
		<category><![CDATA[novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[penulis amatir]]></category>
		<category><![CDATA[Sang Surya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/sang-anarawata-saksana/</guid>
		<description><![CDATA[Sang Anarawata Saksana  (Cerita ini saya sertakan juga di Fantasy Fiesta 2011 yang diadakan kastilfantasi.com)     Seorang laki-laki berusia 20 tahun berdiri di pintu gerbang sebuah mall di Bandung, lelaki itu bernama Atyasa Denaya. Ya, ia adalah satpam alias petugas keamanan di mall tersebut. Tugasnya… anda tahu sendiri, menangkap pencuri, mengamankan mall dari orang-orang yang mengganggu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=212&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Sang Anarawata Saksana<br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;"> (Cerita ini saya sertakan juga di <strong>Fantasy Fiesta 2011</strong> yang diadakan <strong><a title="Kastil Fantasi" href="http://kastilfantasi.com/" target="_blank">kastilfantasi.com</a></strong>)</p>
<p>    Seorang laki-laki berusia 20 tahun berdiri di pintu gerbang sebuah mall di Bandung, lelaki itu bernama Atyasa Denaya. Ya, ia adalah satpam alias petugas keamanan di mall tersebut. Tugasnya… anda tahu sendiri, menangkap pencuri, mengamankan mall dari orang-orang yang mengganggu ketertiban, dan sebagainya demi menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung dan pedagang di mall tersebut.<span id="more-212"></span></p>
<p>Sudah setahun ia menjalani profesi ini setelah setahun sebelumnya ia lulus dari kuliahnya di D-1 perhotelan sebuah lembaga pendidikan di Bandung ini. Ia bukanlah siswa yang terbaik dan juga tidak bisa memenuhi beberapa kompetensi yang seharusnya ia miliki sebagai seorang alumnus D-1 perhotelan sehingga sulit baginya memperoleh pekerjaan sebagai orang kantoran. Akhirnya bermodal kekuatan fisik dan kepandaiannya bela diri yang telah ia pelajari semenjak SD maka ia dapat masuk menjadi staff keamanan sebuah perusahaan pengembang properti di Bandung dan kemudian ditugaskan menjaga pintu masuk mall ini yang notabene juga merupakan salah satu bidang usaha perusahaan tersebut.</p>
<p>&#8220;Hei, Denaya bengong saja dirimu!&#8221; tegur seorang rekannya sesama satpam.</p>
<p>&#8220;Imam, Kau ini membuat aku kaget saja!&#8221; jawab Denaya kesal.</p>
<p>&#8220;Daripada bengong, mending kamu hisap rokok ini deh,&#8221; kata Imam sambil menyodorkan sebungkus rokok dan sebuah pemantik.</p>
<p>&#8220;Maaf aku tidak merokok,&#8221; jawabnya.</p>
<p>&#8220;Kau ini aneh Denaya, bagaimana kau bisa menghilangkan stress jika tidak merokok?&#8221; kata Imam sembari menyalakan rokoknya.</p>
<p>&#8220;Aku punya caraku sendiri, Imam Tidak harus merokok untuk menghilangkan pikiran penat yang menghinggapi kepalaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya sudah deh. Kamu sekarang piket kan? Aku mau makan siang dulu, kamu titip dibelikan apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nasi rames saja ya, Im.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oke, 10 menit lagi aku kembali dengan membawa sebungkus nasi rames untuk temanku, Tuan Denaya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hush, aneh-aneh saja perkataanmu ini. Sudah sana!&#8221; hardik Denaya sembari mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Imam segera bergegas pergi sebelum waktu istirahatnya habis.</p>
<p>Segera sesudah rekannya itu pergi, Denaya kembali fokus mengamati sesuatu, sesuatu di antara hilir mudiknya pengunjung mall. Dari balik mejanya ia melihat sosok-sosok bukan manusia yang hadir. Jumlahnya 3 makhluk, berpakaian layaknya prajurit kerajaan zaman kuno dan Denaya tahu mau apa makhluk-makhluk itu di sini.</p>
<p>Mall dan perusahaan properti ini dimiliki oleh seseorang bernama Pramudya Kosasih. Tuan Pramudya ini sangat baik pada seluruh pegawainya dan para pegawainya pun amat menyayangi boss mereka ini. Namun layaknya para pebisnis Indonesia yang masih sarat akan perang klenik, makhluk-makhluk yang hadir di depan mall inipun adalah hasil daripada serangan rival bisnis Pramudya Kosasih.</p>
<p>&#8220;Anggana Raras, dan Anggana Prakarta keluarlah!&#8221; seru Denaya dalam hati.</p>
<p>Maka muncullah dua sosok makhluk, sepasang muda-mudi yang wajahnya bak pinang dibelah dua di samping kanan dan kiri Denaya. Kedua makhluk itu adalah perwujudan pribadi Denaya dan mendampingi Denaya semenjak ia masih belum bisa bicara. Mereka adalah makhluk yang disebut <em>khodam</em>, shiki, atau roh penjaga. Kedua <em>khodam</em> itu segera memahami mengapa Denaya memanggil mereka. Dengan sigap kedua mekhluk itu menarik pedang mereka dari sarungnya dan menerjang ketiga makhluk bukan manusia di depan mall tersebut.</p>
<p>Raras dan Prakarta menyabetkan pedang mereka ke kepala salah satu makhluk itu dan makhluk itu pun musnah menjadi serpihan-serpihan kecil. Kedua rekannya pun balas menyerang, salah satunya bersenjatakan gada dan satunya lagi bersenjatakan tombak. Namun Raras dan Prakarta dengan gesit berkelit dari serangan tadi dan malah melakukan serangan balasan yang memotong tubuh kedua makhluk tadi menjadi 2. Sesudah melakukan hal itu Raras dan Prakarta juga turut menghilang, kembali ke dalam raga Denaya. Kejadian tadi berlangsung tak lebih dari 20 menit dan tidak lama sesudah itu Imam kembali membawakan Denaya nasi rames dan Denaya pun makan siang dengan lahap.</p>
<p>Pramudya Kosasih sendiri dikaruniai bakat melihat sesuatu yang tak kasat mata sejak lahir, ia sudah melihat hantu, jin, arwah, dan aneka makhluk halus lainnya. Karena memiliki bakat seperti itulah maka ia sudah sadar akan keberadaan tiga makhluk astral yang merupakan kiriman dari rival bisnisnya dan hendak menyakitinya. Ia sebenarnya sudah mempersiapkan diri menghadapi mereka dengan kekuatan yang ia miliki, namun alangkah terkejutnya ia melihat ada 2 sosok astral lainnya menghadapi mereka dan menghabisi para <em>khodam</em> yang hendak menyakitinya itu.</p>
<p>&#8220;Siapa kiranya pemilik kedua <em>khodam</em> itu?&#8221; tanya Pramudya dalam hati namun ia memutuskan tidak menghiraukan dahulu masalah ini karena setengah jam lagi ia harus rapat dengan bagian pemasaran.</p>
<p>Sementara Atyasa Denaya masih dengan sigap mengawasi keamanan mall tersebut hingga jam kerjanya berakhir pada pukul 18.00. Sesudah tugasnya selesai ia langsung menaiki motor butut yang ia beli dari dealer motor bekas dan masih belum lunas itu kembali ke rumah kostnya.</p>
<p>Di sisi lain di sebuah rumah megah di pusat kota Bandung tampaklah seorang pria paruh baya sedang uring-uringan melihat paranormal yang ia sewa untuk membunuh Pramudya Kosasih itu gagal melaksanakan tugasnya. Dengan garang ia berkata pada paranormal tersebut, &#8220;Kalau anda masih tidak bisa membunuh Pramudya Kosasih sampai akhir minggu ini maka aku akan cari orang lain untuk membunuhnya!!&#8221;</p>
<p>Paranormal yang sudah tua itu hanya bisa menunduk malu. Selama ini tidak ada orang yang bisa mengalahkan serangan gaib dari dirinya, Langer Pragalba. Maka ia mohon diri dahulu dari hadapan kliennya dan pulang menuju rumahnya. Di sana ia bermeditasi, berkonsentrasi dengan segenap indranya dan konsentrasinya dipusatkan pada satu tujuan mencari orang yang bisa mematahkan serangannya tadi.</p>
<p>Lama dan lama Pragalba berkonsentrasi mencari keberadaan orang yang sudah menbuatnya malu tadi. Ia mencari lagi dan … ia mendapatkannya. Ia melihat seorang pemuda yang bekerja sebagai petugas keamanan di mall tersebut memiliki dua <em>khodam</em> kembar sakti yang mengalahkan tiga <em>khodam</em> yang ia kirim tadi. &#8220;Ini dia orangnya, besok pagi aku akan buat perhitungan dengannya.&#8221;</p>
<p>Sementara itu Denaya langsung tidur dengan lelap di kamar kostnya yang kecil dan cenderung kumuh, di sebuah daerah di belakang mall tempat ia bekerja. Begitu jarum jam menunjukkan pukul 03.00 maka bangunlah dia dan langsung menyambar handuk, mandi, kemudian membantu induk semangnya membersihkan halaman rumah.</p>
<p>Induk semangnya amat menyukai Denaya, karena ia rajin, ramah, dan juga ringan tangan. Karena itu tidak heran jika induk semangnya sering memberikan gratis sewa bahkan pernah selama 3 bulan khusus untuk Denaya. Denaya sendiri sebenarnya tidak mengharapkan balasan semacam itu, ia cuma kasihan melihat setiap hari induk semangnya harus membersihkan halaman rumahnya yang cukup rimbun sendirian di usianya yang sudah hampir menginjak 70 tahun.</p>
<p>Pagi itu induk semangnya kedatangan seorang tamu, seorang pria paruh baya, kurus dan tinggi dengan muka cekung. Pria itu memakai pakaian hitam-hitam, kemejanya hitam dipadukan dengan celana panjang hitam. Pria itu tak lain adalah Langer Pragalba. Induk semang rumah kost itu kemudian memanggil Denaya ke ruang tamu, &#8220;Naya, ada tamu untukmu, ibu hendak ke belakang dahulu menyiapkan suguhan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, iya, terima kasih, Bu.&#8221;</p>
<p>Denaya segera menghampiri orang tersebut dan memberi salam lalu duduk di sofa dan mulai bicara, &#8220;Maaf, ada keperluan apa ya Bapak kemari?&#8221;</p>
<p>Orang itu mengatupkan kedua telapak tangannya di depan bibirnya sembari menjawab, &#8220;Dik Denaya ini bukan orang biasa bukan? Adik dapat melihat segala makhluk tak kasat mata yang ada di dunia ini bukan?&#8221;</p>
<p>Denaya terkejut mendengar kata-kata orang itu, seumur hidupnya baru kali ini ia mendengar seseorang mengetahui rahasianya sebagai anak <em>indigo</em>. Namun orang itu kemudian melanjutkan, &#8220;Dan saya juga tahu bahwa anda mengacaukan pekerjaan saya kemarin dengan menghancurkan tiga <em>khodam</em> yang saya kirim untuk membunuh Pramudya Kosasih!&#8221; sambil mengepalkan telapak tangan kirinya dan menimbulkan suara gemeretak.</p>
<p>Jantung Denaya nyaris copot mendengar fakta bahwa orang ini adalah orang yang hendak mencelakakan majikannya. Dalam hatinya ada rasa yang campur aduk antara marah, gamang, takut, dan prihatin. Pragalba langsung melanjutkan, &#8220;Malam ini, di Padang <em>Jedeng</em> di kaki Gunung Tangkubanprahu, aku akan menunggumu di sana dan kita tuntaskan masalah kita. Sekarang, saya permisi dahulu.&#8221;</p>
<p>Pragalba segera keluar dari ruangan itu lalu berpamitan pada Ibu Atik pemilik rumah kost tersebut yang kebingungan karena tamunya cepat-cepat pulang. Kemudian ia menaiki motornya kemudian memacu motornya entah ke mana. Denaya sendiri masih termangu atas kejadian tadi. Ia benar-benar tidak percaya apa yang telah ia lakukan kemarin harus membuatnya berurusan dengan orang yang bukan orang sembarangan.</p>
<p>Sumpah setia seseorang yang melekat terus, seakan menjadi bukti bahwa adanya ikatan takdir yang tak bisa diputuskan dari dunia ini. Itulah yang sebenarnya terjadi pada Pramudya dan Denaya. Ia dan Pramudya terikat perjanjian gaib sebagai pelindung Pramudya semenjak masa leluhur mereka dahulu. Denaya merasa ia sangat berkewajiban menolong Pramudya Kosasih dari segala ancaman makhluk astral ini. Sungguh ia benar-benar tidak tahu mengapa ia harus melakukan hal itu, namun ia benar-benar merasa bahwa ia harus melakukannya.</p>
<p>Malam itu Denaya menaiki motornya ke arah Gunung Tangkubanprahu, ia bertanya pada penduduk sekitar lereng gunung mengenai Padang Jedeng tapi tiada satu orangpun yang mengetahui di mana padang itu berada. Karena tidak jua menemukan letak padang itu, ia memanggil Anggana Raras, menanyakan di mana letak padang itu. Raras kemudian terbang menjauh sembari berkata, &#8220;Ikuti aku Denaya!&#8221;</p>
<p>Sepeda motor Denaya menembus gelap malam yang pekat menuju daerah jalan setapak tidak beraspal. Di sana amat gelap dan tidak mungkin dilalui oleh motor, maka Denaya memutuskan turun dari motornya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ia berjalan mengikuti Raras yang akhirnya berhenti di suatu padang rumput di tengah hutan.</p>
<p>&#8220;Aku kira kau sudah dimangsa <em>dhemit</em>, Denaya. Sudah lama aku menunggumu di sini!&#8221; seru Pragalba dari kejauhan.</p>
<p>&#8220;Maaf aku sudah membuat Eyang menunggu,&#8221; jawab Denaya sopan.</p>
<p>&#8220;Ha, kau masih punya tata krama anak muda,&#8221;jawab Pragalba sambil tersenyum sinis.</p>
<p>&#8220;Ada apa Eyang memanggilku kemari?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada apa? Tentu saja untuk menghabisimu anak muda. Anak muda sok tahu yang telah turut campur dengan urusanku membunuh Pramudya. Gara-gara dirimu aku menjadi malu besar di hadapan klienku yang menginginkan kematian Pramudya! Dan semua itu gara-gara kau dan dua <em>khodam</em> kembar sialanmu!!! Sekarang, bangkitlah <em>Danyangan Panenggak Ridhu</em>!!!!&#8221;</p>
<p>Seketika muncullah sekumpulan jin-jin berukuran raksasa yang jumlahnya ribuan berdiri di belakang Pragalba. Begitu Pragalba memberi isyarat menyerang majulah mereka semua menuju ke arah Denaya dengan senjata teracung. Denaya hanya berdiri dengan tenang, lalu berujar dalam hati, <em>&#8220;Anggana Raras, Anggana Prakarta, Eyang Rintang, Kyai Umet, dan Gurdaka keluarlah dan beri mereka pelajaran!&#8221;<br />
</em></p>
<p>Seketika itu muncullah kedua <em>khodam</em> kembar, dua orang <em>khodam</em> kakek tua berpakaian seperti pejabat istana, dan seorang <em>khodam</em> pria botak bertubuh kekar layaknya raksasa. Mereka langsung membabat habis barisan terdepan dari Danyangan Panenggak Ridhu itu dengan mudah.</p>
<p>Sementara para <em>khodam</em>nya bertarung dengan <em>khodam</em> Denaya, Pragalba langsung menyerang Denaya dan melancarkan pukulan-pukulan mematikan ke arah Denaya, namun Denaya selalu dapat berkelit. Ia bergerak dengan lincah sembari menangkis setiap serangan Pragalba dengan tangan dan kakinya.</p>
<p>Sesaat kemudian Pragalba berhenti menarik nafas, Denaya melihat hal tersebut dan segera memasang kuda-kuda, lalu menyerang Pragalba dengan suatu kepalan tangan yang penuh dengan energi tenaga dalam. Pragalba dengan enteng merapal mantra perisai energi yang menyelubungi tubuhnya, namun perisai itu ternyata tidak berguna dan langsung pecah ketika menerima pukulan dari Denaya. Pragalba kemudian berkelit ke belakang, mencoba mengambil jarak dari Denaya, namun kaki kiri Denaya sudah menghantam pipi kanannya secara telak dan ….. menghempaskan kakek tua itu ke arah semak belukar yang penuh duri tajam. Pragalba segera bangkit merapal mantra aji-ajian yang tidak dipahami Denaya, tapi Denaya tidak peduli, ia segera mengarahkan pukulannya ke arah Pragalba namun … pukulannya meleset.</p>
<p>Denaya heran kenapa pukulannya bisa meleset padahal dia sudah jelas-jelas mengarahkan pukulannya tepat ke wajah Pragalba. Ia bersalto di udara mengarahkan tendangannya lagi ke Pragalba sambil terus berpikir mengenai keanehan tersebut, dan … terjadi lagi hal yang sama, seolah ada sesuatu yang kenyal melindungi tubuh Pragalba dari pukulan. Pragalba kemudian melayangkan pukulannya yang sarat tenaga dalam ke arah perut Denaya dan Denaya pun terlontar ke udara sebelum akhirnya terhempas kembali ke tanah dengan keras.</p>
<p>&#8220;Lembu Sekilan!!&#8221;seru Denaya terkejut setelah susah payah mencoba bangkit.</p>
<p>&#8220;Oooo, kau tahu juga soal itu anak muda?&#8221; sahut Pragalba mengejek.</p>
<p>&#8220;Jangan kira aku anak kemarin sore, Eyang! Begini-begini aku juga tahu soal ilmu itu. Tapi tampaknya kau sudah bangga akan kemampuanmu mengasai ilmu kacangan itu yah?&#8221; ujar Denaya balas mengejek.</p>
<p>&#8220;Ilmu kacangan????!!!&#8221; seru Pragalba dengan wajah memerah menahan amarah, &#8220;Jangan sombong kau!!! Coba saja kau serang aku ratusan kali sekalipun, tidak akan bisa kau mengalahkan aku!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh ya? Taruhan aku akan mengalahkan Eyang dalam waktu kurang dari 30 menit,&#8221; jawab Denaya sambil tersenyum penuh arti. Ia kemudian mengatupkan kedua belah telapak tangannya di depan dada, lalu memusatkan segala perhatiannya dan mengucapkan bait-bait mantra.</p>
<p>Pragalba menarik sebilah keris dari balik saku jubahnya lalu berseru, &#8220;Keris Sang Guruh ini akan mencabut nyawamu, Nak!&#8221;</p>
<p>Pragalba berlari ke arah Denaya yang masih tetap berdiri dengan tenang sambil memejamkan mata. Ia lalu menusukkan keris itu ke arah jantung Denaya namun tiba-tiba Denaya membuka matanya sambil berseru, &#8220;Pancasona!!!&#8221;</p>
<p>Dari tangan Denaya muncullah sinar merah, kuning, hijau, biru, dan hitam yang mendorong Pragalba sejauh 3 meter dari tempatnya semula. Pragalba mencoba bertahan mati-matian menahan serangan itu namun dinding pertahanannya rusak dan sinar itu memberikan pukulan yang amat kuat yang membuatnya serasa ditabrak oleh dua buah truk secara bersamaan. Ia jatuh tersungkur dan darah segar mengalir dari dalam mulutnya. Denaya kemudian berjalan menghampirinya.</p>
<p>Dukun itu menyerah kalah di hadapan Denaya, dengan mulut masih mengeluarkan darah, ia bersujud memohon ampun pada Denaya, &#8220;Maafkan aku anak muda. Aku berjanji tidak akan mengganggu ketentraman keluarga Pramudya Kosasih lagi. Tapi tolong jangan bunuh aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak akan membunuh Eyang. Bukan hakku mencabut nyawa yang Eyang miliki dan sudah sepantasnya pula Eyang tidak mencabut nyawa orang lain yang bukan milik Eyang.&#8221;</p>
<p>Dukun itu mengernyit keheranan, tidak biasanya ada orang mau memaafkannya semudah itu namun ia kemudian paham akan jalan pikiran pemuda ini serta siapa sebenarnya dia, Pragalba lalu merogoh saku bajunya,&#8221;Aku akan memberikanmu ini anak muda,&#8221; kata Si Dukun Tua itu sembari mendekati Denaya dan memberinya sebuah cincin batu berwarna jingga mengkilat. &#8220;Apa ini?&#8221;tanya Denaya?</p>
<p>&#8220;Cincin Amogasidi, sudah seharusnya ia menjadi milikmu Sang Anarawata Saksana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eyang tahu soal iu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja, seluruh kalangan supranaturalis setelah ini akan tahu mengenai dirimu. Jika dirimu sudah bangkit maka kau akan mengawal seorang ratu adil bagi negeri ini. Karena itu bawalah cincin itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eyang tidak menyesal memberikannya padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu adalalah milikmu di kehidupan yang lampau, anak muda. Sekarang bukankah sudah saatnya kau mengabdi kembali pada rajamu, Denaya? Bukan…. Anarawata Saksana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana pertanggung jawaban Eyang pada klien Eyang yang ingin Eyang membunuh Tuan Pramudya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku akan katakan padanya bahwa aku tidak sanggup membunuh Pramudya dan akan merekomendasikan paranormal lain. Tapi jika menyadari keberadaanmu sekarang maka tidak akan ada satupun paranormal negeri ini yang akan bersedia membunuh Pramudya.&#8221;</p>
<p>Denaya melempar senyum pada dukun tua itu dan Pragalba juga membalas senyumnya. Ia kemudian berjalan menjauh dari lapangan itu. Kemudian ia dengan perlahan-lahan berjalan menjauh, menuju arah rumah kostnya. Peristiwa hari itu membuatnya makin mengetahui tujuan hidupnya. Dalam perjalanannya kembali ke rumah ia berjanji dalam hati, &#8220;Tuan Pramudya, trah Kanjeng Prabu Parikesit, mulai sekarang aku akan melindungi anda dan anak keturunan anda sampai ada anak keturunan anda yang mampu menjadi Ratu baru di negeri ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sudah menyadari bahwa Anarawata Saksana akan bangkit menjaga aku dan anak-cucuku dari marabahaya musuh-musuhku, sekali ia bangkit maka tiada satupun musuh yang perlu aku takuti karena ia adalah penguasa segala mantra dan ilmu kanuragan, penakluk segala makhluk baik astral maupun nyata. Dan dengan kemauannya sendiri mengabdikan seluruh hidupnya untuk melindungi trah keturunan Parikesit,&#8221; sahut seseorang dari balik rerimbunan pohon.</p>
<p>Denaya terkejut akan suara itu lalu menoleh ke arah suara itu berasal dan mendapati Pramudya sudah berada di sana. Ia berdiri tenang dalam balutan jas satin biru tua, kemeja putih, dan dasi merah. Tampil layaknya seorang pejabat dengan wibawa jauh di atas rata-rata pejabat. Ada suatu wibawa kuat terpancar dari dalam dirinya, wibawa yang hanya dimiliki seorang raja agung. Denaya segera berlutut di hadapan Pramudya tanpa bisa berkata apa-apa, lalu Pramudya menghampiri Denaya dan berkata, &#8220;Aku terima sumpahmu Denaya, jadilah Anarawata Saksana bagiku dan keluargaku. Dan mengabdilah pada kami hingga tiba waktumu untuk beristirahat dari segala kewajibanmu dan muncul Anarawata Saksana berikutnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hamba siap melaksanakan titah, Tuanku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Maka ini titah pertamaku, ayo kita kembali ke Bandung, masih banyak hal yang harus kita lakukan.&#8221;</p>
<p>Pramudya merangkul Denaya dan bersama-sama mereka turun menuju kaki Gunung Tangkubanprahu, lalu kembali ke Bandung di mana sejak saat itu Pramudya memberikan kepercayaan pada Denaya untuk menjadi kepala pengawalnya.</p>
<p>Tahun-tahun berlalu dan tak terasa ini sudah tahun 2105. Suasana Indonesia sudah berubah, mobil-mobil tak lagi berjalan menggunakan roda melainkan sudah menggunakan alat anti gravitasi sehingga mobil-mobil melayang di udara. Di zaman ini tiada lagi yang namanya asap kendaraan, karena seluruh bahan bakar kendaraan adalah hidrogen. Di zaman ini, di bundaran HI Jakarta tampaklah sesosok pria berusia 30 tahunan berpidato dengan suara membahana. Ia berpidato dengan bersemangat mengenai perubahan-perubahan apa yang harus dilakukan untuk membuat perubahan di negeri ini. Pria itu bernama Sena Kosasih, cicit dari putra pertama Pramudya Kosasih, yang saat ini menjadi politikus kawakan di negeri ini.</p>
<p>Sesudah ia selesai dengan pidatonya itu, kembalilah ia ke belakang tribun di mana para ajudannya yang berjumlah 20 orang sudah mempersiapkan diri dengan senjata lengkap untuk mengawalnya kembali ke Senayan. Di sana seorang ajudannya berkata, &#8220;Saya sudah menyewa beberapa pengawal pribadi untuk mengawal Bapak kembali ke Senayan&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak perlu semua itu, cukuplah aku, sopir dan dan sekretarisku saja yang mengawalku,&#8221; katanya sembari bergegas menuju mobilnya meninggalkan ajudan tadi dengan terbengong-bengong dan penuh rasa khawatir akan keselamatan Sena. Di dalam sana ada seseorang, seorang pria berusia 30 tahunan akhir yang sibuk mencatat agenda kegiatan Sena selama seharian ini di sebuah PC tablet, namun tiba-tiba ia meletakkan PC tabletnya, melepas kacamata bacanya dan kemudian berbicara pada Sena, &#8220;Mengapa engkau tidak ijinkan mereka mengawalmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak membutuhkan pengawalan seperti itu, Paman. Seorang pemimpin harusnya adalah pelindung bagi rakyatnya bukan sesuatu yang dilindungi rakyatnya,&#8221; jawab Sena datar.</p>
<p>&#8220;Bagaimana jika ada orang yang mengincar nyawamu?&#8221; tanya pria itu lagi.</p>
<p>Sena tersenyum simpul dan memandang tajam pada pria itu sembari berkata, &#8220;Maka pada saat itu aku mengandalkanmu Paman Denaya, Anarawata Saksana para trah<strong><br />
</strong>Parikesit untuk melindungku dari segala marabahaya.&#8221;</p>
<p>Pria itu tersenyum dan kemudian menjawab, &#8220;Ada baiknya Adinda Sena ini mulai belajar mengandalkan orang lain. Kalau-kalau sewaktu-waktu saya mati terbunuh bagaimana coba? Hahahahaha!!&#8221;</p>
<p>Tawa Sena pun pecah dan kedua orang itu pun tertawa bersama, sementara mobil itu bergerak menuju kantor Sena di Gedung DPR di Senayan.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Tamat</strong></p>
<p>Keterangan :</p>
<ol>
<li>Anarawata Saksana = Penjaga yang senantiasa menjaga</li>
<li>Khodam = Jin dengan kemampuan khusus yang biasanya digunakan untuk mengisi daya pada suatu benda pusaka atau mengawal seseorang</li>
<li>Anak Indigo = Anak yang lahir dengan kemampuan khusus</li>
<li><em>Jedeng</em> =Kematian</li>
<li>Khodam =Makhluk halus</li>
<li>Parikesit = adalah putra dari Abimanyu, cucu Arjuna. Kelak akan menjadi Raja Astina. Angling Dharma dipercaya merupakan salah satu keturunannya</li>
<li>Ratu = Raja dalam bahasa Jawa</li>
</ol>
<p>Cerita ini merupakan alternative story dari <a title="Novel Sang Surya" href="http://shamyaza.wordpress.com/category/novel/sang-surya/" target="_blank">Novel Sang Surya</a> yang juga saya karang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shamyaza.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shamyaza.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shamyaza.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shamyaza.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shamyaza.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shamyaza.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shamyaza.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shamyaza.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shamyaza.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shamyaza.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shamyaza.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shamyaza.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shamyaza.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shamyaza.wordpress.com/212/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=212&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/sang-anarawata-saksana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad52ae32859ba5d07d0149f0acc4324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shamyaza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saya Mau Jadi Dokter?</title>
		<link>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/saya-mau-jadi-dokter/</link>
		<comments>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/saya-mau-jadi-dokter/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 13:54:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saklas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Amatir]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen amatir]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen gratis]]></category>
		<category><![CDATA[penulis amatir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shamyaza.wordpress.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : tico.berries Sumber asli : fictionpress.com &#160; &#160; Ini merupakan cerita fiksi/nonfiksi. Mengapa? Karena sebagian fiksi itu terlalu indah dan sebagian non fiksi itu tidak indah. Cerita ini memang sepertinya lebih layak di tampilkan di blog, tapi berhubung si penulis bukan tipe orang yang bisa melampiaskan isi hatinya begitu saja dan karena cukup banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=206&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : <a href="http://www.fictionpress.com/u/747717/tico_berries">tico.berries</a></p>
<p>Sumber asli : <a title="Saya Mau Jadi Dokter?" href="http://www.fictionpress.com/s/2919071/1/Saya_mau_jadi_dokter" target="_blank">fictionpress.com</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ini merupakan cerita fiksi/nonfiksi. Mengapa? Karena sebagian fiksi itu terlalu indah dan sebagian non fiksi itu tidak indah. Cerita ini memang sepertinya lebih layak di tampilkan di blog, tapi berhubung si penulis bukan tipe orang yang bisa melampiaskan isi hatinya begitu saja dan karena cukup banyak blogger di indonesia, jadilah cerita ini di tulis di fictionpress. Karena menurut si penulis, belum banyak orang yang berbahasa Indonesia yang baca karangan bahasa Indonesia di fictionpress. Jadilah tujuan si penulis pun tercapai. Ingin membuka isi hatinya pada dunia, tapi cukup sedikit saja yang tahu.<span id="more-206"></span></p>
<p>&#8220;Kenapa kamu mau jadi Dokter?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan yang tampaknya mudah, tapi kenyataannya sulit sekali untuk dijawab. Makanya, sebisa mungkin aku menghindari pertanyaan-lima-kata itu—karena jujur saja, aku masih belum tahu jawaban yang &#8216;benar&#8217;. Tapi, kalau sudah terjebak, dan tidak bisa melarikan diri lagi, terpaksa aku harus menjawab dengan pernyataan-pernyataan klise yang telah dipakai orang-orang sebelumnya yang berada didalam situasi yang sama, seperti:</p>
<p>1.&#8221;Karena disuruh orangtua.&#8221; Yang merupakan jawaban yang paling salah. Karena si penanya akan merespon dengan &#8220;Itu kan masa depan kamu, bukan orangtuamu.&#8221; Dan kalau sudah begitu, kamu pun cuma akan terdiam membisu.</p>
<p>2.&#8221;Karena orangtua saya dokter.&#8221; Jawaban yang sebenarnya engga terlalu nyambung sama pertanyaannya. Tapi, percaya engga percaya bisa dipakai, dan lumayan efektif—kemungkinan karena banyak orang yang menganut paham &#8216;Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya&#8217;. Dan untuk yang orangtuanya bukan dokter, jangan berkecil hati. Jawaban diatas bisa dipakai juga, kok—tentunya kalau si penanya adalah orang-orang yang engga tahu apa pekerjaan orangtua kamu.</p>
<p>3.&#8221;Karena kaya.&#8221; Jawaban yang belum tentu benar. Karena TIDAK semua dokter berduit. Dan lagi, untuk jadi kaya, kamu TIDAK harus jadi dokter. Dan tentunya dengan menjawab dengan pernyataan ini, si penanya akan berasumsi kalau kita adalah orang yang materialistis.</p>
<p>4.&#8221;Karena mau cari pahala yang banyak.&#8221; Jawaban ini SALAH BESAR. Penjelasannya adalah karena biasanya si penanya akan menanggapi dengan &#8220;Guru juga banyak pahalanya, kenapa engga jadi guru?&#8221;. Yang kemudian akan kamu balas dengan &#8220;Tapi kerenan jadi dokter.&#8221; Lihat sendiri kan? SALAH BESAR. Karena kamu tidak boleh membanggakan pekerjaan satu dengan menjatuhkan pekerjaan lain. Jadi, SALAH BESAR. Dan siapa yang bilang jadi dokter lebih keren dari guru? Phefw.</p>
<p>5.&#8221;Karena saya suka menolong orang.&#8221; Hahahahahahahahahahahahaha. Jawaban klise. Biasanya si penanya akan merespon dengan salah satu dari aktivitas ini: tawa engga ikhlas, tawa terbahak-bahak, wajah bengong, atau semuanya.</p>
<p>6.&#8221;Karena… apa ya?&#8221; Kasih keterangan sendiri.</p>
<p>Intinya, aku masih bingung dengan pertanyaan &#8216;kenapa-kamu-mau-jadi-dokter&#8217;. Dan ditengah kebingungan yang berkepanjangan ini, tiba-tiba Kak Tantri datang ke kelas dan menanyakan pertanyaan &#8216;kau-tahu-apa&#8217; itu—biar keren kayak &#8216;you-know-who&#8217; alias &#8216;kamu-tahu-siapa&#8217; nya Harry Potter (bagi yang engga mengerti kejayusanku ini, sangat disarankan untuk membaca buku Harry Potter pertama).</p>
<p>Kak Tantri, yang merupakan guru pembimbing/guru TPA di bimbelku (sebut saja &#8220;SMART&#8221;), dengan tanpa berdosanya membuat tema &#8216;pelajarannya&#8217; hari ini adalah untuk mencari tahu apa pilihan jurusan dan universitas yang kita inginkan. Alhasil dia-dia yang mau jadi dokter pastilah ada yang akan menjawab dengan pernyataan-pernyataan yang telah kusebut tadi. Dan benar saja, secara detail: tiga orang menjawab dengan pernyataan 1, satu orang menjawab dengan pernyataan 4, satu orang menjawab dengan pernyataan 5, dan dua orang menjawab dengan pernyataan 6.</p>
<p>Dari sesi tanya-jawab Kak Tantri, aku menemukan tambahan satu jawaban klise dan satu jawaban yang klise/non klise (tidak bisa aku kategorikan, jawaban yang ini termasuk mana). Yaitu:</p>
<p>7.&#8221;Karena dari dulu itu cita-cita saya.&#8221; Diberi jawaban ini, Kak Tantri merespon dengan &#8220;Iya, Dek. Semua juga punya cita-cita, tapi kenapa cita-cita kamu mau jadi dokter?&#8221; Yang kemudian dibalas dengan siswa tersebut dengan pengulangan jawaban yang pertama. Lalu Kak Tantri bertanya lagi &#8220;Iya, kakak ngerti, tapi kenapa kamu pilih dokter?&#8221; Kembali siswa itu menjawab dengan pernyataan yang sama. Begitulah seterusnya. Intinya, jawaban ini termasuk jawaban yang mungkin efektif—karena bisa membuat bingung dan capek si penanya, sehingga si penanya akan kehilangan hasrat untuk bertanya lagi. Mission completed.</p>
<p>8.&#8221;Karena itu adalah pekerjaan yang engga ada pensiunnya.&#8221; Jenius. Ketika mendengar pernyataan ini, menurutku jawaban ini jenius, sampai Kak Tantri merespon dengan &#8220;Iya, Dek. Tapi memang kamu mau jadi dokter sampai usia berapa?&#8221; Well, aku tetap menganggap jawaban ini CUKUP jenius. Patut dicoba.</p>
<p>Hari yang cukup menarik di &#8220;SMART&#8221; (tempat bimbel). Thanks, Kak Tantri. Lumayan, dapat dua referensi jawaban. Oh, by the way, buat kamu-kamu yang mau jadi dokter (atau yang mau untuk sejenak mengandai-andaikan dirinya ingin menjadi dokter):</p>
<p>&#8220;Kenapa kamu mau jadi dokter?&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shamyaza.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shamyaza.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shamyaza.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shamyaza.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shamyaza.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shamyaza.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shamyaza.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shamyaza.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shamyaza.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shamyaza.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shamyaza.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shamyaza.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shamyaza.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shamyaza.wordpress.com/206/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=206&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/saya-mau-jadi-dokter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad52ae32859ba5d07d0149f0acc4324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shamyaza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bawah Rembulan</title>
		<link>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/bawah-rembulan/</link>
		<comments>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/bawah-rembulan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 13:48:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saklas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen dari Surat Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen amatir]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya anak negeri]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen gratis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shamyaza.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Disadur dari : Lampung Post Minggu, 23 Desember 2007 Pengarang: F. Moses AWALNYA aku takut. Lama-lama jadi terbiasa. Hidup bersama orang-orang masa lalu di kota ini. Tanpa siang. Semua waktu adalah malam. Kadang hadir sebuah rembulan di langit. Membuatku senantiasa merasa sunyi walaupun sebenarnya aku suka sekali melihat rembulan. Malam rembulan. Seorang penduduk, salah satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=203&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disadur dari :<br />
Lampung Post<br />
Minggu, 23 Desember 2007</p>
<p>Pengarang: F. Moses</p>
<p>AWALNYA aku takut. Lama-lama jadi terbiasa. Hidup bersama orang-orang masa lalu di kota ini. Tanpa siang. Semua waktu adalah malam. Kadang hadir sebuah rembulan di langit. Membuatku senantiasa merasa sunyi walaupun sebenarnya aku suka sekali melihat rembulan. Malam rembulan.<span id="more-203"></span></p>
<p>Seorang penduduk, salah satu dari orang-orang masa lalu, pernah berkata padaku, kalau sebenarnya mereka letih untuk kembali bekerja ketika siang hari. Karena itulah mereka berkeputusan membakar siang. Membakar matahari.</p>
<p>Memang sudah lama aku mendengar kala waktu?yang katanya tanpa siang di kota ini. Siang sudah tak ada lagi. Siang telah menjadi malam. Kadang mereka juga kerap berpetuah pada pendatang yang kebingungan kerena menetap di kota yang selalu malam. Dalam ingatan, selintas petuah mereka terdengar: kau tak perlu ragu, jika hendak menetap di kota ini. Kata itulah yang masih terngiang sampai saat ini. Jangan pernah ragu.</p>
<p>Ya. Selalu terngiang. Lantas, aku kembali berpikir, kenapa cemas? Cemas bagian sisi manusia. Kerap menghancurkan.</p>
<p>Tentang cemas, bagi orang-orang masa lalu hanyalah milik orang tak punya rasa syukur. Makanya, dahulu orang-orang masa lalu sepakat membakar matahari yang baginya membuat letih dan cemas. Terkadang sakit. Entah sakit yang bagaimana. Karena terbit sampai tenggelam matahari hanya menjadikannya bekerja. Alasan cengeng. Tapi sekarang mereka senang, petanda separuh hari telah mereka bakar. Semata, supaya tidak bekerja. Kalaupun bekerja, paling hanya untuk tidur. Tindakan aneh. Tidak masuk akal, tapi begitulah kedaannya. Begitulah seterusnya.</p>
<p>Di hari yang selalu malam ini, terkadang aku melihat anak-anak kecil tampak riang bergembira tanpa beban. Betis ceking tanpa alas kaki, sambil bertelanjang dada, berlarian mengitari lapangan. Kembali lagi, dalam ingatanku, konon hal tersebut bagi mereka adalah ritual. Petanda bentuk penghormatan terhadap leluhur orang-orang masa lalu. Setiap hari mereka lakukan itu, sambil mengitari api unggun, mulai anak-anak sampai orang tua. Berkeliling. Begitulah seterusnya.</p>
<p>Sekali lagi, setiap hari malam rembulan. Dalam tatapan aku selalu melihat anak-anak berlarian. Saling kejar-kejaran. Dan remaja berpasang-pasangan, para orang tua asyik duduk tenang di setiap balkon depan rumahnya. Mereka menikmati malam. Malam bersahaja. Malam tak pernah mati.</p>
<p>Dalam sepanjang malam seperti ini, aku menikmati. Malam rembulan. Aku ingin mengerti semua ini. Aku tidak tahu, mengapa sedemikian berani mereka membakar siang. Aku makin hanyut oleh rasa ingin tahu. Menggelisahkan.</p>
<p>***<br />
Sungguh unik kehidupan di kota ini. Semua orang mampu menikmati kehidupan seperti ini. Barangkali inilah suatu kehidupan yang tak pernah ada di muka bumi ini. Kota tanpa siang. Selalu malam. Tanpa matahari.</p>
<p>Seperti tadi aku bilang, sekali lagi, semua orang mampu menikmati kehidupan seperti ini. Kecuali, perempuan itu. Sering aku memperhatikannya menyendiri. Sebenarnya hal itu kuperhatikan sejak pertama kali di kota ini. Aku tidak tahu namanya. Kerap aku memperhatikan, setiap gelagatnya jauh seperti perempuan umumnya yang selalu mampu menikmati malam. Tapi, sepertinya ia justru ternikmati sebagai suatu kesunyian. Bermain sunyi. Barangkali.</p>
<p>Suatu ketika, aku memandangnya dari kejauhan. Ia jauh dari keramaian umumnya. Dengan langkah amat perlahan aku mendekatinya. Aku mendengar isak tangis perempuan itu. Sekali lagi, kembali aku tak tahu. Entah kenapa ia menangis. Aku pun ragu untuk lebih mendekat. Hanya bertanya dalam hati. Menduga-duga.</p>
<p>Dugaan salah. Di malam rembulan ini, yang tanpa siang, masih ada perempuan menangis. Menangis setiap saat. Sepengetahuanku, sejak kota ini menjadi malam tanpa siang, sungguh penuh suka cita. Tanpa duka. Terlebih oleh perempuan tengah menangisi kota ini. Kotanya sendiri. Sekali lagi, aku makin hanyut oleh rasa ingin tahu&#8211;selain keingintahuanku tentang mengapa sedemikian berani orang-orang di kota ini membakar siang. Membakar matahari.</p>
<p>Suasana aku nikmati menjadi begitu sunyi. Sunyi di balik derai tawa semua orang. Sunyi karena perempuan menangis. Menjadikan bukit-bukit tidak lagi tawarkan keindahan dari bayang-bayang selimut malam. Apalagi pagi, ketika embun membayang-bayangi bukit di tampak kejauhan. Laut juga tidak membawa debur ombak lagi. Apalagi ombak saling balap. Yang tersisa hanya gelap. Bermahkota bulan. Malam rembulan.</p>
<p>Kini aku benar-benar mendekati perempuan itu. Di belakangnya. Rupanya ia tahu. Tanpa kusadari, ia menangis sambil berkata-kata. Kata bersama isaknya yang terbata-bata. Sekarang aku benar-benar mendengarnya. Suatu hal paling aku inginkan.</p>
<p>Seketika itu pula kudengar ia berkata. Sambil terisak-isak. Menjadikannya terdengar terputus-putus.</p>
<p>&#8220;Inikah kotaku? Kota hancur. Mati. Orang-orang serakah. Matahari sudah mereka hancurkan. Matahari sudah tak milik kota ini lagi. Hancur. Langit tak punya salah. Langit kehilangan mataharinya. Kota ini tak bercahaya lagi. Semua mata pada gelap! Barangkali pikirannya pun demikian.&#8221;</p>
<p>Aku tak mengerti. Ucapnya bercampur isak begitu menampakkan emosi batinnya terasa olehku. Terputus-putus. Sebisa mungkin aku merasakannya. Aku diam. Aku biarkan sampai ia berkata-kata kembali. Cukup lama aku menunggu. Kembali terlihat olehku, ia tampak sibuk memainkan jemarinya. Mengelus-elus putih kuku kerasnya. Memijat tangan lembutnya sendiri. Rasanya seperti menghitung-hitung irama kegelisahannya. Gundah. Rasanya banyak pula ingin dikatakannya. Kata kesal. Barangkali sesal.</p>
<p>Aku pun memulainya. Setidaknya ia kembali untuk berkata-kata lagi. Aku mendengar kata-katanya kembali. Tidak jelas. Sekuat tenaga, aku berusaha menangkap maksudnya. Sekuat tenaga, aku ingin mengerti kegelisahan mendaging dari miliknya. Rasanya. Ucap kesal dan sesal terdengar banyak. Sulit aku mengungkapkannya. Ungkapan mengalir dan seterusnya. Begitulah.</p>
<p>***<br />
Aku kembali ke rumah. Melintasi jalan-jalan sepi. Lengang: Sembari masih teringat perempuan itu. Oh, kehidupan malam. Malam rembulan. Kau membuat aku selalu bertanya-tanya. Entah kehidupan macam apa ini. Mengapa sedemikian nekat orang-orang kota ini membakar siang. Membakar matahari.</p>
<p>Dalam pikiran, barangkali khayalan dalam angan, terlintas: Aku dan kekasihku masih berjauhan. Jarak jauh. Jarak terpisah oleh lautan. Bahkan pulau. Aku di sini, seperti aku bilang tadi, di pulau pada kota tak tanpa matahari. Siang mati. Sudahlah, aku hanya bayang. Seperti bayang dari wujud cahaya rembulan. Berpendar. Dari bulan tersiram matahari di pulau sana. Aku tak tahu. Di sini masih dan akan terus tanpa matahari. Malam selamanya. Sudahlah, sepertinya jadi makin mengigau sepanjang perjalanan ini. Gelap. Lengang. Selalu dan masih di bawah rembulan.</p>
<p>***<br />
Seperti tak tersadar. Entah kemana aku melangkahkan kaki ini. Terus berjalan. Di bawah rembulan mengitari kota ini. Seperti kukatakan tadi, kehidupan orang-orang di sini seperti lebih bercahaya. Entah cahaya bagaimana. Bahkan cahaya apa. Dari pancaran mata orang-orang di sini tak menampakkan sebuah beban. Beban kosong. Kelamaan terkesan tak berpengharapan.</p>
<p>Seketika, kembali aku jumpai perempuan itu. Di pertigaan jalan itu. Seperti ada sesuatu ditunggunya. Tampak berpenampilan berbeda dari sebelumnya. Tampak anggun. Di bawah sinar rembulan, tampak cahaya menyepuh seluruh tubuhnya. Tak seperti aku lihat sebelumnya. Meskipun demikian, auranya masih menggelisahkan. Ia masih menangis. Entah ke berapa kalinya. Entah karena apa lagi.</p>
<p>Kembali perlahan, aku mendekatinya. Amat perlahan. Entah kegelisahan apalagi darinya. Yang kutahu, sejak pertama memang cukup banyak seolah ia gelisahkan. Aku sudah mendekat. Ia tampak menangis. Seperti kala waktu aku menjumpainya.</p>
<p>Kali ini aku ingin berkata padanya, tapi tak dapat. Kecuali dalam hati: Entah kegelisahan apalagi kau punya. Padahal ingin banyak berkata-kata padanya. Ingin tahu, kesal maupun sesalnya.</p>
<p>Cukup lama aku menunggunya. Penasaran. Mungkin aku harus memulainya. Semata, memancingnya bicara.</p>
<p>Inilah kesekian kalinya kulihat kau menangis lagi. Entah duka apa kau punya.</p>
<p>&#8220;Malam tak ada lagi. Sungguh jahanam. Aku kehilangan segalanya dari orang-orang serakah yang telah membakar matahari.&#8221;</p>
<p>Aku masih tak mengerti maksud bicaranya. Aku hanya melihat ia menangis kembali. Terisak-isak. Entah kepada siapa pula ia tujukan kata-kata itu. Entah apa yang mengganggunya.</p>
<p>Tiba-tiba ia kembali berkata.</p>
<p>&#8220;Aku merindukan lelakiku dan matahariku. Semua di sini pada puas. Kepuasan mematikan kehidupan siang. Orang-orang di sini hanya ingin enaknya saja. Selalu menikmati malam. Menghalalkan haram. Mengharamkan halal. Lelakiku terbunuh karena memertahankan siang. Sekarang hanya malam. Malam di kota penuh kejahatan. Aku merindukan terang.&#8221;</p>
<p>Dengan langkah amat perlahan aku meninggalkannya. Tampak olehku dari kejauhan, ia masih berbicara seorang diri. Sambil sesekali terisak-isak. Aku kembali berjalan. Entah ke mana. Tidak ingin pulang ke rumah.</p>
<p>Ada sepi dan ramai. Kembali aku melintasi orang-orang menikmati malam bawah rembulan. Anak-anak masih tak letih berlarian. Penduduk kota masih dengan nikmatnya. Entah nikmat yang bagaimana. Semua tampak tanpa beban. Tempaan angin dari arah teluk cukup membuat dingin. Di kota selalu malam aku masih terus bertanya dalam hati. Kegilaan apa yang menjadikan mereka nekat membakar matahari.</p>
<p>Setiap hari, di malam bawah rembulan. Aku masih melewati ruas-ruas jalan di kota ini. Kota pekat. Kota nekat. Setibanya di pertigaan jalan itu, di sudut tembok, aku kembali melihat perempuan tengah menangis. Seorang diri. Kali ini bukan yang tadi kujumpai. Rasanya tak perlu lagi aku dekati. Hanya dalam hati: Entah kesedihan apalagi yang kau punya.***<br />
Telukbetung, November 2007</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shamyaza.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shamyaza.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shamyaza.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shamyaza.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shamyaza.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shamyaza.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shamyaza.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shamyaza.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shamyaza.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shamyaza.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shamyaza.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shamyaza.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shamyaza.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shamyaza.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=203&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/bawah-rembulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad52ae32859ba5d07d0149f0acc4324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shamyaza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Daftar Alamat Redaksi Majalah</title>
		<link>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/daftar-alamat-redaksi-majalah/</link>
		<comments>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/daftar-alamat-redaksi-majalah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 13:44:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saklas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen amatir]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Daftar Alamat Redaksi Majalah]]></category>
		<category><![CDATA[karya anak negeri]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[penulis amatir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shamyaza.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Redaksi Majalah Alkisah Jl. Salemba Tengah 58, Jakarta Pusat Telepon : 021-2306188, 39899033, 39899030 Redaksi Majalah Annida Jl. Kemuning No 2 Utan Kayu Jakarta Timur Telepon : 021-9113386, fax : 8580569 E-mail : annida @ummigroup.co.id. Web : http ://www.ummigroup.co.id. Redaksi Bandung Art Forum Jl. LL. RE Martadinata 66 Bandung 40132 Ph : 022-42021 E-mail: artforum@bae.or.id. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=200&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Majalah Alkisah</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl. Salemba Tengah 58, Jakarta Pusat</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Telepon : 021-2306188, 39899033, 39899030<span id="more-200"></span></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Majalah Annida</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl. Kemuning No 2 Utan Kayu Jakarta Timur</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Telepon : 021-9113386, fax : 8580569</p>
<p style="text-align:left;" align="center">E-mail : annida @ummigroup.co.id.</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Web : http ://www.ummigroup.co.id.</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Bandung Art Forum</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl. LL. RE Martadinata 66 Bandung 40132</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Ph : 022-42021</p>
<p style="text-align:left;" align="center">E-mail: <a href="mailto:artforum@bae.or.id">artforum@bae.or.id</a>.</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><a href="mailto:bandungartforum@hotmail.com">bandungartforum@hotmail.com</a></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Bernas</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl IKIP PGRI Sonosewu, Yogyakarta 55162</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Telp: 0274-377559, Fax:419455</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Email: <a href="mailto:koranbernas@yahoo.com">koranbernas@yahoo.com</a></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Hidayah</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl. Kramat III No. 13A-B Jakarta 10420</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Telp. 921-3148148, 314832</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Fax : 021-3149504</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Email : hidayah_ <a href="mailto:intisari@yahoo.com">intisari@yahoo.com</a></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Jawa Pos</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Grha Pena, Jl. A. Yani 88, Surabaya</p>
<p style="text-align:left;" align="center">E-mail:editor@jawapos.co.id.</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Jurnal MQ</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Graha MQ Jl. Gegerkalong Girang Baru No. 5, Bandung 40153</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Telp: 022-2008844, Fax: 8091640</p>
<p style="text-align:left;" align="center">E-mail: <a href="mailto:majurnal@mqmedia.com">majurnal@mqmedia.com</a>,</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><a href="mailto:mqjurnal@yahoo.com">mqjurnal@yahoo.com</a></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Jurnal Perempuan</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl. Tebet Barat VIII No. 27, Jakarta Selatan 12810</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Telp. 021-83702005, fax: 8302434</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Yunior-Suplemen Anak Suara Merdeka</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl. Kaligawe Km. 5 Semarang 50118</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Telp 024-6580900</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Fax. 024-6580605</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Kertas Kuarto A4 spasi 2</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Rubrik Halo Sahabat</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Rubrik Cover story</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Liberty liputan berita yunior</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jelajah</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Ngelaba, pengetahuan lama dan baru</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Asal tahu</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Cerita Pilihan</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Warior wartawan yunior</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Pengalamanku</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Sinema</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Puisi</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Gambar</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jejak Tokoh</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Dongeng</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Unik Dunia</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Panjebar Semangat</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl GNI No 2 (Jl. Bubutan 87) Surabaya 60174</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Telp 031-5344233</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Pangudarasa</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Sariwarta</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Dredah&amp;Masalah</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Crita Sambung</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Crita Cekak</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Wisata</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Kok rena-Rena</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Kasarasan</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Apa tumon</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Glanggang Remaja</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Wacan Bocah</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Kedaulatan Rakyat</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl P. Mangkubumi 40-42, Yogyakarta 55232</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Kolong Budaya</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl. Mayjen Bambang Soegeng 262-A</p>
<p style="text-align:left;" align="center">PO BOX 279 Magelang</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Telp 0293-325630</p>
<p style="text-align:left;" align="center">E-mail: <a href="mailto:tera@magelang.wasantara.net.id">tera@magelang.wasantara.net.id</a></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Kompas</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Palmerah Selatan 26-28 Jakarta 10270</p>
<p style="text-align:left;" align="center">E-mail: <a href="mailto:opini@kompas.com">opini@kompas.com</a></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Minggu Pagi,</strong> Jl. P. Mangkubumi 40-42, Yogyakarta 55232</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Muslimah, Jl Kramat III No 13A-B Jakarta 10420</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Poles</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Pakuwojo No.12 Wonosobo</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Republika</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Warung Buncit Raya No. 37 Jakarta 12510</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Web : <a href="http://www.republika.co.id/">www.republika.co.id</a>.</p>
<p style="text-align:left;" align="center">E-mail : <a href="mailto:skretariat@republika.co.id">skretariat@republika.co.id</a></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Seni Budaya</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Merdeka No 33 Bandung      40117</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Solo Pos</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Griya Solo Pos</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Adisucipto No. 190 Solo 57145</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Suara Merdeka</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Raya Kaligawe Km. 5, Semarang 50118</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Tabloid Cempaka</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Merak No 11</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Semarang</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Majalah Bobo</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Palmerah Selatan 22 Jakarta 10270</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Kompas Minggu</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Palmerah Selatan 26-28</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jakarta 10270</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Seni/Cerpen</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi KR MInggu</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl P Mangkubumi 40-42</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Yogyakarta 55232</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Kawanku (KR Cilik)</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Cernak</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Husada</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Tubuh Sehat</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Bedah Buku</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Budaya</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Kompas Anak</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Palmerah Selatan No 20-28</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jakarta 10270</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Naskah. Cerpen, Dongeng (3-4 halaman)</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Diketik dua spasi</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Ummi</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Mede No 42 A Utan Kayu Jakarta Timur 13120</p>
<p style="text-align:left;" align="center">(021) 8193242</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Khas Ummi</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Mutiara Islam</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Subhanallah Tahukah engkau</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Artikel</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Keluarga</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Obrolan</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Psikologi</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Ufuk Luar</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Fiksi:Cerpen: Cerbung</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Dapur</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Kissah</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi KR</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl P. Mangkubumi 40-42</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Yogyakarta 55232</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Kartini</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl garuda No 80 A Jakarta Pusat</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Nurani</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Karah Agung 45 Surabaya</p>
<p style="text-align:left;" align="center">atau</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Graha Pena Building</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl A Yani 88 Surabaya</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Atau</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Kebayoran Lama Pal 7 No 39 Grogol Utara Jakarta Selatan</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi MQ</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Graha MQ</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Gegerkalong Girang Baru No 5 Bandung</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi UMMI</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Mede No 42 A Utan Kayu Jakarta Timur 13120</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Republika</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi YUNIOR</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Bacaan Anak Cerdas Supplemen Anak Suara Merdeka</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Kaligawe km 5 Semarang 50118</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Suara Merdeka</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl. Raya Kaligawe km 5 Semarang</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><a href="mailto:redaksi@suaramerfamili.com">redaksi@suaramerfamili.com</a>.</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Radio Australia</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Kotak Pos 2299</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jakarta</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Australian Broadcasting Commisional</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Majalah Hidayah</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Kota Wisata cibubur</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Senkom Amsterdam. Blok H/I</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl Transyogi km 6 Cibubur 16968</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Redaksi Panjebar Semangat</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Jl GNI No 2 (Jl Bubutan 87) Surabaya 60174</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shamyaza.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shamyaza.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shamyaza.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shamyaza.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shamyaza.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shamyaza.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shamyaza.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shamyaza.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shamyaza.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shamyaza.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shamyaza.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shamyaza.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shamyaza.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shamyaza.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=200&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/24/daftar-alamat-redaksi-majalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad52ae32859ba5d07d0149f0acc4324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shamyaza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bangkai Kegelapan</title>
		<link>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/22/bangkai-kegelapan/</link>
		<comments>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/22/bangkai-kegelapan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 08:14:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saklas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen dari Surat Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen amatir]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shamyaza.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Dikutip dari : Harian Suara Karya Sabtu, 09 Februari 2008 BANGKAI KEGELAPAN Cerpen: Restoe Prawironegoro Ibrahim Bagaimana pun hidup harus dipandang lebih ke depan. Ini berarti hidup harus dimulai lagi. Berjalan di atas bayangan masa silam yang mengharubirukan, tidak boleh dibiarkan berlanjut sampai terbawa ajal. Tidak! Ia musti dikubur. Dan, kuburan itu musti dibikin secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=190&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="right"><strong>Dikutip dari : </strong>Harian Suara Karya</p>
<p align="right">Sabtu, 09 Februari 2008</p>
<p align="center"><strong>BANGKAI KEGELAPAN</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Cerpen:</span></strong><strong> Restoe Prawironegoro Ibrahim</strong></p>
<p>Bagaimana pun hidup harus dipandang lebih ke depan. Ini berarti hidup harus dimulai lagi. Berjalan di atas bayangan masa silam yang mengharubirukan, tidak boleh dibiarkan berlanjut sampai terbawa ajal. Tidak! Ia musti dikubur. Dan, kuburan itu musti dibikin secara baik agar bangkai yang tertanam di dalamnya tidak mampu menyemprotkan bau. Begitu keputusan Fil. Janda lusuh yang baru saja terpancar sinar keinginan hidup lebih baik dari wajahnya. Matanya.<span id="more-190"></span></p>
<p>Setelah setahun ditinggal mampus suaminya, Fil memang berubah drastis gaya hidupnya. Ia tidak saja terasing dari lingkungannya, melainkan dengan berani mengasingkan diri, juga dari semua kerabatnya dan lingkungan keluarganya. Fil menghabiskan sehari-harinya di sebuah kamar &#8212; di rumah mertuanya &#8212; yang pengap. Ia menciptakan penjara bagi dirinya sendiri.</p>
<p>Kalau waktu makan datang, setiap pengantar makanan itu hanya sampai pada lubang pintu kamar yang sengaja dibuat Fil. Begitu tangan pengantar makanan menjalar, Fil segera mengambilnya dengan cara merapatkan badan ke samping pintu. Sulit memang untuk melihat bagaimana sesungguhnya Fil. Apakah masih montok? Cantik? Lincah? Ataukah sudah ..ah! Lalu, bagaimana pula kalau berak? Mudah. Tahinya selalu dibungkus koran. Ia cebok persis orang bule. Tahinya dibuang lewat jendela kamarnya yang juga diberi lubang.</p>
<p>Telah berkali-kali mertua Fil memohon kepadanya agar keluar dari kamarnya. Buat apa menyiksa diri. Tapi ia tak peduli. Bahkan, ketika orang tuanya meminta hal serupa, juga tak ditanggapinya. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.</p>
<p>Pernah terjadi ketegangan yang luar biasa. Waktu itu, mertua dan orang tua Fil mengancam akan bunuh diri bersama kalau Fil masih saja mengurung diri. Namun, apa kata Fil? &#8220;Kalian mau bunuh diri kek, mau telanjang bulat kek, mau menangis sampai keluar air mata darah kek, mau membom rumah ini kek, saya tidak akan beranjak dari kamar ini.&#8221;</p>
<p>Mertua dan orang tua Fil malah jadi frustasi. Akhirnya mereka hanya mampu melawan ulah Fil dengan cara mendiamkan Fil, kendati pada dasarnya mereka gelisah sungguh. &#8220;Kita harus menguji kekuatan kita,&#8221; tegas orang tua Fil yang disetujui sang mertua.</p>
<p>* * *</p>
<p>Ini adalah sore yang bersih. Tak seperti biasa. Fil mengatur kamarnya. Foto-foto perkawinannya dibersihkan dan dipajang di dinding dengan amat teratur. Ia pasang seperti putih pada ranjang tidurnya. Ia atur meja belajar. Ia atur segala tetek-bengek yang dianggapnya membuat sumpek. Ia menjadi begitu feminin.</p>
<p>Setelah selesai, ia melangkah ke depan cermin. Ia pandangi wajah dan seluruh tubuh. Ia bergaya mirip peragawati. Ia sendiri sebetulnya merasa aneh. Mungkin, sekarang ia betul-betul sudah tidak lagi waras. Mungkin. Tapi, kemudian keanehan itu segera dilenyapkan. &#8220;Saya tidak gila. Dan, tidak ada yang gila di dunia ini,&#8221; katanya di depan cermin. Lalu, ia tersenyum. Manis.</p>
<p>Fil duduk di kursi jendela kamar rumahnya yang tidak seberapa besar itu. Lewat lubang jendela yang dibuatnya itu, ia pandangi sebuah ranting patah yang bergelayutan. Ia biarkan wajahnya diterobos matahari sore.</p>
<p>Malam perkawinan itu kembali muncul. Fil bahagia. Semua orang yang hadir juga bahagia. Fil merasa harapan yang tadinya tak menentu, kembali menjadi utuh. Betapa tidak? Tiga hari menjelang perkawinan, Paimin &#8212; calon suaminya &#8212; datang. Menurut pengakuan Paimin, ia dibebaskan dari segala tuduhan merampok dan membunuh. &#8220;Tuhan memang selalu melindungi orang yang tidak bersalah. Tuhan telah membuka mata dari jaksa penuntut dan pembela, juga hakim,&#8221; tutur Paimin mantap di tengah peluk tangis Fil menyambut kedatangannya.</p>
<p>Paimin ditangkap pihak berwajib karena tuduhan membunuh haji Sukron dalam suatu perampokan tengah malam di rumah juragan penggilingan padi itu. Entah perasaan apa yang tertanam di hati perampok itu, tiba-tiba para tetangga melihat ada bercak darah yang menempel di pintu dan jendela rumah Paimin.</p>
<p>Tentu saja para tetangga jadi ribut. Panik. Apalagi tetangga yang suka usil, tanpa membuang waktu segera menggedor rumah Paimin. Seperti kena setan kesiangan para tetangga lainnya menyerbu masuk. Paimin yang terjaga dari tidurnya itu jadi kalang kabut. Ia coba menanyakan kesalahannya, tapi tampaknya para tetangga tidak lagi peduli. Mereka, terus menyeret Paimin ke pos Hansip. Bukan itu saja, ketika Paimin digiring, tangan-tangan usil pun tak bisa dihindari. Wajah Paimin babak-belur. Dan, sampai hati mereka membugili mangsanya itu.</p>
<p>Paimin ditangkap. Kasusnya diperiksa oleh polisi. Baru belakangan diketahui bahwa Paimin tidak bersalah. Koran-koran laris keras.</p>
<p>Paimin memang nganggur, kendati sebulan lagi ia akan naik pelaminan bersama Fil. Bermula ia diajak Tomang, teman dekatnya, main judi. Tanpa banyak cukup Paimin menerima tawaran itu. Pada pikirannya, kalau menang, lumayan bisa tambah modal kawin. Lalu, mereka main judi.</p>
<p>Iming-imingnya benar. Tomang kalah. Bahkan seluruh barang yang dipakai Tomang ludes. Berpindah tangan ke Paimin. Dengan bangga Paimin pulang bawa kemenangan. Hatinya sumringah, sebab harapannya terkabul, diajaknya Fil nonton film di bioskop. Dengan uang itu, ia bisa honeymoon.</p>
<p>Rupanya kekalahan Tomang berbuntut. Hari berikutnya Tomang kembali menantang Paimin. Tapi, tantangan itu ditolak dengan wajah penuh penyesalan. Ia bilang kepada Tomang bahwa Fil tidak mau punya suami pemain judi. Fil mengancam putus kalau Paimin terus bermain judi. Tomang jadi berang. Tanpa banyak cakap Tomang meleset pergi. Melihat tingkah Tomang, Paimin tak ambil pusing. Ia sudah biasa melihat Tomang semacam itu.</p>
<p>Tomang dendam, lalu pasang aksi. &#8220;Aku harus melakukan sesuatu!&#8221; Begitu keputusan Tomang. Geram.</p>
<p>Malam itu bulan tak ada. Langit merah. Angin mendayu-dayu. Tomang beraksi. Ia rampok rumah haji Sukron. Nasib sial menimpa Tomang. Belum sempat ia bongkar almari, haji Sukron memergokinya. Ia panik, dan haji Sukron bagai kena sirep. Sekali melompat &#8212; entah sadar atau tidak &#8212; Tomang segera menghujamkan pisaunya ke tubuh haji Sukron. Lalu haji Sukron mampus setelah sedikit mengerang dan berkolojotan.</p>
<p>Tomang tak menyia-nyiakan kesempatan sebelum seisi rumah itu bangun. Ia melesat pergi. Ia langsung menuju rumah Paimin. Begitu sampai, ia segera menyelipkan pisau yang berlumur darah itu ke atas daun pintu rumah Paimin, kemudian memberi bercak-bercak darah di pintu dan jendela, ke dinding-dinding. Mengerikan!</p>
<p>Begitulah. Dan, seluruh peristiwa itu diketahui Paimin justru pada saat ia melangkah ke luar pintu muka bangunan penjara, ketika ia dinyatakan bebas. Ia beli koran. Bagian terakhir berita koran itu menyebutkan, Tomang datang sendiri ke kantor polisi dan mengakui kesalahan segala perbuatannya. Tomang tak betah dibayang-bayangi dosa. Yang membuat Paimin trenyuh adalah ketika membaca bagian paling akhir berita koran itu. &#8220;Paimin, maafkan aku. Kalau kau mau balas dendam, aku takkan melawan,&#8221; ucap Tomang dalam tulisan itu.</p>
<p>Bola mata Paimin berkaca-kaca. Perkawinan berlangsung meriah. Paimin dan Fil bahagia. Juga semua orang. Tak ada tanda yang dapat ditangkap bahwa akan ada peristiwa yang mengerikan. Seusai malam perkawinan. Di tengah gulita. Di tengah kenyenyakan tidur pengantin baru itu, telah terjadi suatu peristiwa berdarah, Paimin, suami Fil, mampus.</p>
<p>Adzan shubuh bergema. Seperti biasa Fil terbangun dari tidurnya. Tapi, begitu ia menengok ke samping, mau memeluk sang suami, bukan kepalang kagetnya, suami Fil tergeletak. Ususnya berhamburan. Fil menjerit sekuat tenaga. Juga alam. Histeris.</p>
<p>Sebelum tidur, memang ada percakapan yang mengasyikkan sepasang pengantin baru itu.</p>
<p>&#8220;Kamu bahagia?&#8221; tanya Fil lembut. Paimin mengangguk cepat. &#8220;Saya heran, kok yang datang banyak,&#8221; ucap Fil lagi. Dan, Paimin hanya mengangkat bahu. &#8220;Padahal kita akan hanya mengundang seratus orang.&#8221; Lagi, Paimin mengangguk. &#8220;Kok bisa lebih?&#8221; tanya Fil.</p>
<p>&#8220;Saya hitung ada tiga ratus orang,&#8221; tukas Paimin.</p>
<p>&#8220;Gila! Apa mereka kebagian makanan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mudah-mudahan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa mungkin?&#8221;</p>
<p>&#8220;Namanya saja mudah-mudahan.&#8221;</p>
<p>Fil tidak berkata lagi, kecuali menghela napas panjang. Paimin bangkit dari ranjang, lalu berjalan ke dapur. Fil tak peduli. Dengan sigap Fil membuka kado-kado yang menumpuk di ranjangnya.</p>
<p>Sebuah kado berisi pakaian bayi. Fil asyik memandanginya. Ia kaget ketika ditegur sekonyong-konyong suaminya yang sudah berada di mulut pintu kamar. &#8220;Kamu mau minta perempuan atau laki-laki?&#8221; Fil hanya tersenyum saja. Lalu, Paimin duduk di ranjang, berhadapan dengan Fil. Lalu, ikut membukakan kado. Suami Fil agak tersipu ketika ia temukan benda yang tak asing dalam kado itu.</p>
<p>&#8220;Ada yang aneh?&#8221; tanya Fil main-main. Suami Fil mengangguk. &#8220;Boleh lihat?&#8221; sambung Fil. Tanpa banyak cakap Paimin segera menyodorkan bungkusan kado itu. Begitu dibuka, Fil terperanjat. Namun, hal itu hanya sejenak. Wajahnya berubah malu. Lalu, mereka tak sanggup menahan geli. Dan, tawa mereka berakhir dengan pelukan Paimin.</p>
<p>&#8220;Nggak capek?&#8221; tanya Fil lirih.</p>
<p>&#8220;Nggak,&#8221; balas suami Fil semangat. Lalu, mereka tertawa lagi, dan sekejap tawa mereka berhenti. Malam hanya tinggal lampu-lampu yang berkelap-kelip dan bulan-bintang yang bergelayutan. Malam hanya tinggal desir angin. Malam hanya tinggal desah napas. Malam hanya tinggal.</p>
<p>Begitulah!</p>
<p>Fil menjerit sekuat tenaga. Histeris. Seisi rumah bangun. Kelabakan. Menyerbu kamar pengantin baru itu. Dan, seisi rumah itu menjerit histeris.</p>
<p>* * *</p>
<p>Di kursi itu. Di sudut jendela itu. Di sore itu. Fil menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia merasa seluruh tubuhnya bergetar. Keringatnya menyembul dari pori-pori kulitnya. Jantungnya berdegup kencang. Aliran darahnya ngilu, liar, saling tumpang tindih. Fil menjadi lemas. Ia tidak kuasa menemukan jawaban siapa sebenarnya pembunuh suaminya, Tomang, atau teman-teman Tomang? Seperti dugaan koran. Tidak mungkin. Tomang telah menulis pernyataan secara terbuka di koran, dan semua orang pasti baca. Lalu siapa? Petrus? Tidak mungkin, Paimin bukan penjahat. Paimin tidak pantas untuk di petrus!</p>
<p>Fil coba bangkit dengan sisa tenaga dan sisa pertanyaannya, tapi ia tak sanggup. Setahun sudah peristiwa itu, sampai sekarang tak diketahui ujung pangkalnya. Koran-koran tak lagi memberitakannya. Fil pun putus asa. Dengan suara terpatah-patah, ia bicara sendirian. &#8220;Kalau memang Engkau ingin mengakhiri sejarah akhirilah.&#8221;</p>
<p>Dalam keputusannya itu, ada suara yang jatuh di luar. Fil mengintip dari lubang jendela. Ranting patah yang bergelayutan itu. Mencium bumi kendati angin tidak ada. Dan begitu Fil memejamkan mata, matahari sore hilang. Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib. Lagi, entah sadar atau tidak, Fil berucap, &#8220;Ampunilah saya, Tuhan.&#8221; Fil lalu berdiri. Dan, ia baru sadar kalau sanggup berdiri.</p>
<p>&#8220;Ya, hidup harus dimulai lagi. Cukup lama saya menghirup bangkai kegelapan, untuk menyingkap alam sebenarnya pembunuh suami saya. O, saya sia-sia. Dan, sekarang saya tak ingin sia-sia. Saya harus seperti koran. Perlu diingat pada saat tertentu saja.&#8221; Begitu kata hati Fil. Lalu, ia membuka jendela. Lalu, ia berjalan ke sumur. Lalu, ia mengambil wudhu. Lalu, ia sembahyang. Lalu, ia tidur dengan tenang, seisi rumah seperti orang gila ketika melihat perubahan Fil.</p>
<p>***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shamyaza.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shamyaza.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shamyaza.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shamyaza.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shamyaza.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shamyaza.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shamyaza.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shamyaza.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shamyaza.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shamyaza.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shamyaza.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shamyaza.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shamyaza.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shamyaza.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=190&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/22/bangkai-kegelapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad52ae32859ba5d07d0149f0acc4324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shamyaza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu</title>
		<link>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/22/aku-datang-memenuhi-panggilan-mu/</link>
		<comments>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/22/aku-datang-memenuhi-panggilan-mu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 08:12:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saklas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen dari Surat Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen amatir]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya anak negeri]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen gratis]]></category>
		<category><![CDATA[penulis amatir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shamyaza.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Dikutip dari : Pikiran Rakyat- Sabtu, 08 Desember 2007 Cerpen: Eddy D. Iskandar   LABBAIK Allahumma labbaik, labbaika la syarikalaka labbaik. Innal hamda wanni`mata laka wal mulka, la syarikalak&#8230; Talbiyah itu terus berkumandang memenuhi ruangan. Aku mendengarnya begitu mencekam, mendebarkan, membuatku terpana. Ada sesuatu yang membuatku terguncang. Jutaan suara itu menggema. Entah dari mana. Padahal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=188&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="right"><strong>Dikutip dari : Pikiran Rakyat- Sabtu, 08 Desember 2007</strong></p>
<p style="text-align:right;" align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">Cerpen:</span></strong><strong> Eddy D. Iskandar</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>LABBAIK Allahumma labbaik, labbaika la syarikalaka labbaik. Innal hamda wanni`mata laka wal mulka, la syarikalak&#8230;<br />
Talbiyah itu terus berkumandang memenuhi ruangan. Aku mendengarnya begitu mencekam, mendebarkan, membuatku terpana. Ada sesuatu yang membuatku terguncang. Jutaan suara itu menggema. Entah dari mana. Padahal di dalam ruangan tak ada siapa-siapa, kecuali aku, sendiri.<span id="more-188"></span></p>
<p>Tiba-tiba seperti ada yang menggiringku untuk melangkah. Aku tak tahu pasti apakah aku berjalan di atas tanah, atau di udara. Yang kurasakan tubuhku begitu ringan, seakan melayang-layang. Lalu aku tiba di suatu tempat, entah di mana. Di hadapanku sudah berdiri seseorang berpakaian putih-putih, menyambutku dengan kedua lengannya yang merentang lebar-lebar.<br />
Sesaat aku tertegun. Aku sangat mengenal wajah itu. Wajah tua renta, dengan tubuh bungkuk, yang biasa berdiri di pertigaan sebuah kompleks perumahan. Ia selalu menadahkan topi anyaman yang sudah kusam. Setiap aku lewat, kumasukkan uang seribu, kadangkala dua ribu atau lima ribu ke dalam topi itu. Dan ia selalu membalasnya dengan doa yang itu-itu juga. &#8220;Ooo, terima kasih, Den. Terima kasih. Semoga rezekinya banyak, jadi haji yang mabrur?.&#8221;<br />
Aku tak tahu pasti, apakah doa itu diucapkannya juga kepada yang lain, atau hanya khusus kepadaku saja. Yang pasti, aku tak pernah melihat ada orang lain, ketika ia berada di tempat itu. Atau aku tak pernah melihat ada orang lain yang memberi uang kepada dia.<br />
Mengapa aku begitu terikat secara emosional kepada dia, aku juga tak tahu. Aku selalu merasa iba melihat wajah dan keadaan tubuhnya yang renta.<br />
Kadangkala aku memergoki dia sedang makan di tepi jalan, di bawah rimbun pohon, sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam topinya. Bahkan sekali waktu, aku pernah melihat dia sedang shalat dzuhur di tepi jalan, di atas sajadah yang bersih.<br />
Sempat terpikir, ingin menghampiri dan bertanya lebih jauh tentang dia, tapi selalu urung dan urung lagi. Ah, untuk apa, bukankah ia sama saja seperti peminta-minta yang lainnya. Padahal, jauh dalam lubuk hatiku, ada sesuatu yang membuatku penasaran. Begitu banyak pengemis di jalanan, tapi aku merasakan ada sesuatu yang lain jika memerhatikannya.</p>
<p>Dan lelaki tua itu sekarang ada di hadapanku. Wajahnya seolah memancarkan cahaya. Begitu bersih. Berseri.<br />
Ia menyuruhku mebersihkan tubuh, lalu memberiku kain putih, sama seperti yang dikenakannya.</p>
<p>Ia mengajakku salat tengah malam, salat tahajud.<br />
Ia membacakan doa dalam bahasa Arab, tapi aku seperti mendengarkan artinya dalam bahasa Indonesia.<br />
&#8220;Ya, Allah karuniakanlah haji yang mabrur, sai yang diterima, dosa yang diampuni, amal saleh yang diterima, dan usaha yang tidak akan mengalami rugi. Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terkandung dalam hati sanubari. Keluarkanlah aku dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan rakhmat-Mu dan keteguhan ampunan-Mu, selamat dari segala dosa dan mendapat berbagai kebaikan, beruntung memperoleh surga, terhindar dari siksa neraka. Tuhanku, puaskanlah aku dengan anugerah yang telah Engkau berikan, berkatilah untukku atas semua yang Engkau anugerahkan kepadaku dan gantilah apa-apa yang gaib dari pandanganku dengan kebajikan dari-Mu. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka.&#8221;<br />
Usai berdoa, ia menangis sesenggukan. Lalu aku pun terbawa ke dalam keharuan yang tulus itu, keharuan yang ikhlas itu, keharuan yang mengalir begitu saja, dalam tangis yang menderas.</p>
<p>Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Pada saat kedua telapak tanganku terbuka, ia tak ada lagi di hadapanku. Aku berteriak memanggilnya. Tapi suaraku seakan menembus ruang hening.<br />
Lalu aku terbangun. Duduk termangu di tepi ranjang. Melihat ke arah jam dinding. Pukul tiga dinihari.<br />
&#8220;Tahajud…,&#8221; aku mendengar bisikan itu, bisikan yang membuatku bergerak menuju ke kamar mandi untuk berwudu.<br />
Ini adalah tahajudku yang pertama kali.<br />
**<br />
PUKUL tujuh pagi, baru saja aku mau berangkat ke kantor, seorang lelaki muda berpakaian rapi, datang kepadaku.<br />
&#8220;Maaf, Pak. Saya disuruh pimpinan saya untuk menemui Bapak,&#8221; kata lelaki itu.</p>
<p>&#8220;Ada urusan apa? Siapa pimpinan Bapak?&#8221; tanyaku terheran-heran.</p>
<p>&#8220;Saya dilarang menyebutkan namanya. Pokoknya, Bapak diminta menemuinya jam satu siang. Ini alamat kantornya.&#8221;<br />
Aku tertegun. Membaca kantor perusahaannya, ia seorang pengusaha sukses. Tapi siapa namanya? Apa urusannya denganku? Mengapa merahasiakan namanya? Dari mana pula ia mengenalku?<br />
Aku masih termangu, ketika lelaki itu mengingatkan.<br />
&#8220;Jangan lupa pukul satu siang. Pimpinan saya sangat sibuk, tapi ia sengaja meluangkan waktu untuk bertemu dengan Bapak.&#8221;<br />
Meskipun dalam keadaan bingung, aku menganggukkan kepala.<br />
Pukul satu siang aku sudah tiba di kantornya. Aku disuruh menunggu di ruangan kerjanya yang luas dan sejuk. Begitu aku disuruh untuk masuk, ia seperti sengaja tak mau langsung bertatap muka. Aku menunggu selama lima menit.<br />
Orang itu muncul dari arah lain. Tinggi tegap. Gagah. Tampan. Ia menghampiriku sambil tersenyum. Begitu berhadapan, aku terperangah.<br />
&#8220;Masih ingat aku?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Alfarizi,&#8221; gumamku.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, aku Alfa. Syukurlah kau masih ingat aku.&#8221;</p>
<p>Lalu kami berpelukan.<br />
Alfarizi, dia teman sekolahku waktu di SMA. Anak tukang becak. Ia sering menunggak iuran sekolah, karena orang tuanya memang miskin. Tapi semangat belajarnya tinggi. Pintar. Cerdas. Aku sering membantu, membayar iuran sekolah, atau membelikan buku pelajaran. Kadangkala, aku berbohong kepada ibuku, pura-pura meminta uang untuk keperluan sekolah, padahal untuk kepentingan Alfarizi.<br />
Ketika kami lulus SMA, aku pindah ke kota lain. Kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi. Kami tidak sempat bertemu lagi. Bahkan aku mengira, ia tak meneruskan sekolah, mungkin kerja, jadi buruh pabrik.<br />
Dan kini, setelah tiga puluh lima tahun berpisah, ia sudah jadi orang yang sukses. Pimpinan sebuah perusahaan besar. Aku tak ingin banyak bertanya tentang kesuksesannya, sebab aku percaya pada satu hal tentang Alfarizi; ia pintar, cerdas, ulet, dan pantang menyerah. Ibadahnya juga kuat.<br />
Ia baru dua Minggu ditugaskan memimpin perusahaan di kota ini. Ia bilang, ia ingat dulu aku pindah ke kota ini. Lalu ia mencari-cari alamatku. Hingga menemukannya berikut tempatku bekerja.<br />
Kami bercerita panjang lebar, sampai akhirnya ia bilang&#8230;.<br />
&#8220;Aku banyak berhutang budi padamu. Aku bisa begini, salah satunya karena andil kebaikanmu sewaktu di SMA. Aku selalu berharap suatu ketika aku bisa bertemu denganmu, ingin sekali aku membalas kebaikanmu.&#8221;<br />
&#8220;Nggak perlu diingat-ingat, aku ikhlas kok. Aku nggak mengharapkan balasan. Bahkan aku ikut bangga, karena kau jadi orang yang sukses,&#8221; kataku, benar-benar tulus.<br />
&#8220;Begini saja. Kalau ada kesulitan, bilang saja padaku, sebagaimana aku dulu, jika ada kesulitan dalam urusan membayar uang sekolah, selalu mengemukakannya padamu.&#8221;<br />
Aku terharu sekali mendengar ucapannya itu. Memang banyak keperluan yang belum terpenuhi, tapi aku selalu bersyukur sebab bisa mengatasi segala kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya untuk sekolah anak-anakku. Tapi aku tak mau mengemukakan hal itu. Aku hanya bisa mengucapkan, &#8220;Terima kasih.&#8221;<br />
Ia memandangku, lalu mengusap pundakku.<br />
&#8220;Yang ini jangan kau tolak. Tahun ini aku ingin menunaikan ibadah haji bersama istriku, dan aku berharap kau dan istrimu juga ikut bersama. Semua biaya biar aku yang menanggungnya.&#8221;</p>
<p>Aku tertegun. Ini benar-benar di luar dugaan.</p>
<p>Subhanallah&#8230;. Alangkah bagianya istriku bila mendengar berita ini!</p>
<p>Tiba-tiba saja aku ingat mimpi itu.</p>
<p>Labbaik Allahumma labbaik!. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah!<br />
**<br />
PULANG kantor, pukul lima sore, mobilku dihentikan oleh beberapa orang yang sedang berkerumun di tepi jalan. Aneh, begitu banyak mobil yang lewat, tapi mereka malah menghentikan mobilku.<br />
Salah seorang menuntunku ke halaman sebuah rumah kosong. Ia meminta tolong agar aku membawa seseorang ke rumah sakit.<br />
Aku melihat seorang lelaki tua tergeletak di atas sajadah.</p>
<p>Ya, Allah! Lelaki tua itu. Pengemis itu. Dia yang datang dalam mimpiku. Dia yang selalu menyampaikan do`a, agar aku banyak rezeki dan jadi haji yang mabrur.</p>
<p>Aku menghampirinya. Innalillahi wa inna ilaihi roji`uunn. Ia sudah meninggal. Dan semua terheran-heran menyaksikan aku menitikkan air mata.<br />
&#8220;Aku melihat kedamaian dalam penderitaanmu. Aku menemukan cahaya di wajahmu. Semoga engkau jadi ahli surga,&#8221; bisik hatiku. ***<br />
Bandung, 2007</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shamyaza.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shamyaza.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shamyaza.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shamyaza.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shamyaza.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shamyaza.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shamyaza.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shamyaza.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shamyaza.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shamyaza.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shamyaza.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shamyaza.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shamyaza.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shamyaza.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=188&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/22/aku-datang-memenuhi-panggilan-mu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad52ae32859ba5d07d0149f0acc4324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shamyaza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Inkubator</title>
		<link>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/22/anak-inkubator/</link>
		<comments>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/22/anak-inkubator/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 07:54:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saklas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen dari Surat Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen amatir]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen gratis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[penulis amatir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shamyaza.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen oleh: Yonathan Rahardjo Dimuat di : Suara Karya edisi Sabtu, 19 Januari 2008 Bayi mungil itu meringkuk di dalam inkubator. Ia bernafas cukup berat, kembang-kempisnya dadanya yang di dalam rongganya meringkuk jantung dan paru-paru. Menjadi pratanda betapa organ-organ vital bagi si anak manusia yang baru dilahirkan ibundanya itu mesti menghadapi dunia yang belum tentu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=173&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerpen oleh</strong>: Yonathan Rahardjo<br />
<strong>Dimuat di</strong> : Suara Karya edisi Sabtu, 19 Januari 2008</p>
<p>Bayi mungil itu meringkuk di dalam inkubator. Ia bernafas cukup berat, kembang-kempisnya dadanya yang di dalam rongganya meringkuk jantung dan paru-paru. Menjadi pratanda betapa organ-organ vital bagi si anak manusia yang baru dilahirkan ibundanya itu mesti menghadapi dunia yang belum tentu ramah pada kehadirannya.<span id="more-173"></span></p>
<p>Ibunya masih tergeletak di tempat tidur rumah sakit. Wajahnya yang dalam kondisi sehat berrona hitam manis semu kemerahan bila menunjukkan suatu reaksi sikap tertentu, kini pucat. Leher yang menyangga kepalanya tak bisa menolak ketika kepalanya yang pada tempatnya ditumbuhi rambut bergelombang itu terkulai lemas.</p>
<p>Ayahnya-lah yang harus menunjukkan sikap kasih sayang super penuh untuk menjadi penghubung antar insan yang disayanginya itu dengan insan-insan lapis kedua dan ketiga dalam lingkaran kehidupan mereka.</p>
<p>&#8220;Lik, anakmu bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih di inkubator, Bu De..&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana ibunya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih di ruang bersalin.&#8221;</p>
<p>Rona panik terpancar dari roman muka mereka. Perempuan yang bertanya kepada ayah anak mungil yang baru lahir itu pun menjadi salah satu pemerhati, bersama seorang lelaki, suaminya. Mereka menyediakan waktu untuk menjenguk mereka setiap hari. Bersama keluarga dan teman kedua orang tua si bayi.</p>
<p>Bobot si bayi yang di bawah rata-rata, dengan kekuatan jantung yang kerjanya mengkhawatirkan, mau tidak mau menyandera mereka untuk intensif ulang-alik rumah tinggal-rumah sakit.</p>
<p>Begitu waktu cepat berlalu.. Beberapa tahun kemudian anak inkubator yang lemah itu sudah tumbuh menjadi remaja yang gesit. Namun tetap saja ia disebut dengan julukan anak inkubator.</p>
<p>Suatu sore, ibunya yang telah melahirkan dengan susah payah di rumah sakit bingung.</p>
<p>&#8220;Di mana anakku?&#8221;</p>
<p>Ketidakadaan anaknya di rumah merupakan teka-teki. Anak masih belum dewasa, sudah lenyap tanpa ada pemberitahuan.</p>
<p>&#8220;Mungkin di rumah temannya.&#8221;</p>
<p>Tapi teman yang mana?</p>
<p>Perempuan itu pun bersama suaminya, mencari tahu pada anak yang dikiranya temannya. Tidak ada. Ternyata anak inkubatornya punya teman banyak. Dan belum tentu anaknya bersama salah satu di antara mereka. Hingga terbercik kabar, salah satu dari teman anak mereka itu telah pergi bersama ke ibukota propinsi. Naik kereta.</p>
<p>Maka lebih paniklah kedua orang tua itu. &#8220;Telepon Mas, Puteranya Bu De.&#8221;</p>
<p>Mas, keponakan mereka yang di ibukota provinsi pun menjadi tumpuan ikut dalam pencarian. Ia yang dianggap tahu seluk-beluk kota metropolitan itu pun membuang agendanya yang bisa diganti dengan agenda pencarian anak inkubator, adik sepupunya itu.</p>
<p>Keponakan orang tua itu memastikan ke mana sesungguhnya adik sepupunya itu kelayapan tak tentu rimba di kota besar macam ibukota provinsi. Dianggapnya adiknya masih terlalu kecil untuk bisa menghadapi hiruk-pikuk kota besar yang hanya mengenal orang-orang besar. Itu dalam pandangan rata-rata di keluarga mereka.</p>
<p>Namun, Mas anak Bu De Padahal berpendapat dengan relatif lebih mudahnya masyarakat memperoleh bahan makanan sumber gizi, kedewasaan fisik dan hormonal yang berpengaruh pada kedewasaan sel-sel otak anak inkubator akan menjadikannya pun lebih cerdas dari perkiraan orang tuanya yang mengkhawatirkan ketidakberdayaannya menghadapi keganasan kota. Meski, anak inkubator sudah lebih dari dua hari tidak pulang ke rumahnya di sebuah kota kecamatan kawedanan di antara Kota Besar dengan Kota Kecil kampung halamannya.</p>
<p>Mas anak Bude menjadi orang paling sibuk hari itu. Mas mencari adiknya di setiap sudut stasiun Kota Besar, Stasiun kereta api yang besar dan sibuk mengantar kepergian dan kedatangan orang dari dan ke arah barat pulau mereka. Menurutnya, kekhawatiran kedua orang tua anak inkubator sangat beralasan karena ia adalah anak satu-satunya. Ia pun masih tergolong darah dekatnya. Maka ia harus mendapatkan adik sepupunya dalam keadaan selamat dan baik-baik saja, kalaulah anak inkubator di stasiun itu.</p>
<p>Kedatangan dan kepergian kereta api di stasiun peninggalan penjajah Belanda itu ia rasakan dengan penuh selidik, apakah ada adiknya di tempat-tempat stasiun itu. Sejak matahari masih bersinar garang sampai yang berkuasa adalah keremangan dan kegelapan di tiap sudut stasiun yang tidak tersirami lampu, ia coba lebih teliti.</p>
<p>Di antara kerumunan penumpang yang datang dan pergi, ia harapkan tampak kepala adiknya yang rambut di kepalanya hitam kemerahan itu.</p>
<p>Pencarian Mas berbuah kesia-siaan karena adiknya itu tidak ia temui di stasiun itu. Ia laporkan hasil pencariannya pada ibunya di Kota Kecil melalui pesawat telepon yang saat itu kebetulan belum lama dipasang di rumah di Kota Kecil itu.</p>
<p>Tidak ada telepon genggam di tangannya masa itu membuatnya tak menerima kabar terbaru bahwa ibunya beberapa detik lalu baru mendapatkan kabar dari ibu anak inkubator. Bahwa, anak itu telah kembali ke rumah.</p>
<p>Benar, anak inkubator yang sepupunya ternyata telah menuju ke Kota Besar bersama temannya untuk nonton pertandingan sepakbola. Tetapi, cuma sampai stasiun ia pun kembali lagi ke kotanya, karena pertandingan antara Kesebelasan Kota Besar dengan Kesebelasan Kota Satelit ditunda. Anak inkubator telah pulang dengan pengakuannya.</p>
<p>Kelegaan orang tua itu telah berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun terlewati. Anak inkubator yang anak SMP itu telah menjelma menjadi pemuda perguruan tinggi di Kota Besar yang harapan orangtuanya bisa menjadi tumpuan hati mereka untuk suatu kedamaian dan ketenangan dalam lautan samudera harapan orang tua yang telah jungkir balik bernafkah untuk berteduhkan rumah besar dengan langit-langit tinggi.</p>
<p>Demikian juga, Mas sudah bekerja di Ibu Kota Negara. Saat inilah peristiwa hilangnya anak inkubator kembali lagi terjadi dalam versi terbaru. Ia hilang lagi ke Ibu Kota Negara untuk menonton pertandingan sepakbola antara Kesebelasan Kota Besar melawan Kesebelasan Ibu Kota Negara. Dan ia memang telah memberitahu orang tuanya, namun waktu keberangkatannya adalah seperti waktu kepergian pencuri.</p>
<p>Tiba-tiba saja ia telah di Ibukota Negara, tanpa uang yang cukup untuk perjalanan pulang-pergi Kota Besar-Ibu kota Negara. Tahu-tahu ia sudah di Stasiun Ibu Kota Negara dan seusainya nonton pertandingan bersama teman-temannya ia masih sempat ke rumah Paman Muda di Ibu Kota Negara.</p>
<p>Waktu pun berlalu. Sampai masa HP sudah memasyarakat.</p>
<p>Kakak sepupu tadi menerima telepon dari nomor yang tak dikenalnya, kode dari Ibukota Provinsi. Anak inkubator menelepon dari suatu tempat, bukan dari HP-nya sendiri yang telah non aktif terlambat masa isi ulang!</p>
<p>Suara adiknya itu masih cukup dikenalnya, apalagi terbantu untuk mengenal ketika ia menyebut siapa dirinya, &#8220;Saya, Mas..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada apa Dik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas, saya minta maaf, ngganggu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh minta bantuan Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa..?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eemm.. Mas nggak marah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak&#8230;. apa dulu..?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak marah kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak..&#8221;</p>
<p>&#8220;Emm..&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa Dik..&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya mau meminjam uang.. boleh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Berapa dulu..&#8221;</p>
<p>&#8220;Lima ratus ribu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk mbayar skripsi..&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmmm.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kalau nggak segitu nggak papa kan Dik..&#8221; &#8220;Emm..&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau saya nanti usahain seratus, nanti yang lain saya kontak dulu sama Om dan Mas yang lain,&#8221;.</p>
<p>&#8220;Emm..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ngirimnya ke mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ke rekening temanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kok nggak rekeningmu..?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak punya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rekening temanku nanti ku SMS Mas..&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi nggak lima ratus nggak papa kan..&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti ku SMS Mas.&#8221;</p>
<p>&#8216;Gila, anak ini, pinjam uang tapi minta dikirim ke rekening temannya. Bukan rekeningnya sendiri.&#8217;</p>
<p>Kakak sepupu itu pun menelepon omnya yang disebut namanya oleh anak inkubator itu.</p>
<p>&#8220;Gini Om, anak inkubator habis telepon aku, ia minta tolong dikirimi uang lima ratus ribu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk apa katanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Skripsi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho, bapaknya gimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kelihatannya nggak tahu, ia minta supaya jangan memberitahu bapaknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pak De gimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya belum telepon, saya cuma katakan akan coba ngasih tahu Om, barangkali nanti biasa minta bantuan Om juga. Jadi enaknya gimana Om?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan anak itu memakai untuk yang bukan-bukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, dia suka ngrokok.&#8221;</p>
<p>&#8220;Gawat, pengaruh lingkungan yang buruk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, bahkan mungkin lebih dari itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa itu Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin main cewek.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, gawat. Makin nggak bener.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi gimana Om?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti kalau kita kasih tanpa tahu bapaknya malah nggak ndidik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba tanya Bapak dulu Mas, supaya kita nggak salah langkah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya Om. Aku juga katakan pada anak inkubator itu bahwa mungkin aku bagi peran sama Om dalam sumbangan untuknya itu.&#8221;</p>
<p>Telepon menelepon seperti itu pun ia lakukan segera dengan bapak Mas sendiri. Ia segera menelepon Kota Kecil.</p>
<p>Jawabnya bisa diduga.</p>
<p>&#8220;Nggak usah. Bocah nakal, pasti uang yang dikasih Bapaknya sudah dipake njajan dan ngrokok. Main aja. Nggak usah. Nggak Ndidik. Nanti biar Bapaknya dikasih tahu Bapakmu,&#8221; ibu Mas mengutarakan ini di telepon.</p>
<p>Dan mereka semua sepakat, &#8220;Nggak perlu manjain bocah nggak bener.&#8221;</p>
<p>Seperti yang dijanjikan, beberapa hari kemudian anak inkubator menelpon kakak sepupunya, ia langsung menanyakan apa Mas sudah mengirim uang ke rekening tabungan temannya.</p>
<p>&#8220;Nggak bisa Dik. Aku nggak punya uang.&#8221;</p>
<p>Anak inkubator kecewa, ternyata kakak sepupunya tidak perhatian padanya.</p>
<p>&#8220;Kurang ajar,&#8221; matanya berkaca-kaca, &#8220;Harus kepada siapa lagi aku minta bantuan?&#8221;</p>
<p>Ia SMS ke Om-nya, pamannya ini juga lebih dulu tanya Bapak Mas di KotaKecil. Tentu saja masukan dari Bapak sama dengan yang disikapkan oleh ibu. Mereka telah membicarakan hal ini.</p>
<p>Anak inkubator terpukul.</p>
<p>&#8220;Kurang ajar, saudara-saudaraku tidak ada yang mendukungku.&#8221;</p>
<p>Yang terjadi malah ia ditanyai Bapaknya, bahkan disemprot habis-habisan.</p>
<p>&#8220;Untuk apa uang yang sudah bapak kasih untuk melunasi biaya skripsi itu?!&#8221; perlawanan kata mulai dari sikap lunak sampai tindakan keras.</p>
<p>Ibunya membela lagi dengan jalan tengah. Dosen anak inkubator yang mengurus skripsi sudah ditanyai di Kota Besar. Memang belum menerima uang skripsi itu. Tak ada jalan lain, Bapaknya langsung membayarkannya.</p>
<p>Semoga skripsi anak inkubator segera kelar.</p>
<p>Tak berapa lama kemudian anak inkubator pun menggondol gelar sarjana. Ia kembali dekat dengan kakak dan om-nya yang telah menolak memberi bantuan lima ratus ribu rupiah. Ia bekerja di kota yang sama, di Ibu Kota Negara. Terlepas ada bantuan atau tidak dari kakak sepupu dan om-nya itu, anak inkubator kemudian berhasil bekerja dengan penghasilan yang besarnya jauh melebihi besar penghasilan Mas, kakak sepupunya dan om-nya yang menolak memberi bantuan uang krisis untuk skripsi pada sang bayi inkubator. ***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shamyaza.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shamyaza.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shamyaza.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shamyaza.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shamyaza.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shamyaza.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shamyaza.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shamyaza.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shamyaza.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shamyaza.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shamyaza.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shamyaza.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shamyaza.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shamyaza.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=173&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/22/anak-inkubator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad52ae32859ba5d07d0149f0acc4324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shamyaza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sang Surya : Bab II</title>
		<link>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/12/sang-surya-bab-ii/</link>
		<comments>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/12/sang-surya-bab-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 15:42:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saklas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sang Surya]]></category>
		<category><![CDATA[fantasy novel]]></category>
		<category><![CDATA[karya anak negeri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[novel amatir]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Fa]]></category>
		<category><![CDATA[Novel fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[novel fantasi amatir]]></category>
		<category><![CDATA[novel gratis]]></category>
		<category><![CDATA[novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[penulis amatir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shamyaza.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[BAB II : RANTAI TAKDIR Di Nusantara ini para paranormal dan insan supranaturalis masih ada dan bertahan di antara gempuran zaman teknologi yang semakin canggih. Kalau boleh dibilang, sebenarnya kita ini penjaga tradisi yang sama hebatnya dengan Jepang, namun entah kenapa insan pers nasional maupun internasional lebih sering memuji-muji Jepang sebagai negara yang kukuh menjaga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=179&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:center;"><strong>BAB II : RANTAI TAKDIR<br />
</strong></h3>
<p>Di Nusantara ini para paranormal dan insan supranaturalis masih ada dan bertahan di antara gempuran zaman teknologi yang semakin canggih. Kalau boleh dibilang, sebenarnya kita ini penjaga tradisi yang sama hebatnya dengan Jepang, namun entah kenapa insan pers nasional maupun internasional lebih sering memuji-muji Jepang sebagai negara yang kukuh menjaga tradisi mereka. Barangkali hal ini karena mereka menjunjung tradisi mereka mulai dari sang Kaisar, Perdana Menteri, para pejabat, hingga masyarakat kelas bawah. Sementara kita? Para petinggi negeri ini hanya tertarik pada kelestarian budaya jika hal itu membuat mereka diliput dan mendongkrak popularitas mereka sehingga mereka dapat melanggengkan jabatan mereka, sementara para penjaga tradisi yang sebenarnya hidup sengsara di tengah kepungan utang dan tuntutan akan kebutuhan hidup yang makin lama makin berat.<span id="more-179"></span></p>
<p>Adapun meski hampir semua telinga manusia di Nusantara ini pernah mendengar yang namanya khodam, hanya sedikit orang yang tahu bagaimana cara menggunakan serta mengendalikan mereka. Orang-orang semacam ini disebut Sang Pengendali. Di antara para pengendali, ada sebagian kecil orang yang mampu memanggil para <em>Kalingga</em> untuk membantu mereka. Kaum ini disebut Pengendali <em>Kalingga</em>.</p>
<p>Adalah seorang anak laki-laki tak berayah di sebuah kota bernama Salatiga. Ia bernama Affandi. Affandi, nama yang mirip dengan penulis abstrak kenamaan Indonesia, “Affandi”. Ya memang almarhum ayahnya adalah seorang pelukis yang sangat mengagumi “Affandi Sang Pelukis”, karena itu ia namai anak tunggalnya dengan nama Affandi. Affandi kecil, seorang anak berusia 14 tahun, entah dari mana seolah merupakan titisan “Affandi Sang Pelukis”. Entah di manapun juga ia selalu menorehkan lukisan abstrak yang hanya sedikit orang tahu. Namun tiap torehan lukisannya selalu memiliki makna. Pernah suatu ketika ibunya hendak membuang kain-kain perca sisa jahitannya namun oleh Affandi dimintanya semua kain perca itu dan dibuatlah potongan-potongan kain perca itu menjadi sebuah lukisan kain berkisah tentang pengemis yang meminta-minta. Lain waktu, ia pernah menggambar sebuah lukisan epik Kresna melawan Arjuna di halaman belakang rumahnya yang membuat orang-orang sekitar terperangah melihat kegesitan tangan anak itu.</p>
<p>Affandi bersekolah di kelas IX SMPN 1 Salatiga, di sana ia berteman dengan seorang anak bernama Indra Jumantra<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>. Indra Jumantra adalah seorang anak yang super pendiam, ia tidak banyak bicara kecuali pada Affandi. Alasan mengapa ia hanya dekat dengan Affandi karena hanya Affandilah yang mengerti beban dan perasaan yang ia tanggung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Indra Jumantra</strong></p>
<p>Pada tahun 2026, tepatnya tanggal 14 Januari, lahirlah sesosok orok bayi bernama Indra Jumantra di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Salatiga. Di sana hadir seorang pria yang merasa seperti menjadi orang terbahagia di dunia ini, ia adalah ayah dari Indra Jumantra yang bernama Sutarto Kaharsa, seorang guru PNS di SMAN 02 Salatiga. Pada saat kelahiran Indra, begitu tahu anaknya mengeluarkan suara tangisnya untuk pertama kali ia langsung bersujud syukur pada Sang Pencipta atas anugerah kedua yang ia terima. Anak sulungnya Ristra Saraswati hanya melihat dengan tatapan keheranan atas perilaku ayahnya itu, namun haruslah dimaklumi, ia masihlah anak kecil.</p>
<p>Sang ayah melihat bahwa pintu ruang operasi sudah terbuka, seorang perawat dan seorang dokter keluar dari ruang tersebut. Di tangan perawat tersebut terdapatlah sesosok anak lelaki, tangisannya keras membahana seluruh di lorong rumah sakit itu. Perawat tersebut menyerahkan si bayi ke dekapan sang ayah dan berkata, “Selamat Bapak, anaknya laki-laki dan sehat.”</p>
<p>Sang dokter tak mau ketinggalan, ia mengukurkan tangannya untuk berjabat tangan dan segera disambut oleh sang ayah, ia juga berkata, “Selamat atas kelahiran anak Bapak.”</p>
<p>Kelahiran seorang bayi memang membawa kebahagiaan bagi banyak orang, terutama kedua orangtuanya. Mereka dianggap sebagai karunia dari Yang Maha Kuasa. Namun dari sekian banyak bayi yang lahir, ada satu-dua bayi yang ditakdirkan memanggul takdir yang besar. Indra Jumantra, anak dari Sutarto Kaharsa adalah salah satunya. Pada tangan kanannya terdapat tanda lahir, sebuah tanda lahir berbentuk seperti matahari. Orang yang akrab dengan dunia sejarah Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia akan segera mengenali tanda itu sebagai… “Surya Majapahit<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>”</p>
<p>Indra Jumantra tumbuh menjadi anak lelaki yang sehat namun memiliki kemampuan di luar nalar orang normal. Ia bisa melihat dua alam, alam nyata dan alam gaib (astral). Terkadang itu membuatnya sulit membedakan mana yang nyata maupun tidak. Karena kedua orangtuanya tidak memiliki kemampuan semacam itu maka mereka sering memarahinya sebab mereka menyangkanya berkhayal yang tidak-tidak. Bahkan Sutarto Kaharsa pernah menampar Indra Jumantra yang saat itu berusia 8 tahun karena berbicara dengan para makhluk penghuni rumahnya. Ia memarahi Indra habis-habisan, “Sekali lagi Bapak melihat kamu bicara dengan teman-teman khayalanmu maka Bapak masukkan kamu ke Rumah Sakit Jiwa!”</p>
<p>Begitulah, sejak saat itu Indra Jumantra selalu menghindari berbicara dengan para makhluk gaib di manapun mereka berada. Jalan pikiran nalar dan logika Sutarto Kaharsa, ayahnya tidak bisa dibantah lagi. Ayahnya bukan orang yang bisa ia ajak bicara soal ini, karena itu Indra Jumantra lebih senang menyendiri. Di saat menyendiri ia mulai belajar banyak mengenai makhluk-makhluk ini. Jika para penghuni gaib di rumahnya sangat bersahabat dengannya maka semakin sering ia bepergian ke tempat-tempat lain, ia menemukan bahwa banyak pula makhluk gaib yang tidak suka akan dirinya dan berusaha mencelakakannya. Jika sudah begitu maka ia harus beradu tanding dengan para makhluk tadi. Ia selalu menang namun hal itu membuat seluruh tubuhnya terasa sakit dan terkadang membuatnya menderita demam tinggi.</p>
<p>Jika sedang demam dan tergolek lemah maka para penghuni rumahnya yang terdiri dari seorang kakek tua bernama Ki Wibisana dan seorang nenek bernama Nyai Branyak akan datang menghiburnya dan mengajarinya berbagai hal mengenai cara-cara melawan makhluk-makhluk jahat semacam itu. Selama mereka memberikan wejangan semacam itu biasanya Indra tetap tutup mulut. Ki Wibisana dan Nyai Branyak paham alasan mengapa anak itu menutup mulutnya rapat-rapat karena tidak ingin dimarahi oleh ayahnya karena itu sesudah mereka memberikan wejangan biasanya mereka akan segera pergi meninggalkan kamar Indra. Indra sendiri termasuk anak yang cerdas. Segala wejangan dari dua khodam penghuni rumahnya itu selalu ia ingat baik-baik.</p>
<p>Suatu ketika berkatalah Nyai Branyak pada Ki Wibisana, “Ki Wibisana, aku melihat bahwa anak itu tumbuh semakin besar dan kuat. Dia bisa melihat kita, aku yakin ia adalah kaum penerawang. Hanya saja auranya lebih kuat daripada kaum penerawang yang aku temui selama ini. Menurutmu kelak akan menjadi apa anak itu Ki Wibisana?”</p>
<p>Ki Wibisana pun menjawab, “Aku juga tidak tahu Nyai, tapi aku melihat semakin hari cakra anak itu semakin terbuka lebar. Ia bukan sekedar kaum penerawang Nyai, aku curiga ia termasuk …”</p>
<p>“Sang pengendali?”sahut Nyai Branjang cepat.</p>
<p>“Betul sekali Nyai!”sahut Ki Wibisana sambil mengacungkan jempol.</p>
<p>“Heh! Untuk apa kau acungkan ibu jarimu segala Ki?”</p>
<p>“Kan sedang populer di dunia manusia?”</p>
<p>“Ki Wibisana, kita ini khodam!”</p>
<p>“Ah Nyai, aku rasa sekali-kali kau perlu jalan-jalan ke mall di depan sana dan melihat gaya hidup manusia yang rasaku semakin menarik saja. Khodam atau bukan, rumah ini adalah tempat tinggal kita. Kita turut menjaga rumah ini maka tidak salah kan kalau kita sesekali meninggalkan rumah ini untuk sekedar berjalan-jalan Nyai?”</p>
<p>Nyai Branyak hanya tersenyum mendengar kata-kata suaminya. Memang benar mereka sudah menjaga bangunan dan tanah ini selama 900 tahun. Dan selama 300 tahun terakhir Nyai Branyak memang tidak pernah meninggalkan tanah ini, namun Ki Wibisana yang berjiwa selalu ingin tahu telah berkali-kali melanglang buana sebelum akhirnya kembali lagi ke tempat ini.</p>
<p>Nyai Branyak kemudian menyahut, “Ayo suamiku, mari kita melihat-lihat dunia sekali lagi.”</p>
<p>Maka kedua pasangan suami istri dari alam gaib itupun pergi meninggalkan tempat tinggal mereka sekali lagi. Namun sebelum pergi mereka pergi ke sekolah di mana Indra bersekolah. Nyai Branyak memanggil-manggil Indra supaya menuju ke halaman belakang sekolah yang terkesan sepi dan angker.</p>
<p>Indra pun beranjak ke tempat itu, menanggapi panggilan Nyai Branjang. Adapun ada seorang anak lelaki bernama Affandi yang melihat kejadian itu. Ia heran dan bergumam dalam hati, “Bukankah kebun belakang sekolah adalah tempat yang angker? Kenapa Indra nekat ke sana?”</p>
<p>Affandi, adalah seorang kaum penerawang, kaum yang juga sering disebut para ahli sebagai anak-anak indigo, yang mampu baik alam nyata dan alam gaib atau alam astral. Melihat temannya mungkin bisa celaka jika nekat menuju ke sana, maka Affandi pun bangkit dari bangku taman sekolah dan menyusul Indra ke halaman belakang sekolah mereka.</p>
<p>Di halaman belakang ia melihat Indra sedang bercengkerama dengan pasangan kakek dan nenek yang jelas-jelas ia tahu, bukan manusia. Maka dengan segera ia menghardik Ki Wibisana dan Nyai Branyak, “Hei! Apa yang akan kalian lakukan pada temanku, dhemit<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> sialan?”</p>
<p>Nyai Branyak dan Ki Wibisana amat terkejut mengetahui Affandi dapat melihat mereka. Segera saja Ki Wibisana menyahut, “Kaum penerawang lagi? Kupikir tidak ada orang lain yang bisa melihat kita di sini.”</p>
<p>Indra dengan segera berkata pada temannya itu, “Tenang saja, aku mengenal mereka dan mereka tidak berniat jahat padaku. Mereka adalah khodam yang mendiami rumahku.”</p>
<p>Affandi pun akhirnya tenang dan Indra pun kembali menemui pasangan suami-istri itu sembari berkata, “Apa yang hendak Ki Wibisana dan Nyai Branyak katakan padaku?”</p>
<p>“Le<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>, kami hendak pergi melanglang buana sekali lagi. Kami sendiri tidak tahu kapan kami akan kembali, jadi karena itu Le, kami titip rumah kami padamu. Dan untuk membantumu menjaga rumah kami dan juga rumahmu, aku akan mewariskanmua ini!” kata Ki Wibisana sembari meletakkan telapak tangannya di dada Indra.</p>
<p>Indra merasakan adanya energi yang amat kuat mengalir ke dalam tubuhnya sehingga ia pun bertanya, “Apa ini Ki?”</p>
<p>“Aji <em>Tebah Margana</em><a title="" href="#_ftn5">[5]</a>, ajian yang cukup kuat untuk melindungimu dari serangan dhemit dan jin yang berniat jahat padamu dan keluargamu. Sekarang, kami permisi dahulu,” kata Ki Wibisana.</p>
<p>Maka pasangan suami istri itu perlahan menghilang dan Indra hanya memandang tempat di mana mereka tadi berdiri sambil tersenyum dan berkata, “Selamat jalan, kakek dan nenekku.”</p>
<p>Affandi hanya bisa berdiri keheranan melihat peristiwa tadi. Selama ini ia hanya mengenal yang namanya jin atau khodam yang mendekati manusia pastilah berniat jahat, tetapi yang ia lihat barusan amatlah berbeda dari fakta yang ia lihat selama ini. Pasangan suami-istri jin itu seperti kakek dan nenek bagi Indra. Affandi tidak bisa berkata apa-apa sebelum Indra menepuk bahunya dan berkata, “Ayo Indra, kita kembali ke kelas.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Affandi Kadarisman</strong></p>
<p>Seperti sudah diceritakan sebelumnya bahwa ia lahir di Salatiga, tepatnya pada 20 Mei 2026. Ia lebih muda daripada Indra namun lebih bisa bersikap dewasa daripada anak-anak seusianya. Ayahnya yang pelukis meninggal akibat penyakit kanker usus saat ia berusia 2 tahun. Ibunya menjanda muda, dan kemudian hidup sebagai operator mesin percetakan di sebuah perusahaan percetakan besar di Salatiga. Ia dalam hati masih mengutuki kematian ayahnya, ia merasa diperlakukan tidak adil. Di saat anak-anak lain bermain dengan riang-gembira dengan ayah mereka ia tidak pernah merasakan hal seperti itu. Ia selalu sirik memandangi anak-anak yang masih bisa bersikap kekanak-kanakan sementara dia sendiri harus hidup prihatin dan turut membantu ibunya dengan menitipkan kue buatan ibunya di kantin sekolahnya semenjak kelas 1 SD.</p>
<p>Hari demi hari ia menjalani hidup yang sudah dinilainya menyebalkan ini dengan <em>mengempet-ngempet<a title="" href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></em> perasaan sebalnya ini. Tanpa disadarinya dalam dirinya mulai muncul kemampuan luar biasa. Ini dimulai ketika di suatu hari Minggu saat dirinya sudah di kelas 4 SD sedang bersantai-santai, sementara ibunya sedang ada urusan di rumah pamannya. Seperti biasa ia duduk bermalas-malasan sambil menonton acara TV kesukaannya, kartun, yang meskipun tidak nyata dan tidak masuk di akal, mampu mengubah pola pikirnya sesaat bagaimana dunia ini masih menyimpan kenikmatan untuk ditinggali.</p>
<p>Setelah puas menonton acara TV kesukaannya, dipandangnya jam dinding rumahnya, masih menunjukkan pukul 10.00, masih pagi pikirnya. Maka diambilnyalah sepedanya dan memacunya ke lapangan kosong dekat rumahnya, pikirnya ia akan menghabiskan waktu  hingga sore di lapangan tersebut, bermain bola bersama teman-temannya. Namun baru saja hendak mencapai lapangan ia melihat sesuatu yang ganjil. Di kanan-kiri jalan yang ia lalui tampaklah makhluk-makhluk ganjil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ada seorang nenek yang berjalan dengan menenteng kepalanya, ada beberapa anak kecil berkepala gundul, berkulit putih pucat, dan hanya mengenakan celana dalam berlarian di jalan seolah tidak takut akan tertabrak mobil, ada pula seorang pria baruh baya, bercambang<a title="" href="#_ftn7">[7]</a> hitam lebat, serta berpakaian layaknya warok namun kepalanya hanya separuh, separuh kepalanya lagi rusak seolah habis dihantam sesuatu.</p>
<p>Affandi bergidik melihat pemandangan itu, ia pun makin mempercepat kayuhannya. Namun dengan segera ia sadar, bukannya semakin mendekati lapangan kosong tempat ia berniat bermain bola, ia malah tiba di suatu tempat yang berupa hutan lebat dengan pohon-pohon yang daunnya berwarna merah. Sinar matahari di tempat ini juga berbeda, tidak secerah sinar matahari seperti biasanya melainkan cenderung suram dan berwarna magenta, sehingga lingkungan sekitar ia berdiri juga tampak berwarna magenta.</p>
<p>Affandi pun mulai panik dan berseru-seru, “Tolong! Tolong! Apa ada orang di sini?”</p>
<p>Teriakannya hanya meggema di tempat itu namun teriakannya ternyata mengundang sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Beberapa saat setelah teriakannya menyebar ke seantero hutan itu, muncullah dari balik rerimbunan hutan yang gelap, makhluk-makhluk berwujud ganjil seperti yang ia temui di perjalanan tadi dengan jumlah yang lebih banyak lagi. Di antara mereka ada beberapa makhluk yang sudah sering ia lihat ketika melewati tempat-tempat angker semacam genderuwo, kuntilanak, <em>camlangkrik<a title="" href="#_ftn8"><strong>[8]</strong></a></em>, dan <em>banaspati<a title="" href="#_ftn9"><strong>[9]</strong></a></em>.</p>
<p>Para makhluk gaib itu bergerak secara perlahan-lahan mendekati Affandi, dengan satu niat, memakan tubuh anak itu. Affandi sendiri saking takutnya tidak dapat bergerak barang satu senti pun. Kakinya gemetaran dan tanpa sadar, ia pipis di celana. Sesosok kuntilanak dengan suara tawa khasnya yang mengerikan mendekati Affandi lebih dahulu dan dengan tangannya yang kotor serta berhias kuku-kuku panjang membelai pipi anak itu sembari berkata, “Jangan takut, anak manis. Kami akan membunuhmu secepat mungkin sehingga kau tidak akan terlalu menderita. Hihihihihiiiii!!!”</p>
<p>Jantung Affandi makin berdebar tidak karuan. Perlahan-lahan kakinya mulai tidak mampu lagi menopang tubuhnya sehingga ia jatuh tersungkur. Hatinya sudah amat takut dan pasrah, otaknya sudah bingung dan kalut sehingga ia tak bisa mengingat barang sebait doa pun. Namun di penghujung keputusasaannya itu, tiba-tiba muncullah dua sosok pria. Kedua pria itu tampaknya adalah saudara kembar karena wajah mereka bagaikan pinang dibelah dua.</p>
<p>Kedua pria itu tampaknya memiliki ilmu kanuragan yang amat tinggi, dilihat dari gerakan-gerakan silat mereka yang memukau dan mematikan. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk membunuh sebagian besar dari makhluk gaib itu dan membuat sebagian kecil yang selamat berlarian kembali ke hutan sambil mengeluarkan teriakan yang memilukan. Seusai ‘pembantaian’ itu kedua pria itu mendekati Affandi dan salah satunya berkata, “Kau tidak apa-apa Affandi?”</p>
<p>Affandi amat terkejut dengan perkataan orang itu dan segera menjawab, “Bagaimana kau tahu namaku?”</p>
<p>Kembarannya pun menyahut, “Kami tahu namamu karena kami dan engkau ditakdirkan untuk bersama. Kami adalah khodam penjagamu. Diwariskan oleh kakekmu pada ayahmu, namun karena ayahmu meninggal sebelum sempat mewariskan kami padamu maka butuh waktu lama bagi kami untuk menyesuaikan diri dengan dirimu.”</p>
<p>Affandi mengernyitkan dahi, “Aku semakin tidak mengerti.”</p>
<p>Pria pertama yang berbicara padanya tadi pun berkata, “Kau tidak perlu tahu semuanya untuk saat ini, namun jika kau dalam bahaya lagi, panggillah kami berdua dan kami akan siap membantumu.”</p>
<p>Affandi pun kembali berdiri dan kedua orang tersebut meletakkan tangan mereka di atas pundak Affandi, dalam sekejap mereka sudah kembali ke rumah Affandi di mana para tetangga sudah berkumpul. Kedua khodam itu pun akhirnya undur diri, “Affandi, kami undur diri dahulu.”</p>
<p>“Tunggu dulu, aku belum tahu siapa nama kalian!”sergah Affandi.</p>
<p>“Namaku adalah Ananta dan ini adalah adikku Amreta,”jawab orang yang pertama kali menghampirinya tadi dan setelah mengatakan hal tersebut kedua pria tadi menghilang seolah tersapu angin.</p>
<p>Affandi hanya bisa memandang takjub pada sosok kedua pria tadi. Kemudian ia berpaling pada rumahnya yang penuh dengan para tetangga dan kerabatnya. Timbullah kekhawatiran dalam dirinya. “Apa terjadi sesuatu pada ibuku?” gumamnya dalam hati.</p>
<p>Dengan bergegas ia menuju rumahnya dan memberi salam, “Assalamualaikum!”</p>
<p>Para tetangga dan kerabat-kerabatnya yang berkumpul di rumah itu segera memalingkan wajah mereka pada anak itu sambil menjawab, “Wallaikumsalam.”</p>
<p>Dari kerumunan itu tiba-tiba keluarlah ibunya dan langsung memeluknya dengan dekapan yang erat seolah ia telah pergi begitu lama. Maka bertanyalah Affandi pada ibunya, “Ibu, ada apa?”</p>
<p>“Aduh, nak! Kamu ke mana saja selama 2 hari ini?”</p>
<p>“Apa maksud Ibu?”</p>
<p>“Nak, kamu tidak ingat bahwa dua hari yang lalu kamu pergi tanpa pamit?”</p>
<p>“Ibu, aku hanya pergi selama 3 jam.”</p>
<p>Mendengar jawaban anak itu, sontak para tetangga dan kerabat Affandi amat kaget. Mereka tahu dengan amat sangat bahwa Affandi adalah seorang anak yang jujur dan tidak mungkin berbohong. Seorang kakek tua dari antara mereka kemudian berdiri dan mendekati Affandi, memegang pundak anak itu dan kemudian berbicara pada seluruh hadirin di ruangan tersebut, “Bapak, Ibu sekalian saya kira Affandi baru saja kembali dari suatu peristiwa yang membuat dia <em>shock</em> karena itu biarlah ia beristirahat dahulu dan kalau ia sudah tenang maka bolehlah kita menanyai dia.”</p>
<p>Semua hadirin di situ mengangguk sepakat, dan satu persatu pamit pada Ibu Affandi dan kembali ke rumah mereka masing-masing. Hingga akhirnya tinggallah Affandi, ibunya, serta orang tua tadi. Orang tua itu kemudian mendekati Ibu Affandi dan berkata padanya, “Lastri, saya kira kau, saya dan Affandi harus bicara serius mengenai masalah ini!”</p>
<p>Ibu Affandi hanya mengangguk dan kemudian memanggil Affandi untuk duduk di sampingnya. Affandi pun menurut saja, ia segera duduk di samping ibunya dan kemudian orang tadi mulai bicara, “Affandi, saya Priyono, sahabat dari kakekmu dari pihak ayah. Saya kemari karena beberapa hari yang lalu karena saya ada suatu konferensi di sini namun tiba-tiba ibumu menelepon dan mengatakan bahwa kau hilang dari rumah selama 2 hari tanpa penjelasan dan jejak apapun. Karena itu saya kemari, namun ternyata perihal hilangnya dirimu selama 2 hari adalah karena kau diculik <em>dhemit<a title="" href="#_ftn10"><strong>[10]</strong></a></em> rupanya.</p>
<p>Affandi mengernyitkan dahi dan berkata, “Kakek Priyono, saya tidak tahu atas apa yang terjadi, saya saat itu hendak bermain bola di lapangan tapi tiba-tiba saja saya sudah berada di kawasan hutan lebat yang penuh dengan makhluk-makhluk mengerikan.”</p>
<p>“Kau dibawa ke alam mereka, Affandi. Mereka merasakan energi yang besar mengalir pada dirimu. Dan mereka hendak memangsamu supaya mereka bisa meningkatkan kemampuan mereka. Itulah cara kerja <em>dhemit</em>,” kata Priyono sambil memegang dan memeriksa pergelangan tangan Affandi.</p>
<p>“Namun,” ia melanjutkan, “ Tampaknya Anggana Praptopati dan Anggana Pratonggopati sudah menolongmu dari cengekeraman mereka.”</p>
<p>“Anggana….  Siapa&#8230;.? tanya Affandi makin bingung.</p>
<p>“Anggana Praptopati dan Anggana Pratonggopati, dua khodam kembar milik kakekmu yang sudah diwariskan secara turun temurun di kalangan keluarga kakekmu. Aku mengetahuinya, ibumu pun mengetahui perihal keberadaan mereka. Namun sejak Rudi Para, ayahmu meninggal dunia akibat kecelakaan 10 tahun yang lalu kami tidak pernah lagi melihat mereka. Namun sekarang …. mereka muncul kembali di sini!”</p>
<p>Maka tampaklah kedua khodam kembar Anggana Praptopati dan Anggana Pratonggopati muncul dari balik pintu depan dengan cara menembus pintu tersebut. Mereka melempar senyum pada ketiga orang tersebut dan terakhir kali bersujud di hadapan Affandi.</p>
<p>Affandi kemudian memandang Priyono dengan serius, “Maksud Kakek mereka adalah pelindungku?”</p>
<p>“Ya dan bukan satu-satunya pelindungmu. Kakekmu memiliki banyak pusaka dan khodam pelindung yang jumlahnya puluhan. Namun semenjak kematian ayahmu banyak sekali yang menghilang. Tapi aku percaya kelak kau akan dapat mengumpulkan mereka semua kembali.”</p>
<p>“Aku tidak mau kekuatan ini,” kata Affandi ketus.</p>
<p>“Aku sendiri juga tidak tahu kenapa kau dan para moyangmu memiliki kekuatan ini, Nak. Tapi kata kakekmu dahulu ini berkaitan dengan Kaum Pengendali. Ibu sendiri juga tidak tahu seperti apa mereka dan apa tujuan mereka serta apa peranmu di sana, namun satu yang Ibu tahu, jangan pernah menolak hadiah dari Yang Kuasa, Nak,” kata ibu Affandi lembut sembari memeluk anaknya.</p>
<p>Priyono hanya bisa bergumam dalam hati, “Anak ini sudah menguasai pengendalian khodam. Sebentar lagi kaum pengendali akan bangkit kembali dan kali ini akan melibatkan pula Sang Pengendali Kalingga. Tenanglah Sujarwo, akan kujaga cucumu ini dan akan kubimbing dia pada jalan yang benar.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pratanala</strong></p>
<p>(Gapura Waringin Lawang, Trowulan Jawa Timur)</p>
<p>Gapura Waringin Lawang, suatu situs sejarah berbentuk gapura yang diperkirakan menuju suatu komplek di wilayah Majapahit Kuno. Para wisatawan datang silih berganti, ada yang mengagumi keindahan dan kemegahannya, ada yang mengutuki tempat ini karena memaksa mereka mengunjunginya, ada yang membawa sesajen untuk penghuni tempat tersebut, bahkan ada pula yang datang untuk merusak situs bersejarah itu meski para petugas Balai Purbakala yang bertugas cukup tanggap dan selalu berhasil menggagalkan aksi semacam itu.</p>
<p>Di Gapura tersebut berkumpul banyak sekali khodam, mereka adalah sukma para prajurit Majapahit di masa lalu yang terikat pada tempat itu segera sesudah Brawijaya V, raja terakhir Majapahit meninggalkan Majapahit dan memulai masa pelariannya. Namun ada juga dari antara mereka yang berasal dari masa yang lebih lampau seperti pada masa Wikramawardhana, Bhre Wirabhumi (Hayam Wuruk), dan Tribhuwanatunggadewi. Di antara para khodam tersebut ada suatu sosok khodam yang paling terlihat berbeda dari antara khodam lainnya, ia adalah Pratanala Kadgada, seorang prajurit dan panglima perang Majapahit di masa Hayam Wuruk selepas mangkatnya Mahapatih Gajahmada. Ia adalah salah satu dari Mahamantri Agung yang diangkat Paduka Hayam Wuruk untuk melaksanakan tugas sebagai Mahapatih bersama tiga orang lainnya yang saat ini sudah muksa karena sudah melepaskan keterikatannya pada dunia.</p>
<p>Adapun Pratanala masih memiliki suatu ikatan pada dunia. Dahulu sebelum wafatnya Hayam Wuruk, rajanya itu membisikkan suatu kata-kata yang menjadi sumber mengapa ia terikat di tempat ini sampai saat ini, “Jadilah Kalingga dan lindungi Kalpataru. Pada masa di mana saat itu telah tiba, akan ada seorang anak berkemampuan istimewa yang kiranya kemampuan kanuragannya setara dengan Sri Kertarajasa. Mengabdilah padanya dan ketika ia sudah menyelesaikan tugasnya, temui aku dan seluruh rakyat Majapahit di Paranirwana sana. Aku akan menunggumu, Pratanala.”</p>
<p>Pratanala akhirnya memutuskan untuk mengikat dirinya di wilayah Trowulan ini paska kematiannya di medan pertempuran antara pasukan Majapahit dan pemberontak Kadiri pada masa Wikramawardhana memerintah. Ia menunggu dan terus menunggu namun hari ini kesabarannya habis sudah. Ia mengamuk tidak jelas sembari mondar mandiri tidak karuan dari gapura Bajang Ratu ke gapura Wringin Lawang. Ia akhirnya berteriak keras, “Sampai kapan aku harus menunggu pengendali Kalingga itu datang?!!!! Bosan aku saban hari terikat di Ibu Kota saja. Tidak adakah sesuatu yang lebih menantang selain memandangi anak-anak dan manusia-manusia dalam pakaian aneh-aneh itu yang saban hari memandangi ibu kota tanpa tahu betapa beratnya perjuangan kita mempertahankan ibu kota ini sampai saat ini?”</p>
<p>“Wuahahahahahaha!!” tiba-tiba terdengar suara tawa yang sangat keras dari puncak gapura Wringin Lawang.</p>
<p>Pratanala mendongak dan di sana ia melihat sesosok khodam seperti dirinya berdiri di dekat gapura Wringin Lawang sambil tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya. Ia adalah sesosok lelaki berusia 25 tahunan dengan pakaian seperti raja, memakai mahkota emas berukir ular dan pakaian dari kain sutra berwarna kuning berhiaskan selendang merah. Sosok khodam itu tiada berhentinya tertawa sebelum Pratanala akhirnya bertanya, “Maaf Prabu Suhita<a title="" href="#_ftn11">[11]</a>, apa yang menurut Paduka sangat lucu sehingga Paduka sampai tertawa sekeras itu?”</p>
<p>“Kelakuanmu, Paman Pratanala! Ha ha ha ha!! Paman seperti anak ayam kehilangan induknya dengan mondar-mandir ke seluruh ibukota ini. Ha ha ha ha ha!!” kata Suhita sambil masih tertawa memegangi perutnya.</p>
<p>“Sudah lama sekali aku menunggu Sang Pengendali Kalingga menemukanku, namun sudah lewat lebih dari 500 tahun tanpa aku tahu kapan dia akan muncul. Dan sialnya aku terjebak di ibukota ini tanpa bisa keluar dari sini! Aku rasa pikiranku sudah mulai kacau.”</p>
<p>“Pikiranmu tidak kacau, Paman. Jiwamu saja yang kacau, lagipula tenanglah, hari ini kita akan bebas. Salah satu prajurit kita sudah melaporkan padaku akan kedatangan rombongan siswa ke tempat ini. Dan ia menceritakan bahwa dua dari antara mereka memiliki aura yang tidak biasa. Berharap saja bahwa salah satu dari mereka adalah Sang Pengendali Kalingga,” kata Suhita menenangkan Pratanala.</p>
<p>Pratanala pun akhirnya mulai tenang, dan ia pun terbang ke areal Kolam Segaran untuk memperhatikan para siswa yang sedang <em>study tour</em> itu. Matanya kemudian menatap tajam pada Indra Jumantra. Indra merasa dirinya diamat-amati menoleh ke arah Pratanala. Dua individu ini akhirnya saling berpandangan, dalam diri Pratanala merasakan dalam dirinya bergejolak perasaan yang aneh. Perlahan namun pasti, Pratanala berlutut di hadapan Indra Jumantra. Indra mencolek bahu Affandi dan mereka berdua melihat bahwa seluruh areal itu tiba-tiba terlihat pemandangan aneh, seluruh khodam di daerah itu berlutut memberi hormat pada Indra Jumantra. Affandi pun bertanya pada Indra, “Kau kenal mereka? Kenapa mereka menyembahmu?”</p>
<p>“Aku tidak tahu, Ndi. Tapi lebih baik panggil khodam kembarmu.”</p>
<p>“Oke,” jawab Affandi lalu memanggil Praptopati dan Pratonggopati.</p>
<p>Saat kedua khodam tersebut keluar, muncullah Suhita dan langsung menghambur ke arah mereka berdua lalu memeluk Praptopati dan Pratonggopati, “Lama tidak berjumpa saudataku!”</p>
<p>“Kakang Suhita, apakah kakang baik-baik saja?” tanya mereka berdua.</p>
<p>Affandi pun berbicara pada kedua khodam kembarnya itu melalui percakapan mental, “<em>Aku tidak tahu ada apa sebenarnya ini, tapi tolong kita bicarakan ini pada waktu istirahat,”</em></p>
<p>“<em>Baik Tuan!</em>” jawab mereka berdua serempak juga melalui percakapan mental.</p>
<p>Affandi dan Indra pun berjalan pergi bersama teman-teman mereka ke arah situs lain. Sepeninggal Affandi dan Indra, bertanyalah Pratanala pada Praptopati dan Pratonggopati, “Apakah anak yang kalian panggil ‘Tuan’ tadi adalah Pengendali Kalingga?”</p>
<p>“Bukan! Ia memang punya bakat supranatural. Tapi ia bukan Sang Pengendali Kalingga, hanya Kaum Pengendali biasa,” jawab Praptopati.</p>
<p>Wajah Pratanala langsung menampakkan kekecewaan, namun Pratonggopati langsung menyambung, “Namun anak yang berdiri di samping tuan kami tadi kemungkinan besar adalah Sang Pengendali. Meski ia tidak punya khodam, namun ia bisa mengalahkan beraneka ragam dhemit hanya dengan pukulan telapak tangannya.”</p>
<p>“Anak itu …. Pengendali Kalingga? Yang benar kalian?” tanya Pratanala tidak percaya.</p>
<p>“Sudah, sudah Paman. Mari kita tunggu saat mereka istirahat dan kita akan berbicara pada mereka,” kata Suhita menenangkan Pratanala.</p>
<p>Perbincangan antara khodam kembar itu dengan Suhita dan Pratanala berlangsung cukup lama. Praptopati dan Pratonggopati menceritakan pada Suhita dan Pratanala segala seluk beluk kehidupan Indra  dan Affandi, mengenai tingkat aura Indra yang di luar batas kewajaran kaum Pengendali sampai dugaan mereka bahwa Indra adalah Sang Pengendali Kalinggga.</p>
<p>Sesudah tur di kawasan Gapura Wringin Lawang selesai, seluruh peserta tur dipersilahkan istirahat, banyak siswa yang menghabiskan waktunya berjalan-jalan, jajan, duduk di bawah pohon rindang, dan sebagainya. Tapi Indra dan Affandi menyelinap keluar dari rombongan mereka dan menuju ke arah taman yang teduh dan rimbun akan pepohonan. Di sana Affandi memanggil khodam-khodamnya, “Praptopati dan Pratonggopati, kemarilah!”</p>
<p>Maka muncullah Praptopati dan Pratonggopati diikuti dengan Suhita dan Pratanala. Di sana Pratanala langsung angkat bicara, “Siapa dari antara kalian yang merupakan Sang Pengendali Kalingga?”</p>
<p>Affandi langsung mengarahkan jari telunjuknya ke arah Indra. Indra hanya bisa bengong melihat reaksi sahabatnya itu.</p>
<p>Pratanala mendekati Indra lalu mengamat-ngamati anak itu dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Indra yang merasa risih karena diamat-amati seperti itu langsung bertanya, “Ada perlu apa Tuan dengan saya?”</p>
<p>“Bebaskan kami semua yang terikat di Kota Raja ini, apabila kau lakukan hal itu maka aku akan mengabdi kepadamu,”</p>
<p>Indra langsung melihat ke arah para khodam yang berkumpul di sana yang memandang penuh harap pada Indra. Indra pun akhirnya berkata, “Baiklah Tuan, akan kubebaskan kalian. Sekarang beri aku waktu sedikit!”</p>
<p>Indra kemudian menyingsingkan lengan baju seragamnya lalu berlutut menyentuh tanah yang ada di dekatnya dan mengucapkan berbait-bait mantra dalam bahasa asing yang tidak diketahui Affandi namun dikenali Pratanala sebagai bahasa Sansekerta. Tak lama kemudian Indra menyudahi pembacaan mantranya lalu berkata pada Pratanala, “Mahamantri Pratanala dan Kanjeng Prabu Suhita, kalian dan pengikut kalian sudah terbebas dari kewajiban menjaga tempat ini. Akan ke mana dan hendak apa kalian setelah ini, itu terserah kalian. Kalian sudah bebas!”</p>
<p>Pratanala kemudian mencoba berkonsentrasi membayangkan Gunung Semeru tempat ia dahulu dilahirkan dan dalam sekejap ia sudah berada di desa tempat ia lahir dahulu meski saat ini kondisinya sudah banyak berubah. Pratanala kemudian berkonsentrasi untuk kembali ke Trowulan dan dalam sekejap saja ia sudah kembali ke Trowulan. Pratanala dengan girang berkata pada segenap kawan-kawannya, “Anak ini benar, kita sudah bebas!!!”</p>
<p>“Yeaaa!!!!” sorak segenap khodam tersebut.</p>
<p>Pratanala kemudian berjalan menuju Indra, kemudian sujud menyembahnya, “Sekarang biarkan diri hamba ini mengabdikan diri pada Paduka Indra Jumantra. Hamba berjanji akan selalu setia pada Paduka sampai akhir hayat Paduka.”</p>
<p>“Panggil saja Indra, aku tidak suka dipanggil Paduka karena tiada satu titik darah pun dalam tubuhku yang merupakan titik darah seorang raja. Dan andaikan ada sekalipun, aku tidak peduli akan hal itu,” kata Indra.</p>
<p>Suhita kemudian berjalan menuju Affandi lalu berkata, “Bolehkah saya ini mengabdi pada Nak Affandi? Saya ingin mengabdi bersama saudara-saudara saya ini pada Nak Affandi dan membantu Nak Affandi dalam perjalanan hidup Nak Affandi nantinya.”</p>
<p>“Kenapa Paduka Suhita, Maharaja Kerajaan Majapahit rela mengabdikan diri pada saya yang bukan siapa-siapa ini? Dan andaikan Paduka hendak mengabdikan diri, bukankah lebih layak bagi Paduka untuk mengabdi pada Indra yang jauh lebih kuat dan masih belum memiliki khodam?”</p>
<p>“Tidak Nak Affandi, saya tidak layak bagi dia. Saya hanyalah seorang raja yang gagal memimpin kerajaan. Adalah lebih layak seandainya Eyang Sri Kertarajasa<a title="" href="#_ftn12">[12]</a> sendiri yang mengabdi untuk Indra seandainya beliau masih ada.”</p>
<p>“Baiklah! Paduka Suhita, anda boleh mendampingi saya.”</p>
<p>“Terima kasih Nak Affandi.”</p>
<p>Demikianlah, sesudah hari itu Pratanala menjadi khodam pelindung bagi Indra sementara Suhita mengabdikan dirinya pada Affandi bersama kedua saudaranya yang kembar itu.</p>
<p>Indra dan Affandi sama sekali tidak mengetahui bahwa para khodam itu sebenarnya sudah melihat takdir yang membantang di hadapan kedua sahabat itu kelak. Dugaan mereka bahwa Indra adalah Sanga Pengendali Kalingga makin menguat meski mereka sepakat untuk merahasiakannya. Mereka melakukan itu atas saran Praptopati dan Pratonggopati supaya Indra tidak shock. Mereka sepakat akan memberitahukan hal tersebut perlahan-lahan.</p>
<p><strong>Kalingga</strong></p>
<p>(Nagari Dwipa-saat ini)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Istana itu berasitektur layaknya Piramida Bangsa Aztec dengan puncaknya adalah suatu ukiran batu berbentuk matahari yang dikelilingi oleh dua burung garuda. Istana tersebut terbuat dari batu marmer putih, mulus semulus marmer <em>Carrara<a title="" href="#_ftn13"><strong>[13]</strong></a></em>. Di dalam istana tersebut berseliweran para dayang berpakaian layaknya pakaian adat gadis-gadis Aceh dan para pengawal yang bercelana hitam dan tubuhnya hanya ditutupi oleh selembar rompi bermotif sulur tanaman, mirip pakaian adat pria suku Dayak.</p>
<p>Di dalam istana tersebut ada sebuah pintu yang tampaknya menuju sebuah ruang tahta, di mana raja bersemayam. Namun saat ini pintu itu tertutup dan di dalamnya duduk seorang raja yang dikelilingi para menterinya. Raja itu bernama Prahasta II, ia adalah raja ke-89 dinasti Kalingga atau Atlantis ini.</p>
<p>Di ruang tahta itu, Sang Raja memulai pembicaraannya setelah sekian lama sekumpulan orang itu duduk dalam kebisuan, “Aku mendapatkan tanda bahwa Sang Pengendali Kalingga sudah bangkit. Kita harus mempersiapkan para ksatria terbaik kita untuk bertempur di sisinya untuk membantunya melawan kejahatan yang akan menghancurkan Pohon Kalpataru. Kosalya, bagaimana persiapan ksatria kita?”</p>
<p>Sosok pria berkumis dan bercambang lebat dengan kulit hitam layaknya orang India itu langsung bangkit berdiri dan berkata, “Ampun Tuanku, karena adanya masalah dalam ruang antar dimensi, maka kita baru bisa mengirimkan dua orang ksatria kita untuk membantu Sang Pengendali Kalingga.”</p>
<p>“Dan siapa yang kau kirim?” tanya Prahasta.</p>
<p>“Kami mengirimkan Pangeran Pramudya dan Ambini, Tuanku.”</p>
<p>“Hmmm, bagus, dan berapa orang yang kau persiapkan untuk membantu Sang Pengendali?”</p>
<p>“Kira-kira berjumlah 50 orang ksatria selain Pangeran Pramudya dan Ambini, 150 orang pasuka berkuda, 500 orang pasukan pemanah, dan 300 orang pasukan infantri. Kita akan segera mengirimkan mereka ketika pintu dimensi sudah siap, Tuanku.”</p>
<p>“Parasara, bagaimana keadaan pintu dimensi saat ini?”</p>
<p>“Ampun Tuanku, keadaan pintu dimensi saat ini sangat sempit dan tidak stabil. Sangat sulit dan beresiko jika kita membawa banyak orang ke dunia nyata melalui pintu dimensi itu. Jika memaksa kita akan beresiko kehilangan separuh dari pasukan yang kita kirim, adapun yang selamat sekalipun akan terkuras energinya,” jawab seorang pria gemuk paruh baya bersorban dan berjubah kuning dengan sebuah lensa yang terikat dengan rantai menggantung di salah satu matanya sementara mata lainnya tidak berkacamata.</p>
<p>“Kapan anakku Pramudya dan Arimbi berangkat?” tanya Prahasta lagi.</p>
<p>“Tadi pagi, Tuanku. Saat ini mereka sudah tiba di dunia nyata dan sudah mulai mencari Sang Pengendali Kalingga,” jawab Parasara.</p>
<p>“Kabarkan padaku jika mereka sudah menemui Sang Pengendali Kalingga. Sebab … negeri Alengka sudah bangkit kembali dan akan menggunakan segala cara untuk menghancurkan Kalpataru yang harusnya menjadi pemulih bumi yang kita cintai itu sehingga kelak kita bisa kembali ke sana.”</p>
<p>“<em>Sendhika dhawuh</em>, Tuanku! Titah Tuanku akan kami laksanakan!” jawab seluruh menteri yang hadir di situ serempak. Lalu dengan tertib satu persatu dari mereka mulai meninggalkan ruangan hingga akhirnya hanya tersisa satu orang saja yakni seorang menteri bermahkotakan mahkota bertingkat yang terbuat dari perak dan wujudnya menyerupai Candi Prambanan. Menteri itu menghaturkan sembah sujud di hadapan Sang Raja lalu berkata, “Tuanku, izinkanlah hamba ke dunia nyata saat ini. Hamba hendak menebus kesalahan hamba di masa lalu, dan hamba kira mengabdikan diri pada Sang Pengendali Kalingga adalah satu-satunya cara agar hamba dapat menebus kesalahan hamba di masa lalu.”</p>
<p>“Kau masih mengingat-ngingat soal pertempuran itu? Tidakkah dengan mengabdikan diri sebagai salah satu panglima perangku kau sudah menebus segala kesalahanmu?”</p>
<p>“Memang benar Kalingga adalah dinasti keturunan Hastinaputra yang nyaris saja hamba hancurkan. Tapi meski Bharatayuda sudah berlalu, dan hamba telah mengabdikan diri sepenuhnya pada keturunan Pandawa, hamba merasa masih amat berdosa karena telah keras kepala tidak mau bergabung dengan pihak yang sebenarnya adalah saudara-saudara hamba. Karena itu izinkanlah hamba untuk saat ini, bertempur di pihak yang benar.”</p>
<p>“Baiklah kalau itu kemuanmu, Panglima Karna. Aku utus dirimu ke dunia nyata dan carilah Sang Pengendali Kalingga dan bantulah dia memahami dan menemukan kekuatannnya sebelum ksatria pilihan Alengka menemukannya.”</p>
<p>“Sendhika dhawuh, Tuanku!” jawab Karna memberi hormat dan kemudian langsung keluar menuju sisi barat istana.</p>
<p>Di sisi barat istana tersebut ada sebuah bangunan yang terdiri atas sekumpulan lingkaran berwarna emas yang terhubung satu sama lain di mana lingkaran terluar adalah lingkaran yang paling besar, di dalamnya ada lingkaran yang lebih kecil namun dengan posisi melintang, dan di lapisan berikutnya ada lingkaran baru yang lebih kecil lagi dengan posisi juga melintang terhadap lingkaran lapis kedua. Total ada 8 lapisan lingkaran dan masing-masing lingkaran dapat berputar bebas. Tempat itu bernama <em>Pintu Bapra</em>. Di sana tampak Parasara sedang sibuk mengoperasikan mesin tersebut dengan menekan sejumlah tomboldan tuas aneh yang jumlahnya sangat banyak dan rumit.</p>
<p>Karna berjalan mendekati Parasara dan berkata, “Salam Parasara!”</p>
<p>Parasara menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapati Panglima Karna ada di situ, “Ada apa Panglima Karna?”</p>
<p>“Paduka memberi izin padaku untuk turut membantu Sang Pengendali Kalingga. Bisakah kau buka gerbangnya dan mengizinkan aku lewat?”</p>
<p>“Aku bisa melakukannya tapi sebelum itu aku harus memberitahukan padamu bahwa ini akan tidak menyenangkan,” kata Parasara dengan mimik serius.</p>
<p>“Kenapa?” tanya Karna bingung.</p>
<p>“Tuan Pramudya dan Arimbi memang sudah tiba di dunia nyata dengan selamat, namun posisi mereka terpaut jauh. Tuan Pramudya memang mendarat di Nusantara III tapi Arimbi mendarat di suatu pedalaman sebelah timur Nusantara III tanpa tahu posisi sebenarnya dan saat ini Arimbi masih mencari jalan keluar yang belum ia temukan juga. Gerbang dimensi ini masih belum sempurna Panglima Karna, apa kau mau mencobanya?”</p>
<p>“Tentu saja,” jawab Karna mantap.</p>
<p>“Baiklah, kalau begitu silakan Panglima Karna berdiri di tengah-tengah <em>Pintu Bapra</em>.”</p>
<p>Karna menuruti perintah Parasara dan berdiri di tengah-tengah <em>Pintu Bapra</em>. Parasara kemudian mengaktifkan mesin itu dan muncullah sebuah lapisan berwarna kuning emas melapisi tubuh Karna lalu Karna pun menghilang dari hadapan Parasara. Parasara menengok ke arah tempat Karna tadi berdiri sembari berucap, “Semoga berhasil, Karna!”</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Jumantra = langit</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Surya Majapahit = bentuk ukiran lambang berbentuk matahari yang digunakan sebagai simbol kerajaan Majapahit</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Dhemit = lelembut = makhluk halus</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Le, kependekan dari Tole yang berarti anak lelaki kecil</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Secara harafiah berarti = pukulan angin</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Menahan-nahan</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> berjanggut</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Sesosok makhluk halus yang berwujud seperti wanita namun tubuhnya bengkok seperti huruf ‘S’</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Sesosok makhluk halus dengan wujud raksasa dan kemunculannya selalu ditandai dengan munculnya bola api</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Dhemit = makhluk halus</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Suhita adalah raja Majapahit ke-7 setelah Hayam Wuruk dan Wikramawardhana</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Yang dimaksud adalah Raden Wijaya</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Sejenis marmer berwarna putih dengan corak abu-abu yang amat indah dari Gunung Carrara. Pada masa Rennaissance biasa dipakai sebagai bahan untuk membuat patung batu.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shamyaza.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shamyaza.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shamyaza.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shamyaza.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shamyaza.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shamyaza.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shamyaza.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shamyaza.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shamyaza.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shamyaza.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shamyaza.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shamyaza.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shamyaza.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shamyaza.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=179&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/12/sang-surya-bab-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad52ae32859ba5d07d0149f0acc4324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shamyaza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sang Surya : BAB I</title>
		<link>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/12/sang-surya-bab-i/</link>
		<comments>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/12/sang-surya-bab-i/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 15:39:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saklas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sang Surya]]></category>
		<category><![CDATA[fantasy novel]]></category>
		<category><![CDATA[karya anak negeri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[novel amatir]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Fa]]></category>
		<category><![CDATA[Novel fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[novel fantasi amatir]]></category>
		<category><![CDATA[novel gratis]]></category>
		<category><![CDATA[novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[penulis amatir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shamyaza.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[BAB I: NUSANTARA III DAN KALPATARU &#160; Tahun 2040, Indonesia saat ini sudah mengalami kemajuan yang berarti di bidang ekonomi dan industri. Korupsi masih ada, meski kali ini KPK dan Kejaksaan lebih bergigi daripada masa-masa 2009-2012 yang lalu. Tapi Indonesia masih belum kehilangan budayanya yang dulu. Aneka tempat keramat masih tetap terjaga, aneka ritual kelenik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=177&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 align="center">BAB I: NUSANTARA III DAN KALPATARU</h1>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tahun 2040, Indonesia saat ini sudah mengalami kemajuan yang berarti di bidang ekonomi dan industri. Korupsi masih ada, meski kali ini KPK dan Kejaksaan lebih bergigi daripada masa-masa 2009-2012 yang lalu. Tapi Indonesia masih belum kehilangan budayanya yang dulu. Aneka tempat keramat masih tetap terjaga, aneka ritual kelenik untuk mendapatkan atau melanggengkan jabatan masih ada meski tidak sesubur dahulu. Namun yang menjadi keanehan dari negeri ini adalah peristiwa tahun 2028.</p>
<p><span id="more-177"></span></p>
<p>(Peristiwa Tahun 2028)</p>
<p>Pada masa itu, kebanyakan hutan sudah dibabat habis entah di Pulau Jawa, Andalas, Borneo, Sulawesi, Papua, ataupun kepulauan Nusa Tenggara dan Maluku. Hewan-hewan endemik Indonesia sudah punah dan para ilmuwan Indonesia kemudian meregenerasikan mereka melalui teknologi kloning yang sudah disempurnakan. Pada masa inilah muncul suatu keanehan, pada tanggal 4 September 2028 timbullah gempa bumi yang amat dahsyat dengan skala 8,1 skala Richter mengguncang Laut Jawa dan kemudian membentuk Palung Laut baru yang amat dalam. Palung laut ini disebut Palung Antareja serta memiliki kedalaman 8037 m dari permukaan laut, para peneliti negeri ini menerjunkan kapal selam mata-mata TNI AL tercanggih saat itu, KSRI (Kapal Selam Republik Indonesia) “Ikan Raja<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>”, kapal selam ini berbentuk seperti kapsul selam mini zaman sekarang yang memiliki kokpit kendali mirip helikopter namun dapat menampung 6 orang kru kapal dan 3 penumpang tambahan, dan seperti layaknya kapal selam TNI ‘Pasopati’ yang dimonumenkan di area Surabaya Plaza, Surabaya, kapal ini dicat dengan warna bagian bawah berwarna hitam dan bagian atasnya berwarna hijau gelap. Kapal selam ini menyelam sampai dasar palung tersebut dan di sana mereka menemukan sesuatu yang amat mengejutkan.</p>
<p>Di dasar palung yang seharusnya gelap itu terdapat seberkas cahaya hijau zamrud yang bersinar remang-remang, kapten kapal KSRI “Ikan Raja”, Kapten Ahmad Dadiri, memberi perintah pada anak buahnya, “Keluarkan lengan analisator kapal ini dan ambil sampel partikel dari sumber cahaya tersebut.”</p>
<p>Para operator lengan analisator segera mengeluarkan lengan analisator kapal selam tersebut. Lengan analisator ini berbentuk seperti lengan robot dengan genggaman seperti capit kepiting (laiknya robot pada umumnya). Selain itu sang operator juga membuka katup tangki sampel yang berada di atas kokpit kapal selam tersebut. Operator ini sudah siap mengambil sampel partikel dari sumber cahaya  berpendari itu, namun tiba-tiba cahaya itu mengeluarkan sesuatu benda padat yang makin lama makin panjang. Mata sang kapten kapal dan awak kapalnya seakan tidak percaya, jika penglihatan mereka tidak menipu mereka, mereka berani bersumpah bahwa yang mereka lihat adalah batang yang tumbuh memanjang dan semakin memanjang. Pertumbuhan pohon ini cepat sekali, seluruh kru kapal terpesona oleh keindahan tumbuhan misterius ini. Tampak jelas bahwa cahaya berpendar tadi adalah sebuah biji tumbuhan sebesar buah kelapa berwarna kehijauan dan memancarkan cahaya hijau.</p>
<p>Biji misterius itu mulai melekat pada dasar palung, dan tampaklah ia mulai menancapkan akar-akarnya ke dasar palung tersebut, hal itu disertai juga dengan makin cepatnya pertumbuhan batang  pohon tersebut yang sekarang tidak hanya memanjang, namun juga melebar. Kapten Ahmad Dadiri segera sadar bahwa jika pohon ini terus tumbuh dan menutupi palung ini dengan batangnya maka ia dan seluruh awak kapalnya tidak akan selamat. Maka dengan segera ia menghardik anak buahnya, “Hei kalian!!! Jangan bengong saja, ayo kita keluar dari sini!!! Siapkan turbin kapal, setel pada kecepatan penuh!!! Cepatt!!!”</p>
<p>Seluruh awak pun segera melaksanakan perintah kapten mereka dengan sigap. Dalam waktu tak kurang dari 3 detik KSRI Ikan Raja sudah melaju dengan kecepatan 80 km/jam menuju permukaan air. Tujuh menit kemudian KSRI Ikan Raja sudah berada di permukaan laut, Kapten Ahmad Dadiri segera memberi sinyal pada kapal induk mereka, KRI Sultan Agung untuk mengangkat kapal selam mereka. Komandan KRI Sultan Agung, Kolonel Irfan Madaleui kemudian segera memberi perintah pada anak buahnya untuk mengendalikan lengan mekanis guna mengangkat KSRI Ikan Raja ke dok kapal.</p>
<p>Kolonel Irfan langsung menyambar topinya dan turun menuju dok kapal, di sana Kapten Dadiri dan anak buahnya langsung memberi hormat dan kemudian Kapten Dadiri melapor, “Lapor! Pada kedalaman 8037 meter di bawah permukaan laut, kami melihat adanya cahaya aneh berpendar kehijauan seperti zamrud. Ketika kami dekati benda yang memancarkan cahaya itu ternyata sebuah biji tumbuhan sebesar buah kelapa. Dari biji tersebut muncul akar yang melekat pada dasar palung dan juga memunculkan batang. Tanaman itu tumbuh makin besar, Pak. Laporan selesai!”</p>
<p>Kolonel Irfan manggut-manggut meski sebenarnya masih belum mengerti benar apa yang terjadi tapi karena melihat wajah Kapten Dadiri dan awaknya yang kacau dan menunjukkan tanda-tanda shock maka ia membiarkan para awak kapal selam itu kembali ke kabin mereka. Namun tiba-tiba ….. SRAAAKKK!!!! Seluruh awak kapal KRI Sultan Agung segera menoleh ke arah sumber suara itu dan mereka melihat bahwa di tempat di mana di bawahnya terdapat Palung Antareja itu muncullah sebuah pohon yang amat besar. Tingginya menjulang seolah mencapai langit ketujuh. Batang pohon itu memiliki bentuk layaknya pohon mahoni dengan daun mirip pohon tanjung. Pohon itu memancarkan cahaya berpendar kehijauan sementara puncak pohon itu tertutupi oleh awan dan tidak terlihat oleh mata para awak kapal KRI Sultan Agung.</p>
<p>“Apa-apaan itu?”seru seorang awak kapal.</p>
<p>“Aku juga tidak tahu!”jawab seorang awak kapal yang lain.</p>
<p>“Semuanya tenang!” hardik Kolonel Irfan. Mata kolonel yang berkumis tebal itu itu memelototi pohon itu. Ia memerintahkan salah dua dari anak buahnya untuk mendekati pohon itu, mengambil sampel kulit batang, dan memfotonya dari berbagai sudut. Kedua prajurit itu segera melaksanakan tugas itu dengan tangkas. Tak sampai 1 jam semua tugas yang diberikan pada mereka itu sudah selesai, dan KRI Sultan Agung pun melaju meninggalkan tempat itu menuju pangkalan mereka di Jakarta.</p>
<p>Kemunculan pohon ajaib itu menjadi kehebohan banyak pihak. Berbagai media massa baik nasional maupun internasional dengan segera meliput berita mengenai kemunculan pohon ajaib ini. Banyak pihak ingin menamai pohon ini, ada yang menamakannya pohon kehidupan, pohon ajaib, Yggdrasil, dan sebagainya. Namun pemerintah RI atas nasehat seorang budayawan bernama Surya Manggala memutuskan menamai pohon ajaib itu … Kalpataru.</p>
<p>Tiga bulan semenjak kemunculan Kalpataru, dunia kembali dikejutkan dengan menghijaunya kembali hutan-hutan di pulau-pulau Indonesia. Hutan di Andalas, Borneo, Jawa, Bali, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua secara ajaib tumbuh kembali bahkan semakin rimbun. Satwa-satwa yang semula punah secara ajaib kembali bermunculan. Namun bagi para pebisnis-pebisnis serakah  dan pejabat-pejabat yang menerima suap dalam hal perijinan pendirian pabrik dan mall yang saban harinya merusak alam guna menyediakan tempat bagi mereka untuk melempar produk-produk sampah mereka hal ini adalah musibah. Pepohonan itu tumbuh secara cepat dan mulai menutupi jalan-jalan utama. Bukan hanya itu dalam beberapa mall secara ajaib tumbuhlah pohon-pohon besar yang menghancurkan bangunan besar itu. Kantor-kantor pemerintah pun tak luput dari serbuan pohon ‘liar’yang semakin menggila.</p>
<p>Tapi pemerintah kita adalah kumpulan orang-orang yang cerdik dan oportunis. Dengan segera mengajukan diri dalam suatu lomba negara dengan wilayah terhijau dan kontan saja Indonesia memenangkan kompetisi ini. PBB menyediakan hadiah sebesar US$ 6 Milyar dan sebanyak US$ 5 Milyar dianggarkan untuk rakyat sementara untuk sisanya menjadi santapan nikmat bagi para petinggi-petinggi negeri ini yang perutnya sudah gendut dan hampir meledak karena saking besarnya.</p>
<p>Tapi Pohon Kalpataru tidak akan peduli dengan semua itu, ia seolah terus menerus menghijaukan dan merestorasi alam Nusantara ketiga ini. Pada tahun 2035, proses penghijauan itu berhenti. Pohon Kalpataru masih berdiri namun cahaya yang terpancar dari dirinya meredup, tidak secerah dahulu. Pada tahun 2040, pohon itu berhenti mengeluarkan cahaya namun tetap berdiri tegak di tengah Laut Jawa, antara Pulau Jawa dan Kalimantan.</p>
<p>Di masa tahun 2040 inilah Pohon Kalpataru akan menunjukkan tujuan keberadaannya di dunia ini, tak peduli akan kenaifan para pemimpin negeri ini ataupun ocehan yang terlontar dari mulut orang-orang idiot berpendidikan yang mengaku ilmuwan namun dengan jalan pikiran parsial dan sebenarnya hanya punya ilmu di mulut, bukan di otak. Mereka dengan angkuhnya mencoba menjelaskan keberadaan pohon Kalpataru dengan segala macam teori yang terkadang serasa menjadi teori omong kosong karena tidak ada satupun teori yang mereka paparkan memenuhi kriteria kemunculan sebuah pohon dari dasar laut.</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Ikan Raja = nama yang diberikan penduduk lokal Sulawesi untuk menyebut spesies ikan purba Coelacanth</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shamyaza.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shamyaza.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shamyaza.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shamyaza.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shamyaza.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shamyaza.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shamyaza.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shamyaza.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shamyaza.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shamyaza.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shamyaza.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shamyaza.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shamyaza.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shamyaza.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shamyaza.wordpress.com&amp;blog=20000610&amp;post=177&amp;subd=shamyaza&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shamyaza.wordpress.com/2011/06/12/sang-surya-bab-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad52ae32859ba5d07d0149f0acc4324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shamyaza</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
