Category Archives: Rey – by Rengga Trianto
Novel roman karya Rengga Trianto. Amat menarik dan menyentuh, layak anda baca!
Rey – Bab XI
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB XI
LEMBARAN HIDUP YANG BARU
Di kamar Mitha termenung sambil memandangi foto Rey. Jari – jarinya menelusuri foto tersebut dengan mata berkaca – kaca. Semenjak kematian Rey yang begitu tragis, ia seperti kehilangan gairah hidup. Setiap ia ingat akan kenangan indahnya bersama Rey, setiap itu pulalah ia meneteskan air mata. Read the rest of this entry
Rey – Bab X
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB X
AKHIR DARI KEHIDUPAN
Pantai Tanjung Kelayang, SungaiLiat.
“Hai anak muda! Kenapa kau berdiri terpaku di situ?” teriak seorang Pak tua yang sedang membereskan jaring – jaring penangkap ikannya. Rey sedikit tersentak mendengar teriakan tersebut. Dengan langkah gontai ia berjalan menghampiri Pak tua yang tampaknya seorang nelayan. Read the rest of this entry
Rey – Bab IX
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB IX
HARTA WARISAN
Beberapa hari kemudian Pak Gunawan datang menemui Melinda di rumahnya.
“Ada keperluan apa yang ingin anda bicarakan kepada saya?”
“Saya hanya ingin mengetahui siapa hak waris atas semua harta suami saya?” tanyanya dengan nada ingin tahu. Pak Gunawan berdehem sambil membenarkan kacamata min – nya.
“Maaf, saya tidak dapat memberitahukannya.”
“Anda harus mengatakannya. Ini penting mengingat kesehatan suami saya saat ini tidak menentu dan anda tau sendiri, Rey sekarang menjadi buronan Polisi,” sergahnya dengan suara tinggi. Pak Gunawan mengangguk pelan. Ia lalu membuka tasnya, mengambil amplop besar berwarna coklat muda dan mengeluarkan surat tersebut dari amplop. Read the rest of this entry
Rey – Bab VIII
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB VIII
JANGAN CINTAI AKU
Daun – daun pohon kamboja masih menyimpan titik air hujan sisa semalam. Bau tanah yang khas tersiram hujan masih tercium samar – samar. Rumput – rumput jepang yang menghiasi gundukan tanah makam tampak segar hijau berdiri, menambah keasrian deretan – deretan makam yang berjajar rapi dengan bentuk batu nisan seragam berukir identitas si penghuni liang. Read the rest of this entry
Rey – Bab VII
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB VII
PEMBALASAN DENDAM
Chaca berjalan hilir mudik di depan teras rumah Eric. Wajahnya menunjukkan gurat – gurat keraguan. Ia ragu untuk mengetok pintu dan memanggil nama Eric. Ia ragu untuk bertemu dan meminta maaf kepadanya atas pertengkaran kecil yang terjadi beberapa hari yang lalu. Read the rest of this entry
Rey – Bab VI
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB VI
DIA YANG MELAKUKANNYA
9 p.m.
Udara malam yang dingin berhembus secara perlahan. Dinginnya menusuk hingga ke tulang. Di ruangan tengah, Mitha tampak asik mengobrol dengan Rey ditemani dengan secangkir teh hangat. Sementara dari luar tampak sepasang mata sadis dan bringas masih terus mengawasi dari kejauhan. Read the rest of this entry
Rey – Bab V
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB V
EUPHORIA DUNIA
Diskotik Grand Millenium terlihat gegap gempita malam itu. Lampu – lampunya yang bewarna – warni menyorot tiada henti mengikuti hentakan lagu disko yang dimainkan oleh Disk jockey berpengalaman. Orang – orang dari berbagai kalangan berkumpul menjadi satu, bergoyang dengan ceria mengikuti hentakan lagu. Sementara di sudut lain, tampak om – om senang sedang memberi saweran kepada wanita – wanita yang tengah asik ber – streaptease ria di depannya. Read the rest of this entry
Rey-Bab IV
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB IV
CINTA SEJATI ITU SEPERTI HANTU
Pantai Tanjung Kelayang, SungaiLiat.
Udara pantai berhembus sepoi – sepoi menyejukkan, menyibakkan panasnya sinar matahari yang terlalu garang memancarkan sinarnya. Ombak kecil dengan buih – buih putihnya bergulung cepat seolah berlomba satu sama lain untuk dapat sampai dengan segera ke tepian. Langit terlihat cerah. Gerombolan awan putih bergerak perlahan – lahan ditiup angin. Iringan Burung – burung camar terbang ke sana – kemari menghiasi langit yang biru. Rey berjalan beriringan bersama Mitha menyusuri tepi Pantai Tanjung Kelayang yang masih terlihat eksotis panoramanya dengan hamparan pasir putih yang bersih dan deretan batu – batu pantai yang besar, berdiri kokoh seperti hendak menunjukkan keangkuhannya. Read the rest of this entry
Rey-Bab III
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB III
LUKA JIWA
Rumah Sakit Jiwa, SungaiLiat.
Pohon beringin besar menjatuhkan daun – daunnya yang kering ke tanah. Beberapa tampak melayang – layang ditiup semilir angin hingga menyerupai segerombolan kupu – kupu berwarna coklat tua yang sedang terbang melayang – layang. Dari ujung koridor tampak Rey berjalan menuju ke sebuah ruangan yang terletak agak berjauhan dari ruangan yang lainnya. Ruangan bercat warna putih – putih itu mempunyai jendela yang terlihat seperti bukan jendela, melainkan seperti jeruji – jeruji besi pintu penjara. Di bagian dalam tampak sebagian cat telah usang warnanya dan mengelupas.
Rey berdiri terpaku di ambang pintu ruangan tersebut. Di sampingnya berdiri seorang Dokter dan Suster. Rey menghela napas yang panjang lalu ia menoleh ke arah Dokter dengan tatapan penuh tanya. Read the rest of this entry
Rey-Bab II
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB II
MANUSIA ITU BUKAN BATU
“Tertawalah kita bila kita merasa bahagia. Bersedihlah kita bila kita merasa pilu. Dan menangislah kita bila kita merasa haru. Hati itu lunak, tidak keras seperti batu..”
“Aku telah menerimanya menjadi pacarku,“ kata Rey sambil melepaskan satu persatu kancing baju seragamnya. Eric memperhatikannya dengan tatapan tak percaya.
“Ternyata kau tidak main – main Rey?“ ujar Eric dengan nada sinis. Rey tidak terima mendengar perkataan Eric yang tampak tidak mendukungnya. Ia lantas mendekatinya dan berkata keras – keras di depan wajahnya. Read the rest of this entry
