Category Archives: Novel
Sang Surya : Bab III
BAB III : SANG PENGENDALI
Pratanala telah mengabdi pada Indra dan saban harinya selalu berjalan bersama Indra. Indra sendiri yang semula tidak suka dengan kepemilikan khodam mulai bisa menerimanya karena Pratanala enak diajak bicara meski terkadang sikap angkuhnya sebagai Mahamantri keluar. Tapi secara keseluruhan Indra tidak menyesal menerima Pratanala sebagai khodamnya. Read the rest of this entry
Sang Surya : Bab II
BAB II : RANTAI TAKDIR
Di Nusantara ini para paranormal dan insan supranaturalis masih ada dan bertahan di antara gempuran zaman teknologi yang semakin canggih. Kalau boleh dibilang, sebenarnya kita ini penjaga tradisi yang sama hebatnya dengan Jepang, namun entah kenapa insan pers nasional maupun internasional lebih sering memuji-muji Jepang sebagai negara yang kukuh menjaga tradisi mereka. Barangkali hal ini karena mereka menjunjung tradisi mereka mulai dari sang Kaisar, Perdana Menteri, para pejabat, hingga masyarakat kelas bawah. Sementara kita? Para petinggi negeri ini hanya tertarik pada kelestarian budaya jika hal itu membuat mereka diliput dan mendongkrak popularitas mereka sehingga mereka dapat melanggengkan jabatan mereka, sementara para penjaga tradisi yang sebenarnya hidup sengsara di tengah kepungan utang dan tuntutan akan kebutuhan hidup yang makin lama makin berat. Read the rest of this entry
Sang Surya : BAB I
BAB I: NUSANTARA III DAN KALPATARU
Tahun 2040, Indonesia saat ini sudah mengalami kemajuan yang berarti di bidang ekonomi dan industri. Korupsi masih ada, meski kali ini KPK dan Kejaksaan lebih bergigi daripada masa-masa 2009-2012 yang lalu. Tapi Indonesia masih belum kehilangan budayanya yang dulu. Aneka tempat keramat masih tetap terjaga, aneka ritual kelenik untuk mendapatkan atau melanggengkan jabatan masih ada meski tidak sesubur dahulu. Namun yang menjadi keanehan dari negeri ini adalah peristiwa tahun 2028.
Sang Surya : Prolog
Oleh : Araqiel + Shamyaza
e-mail (via admin) : jendral.ying@gmail.com
BAB 0: PROLOG
Dahulu ada suatu negeri, bernama Nagari Dwipa. Negeri yang amat makmur. Tercipta sebagai negeri pertama di Nusantara ini. Para ahli modern menyebut negeri ini… Atlantis. Negeri ini dikatakan memiliki teknologi yang amat tinggi, mampu menciptakan peralatan yang amat canggih. Memang benar bahwa mereka mampu membuat peralatan-peralatan yang berteknologi maju pada masa itu, namun pada kenyataannya sesuatu yang bernama sihirlah yang paling berperan.
Negeri ini dikatakan menghilang secara misterius, namun itu tidaklah benar. Negeri ini moksa[1] bersama seluruh penduduknya karena mereka lakukan sesuatu yang amat mengerikan, pengorbanan manusia besar-besaran untuk para dewata yang salah sehingga langit pun menjatuhkan hukuman pada mereka. Ketika hujan badai terus menerus mengguyur Nagari Dwipa dan membuat negeri itu terancam tenggelam, raja Nagari Dwipa saat itu, Dwirawasta VI, membuat keputusan bahwa mereka akan membawa negeri ini ke alam lain, ke dimensi lain melalui sebuah portal sihir.
Nagari Dwipa, negeri yang hilang itu tetap menjadi sebuah negeri yang makmur di sebuah dimensi lain, yakni dimensi di mana para dhemit[2], danyangan[3], dan segala jin serta hantu bersemayam. Penduduk Atlantis pun menjalin persahabatan dengan makhluk-makhluk itu. Para makhluk itu menyebut para penduduk Atlantis sebagai Kalingga.
Seperti kita tahu bahwa para dukun alias paranormal di Nusantara generasi pertama, Nusantara generasi kedua hingga Nusantara generasi ketiga sekarang suka sekali memohon pertolongan dari para jin atau danyangan di alam tak kasat mata atau alam gaib. Para jin yang mereka panggil itu mereka masukkan dalam akik, keris, tombak, kain, tasbih, atau benda-benda lain untuk memberi suatu daya tersendiri pada benda tersebut. Para jin penghuni benda-benda tersebut disebut khodam/khadam, meski ada pula khodam yang menyertai seorang tersebut sejak lahir.
Cerita yang akan anda baca adalah cerita mengenai para khodam, manusia dan Kalingga. Bagaimana mereka berinteraksi, dan bagaimana kita sebagai sesama ciptaan-Nya seharusnya bisa saling menghargai satu sama lain.
Rey – Bab XI
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB XI
LEMBARAN HIDUP YANG BARU
Di kamar Mitha termenung sambil memandangi foto Rey. Jari – jarinya menelusuri foto tersebut dengan mata berkaca – kaca. Semenjak kematian Rey yang begitu tragis, ia seperti kehilangan gairah hidup. Setiap ia ingat akan kenangan indahnya bersama Rey, setiap itu pulalah ia meneteskan air mata. Read the rest of this entry
Rey – Bab X
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB X
AKHIR DARI KEHIDUPAN
Pantai Tanjung Kelayang, SungaiLiat.
“Hai anak muda! Kenapa kau berdiri terpaku di situ?” teriak seorang Pak tua yang sedang membereskan jaring – jaring penangkap ikannya. Rey sedikit tersentak mendengar teriakan tersebut. Dengan langkah gontai ia berjalan menghampiri Pak tua yang tampaknya seorang nelayan. Read the rest of this entry
Rey – Bab IX
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB IX
HARTA WARISAN
Beberapa hari kemudian Pak Gunawan datang menemui Melinda di rumahnya.
“Ada keperluan apa yang ingin anda bicarakan kepada saya?”
“Saya hanya ingin mengetahui siapa hak waris atas semua harta suami saya?” tanyanya dengan nada ingin tahu. Pak Gunawan berdehem sambil membenarkan kacamata min – nya.
“Maaf, saya tidak dapat memberitahukannya.”
“Anda harus mengatakannya. Ini penting mengingat kesehatan suami saya saat ini tidak menentu dan anda tau sendiri, Rey sekarang menjadi buronan Polisi,” sergahnya dengan suara tinggi. Pak Gunawan mengangguk pelan. Ia lalu membuka tasnya, mengambil amplop besar berwarna coklat muda dan mengeluarkan surat tersebut dari amplop. Read the rest of this entry
Rey – Bab VIII
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB VIII
JANGAN CINTAI AKU
Daun – daun pohon kamboja masih menyimpan titik air hujan sisa semalam. Bau tanah yang khas tersiram hujan masih tercium samar – samar. Rumput – rumput jepang yang menghiasi gundukan tanah makam tampak segar hijau berdiri, menambah keasrian deretan – deretan makam yang berjajar rapi dengan bentuk batu nisan seragam berukir identitas si penghuni liang. Read the rest of this entry
Rey – Bab VII
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB VII
PEMBALASAN DENDAM
Chaca berjalan hilir mudik di depan teras rumah Eric. Wajahnya menunjukkan gurat – gurat keraguan. Ia ragu untuk mengetok pintu dan memanggil nama Eric. Ia ragu untuk bertemu dan meminta maaf kepadanya atas pertengkaran kecil yang terjadi beberapa hari yang lalu. Read the rest of this entry
Rey – Bab VI
Oleh : Rengga Trianto
Contact : 085769123935 /rengga.trianto@gmail.com
BAB VI
DIA YANG MELAKUKANNYA
9 p.m.
Udara malam yang dingin berhembus secara perlahan. Dinginnya menusuk hingga ke tulang. Di ruangan tengah, Mitha tampak asik mengobrol dengan Rey ditemani dengan secangkir teh hangat. Sementara dari luar tampak sepasang mata sadis dan bringas masih terus mengawasi dari kejauhan. Read the rest of this entry
