Category Archives: Cerita Pendek
Transparency
Pengarang : tasya tazzu
Sumber : FictionPress.com
Apa yang aku lakukan disini?
Aku berdiri di pojokan sebuah kamar yang, cukup berantakan. Kertas-kertas dengan berbagai gambar tulang-belulang berserakan dilantai, buku-buku tebal menumpuk di atas meja, laptop 12″ menampilkan layar gelap dan mendendangkan nyanyian lembut, dan baju kotor menumpuk diatas sandaran kursi. Aku melihat apa yang ada di depanku dengan takjub. Siapa orang yang bisa betah hidup di kamar sekotor ini? Read the rest of this entry
Let Me Be Your Hero
“Lyn, ada telpon dari Kak Devon,” panggil Mama.
”Iya Ma,” jawabku sambil berjalan gontai meninggalkan meja makan.
Kuraih dengan kesal gagang telepon itu. Huh, nganggu orang makan aja, batinku.
”Ada apa, Kak? Kok tumben telpon?”kataku asal.
”Aduh, gimana ya ngomongnya. Hmm,”jawab orang di seberang. Terlihat grogi dari cara bicaranya.
”Ya ngomong aja, Kak. Lagi makan nih. Cepetan dong.”
”Gini, emmm, ngomong dari mana ya?”
”Yee.. ya mana aku tahu. Kak Epon kan yang mau ngomong.”
”Oke.”
”Iya. Ada apa, Kak?” Read the rest of this entry
Lelaki dan Mesin Waktu
Lelaki itu bernama Brams. Siang menjelang ia tiba di sebuah rumah bercat kuning dan cukup luas untuk dihuni. Pohon cem-ceman dengan rindang menghiasi halaman depan dan belakang. “Tanda kemakmuran,” begitu kata kakeknya. Dia memutuskan untuk segera masuk ke dalam.
“Jam-jam begini tentulah belum ada orang selain seorang pembantu,” pikirnya.
Pintu kamar dibuka dengan perlahan. Didapatinya perempuan cantik berambut panjang, tidur tergulai lemah di atas ranjang. Didekatinya perempuan cantik itu. Mengecup keningnya dan setengah berbisik dinyanyikannya lagu itu penuh haru. Meski dengan merubah sedikit liriknya. Read the rest of this entry
Percakapan Dengan Maut
Percakapan ini terjadi di suatu malam di musim panas. Saat cuaca benar-benar panas, sehingga malam yang dingin pun tidak lagi dingin. Maut datang dan mengajakku keluar, menghindari panas yang sepertinya akan membunuhku.
Berdua kami menyusuri jalanan yang sudah sepi, sambil mengobrol layaknya dua orang sahabat lama. Read the rest of this entry
