Category Archives: Cerita Pendek

Bawah Rembulan

Disadur dari :
Lampung Post
Minggu, 23 Desember 2007

Pengarang: F. Moses

AWALNYA aku takut. Lama-lama jadi terbiasa. Hidup bersama orang-orang masa lalu di kota ini. Tanpa siang. Semua waktu adalah malam. Kadang hadir sebuah rembulan di langit. Membuatku senantiasa merasa sunyi walaupun sebenarnya aku suka sekali melihat rembulan. Malam rembulan. Read the rest of this entry

Bangkai Kegelapan

Dikutip dari : Harian Suara Karya

Sabtu, 09 Februari 2008

BANGKAI KEGELAPAN

Cerpen: Restoe Prawironegoro Ibrahim

Bagaimana pun hidup harus dipandang lebih ke depan. Ini berarti hidup harus dimulai lagi. Berjalan di atas bayangan masa silam yang mengharubirukan, tidak boleh dibiarkan berlanjut sampai terbawa ajal. Tidak! Ia musti dikubur. Dan, kuburan itu musti dibikin secara baik agar bangkai yang tertanam di dalamnya tidak mampu menyemprotkan bau. Begitu keputusan Fil. Janda lusuh yang baru saja terpancar sinar keinginan hidup lebih baik dari wajahnya. Matanya. Read the rest of this entry

Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu

Dikutip dari : Pikiran Rakyat- Sabtu, 08 Desember 2007

Cerpen: Eddy D. Iskandar

 

LABBAIK Allahumma labbaik, labbaika la syarikalaka labbaik. Innal hamda wanni`mata laka wal mulka, la syarikalak…
Talbiyah itu terus berkumandang memenuhi ruangan. Aku mendengarnya begitu mencekam, mendebarkan, membuatku terpana. Ada sesuatu yang membuatku terguncang. Jutaan suara itu menggema. Entah dari mana. Padahal di dalam ruangan tak ada siapa-siapa, kecuali aku, sendiri. Read the rest of this entry

Anak Inkubator

Cerpen oleh: Yonathan Rahardjo
Dimuat di : Suara Karya edisi Sabtu, 19 Januari 2008

Bayi mungil itu meringkuk di dalam inkubator. Ia bernafas cukup berat, kembang-kempisnya dadanya yang di dalam rongganya meringkuk jantung dan paru-paru. Menjadi pratanda betapa organ-organ vital bagi si anak manusia yang baru dilahirkan ibundanya itu mesti menghadapi dunia yang belum tentu ramah pada kehadirannya. Read the rest of this entry

Ajak Aku Melihat Kunang-Kunang

Cerpen oleh : Mustafa Ismail
Dimuat di : Suara Pembaruan-Minggu, 10 Februari 2008

Lelaki itu membuka komputer, lalu mengaktifkan Yahoo! Messenger. Ia meneliti satu persatu nama-nama di sana. Beberapa temannya sedang online. Tapi lebih banyak tidak. Sudah sore, pikirnya, teman-teman yang biasa mengaktifkan YM di kantor, sudah mulai pulang. Rus ingin menyapa beberapa teman yang tinggalnya terpisah-pisah di berbagai kota dan luar negeri. Read the rest of this entry

Agonia Senja

Cerpen oleh : Novieta Tourisia
Dimuat di : Suara Merdeka-Minggu, 16 Maret 2008

KAMI melanggar peraturan. Seharusnya batas waktu penggunaan kolam renang apartemen adalah pukul delapan, namun lewat dari dua jam yang ditentukan kami justru baru menceburkan diri ke dalam kolam. Saya katakan padanya bahwa saya tidak bisa berenang, saya takut air dan takut tenggelam. Karena itu ia menuntun saya dari sisi depan. Gerakannya sangat tenang, terlihat jelas ia sedang berusaha menciptakan keberanian pada diri saya untuk melenyapkan segala macam ketakutan yang ada. Read the rest of this entry

Transparency

Pengarang : tasya tazzu

Sumber :  FictionPress.com

Apa yang aku lakukan disini?

Aku berdiri di pojokan sebuah kamar yang, cukup berantakan. Kertas-kertas dengan berbagai gambar tulang-belulang berserakan dilantai, buku-buku tebal menumpuk di atas meja, laptop 12″ menampilkan layar gelap dan mendendangkan nyanyian lembut, dan baju kotor menumpuk diatas sandaran kursi. Aku melihat apa yang ada di depanku dengan takjub. Siapa orang yang bisa betah hidup di kamar sekotor ini? Read the rest of this entry

Let Me Be Your Hero

“Lyn, ada telpon dari Kak Devon,” panggil Mama.

”Iya Ma,” jawabku sambil berjalan gontai meninggalkan meja makan.

Kuraih dengan kesal gagang telepon itu. Huh, nganggu orang makan aja, batinku.

”Ada apa, Kak? Kok tumben telpon?”kataku asal.

”Aduh, gimana ya ngomongnya. Hmm,”jawab orang di seberang. Terlihat grogi dari cara bicaranya.

”Ya ngomong aja, Kak. Lagi makan nih. Cepetan dong.”

”Gini,  emmm, ngomong dari mana ya?”

”Yee.. ya mana aku tahu. Kak Epon kan yang mau ngomong.”

”Oke.”

”Iya. Ada apa, Kak?” Read the rest of this entry

Lelaki dan Mesin Waktu

Lelaki itu bernama Brams. Siang menjelang ia tiba di sebuah rumah bercat kuning dan cukup luas untuk dihuni. Pohon cem-ceman dengan rindang menghiasi halaman depan dan belakang. “Tanda kemakmuran,” begitu kata kakeknya. Dia memutuskan untuk segera masuk ke dalam.

“Jam-jam begini tentulah belum ada orang selain seorang pembantu,” pikirnya.

Pintu kamar dibuka dengan perlahan. Didapatinya perempuan cantik berambut panjang, tidur tergulai lemah di atas ranjang. Didekatinya perempuan cantik itu. Mengecup keningnya dan setengah berbisik dinyanyikannya lagu itu penuh haru. Meski dengan merubah sedikit liriknya. Read the rest of this entry

Percakapan Dengan Maut

Percakapan ini terjadi di suatu malam di musim panas. Saat cuaca benar-benar panas, sehingga malam yang dingin pun tidak lagi dingin. Maut datang dan mengajakku keluar, menghindari panas yang sepertinya akan membunuhku.

Berdua kami menyusuri jalanan yang sudah sepi, sambil mengobrol layaknya dua orang sahabat lama. Read the rest of this entry

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.